| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono (11)
Masa Kecil, Remaja dan Dewasa
Berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan, dan sebagai anak tertua dari
sembilan bersaudara, Budi Harsono meraih kesuksesan hidup dengan
kebersahajaan.
Tokoh yang satu ini lahir di Yogyakarta, 13 September 1946. Dia adalah
anak tertua dari sembilan bersaudara, buah kasih pernikahan pasangan
berbahagia Aris Moenandar dan Salamah.
Aris Moenandar, Sang Ayah, adalah seorang abdi negara yang bekerja di
Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Sang Ibu, Salamah, hanya lah
seorang ibu rumah tangga biasa.
Kedua orang tuanya memberikan perhatian dan kasih sayang penuh kepada
anak-anaknya. Budi dan adik-adiknya juga diasuh, diajarkan, dididik, dan
dibekali nilai-nilai budi pekerti, etika, moralitas, dan ajaran agama.
Peranan ayahnya besar sekali terutama dalam hal menanamkan tanggung
jawab dan keteladanan kepada keluarga. Karena Sang Ayah sering
berpindah-pindah tugas ke luar daerah, praktis Sang Ibu yang sering
menemani keseharian Budi dan adiknya-adiknya.
Tapi, mengingat intensitas pertemuan lebih banyak dengan ibu
dibandingkan dengan ayah yang sering bertugas di luar daerah, praktis
sehari-hari figur ibu lah yang paling dominan mewarnai pertumbuhan dan
perkembangan Budi beserta adik-adiknya. Sang Ibu lah yang sehari-hari
mengasuh, mendidik, dan mengawasi secara intensif anak-anaknya.
Lepas dari kondisi itu, ada karakter khas Sang Ayah yang agaknya menurun
pada diri Budi Harsono, yakni sikap tidak pemarah dan tidak banyak
bicara.
“Ayah saya memang tipe orang yang tidak pernah marah. Beliau seorang
yang pendiam. Tidak banyak omong. Kalau tidak merasa perlu dan penting
sekali, ayah tidak ngomong,” ucap Budi.
Aris Moenandar dan Salamah sangat mengutamakan pendidikan bagi
anak-anaknya sebagai bekal kesuksesan hidup mereka di kemudian hari. Dia
dan adik-adiknya lebih diarahkan untuk berkonsentrasi pada pelajaran
sekolah.
Jenjang pendidikan dasar (SR) dan pendidikan lanjutan (SMP) selama
sembilan tahun (1952-1961) diselesaikan Budi di kota kelahirannya,
Yogyakarta. Sedangkan, bangku pendidikan SMA dihabiskannya di kota
Menado, Sulawesi Utara.
Si Anak Bandel
Semasa tinggal di Yogyakarta, Budi berada di lingkungan yang terhitung
kurang baik. Karena itu, kedua orang tuanya --terlebih sang ibunda--
sangat selektif dan cenderung protektif pada pergaulan Budi dan
adik-adiknya.
Batasan yang diberlakukan orang tuanya dalam hal pergaulan dengan
lingkungan, bagi Budi, memang ada untung-ruginya. Tapi, apa kelebihannya
dan apa kekurangannya baru bisa ditakar dan dipahami di belakang hari.
Namun, pergaulan yang salah dengan lingkungan di luar rumah, termasuk di
sekolah, agaknya cukup mempengaruhi pola perilaku Budi. Menurut
pengakuannya, sewaktu duduk di bangku SMP di Yogyakarta, dia termasuk
anak bandel. Perilaku teman-temannya dulu yang nakal, tanpa disadarinya,
telah mempengaruhi perilakunya.
Akibatnya, dia tidak bisa lagi konsentrasi dan tak mempedulikan lagi
pelajaran di sekolah. Bersama beberapa teman satu kelas yang menjadi
gengnya, dia selalu membuat ulah.
Kendati demikian, kenakalan dia bersama teman-temannya dulu tidak
seperti kenakalan remaja sekarang. Bukan kenakalan yang merugikan orang
lain. Paling-paling, yang kerap dilakoni dia dan teman-temannya adalah
membolos, minggat dari sekolah, keluyuran di luar sekolah, atau
berkelahi.
Mengendap-endap keluar kelas dengan menerobos jendela, di saat guru
sedang serius memberikan pelajaran di kelas, adalah salah satu kebiasaan
buruk dan ‘keahlian’ Budi saat itu.
Peringatan keras dan teguran dari guru dan sekolah seakan tak mempan
untuk menyadarkan Budi. Sehingga, akibatnya, sejak Kelas 1 SMP dan
terutama pada Caturwulan I Kelas 2 SMP, nilai rapornya praktis dipenuhi
warna merah.
Nasehat Sang Ayah
Kebengalan seorang Budi Harsono mulai berubah drastis tatkala dia
mendapat nasehat dari sang ayahanda, Aris Moenandar, yang kebetulan baru
pulang dari tugas di daerah.
Dikisahkan oleh Budi, begitu mengetahui nilai rapor anaknya yang nyaris
tidak ada wana hitam atau birunya sama sekali, ayahnya lantas memanggil
dirinya.
Budi yang saat itu sudah siap dimarahi habis-habisan justru dibuat heran
oleh sikap sang ayahanda. Sebab, dengan sikap kebapakan dan gaya bicara
yang lemah lembut, tanpa sedikitpun dipenuhi bernada penuh amarah, Aris
Moenandar justeru memberikan nasehat kepada Budi.
Lewat pesan-pesan nasehat tersebut, Aris memantik kesadaran hakiki Budi
bahwa, selaku anak tertua, tanggung jawabnya sangat diandalkan oleh
kedua orang tuanya guna membimbing adik-adiknya.
Pendekatan yang dipakai Aris Moenandar untuk mengubah pribadi Budi
rupanya membuahkan hasil. Teguran halus dari sang ayahanda tercinta
ternyata memecut kesadaran dan membuka pikiran positif Budi untuk
mengubah diri.
Akhirnya, dia menyadari --setelah menerima wejangan dari sang ayah--
betapa salah dan merugi dirinya karena telah mengabaikan perjuangan
kedua orang tuanya untuk menyekolahkannya agar kelak bisa berguna bagi
keluarga dan bangsa. “Mengapa saya malah mengecewakan mereka?” ucapnya
kala itu dalam hati dengan nada bertanya kepada diri sendiri.
Dia benar-benar membatasi pergaulannya dengan teman-teman gengnya. Dia
memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka, dan tidak akan pernah
bergabung atau ikut-ikutan lagi dengan pola pergaulan mereka. Kalaupun
bertemu dengan mereka, dia sekadar menyapa alakadarnya.
Sejak saat itu, sikap dan perilaku Budi Harsono yang dikenal dan telah
dicap anak paling bengal di sekolah oleh para gurunya berubah 180
derajat. Dia tak pernah lagi datang terlambat masuk kelas, apalagi
membolos sekolah dan minggat dari sekolah.
Jika biasanya memilih posisi duduk di bangku paling belakang, sejak saat
itu, dia pindah duduk ke barisan paling depan agar mudah menyimak
pelajaran dari guru. Menyaksikan perubahan perilaku Budi, guru-guru pun
dibuat bingung dan kaget bercampur perasaan heran. Mereka kaget, kok
anak yang begitu nakal dan membuat kewalahan para guru telah berubah
perangainya.
Betapa tidak, selama ini, saking putus asa dan kewalahannya menghadapi
perangai Budi, para guru pernah sempat memperingatkannya tidak bakalan
dinaikkan ke kelas tiga bila dia tidak mau mengubah sikapnya. Waktu itu,
Budi sama sekali tidak peduli dengan ucapan para guru yang bernada
ancaman itu.
Budi membuktikan kepada kedua orang tua dan para gurunya di sekolah
bahwa dirinya telah berubah.
Perubahan sikap itu berbuah manis. nilai rapornya pada Caturwulan II
Kelas 2 SMP hitam semua, tak ada satupun mata pelajaran yang berponten
merah. Tak pelak, perubahan tingkah lakunya ditambah lagi hasil rapor si
anak nakal yang bagus semakin membuat para guru di sekolah
terheran-heran.
Waktu pun berlalu, Budi akhirnya naik ke Kelas 3, jurusan Ilmu Pasti.
Dulu, pembagian jurusan sudah dilakukan sejak Kelas 3 SMP. Ada dua
jurusan pilihan pada waktu itu: A untuk jurusan Ilmu Sosial dan B untuk
jurusan Ilmu Pasti.
Pada tahun 1961, dia dan adik-adiknya ikut diboyong kedua orang tua ke
Manado, Sulawesi Utara, menyusul perpindahan tugas Sang Ayahanda ke kota
itu. Di kota itulah dia menjalani jenjang pendidikan SMA-nya sampai
selesai.
Di Manado ketika itu orang Jawa memang terbilang sangat sedikit. Meski
karakter dan budaya Jawa sangat melekat pada diri dan pribadinya, Budi
relatif mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan Manado.
Kebetulan, ada banyak guru yang mengajar di sekolahnya saat itu berasal
dari tanah Jawa. Mereka sebenarnya adalah mahasiswa tingkat III/tingkat
IV dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Institut
Teknologi Bandung (ITB), yang ditugaskan kampusnya masing-masing sebagai
guru bantu di sekolah tersebut.
Saat itu, pemerintah membuat kebijakan mengerahkan para mahasiswa
perguruan tinggi untuk mengabdikan diri sebagai guru di sekolah-sekolah
di daerah-daerah luar Jawa, yang masih kekurangan tenaga pengajar.
Setelah rata-rata 2-3 tahun mengabdikan diri sebagai guru, mereka
selanjutnya kembali ke kampusnya masing-masing.
Karena berasal dari Pulau Jawa, dan mungkin dianggap punya kelebihan,
Budi Harsono sering dijadikan contoh bagi teman-teman sekelas oleh
guru-guru tersebut. Misalnya, bila ada soal-soal di papan tulis, dia
yang selalu diminta menyelesaikannya. Secara tidak langsung, dia menjadi
terpacu juga untuk tekun dan serius belajar.
Begitu menamatkan jenjang SMA pada 1964, dia sempat mengalami
kebimbangan. Di satu sisi, dia ingin melanjutkan kuliah. Namun, di lain
sisi, dia teringat dan menyadari kemampuan keuangan orang tuanya yang
terbatas, apalagi masih ada delapan adiknya yang sangat membutuhkan
biaya sekolah.
Dari hati kecil, dia sejatinya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Tapi, mengingat adik-adiknya masih
membutuhkan biaya, niatnya untuk kuliah di perguruan tinggi harus dia
kubur dalam-dalam.
Akhirnya, dia menemukan obat bagi kegundahan hatinya, sekaligus jalan
keluar atas kondisi dilematis yang dihadapinya, yakni dia harus
melanjutkan pendidikan tapi tidak membebani orang tuanya secara ekonomi.
Dia sudah bertekad bulat dan memancangkan niat, andaipun dia kuliah,
orang tuanya tidak akan terbebani.
Pikirannya tertuju pada pendidikan di sejumlah akademi milik instansi
pemerintah, yang umumnya memberikan fasilitas ikatan dinas kepada para
mahasiwanya, seperti akademi bank, akademi PU, akademi kereta api, dsb.
Dalam proses perenungan itulah, dan dalam suasana hati dan pikiran yang
galau, ingatannya tertumbuk pada Akademi Militer Nasional (AMN). Dia
teringat bahwa sekolahnya pernah dikunjungi oleh taruna-taruna AMN. Para
taruna AMN memang ditugaskan mengadakan anjangsana ke SMA-SMA yang ada
di Manado dalam rangka mensosialisasikan keberadaan AMN kepada
siswa-siswa Kelas 3 SMA.
Apalagi, kesan pertamanya ketika itu terhadap penampilan para Taruna AMN
nan gagah dan berwibawa dengan baju seragamnya yang khas mendorong Budi
untuk mencoba peruntungan. Dia pun kemudian memberanikan diri untuk
mendaftar sebagai taruna AMN di kota itu.
Tes AMN dan Tinggi Badan
Ada peristiwa menggelikan yang dialami Budi saat dia menjalani tahapan
tes masuk AMN di kota Manado. Pangkal persoalannya adalah perawakan Budi
Harsono yang mungil dan kurus kerempeng. Berat badannya bahkan tidak
sampai 50 kg.
Memang semasa sekolah di SMA, kondisi fisiknya tak urung membuatnya
didera perasaan minder. Dia merasa keberadaannya dipandang hanya sebelah
mata oleh lingkungan.
Diakui olehnya, di satu sisi, perasaan minder dan kurang percaya diri
sempat merasuki jiwanya ketika mengikuti tes AMN di Manado. Namun, pada
sisi lain, dia justru semakin termotivasi untuk lulus tes AMN.
“Motivasi saya menjadi tentara begitu besar sebab dengan jadi tentara
saya bisa menunjukkan keberadaan dan jati diri kepada lingkungan. Dengan
menjadi seorang tentara, saya berharap akan ada penghargaan dari
lingkungan karena itu berarti saya juga punya kelebihan,” tukasnya.
Terkenang kembali saat-saat menjalani proses tes masuk AMN di Manado
dulu, Budi mengisahkan bagaimana dia harus bersaing dengan ratusan
peserta lain yang memiliki fisik dan postur tubuh lebih ideal
dibandingkan dirinya.
Sebagian besar di antara mereka berbadan tinggi-besar dan berperawakan
gagah. Kenyataan itu sempat membuat ciut nyali dan semangat Budi
Harsono.
Ternyata benar, mungkin saking mungilnya perawakan Budi Harsono, sewaktu
menjalani tahap demi tahap tes, tinggi badan dan berat badannya harus
diukur kembali.
Agaknya, para penguji yang nota bene para perwira TNI masih meragukan
bahwa peserta yang satu ini telah memenuhi syarat secara fisik. Bahkan,
sewaktu mengikuti tes tahap akhir di hadapan Pantuhir (Panitia Penentu
Terakhir) yang terdiri atas sejumlah perwira menengah, postur tubuhnya
masih saja diragukan. Sehingga, untuk meyakinkan diri, Pantuhir meminta
agar tinggi dan berat badannya diukur kembali.
Padahal, secara formal, pada tahap Pantuhir tersebut syarat tinggi badan
peserta tes tidak lagi diutak-atik atau dipertanyakan. Tapi, mungkin
karena sangat meragukan validitas data tinggi badan Budi, salah seorang
penguji pada Pantuhir masih meminta ada proses cek ulang. “Coba tinggi
badan dan berat badan Anda dicek lagi,” ucap sang penguji tersebut yang
ternyata seorang jenderal bintang satu itu, seraya menunjuk Budi.
Apakah tinggi badan Budi memang tidak memenuhi syarat yang ditetapkan
panitia? Menurut Budi, tinggi badannya yang 160 cm memenuhi syarat yang
ditentukan panitia waktu itu yakni 155 cm. Mungkin, karena berat
badannya yang hanya 49 kg, muncul dugaan kesan seolah-olah tinggi
badannya tidak memenuhi syarat.
Dewi Fortuna ternyata berpihak pada tekad yang membaja Budi Harsono
untuk menjadi tentara. Dia akhirnya dinyatakan lulus dan termasuk dalam
16 orang peserta tes AMN dari sekitar 600-an orang yang mengikuti tes di
Manado.
Selanjutnya, 16 peserta tes asal Manado tersebut harus mengikuti proses
tes tahap lanjutan selama satu bulan penuh di kota Bandung, Jawa Barat,
persisnya di kawasan Lembang. Setelah tes di Lembang, 16 orang itu akan
disaring lagi menjadi delapan orang. Kedelapan orang itulah, peserta
asal Manado, yang selanjutnya akan dikirim ke Lembah Tidar di Magelang,
guna menjalani pendidikan pembentukan militer selama tiga tahun.
Singkatnya, dari Manado ke Bandung, Budi bersama 15 peserta lain memakai
angkutan kapal laut. Setibanya di Lembang, Budi menyaksikan telah
berkumpul seluruh peserta tes yang lolos dari daerah asalnya
masing-masing, yang akan menjalani tes lanjutan. Selama di Lembang,
seluruh peserta kembali menjalani berbagai tes seperti psikotes, tes
fisik, tes kesehatan, dll.
Keberuntungan benar-benar menyertai langkah Budi Harsono. Dia termasuk
delapan peserta asal Manado yang dinyatakan lulus seleksi tahap lanjutan
di Lembang dan akan menjalani proses pendidikan kemiliteran di AMN
Magelang, Jawa Tengah.
Sepengetahuan Budi, penetapan jumlah peserta yang lulus dari daerah
didasarkan atas rasio antara kebutuhan dan kepadatan penduduk daerah
bersangkutan. Jika untuk Manado saat itu hanya ada jatah delapan orang,
maka untuk kawasan Pulau Jawa rata-rata 50-an orang yang diterima.
Dituturkan oleh Budi, banyak orang termasuk teman-teman sekolah dan guru
yang sama sekali terkejut dan tidak mengira sama sekali kalau dia bisa
menjadi tentara, apalagi mampu menembus persaingan ketat memasuki AMN
Magelang.
Tekad membaja seorang Budi Harsono untuk menjadi tentara akhirnya
terwujud. Pada tahun 1967, bersama 231 rekan seangkatannya, Budi Harsono
dilantik sebagai perwira pertama ABRI dan berhak menyandang pangkat
Letnan Dua.
Perubahan Motivasi Hidup
Selain perasaan bangga yang menggelora di jiwa, selama menjalani
hari-hari yang keras dan penuh disiplin di Lembah Tidar, Magelang, Budi
mengaku pribadinya mengalami banyak sekali perubahan.
Hal yang paling dirasakannya dalam proses pendidikan pembentukan militer
itu adalah motivasi hidupnya yang berubah 180 derajat. Mengubah motivasi
dan paradigma berpikir orang, ungkap Budi, memang merupakan tujuan
terpenting dari pendidikan AMN.
Konkretnya, setiap taruna AMN Magelang yang semula cenderung
berpandangan hidup ekonomis-materialistis dididik dan dibina agar
orientasi hidupnya kelak semata-mata membela negara dan mencintai tanah
airnya.
Mentalitas para taruna AMN diubah dari yang berlatar belakang ekonomi
atau sekadar prestise (kebanggaan) pribadi menjadi pengabdi kepentingan
bangsa dan negara.
Selama di Magelang, motivasi awal para taruna AMN untuk menjadi tentara
berubah drastis. Mereka disadarkan bahwa tentara mesti mengabdi pada
negara dan berani berkorban membela negara. Budi merujuk pada pengalaman
dirinya sendiri saat mengikuti pendidikan di AMN dulu.
“Seperti saya sendiri, awalnya ingin menjadi tentara karena alasan
ketertarikan pada dunia militer yang terkesan gagah dan dihormati
lingkungan, dan motivasi ekonomi-material karena kondisi keluarga yang
pas-pasan. Setelah menjalani pendidikan beberapa lama di AMN, saya
mengalami perubahan orientasi hidup. Saya menjadi sosok tentara yang
betul-betul siap membela negara,” katanya.
Dia menekankan, tujuan pokok dari pendidikan pembentukan militer
(menjadi perwira ABRI) adalah mengubah segenap motivasi yang terlalu
individualistis seperti tampil gagah atau mapan secara ekonomi menjadi
sosok pengabdi, pengawal, dan pembela negara.
Dalam pendidikan pembentukan militer, kepada taruna juga ditanamkan
kesadaran bernegara dan kesediaan berkorban membela negara. Semua
pendidikan militer di negara manapun memiliki tujuan semacam itu.
Karenanya, lanjut Budi, jika motif seseorang masuk tentara sekadar demi
prestise atau mendapatkan kemapanan secara ekonomi, bakal rusak tentara
Indonesia karena tidak berkualitas.
Kembali ke soal lembaga pendidikan pembentukan militer, Budi Harsono
menggarisbawahi, saat ini hanya tinggal sistem pendidikan semacam itu
yang mampu membentuk dan memberikan motivasi agar warga negara Indonesia
rela berkorban untuk negaranya. Yang mau dan mampu membela negaranya
dengan segenap pikiran, jiwa, dan raga.
Pada sistem pendidikan umum juga ada penanaman sikap mental nasionalisme
seperti itu, tapi persentasenya tidak sebesar di sistem pendidikan
pembentukan militer, yang sejak awal sudah menanamkan kesadaran
bernegara, kesediaan berkorban membela kepentingan negara, dan semangat
mempertahankan NKRI.
Dia meyakini bahwa nilai kejuangan dan nasionalisme terus menyala dan
tertanam di benak dan jiwa para lulusan pendidikan militer meski telah
bersosialisasi dengan lingkungan umum.
Menunjuk pengalaman pribadinya, begitu lulus dari AMN Magelang, dia
langsung ditugaskan memimpin 30 orang anak buah sebagai Komandan Peleton
(Danton) di Batalyon 406 Gombong, Jawa Tengah.
Dia mengaku, idealismenya sebagai orang yang baru selesai digodok dari
--“kawah candradimuka”-- Lembah Tidar masih sangat tinggi. Apa-apa yang
diperolehnya selama masa pendidikan dia wujudkan secara riil di
lapangan. Diberi tanggung jawab memimpin 30 orang membersitkan satu
tekad besar pada diri Budi Harsono, bagaimana bisa memimpin mereka agar
dapat menjalankan tugas dengan baik, mempunyai keterampilan teknis
tempur dan perang yang memadai, serta memiliki motivasi tinggi untuk
mengabdi kepada bangsa dan negara.
Di samping tanggung jawab begitu besar memimpin banyak orang,
idealismenya semakin menguat manakala dia bersama pasukannya dihadapkan
pada tugas-tugas operasi ke sejumlah daerah konflik, seperti ke
Perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak, Malaysia (1971) dan dua kali ke
Timor Timur (1981 dan 1985).
“Dengan kepercayaan mengemban tugas khusus yang diamanatkan negara, saya
dituntut untuk menjadi orang yang bertanggung jawab kepada tugas dan
kepada seluruh anggota pasukan yang saya pimpin. Singkatnya, idealisme
dan nasionalisme saya yang terbentuk di pendidikan militer tetap
tinggi,” ucapnya.
Intinya, kesadaran dan semangat bernegara dan bela negara yang diperoleh
selama menjalani penggodokan secara mental, fisik, pikiran, dan
kesadaran di Lembah Tidar, Magelang, dulu masih sangat membekas dan
terus tertanam pada dirinya bukan hanya kala mengabdikan diri sebagai
perwira TNI aktif, tapi juga setelah dia pensiun dari dunia ketentaraan
(Purnawirawan TNI AD).
Dan, sejatinya kesadaran bernegara, kesediaan berkorban membela negara,
dan mencintai negaranya sebetulnya tidak hanya dimiliki sosok seorang
tentara tapi seharusnya juga dimiliki oleh seluruh warga negara
Indonesia.
Mempersunting Gadis Gombong
Setelah lulus dari AMN di Magelang pada tahun 1968, Budi Harsono
ditugaskan di Batalyon Infanteri (Yonif) 406, Gombong, Jawa Tengah,
dengan jabatan Komandan Peleton (Danton).
Di tengah keseharian menjalankan tugasnya, hati pemuda Letnan Dua Budi
Harsono tertambat kepada seorang gadis cantik, Mut Indayah. Dua sejoli
ini dipertemukan Tuhan di lapangan olah raga di depan Mess Perwira Yonif
406.
Biasanya, setiap sore hari, para perwira muda dan prajurit Yonif 406
bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, terutama dengan kalangan anak
mudanya, melalui kegiatan olah raga bersama seperti bola voli dan
bulutangkis.
Mess Perwira yang ditempati Budi Harsono kebetulan persis berhadapan
langsung dengan sekolah kejuruan (SMEA) tempat Mut Indayah menimba ilmu.
Intensitas pertemuan mereka di lapangan olah raga tersebut ternyata
menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka berdua.
Hubungan kasih pun terjalin. Setelah satu tahun berpacaran, Budi
mempersunting Mut Indayah sebagai isteri pada 31 Agustus 1972. Itu
berarti, sampai saat ini, Budi Harsono dan Mut Indayah telah melewati
–apa yang disebut sebagai-- ‘Perkawinan Perak’ (25 tahun).
Ayah Mut Indayah –asli Tegal— adalah juga seorang militer, yang saat itu
berdinas di Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara, ibu Mut asli
dari Gombong.
Seingatnya, selain dirinya ada lima perwira muda lainnya yang berpacaran
dengan gadis Gombong. Tapi, dari enam perwira muda ini hanya Budi yang
sukses mempersunting gadis Gombong.
Mut Indayah yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi
setelah menikah dengan Budi Harsono, di masa remajanya, adalah seorang
gadis yang sangat aktif di berbagai kegiatan. Seperti kegiatan kesenian
(menari) dan khususnya olah raga (renang, bola voli, dan anggar).
Dari seabreg kegiatan tersebut, anggar jenis floret adalah olah raga
yang paling ditekuni Mut Indayah. Gelar juara kerap kali dia peroleh
dari pertandingan-pertandingan anggar yang digelar di Jawa Tengah.
Berkat prestasinya yang menonjol di bidang anggar, sewaktu masih kelas 3
SMEA, Mut Indayah terpilih sebagai atlet utusan Jawa Tengah untuk anggar
jenis floret pada Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Surabaya tahun 1969.
Anggar, kata Budi, bisa dikatakan sudah menjadi bagian hidup Sang Isteri
tercinta. Bahkan, meski telah dikaruniai seorang anak, Mut masih aktif
menggeluti dunia anggar.
Pada 1976, ‘kegilaan’ Mut Indayah pada olah raga anggar akhirnya
berhenti dengan sendirinya karena, dia harus mendampingi Sang Suami
Tercinta (sudah berpangkat Mayor) yang dipindahtugaskan sebagai Perwira
Paban Madya di Kodam Bukit Barisan, Medan, setelah delapan tahun
bertugas di Gombong.
Saat menyatakan kesediaannya dipinang Budi Harsono, Mut Indayah sangat
memahami berbagai konsekuensi yang mesti dia lakoni sebagai seorang
isteri tentara, termasuk mengikuti ke manapun dan di manapun Sang Suami
ditugaskan oleh negara. Walau demikian, di tempat yang baru, Mut masih
aktif bermain bola voli dan bola basket bersama ibu-ibu Persit. ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|