| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono (14)
Sosok Budi di Mata Mut Indayah
“Pengalah dan Tidak Suka Konflik”
Banyak suka dan duka yang dialami Mut Indayah selama 34 tahun
mendampingi Budi Harsono mengarungi bahtera kehidupan. Di mata wanita
kelahiran Gombong, 14 Januari 1952, ini, Sang Suami adalah sosok pribadi
yang sabar, nrimo (menerima apa adanya), dan bahkan cenderung mengalah
hampir pada banyak hal.
“Walaupun suami saya sebenarnya benar, tapi masih dipersalahkan, beliau
tetap nrimo dan ngalah saja. Mungkin itu sudah sifat bawaannya dari
kecil yang sering mengalah,” ungkap Mut yang dinikahi Budi pada tahun
1972.
Kendati demikian, sesekali Mut Indayah menjadi kesal karena kesabaran
Sang Suami dalam menghadapi orang lain, padahal orang itu menyakitinya.
Sehingga tak jarang pula dia mengingatkan Budi agar bersikap yang tegas.
Penggemar wayang dan penerap falsafah tokoh wayang dalam menanamkan
nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya ini menambahkan, mengalah
memang sebuah sikap yang bagus.
Tapi kalau selalu bersikap mengalah, dan terus-menerus diinjak-injak
orang lain, lama-kelamaan bakal jadi kalah. Kalau terus-menerus
mengalah, tidak tertutup kemungkinan, kita malah akan dilecehkan.
Jadi, kondisi itu perlu dibetulkan. Caranya? Kita harus mengoreksi,
menegur dan kalau perlu memberi tahu agar orang lain mengerti bahwa kita
tidak suka diperlakukannya dengan cara demikian. Tujuannya bukan untuk
membalas dendam melainkan mengingatkan orang itu agar jangan
memperlakukan kita seperti itu lagi.
Mut sering mengeluhkan sikap Budi yang tidak mau mengoreksi orang yang
telah memperlakukan dirinya secara salah. Budi lebih memilih sabar dan
nrimo saja ketimbang bereaksi.
“Tapi, mungkin itulah kelebihan Bapak. Beliau adalah seorang dengan
karakter yang tidak mau menciptakan konflik,” aku Mut Indayah.
Berbeda dengan karakter Sang Suami, dia justru selalu berupaya
menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya sampai tuntas. Sebab, dia
tipe orang yang tidak mau menghindari masalah.
Namun setelah dia merenungkan, Mut mengakui bahwa ternyata prinsip yang
diterapkan Sang Suami dalam menjalani kehidupan ada juga benarnya. Dia
teringat pada sebuah falsafah Jawa: “Wong Ngalah Luhur Wekasane. Wong
Nrimo Gede Rejekine”.
Artinya: ‘Orang yang mengalah akan ditempatkan Tuhan di posisi atas
(luhur). Orang yang pasrah akan dilimpahi Tuhan dengan rezeki yang
banyak’.
“Saya meyakini hanya peranan tangan Tuhan yang bisa menjadikan suami
saya mampu meniti karir di militer sampai menjadi bintang tiga. Setelah
pensiun pun, Tuhan masih memberi kedudukan kepada suami saya sebagai
anggota DPR RI. Selanjutnya, dengan kedudukan tersebut otomatis orang
menghormati kita dan tentu saja rezeki akan mengalir dengan sendirinya,”
papar Mut Indayah.
Fokus pada Tugas
Pribadi khas yang juga melekat pada sosok Budi Harsono, masih kata Mut,
adalah jika sedang mengerjakan sesuatu terutama tugas dari kantor, Sang
Suami sangat fokus pada pekerjaannya.
Segenap pikirannya hanya tercurahkan pada tugas. Singkatnya,
menyelesaikan tugas adalah nomor satu, sementara isteri dan anak-anak
itu nomor dua. Mut sangat menyadari, Budi tipe orang yang amanah dan
bertanggung jawab pada setiap tugas yang diembankan kepadanya, terlebih
tugas-tugas dari kantor. Bapak berpandangan, tugas harus diselesaikan
dengan sebaik-baiknya.
Sering kali, Budi baru bisa pulang ke rumah pada pukul 2.00 atau pukul
3.00 dinihari karena dia harus lembur menyelesaikan tugas di kantor dan.
Rutinitas Budi seperti itu diterima apa adanya.
“Bapak orangnya cenderung sangat perfeksionis dalam urusan tugas. Bila,
misalnya, besok akan mengerjakan sesuatu, Bapak pasti melakukan cek dan
ricek apa saja yang harus disiapkan,” katanya.
Mut mengaku dapat memahami dan menerima sikap Sang Suami. Tak pernah
sedikitpun terbersit di benaknya untuk memprotes suami karena dia selaku
isteri telah dinomorduakan.
Dia tidak pernah bertanya kepada Budi apa yang sedang dikerjakannya
sehingga harus pulang larut malam bahkan sampai pagi esok harinya. Meski
kadang-kadang dimintai pendapat dan masukan oleh Sang Suami tentang
beberapa hal menyangkut tugas kantor, tapi untuk urusan-urusan dinas
luar kota, Mut cenderung tidak tahu sama sekali.
Paling diberi tahu, misalnya, Budi ke acara ini dan itu atau pergi ke
luar kota mendampingi Panglima TNI atau Kasospol TNI di masa dinas
militer. Atau, mendampingi atau mewakili Ketua Umum dalam
kegiatan-kegiatan Partai Golkar.
Mut sendiri kebetulan punya kesibukan di Persit dan mengurusi anak-anak
di rumah. Dan, yang paling mendasar, Mut adalah tipe isteri yang tidak
suka menuntut banyak kepada suami, termasuk urusan materi.
“Semua mengalir begitu saja seperti air. Apalagi, dari dulu saya
orangnya tidak banyak meminta ini dan itu kepada Bapak. Saya nrimo saja.
Bagi saya, kami sekeluarga bisa makan saja sudah bersyukur,” ujarnya.
Mut berpegangan pada satu prinsip hidup, dia percaya kepada orang lain
100 persen, apalagi kepada suaminya sendiri. Misalnya, saat membangun
rumah, dia pasti memberikan kepercayaan penuh kepada yang
mengerjakannya. Kalau ditipu, baginya, itu urusan yang menipu kepada
Tuhan. Mut percaya bahwa Sang Suami melaksanakan tugas di kantor dan
mengerjakan hal-hal yang positif.
Kadang-kadang Mut sering ditegur oleh Budi karena terlampau mempercayai
orang lain. “Kalau percaya sama orang itu jangan sampai 100 persen.
Harus ada cadangannya bahwa tidak semua orang seperti Kamu,” kata Mut,
mengutip kata-kata Budi.
Nrimo dan Bagja
Lepas dari itu semua, Mut yang mengaku senantiasa menghubungkan segala
sesuatu dengan pendekatan religius meyakini bahwa sekarang Tuhan Yang
Maha Kuasa melimpahkan ‘imbalan’ dan ‘bonus’ atas jerih-payah,
ketekunan, dan keseriusan Sang Suami dalam mengemban tugas-tugas selama
ini.
Dia sangat bersyukur, Sang Suami masih diberikan kesempatan oleh Allah
SWT untuk tetap punya kegiatan dan tanggung jawab setelah pensiun dari
dinas militer.
Ada resep utama Mut dalam membina rumah tangga agar langgeng dan
berbahagia. Resep utamanya adalah sabar dan jujur serta memahami
pekerjaan dan kegiatan Sang Suami.
“Saya harus nrimo dan sabar karena yakin semua yang dikerjakannya juga
untuk keluarga, isteri, dan anak-anak,” kata penganut filosofi hidup:
‘‘Kesempatan bukan hanya ada satu kali. Berani melepas kesempatan
pertama karena yakin Tuhan pasti memberikan kesempatan selanjutnya”.
Mut menunjuk satu pandangan umum yang sering dipakai orang: ‘Kesempatan
hanya datang sekali. Karena itu, kesempatan itu jangan dilepaskan tapi
langsung diambil’.
Namun, pandangan umum itu tidak berlaku sepenuhnya bagi dirinya. Terkait
dengan filosofi hidup yang dipegangnya itu, dia menekankan, walaupun
kesempatan ada di depan mata, dia tidak akan serta-merta mengambilnya.
Dia harus menakarnya baik-buruknya lebih dulu.
“Apabila kesempatan itu meragukan, maka saya akan melepasnya. Sebab,
saya yakin Tuhan pasti akan mengganti pada kesempatan-kesempatan yang
lain,” tandas wanita yang masih tampak energik ini.
Mut Indayah senantiasa mendambakan bagja atau nasib baik (keberuntungan)
dalam kehidupannya. Menurutnya, kebagjaan diperoleh dari daya upaya
(usaha) dan perbuatan. Bagja bisa terwujud berkat ikhtiar manusiawi yang
bersandar pada nilai keikhlasan kepada Tuhan.
Misalnya, lewat usaha antara lain belajar dengan tekun, bekerja dengan
baik dan sungguh-sungguh bersikap baik kepada orang serta perbuatan
antara lain beribadah dengan tekun, jujur, rendah hati dan banyak
beramal. Namun ikhtiar tersebut harus didukung oleh keyakinan bahwa ada
tangan Tuhan yang menentukan nasib kita. ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|