| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono (12)
Teladan bagi Keluarga
Keteladanan sikap dan harmoni dalam keluarga adalah dua hal yang
ditonjolkan oleh Budi Harsono selaku kepala rumah tangga.
Ada dua nilai kehidupan yang Budi Harsono petik dari pengalamannya
semasa mendapat bimbingan dan asuhan kedua orang tuanya. Nilai-nilai itu
adalah keteladanan dan kerukunan orang tua.
Dan dua nilai kebaikan itu kemudian dia terapkan juga kepada
anak-anaknya, tentu dengan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi
saat ini. Bagi Budi, dua nilai itu sangat diperlukan agar anak-anak
dapat bertumbuh dan berkembang dalam suasana yang nyaman.
Secara konkret, sebagai pemimpin rumah tangganya, Budi Harsono
senantiasa menanamkan kepada seluruh anggota keluarganya pendidikan
moral, seperti nilai agama dan budi pekerti.
Nilai-nilai itu ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin sebab bila
diberikan setelah anak-anak besar relatif agak sulit mengubah perangai
mereka.
Baginya, pendidikan moral sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan
perkembangan pribadi anak-anaknya ke depan. Pendidikan moral sekaligus
juga akan membentengi anak-anaknya dari berbagai pengaruh negatif
lingkungan sekitar.
Sebisa mungkin, dia selalu mengajak isteri dan empat anaknya untuk
shalat berjamaah di rumah, terutama shalat Subuh dan shalat Maghrib.
Gambaran shalat berjamaah (ayah sebagai imam sementara ibu dan anak-anak
sebagai makmum) secara tidak langsung membentuk kesadaran dan pemahaman
pada keempat anaknya tentang peranan masing-masing.
Sang ayah yang bertindak selaku imam shalat mencerminkan dia adalah sang
pemimpin yang mesti dipatuhi dan ditaati, sedangkan ibu dan keempat
anaknya yang menjadi makmum shalat merupakan yang dipimpin. Dari shalat
berjamaah, kata Budi, seorang ayah bisa menunjukkan keteladanannya
kepada anak-anaknya.
Sehabis melaksanakan shalat, anak-anak mencium tangan ayah dan ibunya.
Itu adalah simbol penghormatan anak kepada kedua orang tuanya. Jadi,
hemat Budi, shalat berjamah bersama keluarga adalah satu media
pendidikan moral kepada anak-anak.
Tak berhenti sampai di situ makna dari shalat berjamaah. Dari aktivitas
spiritual tersebut akan muncul kesadaran beragama pada anak-anaknya,
yang juga akan menjadi fondasi dan bekal hidup mereka dalam
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, seperti lingkungan masyarakat
dan lingkungan sekolah.
Keluarga yang rukun dan harmonis pasti memberikan rasa nyaman kepada
anak-anak. Sebaliknya, keluarga yang tidak harmonis dan tidak memberikan
kenyamanan berdampak sangat buruk pada perilaku anak-anak. Karenanya,
keutuhan dan kekompakan orang tua sangat menentukan perkembangan jiwa
dan mental anak-anak.
Pada awalnya, setiap mendapat tugas dari negara ke daerah yang baru
(tour of duty), dia memboyong keluarganya ke daerah baru tersebut. Namun
karena selama satu tahun kadang sampai dua kali berpindah tugas,
sementara anak-anaknya sudah mengikuti pendidikan lanjutan, akhirnya dia
tidak mengikutsertakan keluarganya ke daerah tugas baru.
Sehingga, sehari-hari sang isteri, Mut Indayah, lah yang memainkan peran
sangat besar dalam menanamkan pola pendidikan yang baik dan wawasan yang
benar kepada anak-anak, mulai saat mereka kecil sampai akil balikh.
Dia sendiri, karena tuntutan tugas bahkan sering tugas ke luar kota,
relatif jarang bertemu dengan anak-anaknya. Paling cepat satu minggu
sekali dia baru bisa bertemu dengan keluarga.
Dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti
kepada anak-anaknya, Mut Indayah menggunakan kisah pewayangan sebagai
medianya.
Kisah dan cerita perwayangan, seperti Mahabrata, mengandung nilai-nilai
keteladanan, kebaikan, kepahlawanan, dan termasuk keangkaramurkaan.
Setelah anak-anaknya mulai meranjak besar, Budi Harsono dan Mut Indayah
menerapkan pola lain untuk membangun wawasan tentang kehidupan kepada
anak-anaknya.
Contohnya, anak-anak diajak berdiskusi tentang sebuah peristiwa hangat
di masyarakat. Di kesempatan itu, dia lantas menanyakan pendapat dan
pandangan anak-anaknya tentang peristiwa tersebut. Mereka diberi
kebebasan mengutarakan pandangan masing-masing.
Hasil dari pendidikan dan pembinaan yang ditanamkan oleh Budi Harsono
dan Mut Indayah kepada keempat putra mereka sangat membanggakan.
“Alhamdulillah, anak-anak saya baik-baik semua. Dari aspek pendidikan,
pendidikan anak-anak saya tertib.
Dua putra tertua mereka, Budi Indawan dan Sus Budi Indardi sudah
menyelesaikan pendidikan sarjana bahkan telah meraih titel S-2. Putra
ke-3, Budi Inda Timur Putra, kini berstatus mahasiswa Universitas
Parahiyangan, Bandung. Putra bungsu, Budi Inda Catur Satya, masih
bersekolah di salah satu SMU di Bandung.
Dari sisi spiritualitas, mereka tidak pernah lalai shalat. Mereka juga
rajin berpuasa senin-kamis dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri,
tanpa harus dipaksa,” ungkapnya penuh kebanggaan.
Sangat bersahaja nilai keteladanan yang ditanamkan Budi kepada
anak-anaknya. Hidup ini semata-mata mencari ridho dari Allah SWT. Yang
namanya nasib baik adalah karunia-Nya. Mendapatkan kemudahan hidup
misalnya dapat menyelesaikan sekolah dan kemudian mudah mendapatkan
pekerjaan adalah pertolongan Tuhan.
Hanya saja, dia berprinsip, pertolongan Tuhan tidak akan datang dengan
sendirinya. Pertolongan Tuhan adalah buah dari perilaku kita yang baik.
Seperti karena suka menolong orang lain atau lantaran rajin beramal.
Jadi, semua itu ada mekanisme timbal-balik dan sebab-akibatnya.
Selain itu, kita akan mendapatkan kemudahan dalam hidup ini bila banyak
berserah diri kepada-Nya dan senantiasa mengikuti segala petunjuk-Nya
dalam melakoni hidup di dunia ini. “Prinsip melakoni hidup itu saya
tanamkan juga kepada anak-anak,” tuturnya.
►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|