A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 12072003  
   
  ► e-ti/rpr  
  Nama:
Dr. Boediono
Lahir:
Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Agama:
Islam
Pendidikan:
- S1: Bachelor of Economics (Hons.), University of Western Australia (1967)
- S2: Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972)
- S3: Doktor Ekonomi Bisnis Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979
Pekerjaan:
Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Dosen Fakultas Ekonomi UGM

 
   

BERITA LAINNYA:

= Ancaman Krisis Lagi

 

 
 
BERITA

 

Dr. Boediono

Jangan Wariskan Ekonomi Bobrok  


Jakarta, Kompas - Siapa pun yang terpilih pada pemerintahan yang akan datang, sebaiknya mendapatkan tongkat estafet perekonomian yang baik yang on going (berjalan), bukan ekonomi yang bobrok. Apa opsi yang dipilih pemerintah saat ini untuk mengakhiri program Dana Moneter Internasional akan turut menentukan perekonomian seperti apa yang akan diwariskan pemerintahan saat ini kepada pemerintahan yang akan datang.

Hal itu dikemukakan Menteri Keuangan (Menkeu) Boediono saat menjadi pembicara kunci pada seminar bertopik "IMF Program Exit Strategy" yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI), Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI), dan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Seluruh Indonesia (PP ISEI), Jumat (11/7) di Gedung BI, Jakarta.

Seminar dipandu oleh Anwar Nasution dari PP ISEI, yang sekaligus juga Deputi Senior Gubernur BI. Sebagai pembicara, hadir Jack Boorman dari Kantor Pusat (IMF) di Washington DC (AS), mantan Deputi Gubernur Bank Sentral Australia Stephen Grenville, mantan Menteri Keuangan Thailand Tarin Nimmanahaeminda, mantan Menteri Keuangan Indonesia Rizal Ramli, dan Chief of Economist Bank Dunia untuk Asia Pasifik Homi Kharas.

Boediono menuturkan, perbedaan pandangan mengenai opsi apa yang harus ditempuh pemerintah dalam mengakhiri program IMF akan sangat baik dan akan memberikan kesimpulan yang seimbang. Akan tetapi, perbedaan pandangan itu harus mengacu pada beberapa referensi pokok bersama.

"Kalaupun ada perbedaan pandangan, tentunya acuannya harus sama. Pertama, apa pun kesimpulan kami, semua diarahkan untuk kepentingan nasional kita, kepentingan bangsa. Itu artinya, pada masa transisi ini saya kira menjadi kepentingan kita bersama untuk menyelamatkan proses transisi ini, terutama dari segi ekonomi," kata Menkeu.

Adalah kepentingan semua pihak untuk melewati masa pemilihan umum dengan kehidupan sehari-hari yang tidak terlalu terganggu, harga-harga yang tetap stabil, dan situasi yang tetap normal. Apa pun peristiwa politik yang terjadi, kata Boediono, diharapkan ekonomi rakyat, ekonomi bangsa, dan kondisi masyarakat akan tetap normal.

"Kedua, siapa pun yang dipilih pada pemerintahan yang akan datang, kami harapkan mereka akan mendapatkan estafet dalam bentuk ekonomi yang on going, ekonomi yang berjalan baik. Jangan ekonomi yang bobrok yang kami serahkan. Ini adalah kepentingan kita semua untuk menjadi referensi bagi kita, meskipun kita bersilang pendapat," kata Boediono lagi.

Apa pun yang menjadi perdebatan, lanjutnya, seyogianya dilandaskan pada fakta yang lurus dan benar, bukan pada fakta yang tidak benar atau fakta yang setengah benar. "Banyak sekali sekarang fakta yang setengah benar yang beterbangan di negara kita. Ini membingungkan masyarakat," papar Boediono.

Untuk mengakhiri program IMF, Pemerintah Indonesia memiliki empat opsi. Pertama, melanjutkan kembali program IMF ("melanjutkan kembali kerja sama dengan IMF yang ada saat ini" termasuk salah satu opsi "mengakhiri program IMF"). Kedua, post program monitoring (PPM), dengan mencicil utang kepada IMF.

Ketiga, membayar lunas seluruh utang kepada IMF sekaligus. Keempat, precautionary standby arrangement (Indonesia meminta pinjaman siaga untuk berjaga-jaga, yang tidak boleh dipakai, disertai adanya letter of intent seperti yang ada selama ini), yang sewaktu-waktu dapat diubah menjadi full standby arrangement jika Indonesia kembali dilanda krisis.

Saat ini dua opsi yang paling mengemuka adalah PPM dan membayar langsung seluruh utang IMF sekaligus. Rizal Ramli, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kwik Kian Gie, dan mantan Menkeu Bambang Sudibyo merekomendasikan pemerintah untuk membayar seluruh utang kepada IMF secara sekaligus.

Namun, pada berbagai kesempatan, Menkeu Boediono, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, dan Anwar Nasution menegaskan hal itu akan membuat cadangan devisa anjlok.

Boediono mengatakan, tidak cukup jika masa transisi pengakhirian program IMF ini hanya dilaksanakan oleh pemerintah. "Tidak mungkin pemerintah sendiri menanggung beban untuk membawa seluruh ekonomi dan bangsa ini melewati masa transisi. Ini harus merupakan kerja bersama. Itulah yang saya kira kami inginkan. Kalau toh pemerintah nanti menjabarkan dan melaksanakan suatu kebijakan, pemerintah mohon dukungan yang sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya," kata Menkeu mengakhiri pidatonya.

Di luar acara, saat ditanya pers soal opsi yang terbaik, Menkeu mengemukakan, dirinya lebih baik tidak mendahului keputusan presiden. Pengalaman dari negara lain yang sudah mengakhiri program IMF, paparnya, sangat penting untuk dipelajari oleh Indonesia.

"Antara lain yang datang sendiri secara pribadi adalah bekas Menkeu Thailand (Nimmanahaeminda), yang pada waktu itu me-manage masa transisi pada tahun 2000. Korea Selatan juga ada masa transisinya, kami ingin mempelajarinya juga. Ini semua sangat berguna untuk menghindari apa yang seharusnya kami hindari, dan menyiapkan mana yang harus kami antisipasi," ujar Boediono.

Peringkat buruk

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Andrew Steer dalam presentasinya menjelaskan, dari perbandingan dengan tiga negara lain, yaitu Korea Selatan, Thailand, dan Filipina, rating (peringkat) investasi Indonesia cukup buruk. Rating Indonesia adalah "B-", sedangkan ketiga lainnya adalah "BBB" (sumber data Morgan Stanley).

Padahal, menurut Steer, dua masalah utama pemerintah menjelang berakhirnya program IMF di Indonesia adalah kurangnya investasi serta lambatnya pertumbuhan. "Peringkat investasi Indonesia berada dua tingkat lebih rendah dari peringkat negara lain secara umum, ketika akan selesai dari program IMF. Indonesia perlu memperbaiki peringkat investasinya, jika ingin nilai investasinya meningkat," kata Steer.

Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dikeluarkan Morgan Stanley, ada tujuh indikator yang digunakan. Indikator tersebut adalah pinjaman luar negeri terhadap ekspor, pinjaman luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan rasio penggunaan utang. Selain itu, pertumbuhan PDB, persentase investasi terhadap PDB, besarnya inflasi, serta keseimbangan anggaran negara.

Dari ketujuh indikator tersebut, jika peringkat Indonesia ("B-") dibandingkan dengan peringkat negara lain yang "BBB", ada empat indikator yang nilainya di bawah "BBB". Keempat indikator tersebut adalah pinjaman luar negeri terhadap ekspor (kurang dari 24), rasio penggunaan pinjaman (kurang dari 8), persentase investasi terhadap PDB (kurang dari 5,6), dan keseimbangan anggaran (kurang dari 2,5).

Steer mengatakan, untuk memperbaiki peringkat Indonesia tersebut, kebijakan yang diambil pemerintah harus cukup pasti dan detail. "Misalnya, dalam peraturan serta kebijakan dalam hal perolehan izin. Janji yang diberikan harus pasti, yaitu jika tadinya butuh waktu 160 hari untuk memperoleh izin usaha di Indonesia, maka pemerintah harus dapat berjanji secara pasti untuk mengurangi hingga hanya butuh 50 hari. Dengan memberikan kepastian detail, investor pasti mau berinvestasi di Indonesia," ujarnya.

Menjelang keluarnya Indonesia dari program IMF, Steer mengatakan, secara makro-ekonomi dan pengurangan jumlah orang miskin di Indonesia sudah sangat baik. Dibandingkan dengan Thailand, Filipina, dan Korea Selatan ketika akan selesai dari program IMF, pertumbuhan PDB di Indonesia hampir sama dengan Filipina dan Thailand, dan sedikit lebih rendah dari Korea.

Defisit anggaran Indonesia lebih rendah dari Thailand dan Korea Selatan, dan jauh lebih rendah dari Filipina. Utang Pemerintah Indonesia lebih tinggi dari negara lain, meskipun hampir sama dengan Filipina ketika lulus tahun 2000. Sementara untuk besarnya inflasi, Indonesia lebih tinggi dari ketiganya.

Yakin bisa

Seusai acara, menjawab Kompas, Nimmanahaeminda mengemukakan, Thailand memang menyelesaikan program IMF dengan PPM, dan membayar utang IMF lebih cepat dari yang dijadwalkan. Pada Juni 2000 Thailand mengakhiri program IMF melalui PPM. Dua puluh tujuh bulan kemudian (Agustus 2002) berhasil menyelesaikan PPM dan cicilan pembayaran utang kepada IMF. Apakah Indonesia bisa mencontoh Thailand yang menyelesaikan PPM dan membayar utang pada IMF lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, Nimmanahaeminda mengatakan, "Saya yakin Indonesia bisa melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu banyak situasi di Indonesia, tetapi dari yang saya dengar, kelihatannya sangat bagus."

Nimmanahaeminda yang menjabat menkeu pada saat Thailand mengakhiri program IMF mengatakan, hal penting yang diperlukan jika Indonesia bermaksud membayar utang kepada IMF sebelum jadwal yang ditetapkan adalah external account yang sehat.

"Itu mengapa saya menyinggung situasi neraca pembayaran berjalan, serta pengurangan kerentanan sektor eksternal yang berarti Anda harus mengurangi sejumlah besar utang luar negeri, khususnya di sektor swasta. Jika Anda dapat meneruskan perolehan laba (gain) pada neraca pembayaran, itu akan membuat stabil neraca pembayaran," katanya.

Dia menambahkan, upaya yang dilakukan Thailand untuk dapat menyelesaikan PPM lebih cepat dari yang dijadwalkan adalah melakukan banyak reformasi fundamental dan mencoba menyelesaikan masalah secara langsung secepat mungkin.

Mengapa Thailand tidak memilih membayar utang kepada IMF secara sekaligus, Nimmanahaeminda mengatakan, "Sederhana saja alasannya, yaitu Anda harus diterima pasar. Anda tentu tidak mau langkah Anda diinterprestasikan sebagai mengambil risiko. Pada saat Anda mengakhiri program IMF, Anda ingin adanya kepercayaan dari pasar."

Ditanya, bagaimana jika dulu Thailand memutuskan pengakhiran program IMF dengan cara mengembalikan seluruh utang sekaligus, Nimmanahaeminda menjawab, "Saya tidak yakin pasar akan menilai itu sebagai langkah yang bijaksana. Untuk apa Anda meminjam uang dari IMF, karena Anda ingin memperkuat cadangan devisa Anda, oke? Jika Anda membayar seluruh utang IMF sekaligus, Anda harus mempelajarinya apakah pasar dapat menerima itu."

Apakah Thailand ketika itu punya uang cukup untuk membayar sekaligus? "Tentu saja kami punya cukup uang. Anda juga selalu punya cukup uang untuk membayar kembali utang pada IMF sekaligus. Sebab, utang dari IMF itu tidak digunakan untuk apa-apa," kata Nimmanahaeminda menutup pembicaraan.   ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)