| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono
(07)
Dari Teritorial ke Pentas Politik
Selama 35 tahun berkarier di militer, sebagian besar tugas Budi Harsono
dihabiskan di bidang teritorial (1967-2002). Tugas sebagai Kasdim,
Dandim, Kasrem, Danrem, Aster, hingga Assospol pernah dijalani Budi.
Dijelaskan oleh Budi, hakikat tugas teritorial adalah bergaul dengan
masyarakat. Sama dengan ajaran agama, kita harus banyak bersilaturahmi.
Tugas teritorial memang pada dasarnya membina masyarakat.
Atas dasar itu, orang teritorial selalu memegang prinsip dalam bertugas,
yakni tidak boleh punya musuh, justru harus punya banyak teman dan
sahabat.
Ada filosofi tugas di teritorial: Bersikap baik dengan semua orang,
semua kalangan, dan semua lapisan masyarakat.
Sampai-sampai, karena sering bergaul dengan masyarakat luas, banyak
kalangan yang tidak percaya: kok karakter Budi Harsono tidak seperti
seorang militer. Tidak seperti tentara kebanyakan.
Pergaulan dengan masyarakat sangat membantu kelancaran tugas Budi saat
terjun ke pentas politik praktis, yang diawalinya sebagai anggota Fraksi
TNI/Polri di DPR-MPR.
“Pengalaman teritorial sangat membantu saya mengemban tugas di bidang
politik di DPR/MPR dulu. Begitu pun halnya pergaulan saya dengan
lingkungan partai politik merupakan bagian dari tugas-tugas teritorial.
Jadi tidak sulit bagi saya bergaul dengan kalangan aktivis/fungsionaris
Parpol, bergaul dalam arti kata yang akrab. Saya punya akses dengan
kalangan tokoh Parpol-parpol sehingga itu membantu saya menjalankan
tugas di Fraksi TNI/Polri.”
Kesenjangan komunikasi
Ada kesimpulan yang diperoleh Budi selama dia terjun ke dunia politik
praktis selama 4,5 tahun bertugas di Fraksi TNI/Polri DPR-RI, baik
sebagai anggota biasa, wakil ketua, maupun ketua fraksi.
Menurutnya, hampir semua masalah di negara ini timbul akibat adanya
kesenjangan komunikasi antara rakyat dan pemerintah serta antara
elit-elit politik. Terlebih dalam kehidupan politik, komunikasi
merupakan hal yang sangat dominan pengaruhnya.
Dia mulai bertugas di DPR di kala bangsa ini tengah menghadapi masa
kritis dan masa transisi dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Dia menilai,
jalinan komunikasi antara aparatur pemerintah (birokrasi) dan masyarakat
luas, di awal reformasi bergulir, relatif tidak berlangsung harmonis.
Ada sejumlah faktor penyebab timbulnya masalah yang menerpa bangsa ini.
Salah satu faktor penting namun berakibat fatal adalah kesenjangan
komunikasi antara rakyat dan pemerintah.
“Karena itu, dengan berbagai lapisan masyarakat, saya berusaha untuk
bisa saling berkomunikasi dengan menciptakan ruang dialog,” jelasnya.
Ketika menjabat Ketua Komisi II DPR (bidang Pemerintahan Dalam Negeri),
dia berusaha semaksimal mungkin membangun dan menciptakan ruang
komunikasi dengan masyarakat luas, termasuk dengan tokoh-tokoh gerakan
reformasi.
Dia menambahkan, pihaknya membuka ruang dialog agar tidak terjadi
kesenjangan komunikasi dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi
bangsa saat itu. Baginya komunikasi dengan masyarakat harus selalu
dibangun dan dijalin.
Jangan sampai terjadi kesenjangan komunikasi apalagi menyangkut
persoalan-persoalan bangsa yang menuntut pemecahan bersama. Karenanya,
aspirasi dari berbagai elemen masyarakat yang datang ke Senayan
ditampung dan direspons.
“Dalam kapasitas Ketua Komisi II, pada 1998, saya undang Pak Amien Rais
dan kawan-kawan datang ke DPR untuk berdialog dengan Komisi II. Saat itu
belum terjadi pergantian kekuasaan. Mahasiswa belum masuk dan menduduki
Gedung DPR/MPR. Dan, Pak Harto belum mengundurkan diri.”
Menurutnya, seadainya tidak terjadi kesenjangan komunikasi, tidak akan
ada masalah. Semua masalah akhirnya mengemuka, dalam pengamatan Budi,
adalah akibat terjadinya kesenjangan komunikasi.
Misalnya, komunikasi antartokoh nasional sendiri atau antara tokoh-tokoh
nasional dan pemerintah. Sehingga, tidak bisa saling berkomunikasi
dengan baik. Sikap saling mencurigai yang justru lebih mengemuka.
Hal itu akibat dari tersumbatnya saluran komunikasi sehingga satu sama
lain tidak saling memberikan informasi, dan pada akhirnya, muncul
kesimpulan sendiri-sendiri, yang tentu saja sangat apriori sifatnya.
Sejarah Terulang
Demokrasi hanya bisa dibangun melalui peran partai politik (Parpol) yang
mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Aspirasi rakyat disalurkan melalui
Parpol. Dengan kata lain, kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh
kualitas Parpol-parpolnya. Demokrasi ditumbuhkan dan dikembangkan
melalui Parpol.
Meskipun presiden/wakil presiden, gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil
bupati, walikota/wakil walikota dipilih secara langsung, namun sistem
demokrasi yang dianut, diterapkan, dan ditumbuh-kembangkan di Indonesia
sejatinya adalah sistem perwakilan.
Walaupun setiap warga negara memiliki hak politik (suara), demokrasi
yang dikembangkan tetap bertumpu pada sistem perwakilan. Perwakilan itu
sendiri dipilih melalui mekanisme Parpol. Proses pengambilan keputusan
setiap kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah melalui perwakilan
Parpol yang duduk di DPR atau DPRD.
Fakta lain, dalam proses pemilihan kepala daerah (Pilkada), calon
gubernur, calon bupati atau calon walikota harus diajukan oleh Parpol,
yang memiliki perwakilan di DPRD daerah bersangkutan yang
menyelenggarakan Pilkada tersebut. Singkatnya, peran Parpol sangat
menentukan kehidupan demokrasi.
Parpol diibaratkan sel inti dalam pembangunan tubuh demokrasi di negeri
ini. Namun, fenomena Parpol di tanah air dewasa ini cenderung tidak
menampilkan peran idealnya. Malah, kontraproduktif bagi demokrasi,
kondisi riil menunjukkan semakin menipisnya kepercayaan rakyat kepada
Parpol. Bahkan, sebagian rakyat terlanjur memandang apriori terhadap
manfaat dari kiprah dan peran Parpol.
Itulah problema dan tantangan yang dihadapi bangsa ini saat ini, yang,
ironisnya, relatif sama dengan yang terjadi di masa lalu. Sejarah
mencatat, peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru merupakan
akibat dari krisis kepercayaan rakyat kepada partai politik yang ada.
Lembaga Konstituante menemui jalan buntu dalam mengambil keputusan dan
akhirnya membuahkan krisis kepercayaan rakyat kepada Parpol.
Bila menyimak kondisi peranan Parpol dalam kehidupan demokrasi saat ini,
ada semacam simpul bahwa sejarah terulang kembali karena sebagian
masyarakat berpendapat bahwa sebagian Parpol yang ada tidak sepenuhnya
memikirkan kepentingan dan nasib rakyat.
Fenomena itu semakin diperparah dengan banyaknya anggota DPRD di daerah
yang terlibat dalam kasus korupsi. Akibatnya, rakyat semakin berkurang
kepercayaannya kepada Parpol.
Padahal Parpol dibentuk untuk mengurusi dan melayani kepentingan rakyat.
Tengok saja, saat kampanye Pemilu, setiap Parpol menebar janji-janjinya
nan muluk akan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Pokoknya
pro rakyat lah.
Tapi Parpol-parpol tersebut tidak bisa membuktikan dan memenuhi
janji-janjinya saat kampanye itu. Kenyataan demikian tak pelak
menorehkan satu kesadaran kritis di benak rakyat, Parpol-parpol ternyata
hanya hidup saat Pemilu. Begitu hiruk-pikuk Pemilu berakhir, sosok
Parpol pun seakan-akan berkurang kegiatannya.
Itu mengindikasikan Parpol telah mempertontonkan sebuah perilaku
demokrasi yang kurang konsisten di hadapan rakyat. Ini tantangan
terbesar bagi bangsa ini, bagaimana Parpol harus bisa terus memupuk
kepercayaan dari rakyat.
“Jangan hanya berlakon bagus saat akan Pemilu semata-mata untuk menarik
dukungan rakyat. Justru ketika terjadi bencana alam (tsunami, banjir
bandang, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus) di berbagai daerah
di tanah air, misalnya, Parpol harus bisa membuktikan diri secara
konkret berbuat untuk meringankan beban penderitaan rakyat,” tandasnya.
Kondisi lain yang diharapkan dilihat dari peran Parpol, dia menambahkan,
adalah terkait dengan semakin menipisnya kesadaran bernegara dan
kesadaran bela negara pada warga negara Indonesia.
Selain pemerintah melalui jajaran birokrasinya, hemat Budi, Parpol
adalah aktor utama yang sangat diharapkan berperan dalam memberikan
pendidikan politik pada kader dan simpatisannya. Pendidikan politik
tersebut antara lain adalah menumbuh-kembangkan kesadaran bernegara dan
kesadaran bela negara kepada seluruh warga negara Indonesia.
Berbagai hal tersebut di atas merupakan tantangan bagi Parpol-parpol
untuk berbenah diri. Raih kepercayaan masyarakat karena demokrasi hanya
dapat berkembang dengan baik bila Parpol-parpol berkualitas! ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|