A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Mabes TNI
     ► TNI AD
     ► TNI AL
     ► TNI AU
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► Partai-Pemilu
 ► Ormas
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 08082006  
   
  ► e-ti/anis  
  Biodata
Nama:
LETJEN TNI (PURN.) H. BUDI HARSONO
Lahir:
Yogyakarta, 13 September 1946
Agama:
Islam

Jabatan Sekarang:
o Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR-RI (Periode 2004-2009) dari Daerah Pemilihan Provinsi Jawa Barat VIII (Kabupaten Subang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Sumedang).
o Anggota Komisi VII DPR-RI (Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral) DPR-RI.
o Anggota Badan Kehormatan (BK) DPR-RI.
o Anggota Tim Sosialisasi Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat (BP-MPR RI).

Pangkat Militer Terakhir:
Letnan Jenderal TNI

Penghargaan/Tanda Jasa:
1.Satya Lencana Penegak
2.Satya Lencana Dharma Pala
3.Satya Lencana Seroja
4. Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun, 16 Tahun, dan 24 Tahun
5. Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
6. Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
7.Bintang Yudha Dharma Nararya
8. Bintang Yudha Dharma Pratama
9. Bintang Dharma

Alamat Rumah:
Perum Hankam Jati Makmur Jl. Raflesia F-3 Pondok Gede, Bekasi.
 
 
     
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:  01  02  03  04  05  06  07  08  09  10  11  12  13  14  15  16  17   =

Budi Harsono (11)

Masa Kecil, Remaja dan Dewasa


Berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan, dan sebagai anak tertua dari sembilan bersaudara, Budi Harsono meraih kesuksesan hidup dengan kebersahajaan.

Tokoh yang satu ini lahir di Yogyakarta, 13 September 1946. Dia adalah anak tertua dari sembilan bersaudara, buah kasih pernikahan pasangan berbahagia Aris Moenandar dan Salamah.


Aris Moenandar, Sang Ayah, adalah seorang abdi negara yang bekerja di Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Sang Ibu, Salamah, hanya lah seorang ibu rumah tangga biasa.
Kedua orang tuanya memberikan perhatian dan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya. Budi dan adik-adiknya juga diasuh, diajarkan, dididik, dan dibekali nilai-nilai budi pekerti, etika, moralitas, dan ajaran agama.


Peranan ayahnya besar sekali terutama dalam hal menanamkan tanggung jawab dan keteladanan kepada keluarga. Karena Sang Ayah sering berpindah-pindah tugas ke luar daerah, praktis Sang Ibu yang sering menemani keseharian Budi dan adiknya-adiknya.


Tapi, mengingat intensitas pertemuan lebih banyak dengan ibu dibandingkan dengan ayah yang sering bertugas di luar daerah, praktis sehari-hari figur ibu lah yang paling dominan mewarnai pertumbuhan dan perkembangan Budi beserta adik-adiknya. Sang Ibu lah yang sehari-hari mengasuh, mendidik, dan mengawasi secara intensif anak-anaknya.


Lepas dari kondisi itu, ada karakter khas Sang Ayah yang agaknya menurun pada diri Budi Harsono, yakni sikap tidak pemarah dan tidak banyak bicara.


“Ayah saya memang tipe orang yang tidak pernah marah. Beliau seorang yang pendiam. Tidak banyak omong. Kalau tidak merasa perlu dan penting sekali, ayah tidak ngomong,” ucap Budi.


Aris Moenandar dan Salamah sangat mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya sebagai bekal kesuksesan hidup mereka di kemudian hari. Dia dan adik-adiknya lebih diarahkan untuk berkonsentrasi pada pelajaran sekolah.
Jenjang pendidikan dasar (SR) dan pendidikan lanjutan (SMP) selama sembilan tahun (1952-1961) diselesaikan Budi di kota kelahirannya, Yogyakarta. Sedangkan, bangku pendidikan SMA dihabiskannya di kota Menado, Sulawesi Utara.

Si Anak Bandel
Semasa tinggal di Yogyakarta, Budi berada di lingkungan yang terhitung kurang baik. Karena itu, kedua orang tuanya --terlebih sang ibunda-- sangat selektif dan cenderung protektif pada pergaulan Budi dan adik-adiknya.


Batasan yang diberlakukan orang tuanya dalam hal pergaulan dengan lingkungan, bagi Budi, memang ada untung-ruginya. Tapi, apa kelebihannya dan apa kekurangannya baru bisa ditakar dan dipahami di belakang hari.


Namun, pergaulan yang salah dengan lingkungan di luar rumah, termasuk di sekolah, agaknya cukup mempengaruhi pola perilaku Budi. Menurut pengakuannya, sewaktu duduk di bangku SMP di Yogyakarta, dia termasuk anak bandel. Perilaku teman-temannya dulu yang nakal, tanpa disadarinya, telah mempengaruhi perilakunya.


Akibatnya, dia tidak bisa lagi konsentrasi dan tak mempedulikan lagi pelajaran di sekolah. Bersama beberapa teman satu kelas yang menjadi gengnya, dia selalu membuat ulah.


Kendati demikian, kenakalan dia bersama teman-temannya dulu tidak seperti kenakalan remaja sekarang. Bukan kenakalan yang merugikan orang lain. Paling-paling, yang kerap dilakoni dia dan teman-temannya adalah membolos, minggat dari sekolah, keluyuran di luar sekolah, atau berkelahi.
Mengendap-endap keluar kelas dengan menerobos jendela, di saat guru sedang serius memberikan pelajaran di kelas, adalah salah satu kebiasaan buruk dan ‘keahlian’ Budi saat itu.


Peringatan keras dan teguran dari guru dan sekolah seakan tak mempan untuk menyadarkan Budi. Sehingga, akibatnya, sejak Kelas 1 SMP dan terutama pada Caturwulan I Kelas 2 SMP, nilai rapornya praktis dipenuhi warna merah.

Nasehat Sang Ayah
Kebengalan seorang Budi Harsono mulai berubah drastis tatkala dia mendapat nasehat dari sang ayahanda, Aris Moenandar, yang kebetulan baru pulang dari tugas di daerah.
Dikisahkan oleh Budi, begitu mengetahui nilai rapor anaknya yang nyaris tidak ada wana hitam atau birunya sama sekali, ayahnya lantas memanggil dirinya.


Budi yang saat itu sudah siap dimarahi habis-habisan justru dibuat heran oleh sikap sang ayahanda. Sebab, dengan sikap kebapakan dan gaya bicara yang lemah lembut, tanpa sedikitpun dipenuhi bernada penuh amarah, Aris Moenandar justeru memberikan nasehat kepada Budi.
Lewat pesan-pesan nasehat tersebut, Aris memantik kesadaran hakiki Budi bahwa, selaku anak tertua, tanggung jawabnya sangat diandalkan oleh kedua orang tuanya guna membimbing adik-adiknya.


Pendekatan yang dipakai Aris Moenandar untuk mengubah pribadi Budi rupanya membuahkan hasil. Teguran halus dari sang ayahanda tercinta ternyata memecut kesadaran dan membuka pikiran positif Budi untuk mengubah diri.
Akhirnya, dia menyadari --setelah menerima wejangan dari sang ayah-- betapa salah dan merugi dirinya karena telah mengabaikan perjuangan kedua orang tuanya untuk menyekolahkannya agar kelak bisa berguna bagi keluarga dan bangsa. “Mengapa saya malah mengecewakan mereka?” ucapnya kala itu dalam hati dengan nada bertanya kepada diri sendiri.


Dia benar-benar membatasi pergaulannya dengan teman-teman gengnya. Dia memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka, dan tidak akan pernah bergabung atau ikut-ikutan lagi dengan pola pergaulan mereka. Kalaupun bertemu dengan mereka, dia sekadar menyapa alakadarnya.


Sejak saat itu, sikap dan perilaku Budi Harsono yang dikenal dan telah dicap anak paling bengal di sekolah oleh para gurunya berubah 180 derajat. Dia tak pernah lagi datang terlambat masuk kelas, apalagi membolos sekolah dan minggat dari sekolah.


Jika biasanya memilih posisi duduk di bangku paling belakang, sejak saat itu, dia pindah duduk ke barisan paling depan agar mudah menyimak pelajaran dari guru. Menyaksikan perubahan perilaku Budi, guru-guru pun dibuat bingung dan kaget bercampur perasaan heran. Mereka kaget, kok anak yang begitu nakal dan membuat kewalahan para guru telah berubah perangainya.


Betapa tidak, selama ini, saking putus asa dan kewalahannya menghadapi perangai Budi, para guru pernah sempat memperingatkannya tidak bakalan dinaikkan ke kelas tiga bila dia tidak mau mengubah sikapnya. Waktu itu, Budi sama sekali tidak peduli dengan ucapan para guru yang bernada ancaman itu.


Budi membuktikan kepada kedua orang tua dan para gurunya di sekolah bahwa dirinya telah berubah.


Perubahan sikap itu berbuah manis. nilai rapornya pada Caturwulan II Kelas 2 SMP hitam semua, tak ada satupun mata pelajaran yang berponten merah. Tak pelak, perubahan tingkah lakunya ditambah lagi hasil rapor si anak nakal yang bagus semakin membuat para guru di sekolah terheran-heran.
Waktu pun berlalu, Budi akhirnya naik ke Kelas 3, jurusan Ilmu Pasti. Dulu, pembagian jurusan sudah dilakukan sejak Kelas 3 SMP. Ada dua jurusan pilihan pada waktu itu: A untuk jurusan Ilmu Sosial dan B untuk jurusan Ilmu Pasti.


Pada tahun 1961, dia dan adik-adiknya ikut diboyong kedua orang tua ke Manado, Sulawesi Utara, menyusul perpindahan tugas Sang Ayahanda ke kota itu. Di kota itulah dia menjalani jenjang pendidikan SMA-nya sampai selesai.


Di Manado ketika itu orang Jawa memang terbilang sangat sedikit. Meski karakter dan budaya Jawa sangat melekat pada diri dan pribadinya, Budi relatif mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan Manado.


Kebetulan, ada banyak guru yang mengajar di sekolahnya saat itu berasal dari tanah Jawa. Mereka sebenarnya adalah mahasiswa tingkat III/tingkat IV dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang ditugaskan kampusnya masing-masing sebagai guru bantu di sekolah tersebut.


Saat itu, pemerintah membuat kebijakan mengerahkan para mahasiswa perguruan tinggi untuk mengabdikan diri sebagai guru di sekolah-sekolah di daerah-daerah luar Jawa, yang masih kekurangan tenaga pengajar.


Setelah rata-rata 2-3 tahun mengabdikan diri sebagai guru, mereka selanjutnya kembali ke kampusnya masing-masing.
Karena berasal dari Pulau Jawa, dan mungkin dianggap punya kelebihan, Budi Harsono sering dijadikan contoh bagi teman-teman sekelas oleh guru-guru tersebut. Misalnya, bila ada soal-soal di papan tulis, dia yang selalu diminta menyelesaikannya. Secara tidak langsung, dia menjadi terpacu juga untuk tekun dan serius belajar.


Begitu menamatkan jenjang SMA pada 1964, dia sempat mengalami kebimbangan. Di satu sisi, dia ingin melanjutkan kuliah. Namun, di lain sisi, dia teringat dan menyadari kemampuan keuangan orang tuanya yang terbatas, apalagi masih ada delapan adiknya yang sangat membutuhkan biaya sekolah.


Dari hati kecil, dia sejatinya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, mengingat adik-adiknya masih membutuhkan biaya, niatnya untuk kuliah di perguruan tinggi harus dia kubur dalam-dalam.


Akhirnya, dia menemukan obat bagi kegundahan hatinya, sekaligus jalan keluar atas kondisi dilematis yang dihadapinya, yakni dia harus melanjutkan pendidikan tapi tidak membebani orang tuanya secara ekonomi. Dia sudah bertekad bulat dan memancangkan niat, andaipun dia kuliah, orang tuanya tidak akan terbebani.


Pikirannya tertuju pada pendidikan di sejumlah akademi milik instansi pemerintah, yang umumnya memberikan fasilitas ikatan dinas kepada para mahasiwanya, seperti akademi bank, akademi PU, akademi kereta api, dsb.


Dalam proses perenungan itulah, dan dalam suasana hati dan pikiran yang galau, ingatannya tertumbuk pada Akademi Militer Nasional (AMN). Dia teringat bahwa sekolahnya pernah dikunjungi oleh taruna-taruna AMN. Para taruna AMN memang ditugaskan mengadakan anjangsana ke SMA-SMA yang ada di Manado dalam rangka mensosialisasikan keberadaan AMN kepada siswa-siswa Kelas 3 SMA.


Apalagi, kesan pertamanya ketika itu terhadap penampilan para Taruna AMN nan gagah dan berwibawa dengan baju seragamnya yang khas mendorong Budi untuk mencoba peruntungan. Dia pun kemudian memberanikan diri untuk mendaftar sebagai taruna AMN di kota itu.


Tes AMN dan Tinggi Badan
Ada peristiwa menggelikan yang dialami Budi saat dia menjalani tahapan tes masuk AMN di kota Manado. Pangkal persoalannya adalah perawakan Budi Harsono yang mungil dan kurus kerempeng. Berat badannya bahkan tidak sampai 50 kg.


Memang semasa sekolah di SMA, kondisi fisiknya tak urung membuatnya didera perasaan minder. Dia merasa keberadaannya dipandang hanya sebelah mata oleh lingkungan.


Diakui olehnya, di satu sisi, perasaan minder dan kurang percaya diri sempat merasuki jiwanya ketika mengikuti tes AMN di Manado. Namun, pada sisi lain, dia justru semakin termotivasi untuk lulus tes AMN.


“Motivasi saya menjadi tentara begitu besar sebab dengan jadi tentara saya bisa menunjukkan keberadaan dan jati diri kepada lingkungan. Dengan menjadi seorang tentara, saya berharap akan ada penghargaan dari lingkungan karena itu berarti saya juga punya kelebihan,” tukasnya.


Terkenang kembali saat-saat menjalani proses tes masuk AMN di Manado dulu, Budi mengisahkan bagaimana dia harus bersaing dengan ratusan peserta lain yang memiliki fisik dan postur tubuh lebih ideal dibandingkan dirinya.


Sebagian besar di antara mereka berbadan tinggi-besar dan berperawakan gagah. Kenyataan itu sempat membuat ciut nyali dan semangat Budi Harsono.


Ternyata benar, mungkin saking mungilnya perawakan Budi Harsono, sewaktu menjalani tahap demi tahap tes, tinggi badan dan berat badannya harus diukur kembali.


Agaknya, para penguji yang nota bene para perwira TNI masih meragukan bahwa peserta yang satu ini telah memenuhi syarat secara fisik. Bahkan, sewaktu mengikuti tes tahap akhir di hadapan Pantuhir (Panitia Penentu Terakhir) yang terdiri atas sejumlah perwira menengah, postur tubuhnya masih saja diragukan. Sehingga, untuk meyakinkan diri, Pantuhir meminta agar tinggi dan berat badannya diukur kembali.


Padahal, secara formal, pada tahap Pantuhir tersebut syarat tinggi badan peserta tes tidak lagi diutak-atik atau dipertanyakan. Tapi, mungkin karena sangat meragukan validitas data tinggi badan Budi, salah seorang penguji pada Pantuhir masih meminta ada proses cek ulang. “Coba tinggi badan dan berat badan Anda dicek lagi,” ucap sang penguji tersebut yang ternyata seorang jenderal bintang satu itu, seraya menunjuk Budi.


Apakah tinggi badan Budi memang tidak memenuhi syarat yang ditetapkan panitia? Menurut Budi, tinggi badannya yang 160 cm memenuhi syarat yang ditentukan panitia waktu itu yakni 155 cm. Mungkin, karena berat badannya yang hanya 49 kg, muncul dugaan kesan seolah-olah tinggi badannya tidak memenuhi syarat.


Dewi Fortuna ternyata berpihak pada tekad yang membaja Budi Harsono untuk menjadi tentara. Dia akhirnya dinyatakan lulus dan termasuk dalam 16 orang peserta tes AMN dari sekitar 600-an orang yang mengikuti tes di Manado.


Selanjutnya, 16 peserta tes asal Manado tersebut harus mengikuti proses tes tahap lanjutan selama satu bulan penuh di kota Bandung, Jawa Barat, persisnya di kawasan Lembang. Setelah tes di Lembang, 16 orang itu akan disaring lagi menjadi delapan orang. Kedelapan orang itulah, peserta asal Manado, yang selanjutnya akan dikirim ke Lembah Tidar di Magelang, guna menjalani pendidikan pembentukan militer selama tiga tahun.


Singkatnya, dari Manado ke Bandung, Budi bersama 15 peserta lain memakai angkutan kapal laut. Setibanya di Lembang, Budi menyaksikan telah berkumpul seluruh peserta tes yang lolos dari daerah asalnya masing-masing, yang akan menjalani tes lanjutan. Selama di Lembang, seluruh peserta kembali menjalani berbagai tes seperti psikotes, tes fisik, tes kesehatan, dll.


Keberuntungan benar-benar menyertai langkah Budi Harsono. Dia termasuk delapan peserta asal Manado yang dinyatakan lulus seleksi tahap lanjutan di Lembang dan akan menjalani proses pendidikan kemiliteran di AMN Magelang, Jawa Tengah.


Sepengetahuan Budi, penetapan jumlah peserta yang lulus dari daerah didasarkan atas rasio antara kebutuhan dan kepadatan penduduk daerah bersangkutan. Jika untuk Manado saat itu hanya ada jatah delapan orang, maka untuk kawasan Pulau Jawa rata-rata 50-an orang yang diterima.


Dituturkan oleh Budi, banyak orang termasuk teman-teman sekolah dan guru yang sama sekali terkejut dan tidak mengira sama sekali kalau dia bisa menjadi tentara, apalagi mampu menembus persaingan ketat memasuki AMN Magelang.
Tekad membaja seorang Budi Harsono untuk menjadi tentara akhirnya terwujud. Pada tahun 1967, bersama 231 rekan seangkatannya, Budi Harsono dilantik sebagai perwira pertama ABRI dan berhak menyandang pangkat Letnan Dua.

Perubahan Motivasi Hidup
Selain perasaan bangga yang menggelora di jiwa, selama menjalani hari-hari yang keras dan penuh disiplin di Lembah Tidar, Magelang, Budi mengaku pribadinya mengalami banyak sekali perubahan.


Hal yang paling dirasakannya dalam proses pendidikan pembentukan militer itu adalah motivasi hidupnya yang berubah 180 derajat. Mengubah motivasi dan paradigma berpikir orang, ungkap Budi, memang merupakan tujuan terpenting dari pendidikan AMN.


Konkretnya, setiap taruna AMN Magelang yang semula cenderung berpandangan hidup ekonomis-materialistis dididik dan dibina agar orientasi hidupnya kelak semata-mata membela negara dan mencintai tanah airnya.


Mentalitas para taruna AMN diubah dari yang berlatar belakang ekonomi atau sekadar prestise (kebanggaan) pribadi menjadi pengabdi kepentingan bangsa dan negara.


Selama di Magelang, motivasi awal para taruna AMN untuk menjadi tentara berubah drastis. Mereka disadarkan bahwa tentara mesti mengabdi pada negara dan berani berkorban membela negara. Budi merujuk pada pengalaman dirinya sendiri saat mengikuti pendidikan di AMN dulu.


“Seperti saya sendiri, awalnya ingin menjadi tentara karena alasan ketertarikan pada dunia militer yang terkesan gagah dan dihormati lingkungan, dan motivasi ekonomi-material karena kondisi keluarga yang pas-pasan. Setelah menjalani pendidikan beberapa lama di AMN, saya mengalami perubahan orientasi hidup. Saya menjadi sosok tentara yang betul-betul siap membela negara,” katanya.


Dia menekankan, tujuan pokok dari pendidikan pembentukan militer (menjadi perwira ABRI) adalah mengubah segenap motivasi yang terlalu individualistis seperti tampil gagah atau mapan secara ekonomi menjadi sosok pengabdi, pengawal, dan pembela negara.


Dalam pendidikan pembentukan militer, kepada taruna juga ditanamkan kesadaran bernegara dan kesediaan berkorban membela negara. Semua pendidikan militer di negara manapun memiliki tujuan semacam itu.


Karenanya, lanjut Budi, jika motif seseorang masuk tentara sekadar demi prestise atau mendapatkan kemapanan secara ekonomi, bakal rusak tentara Indonesia karena tidak berkualitas.


Kembali ke soal lembaga pendidikan pembentukan militer, Budi Harsono menggarisbawahi, saat ini hanya tinggal sistem pendidikan semacam itu yang mampu membentuk dan memberikan motivasi agar warga negara Indonesia rela berkorban untuk negaranya. Yang mau dan mampu membela negaranya dengan segenap pikiran, jiwa, dan raga.


Pada sistem pendidikan umum juga ada penanaman sikap mental nasionalisme seperti itu, tapi persentasenya tidak sebesar di sistem pendidikan pembentukan militer, yang sejak awal sudah menanamkan kesadaran bernegara, kesediaan berkorban membela kepentingan negara, dan semangat mempertahankan NKRI.


Dia meyakini bahwa nilai kejuangan dan nasionalisme terus menyala dan tertanam di benak dan jiwa para lulusan pendidikan militer meski telah bersosialisasi dengan lingkungan umum.


Menunjuk pengalaman pribadinya, begitu lulus dari AMN Magelang, dia langsung ditugaskan memimpin 30 orang anak buah sebagai Komandan Peleton (Danton) di Batalyon 406 Gombong, Jawa Tengah.


Dia mengaku, idealismenya sebagai orang yang baru selesai digodok dari --“kawah candradimuka”-- Lembah Tidar masih sangat tinggi. Apa-apa yang diperolehnya selama masa pendidikan dia wujudkan secara riil di lapangan. Diberi tanggung jawab memimpin 30 orang membersitkan satu tekad besar pada diri Budi Harsono, bagaimana bisa memimpin mereka agar dapat menjalankan tugas dengan baik, mempunyai keterampilan teknis tempur dan perang yang memadai, serta memiliki motivasi tinggi untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.


Di samping tanggung jawab begitu besar memimpin banyak orang, idealismenya semakin menguat manakala dia bersama pasukannya dihadapkan pada tugas-tugas operasi ke sejumlah daerah konflik, seperti ke Perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak, Malaysia (1971) dan dua kali ke Timor Timur (1981 dan 1985).


“Dengan kepercayaan mengemban tugas khusus yang diamanatkan negara, saya dituntut untuk menjadi orang yang bertanggung jawab kepada tugas dan kepada seluruh anggota pasukan yang saya pimpin. Singkatnya, idealisme dan nasionalisme saya yang terbentuk di pendidikan militer tetap tinggi,” ucapnya.


Intinya, kesadaran dan semangat bernegara dan bela negara yang diperoleh selama menjalani penggodokan secara mental, fisik, pikiran, dan kesadaran di Lembah Tidar, Magelang, dulu masih sangat membekas dan terus tertanam pada dirinya bukan hanya kala mengabdikan diri sebagai perwira TNI aktif, tapi juga setelah dia pensiun dari dunia ketentaraan (Purnawirawan TNI AD).


Dan, sejatinya kesadaran bernegara, kesediaan berkorban membela negara, dan mencintai negaranya sebetulnya tidak hanya dimiliki sosok seorang tentara tapi seharusnya juga dimiliki oleh seluruh warga negara Indonesia.

Mempersunting Gadis Gombong
Setelah lulus dari AMN di Magelang pada tahun 1968, Budi Harsono ditugaskan di Batalyon Infanteri (Yonif) 406, Gombong, Jawa Tengah, dengan jabatan Komandan Peleton (Danton).


Di tengah keseharian menjalankan tugasnya, hati pemuda Letnan Dua Budi Harsono tertambat kepada seorang gadis cantik, Mut Indayah. Dua sejoli ini dipertemukan Tuhan di lapangan olah raga di depan Mess Perwira Yonif 406.
Biasanya, setiap sore hari, para perwira muda dan prajurit Yonif 406 bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, terutama dengan kalangan anak mudanya, melalui kegiatan olah raga bersama seperti bola voli dan bulutangkis.


Mess Perwira yang ditempati Budi Harsono kebetulan persis berhadapan langsung dengan sekolah kejuruan (SMEA) tempat Mut Indayah menimba ilmu. Intensitas pertemuan mereka di lapangan olah raga tersebut ternyata menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka berdua.


Hubungan kasih pun terjalin. Setelah satu tahun berpacaran, Budi mempersunting Mut Indayah sebagai isteri pada 31 Agustus 1972. Itu berarti, sampai saat ini, Budi Harsono dan Mut Indayah telah melewati –apa yang disebut sebagai-- ‘Perkawinan Perak’ (25 tahun).


Ayah Mut Indayah –asli Tegal— adalah juga seorang militer, yang saat itu berdinas di Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara, ibu Mut asli dari Gombong.


Seingatnya, selain dirinya ada lima perwira muda lainnya yang berpacaran dengan gadis Gombong. Tapi, dari enam perwira muda ini hanya Budi yang sukses mempersunting gadis Gombong.


Mut Indayah yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi setelah menikah dengan Budi Harsono, di masa remajanya, adalah seorang gadis yang sangat aktif di berbagai kegiatan. Seperti kegiatan kesenian (menari) dan khususnya olah raga (renang, bola voli, dan anggar).


Dari seabreg kegiatan tersebut, anggar jenis floret adalah olah raga yang paling ditekuni Mut Indayah. Gelar juara kerap kali dia peroleh dari pertandingan-pertandingan anggar yang digelar di Jawa Tengah.


Berkat prestasinya yang menonjol di bidang anggar, sewaktu masih kelas 3 SMEA, Mut Indayah terpilih sebagai atlet utusan Jawa Tengah untuk anggar jenis floret pada Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Surabaya tahun 1969.


Anggar, kata Budi, bisa dikatakan sudah menjadi bagian hidup Sang Isteri tercinta. Bahkan, meski telah dikaruniai seorang anak, Mut masih aktif menggeluti dunia anggar.


Pada 1976, ‘kegilaan’ Mut Indayah pada olah raga anggar akhirnya berhenti dengan sendirinya karena, dia harus mendampingi Sang Suami Tercinta (sudah berpangkat Mayor) yang dipindahtugaskan sebagai Perwira Paban Madya di Kodam Bukit Barisan, Medan, setelah delapan tahun bertugas di Gombong.


Saat menyatakan kesediaannya dipinang Budi Harsono, Mut Indayah sangat memahami berbagai konsekuensi yang mesti dia lakoni sebagai seorang isteri tentara, termasuk mengikuti ke manapun dan di manapun Sang Suami ditugaskan oleh negara. Walau demikian, di tempat yang baru, Mut masih aktif bermain bola voli dan bola basket bersama ibu-ibu Persit. ►e-ti/af


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)