| |
C © updated 30102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/cnn |
|
| |
Nama :
Mohammad Bob Hasan
Lahir :
Semarang, 1931
Agama :
Islam
Karir :
-Direktur Utama: PT Kalimanis Plywood
-PT Wasesa Lines
-PT Pasopati Holding Company
-PT Karana Shipping Lines
-PT Hutan Nusantara
-PT Lifetime Assembly of Watch and Electrical Equipment
-Preskom PT McDermott Indonesia, dan lain-lain
Kegiatan Lain :
- Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB
PASI)
- Ketua Umum PB PABBSI (angkat besi)
- PB Percasi (catur)
- PB Persani (senam)
- Presiden Asosiasi Atletik Amateur Asia (AAAA)
- Anggota Kehormatan IOC
- Wakil Presiden OCA (Komite Olimpiade Asia).
- Ketua Umum Apkindo (Asosiasi Pengusaha Kayu Lapis Indonesia)
Alamat Rumah :
- Jalan Senjaya I Nomor 9 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
- Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat Kantor :
Jalan Menteng Raya 72, Jakarta Pusat
Sumber:
Bali Post, 21 Pebruari 2004 dan 25 Februari 2004, Pikiran Rakyat 12
Juli2004 dan PDAT
|
|
| |
|
|
|
|
Bob Hasan
Raja Kayu dan Atletik
Nasib mujur masih berpihak pada Bob ‘Raja Kayu’ Hasan. Masa pengucilannya
di penjara yang terkenal seram, LP Batu Nusakambangan, dipersingkat dari
enam tahun menjadi tiga tahun. Karena berkelakuan baik, Bob diberi
pembebasan bersyarat oleh Dirjen Pemasyarakatan Suyatno.
Di balik terali besi pun, Bob menjadi motor penggerak para narapidana
berkarya kerajinan batu mulia
Bob divonis enam tahun penjara oleh pengadilan karena tersangkut perkara
korupsi. Semestinya Bom bebas bersyarat 11 Desember 2003. Namun
keterlambatan proses administratif memperpanjang keberadaan Bob di LP
Nusakambangan, penjara buat penjahat kelas kakap yang diwariskan
pemerintah kolonial Belanda.
Bob, di era orde baru merajai bisnis perkayuan berkat kedekatannya dengan
mantan Presiden Soeharto. Di antara puluhan konglomerat hitam di era Pak
Harto, hanya Bob yang terkena jeratan hukum.
Kediaman Bob di Jalan Senjaya I Nomor 9 Kebayoran Baru, Jakarta, tampak
lebih ramai di hari kebebasan Bob. Mobil-mobil mewah keluar-masuk dari
rumah besar yang di dalamnya ada lapangan tenis dan kolam renang. Hari
kebebasan Bob bersamaan dengan pengajian Jum’atan anggota Yayasan Iqra
Qurani, dan puluhan anak asuh keluarga Bob.
Selain pengusaha, Bob dikenal sebagai tokoh olahraga. Meskipun baru lepas
dari penjara, Bob masih dipercaya memimpin Pengurus Besar Persatuan
Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) sampai tahun 2008. Bob memegang
jabatan itu selama tujuh periode berturut-turut sejak tahun 1976.
Memang jatuh bangunnya dunia atletik tidak bisa dipisahkan dari sosok Bob,
anak angkat mendiang Jenderal Gatot Subroto. Gatot Subrotolah yang
memperkenalkan Bob pada Pak Harto. Bob, meskipun hanya tiga bulan, pernah
duduk di kursi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Pengrajin Batu Mulia
Di balik terali besi pun, Bob masih mampu menjadi motor yang menggerakkan
motivasi para narapidana. Kerajinan batu mulia di LP Batu Nusakambangan
maju pesat berkat keteladanan dan kepiawaian Bob. Ia menggunakan uangnya
untuk memajukan kerajinan yang memberi ketrampilan dan pekerjaan bagi para
Napi. Di dalam penjara pun, Bob masih memimpin puluhan perusahaannya.
Kerajinan batu mulia sebenarnya sudah lama dirintis di penjara tersebut,
tetapi dikerjakan sambil lalu. Batu mulia yang diproses para napi diambil
dari kerikil sungai di kawasan Pulau Nusakambangan. Dengan peralatan
seadanya, para napi memproses kerikil tersebut menjadi batu cincin dengan
bentuk ala kadarnya.
Kehadiran Bob selama tiga tahun di Nusakambangan langsung membawa angin
segar bagi para Napi dan petugas LP. Sebagai seorang tokoh berpengaruh,
naluri positif Bob Hasan langsung bekerja.
Bob membiayai keberangkatan dua staf LP ke Bandung. Mereka membeli
seperangkat mesin batu mulia, dari yang tradisional sampai yang
menggunakan tenaga listrik. Sesampai di penjara peralatan tersebut ditiru
dan diperbanyak. Sebanyak 40 Napi direkrut di antara 160 Napi, dilatih
ketrampilan membuat batu mulia. Mereka menjadi pekerja bengkel batu mulia.
Mereka diberi imbalan jasa Rp 4.500 setiap hari, di mana Rp. 500 harus
ditabung, Rp 500 untuk beli susu penambah gizi, Rp 500 untuk mencicil
sepatu dan sisanya diserahkan ke koperasi LP. Bahan mentah yang diproses
adalah obsidian warna-warni. Dengan desain yang sangat sederhana, produk
LP Batu Nusakambangan yang diberi merek dagang Island Jewels dan
embel-embel, exotic crystals from the heart of volcano atau eksotik
kristal dari jantung gunung api, langsung menembus pasar domestik dan
internasional.
Bob menyadari bahwa batu mulia yang diolah bukanlah batu mulia asli,
tetapi batu mulia tiruan yang dihasilkan pabrik kaca. Yang jadi masalah,
produk Island Jewels sudah terlanjur merebut hati para penggemarnya.
Hampir saja Bob menutup bengkelnya. Tetapi tidak ia sampai kehilangan akal.
Bob mendatangkan bahan baku batu mulia asli dari India. Bengkelnya
bergairah kembali, para karyawannya tidak kehilangan pekerjaan. Bengkel
Bob malah menambah karyawan dari 40 menjadi 60 Napi.
Tetapi bagaimana nasib bengkel itu setelah kebebasan Bob? Mungkin Bob
tetap membina mereka dari luar penjara. Cabang-cabang produksi batu mulia
merebak di Cilacap dan Pacitan, memberi sumber penghidupan bagi banyak
orang. Bob tetap diharapkan oleh para pengrajin tidak melupakan kerajinan
batu mulia. Yang disayangkan, Indonesia mengalami kelangkaan bahan baku
karena batu mulia mentah mengalir deras ke luar negeri.
Tetap Dihormati
Naluri Bob tidak berubah, baik ketika berada di luar maupun di balik
tembok penjara. Ia pandai membuka peluang, kemudian mengembangkannya
menjadi bermanfaat bagi banyak orang.
Bob (73) juga pernah menjadi Ketua Umum PB PABBSI (angkat besi), PB
Percasi (catur), PB Persani (senam) dan Presiden Asosiasi Atletik Amateur
Asia (AAAA). Kini ia masih tercatat sebagai anggota kehormatan IOC dan
salah satu Wakil Presiden OCA (Komite Olimpiade Asia). Sementara di KONI
Pusat, Bob Hasan empat periode menjadi pengurus teras. Terakhir di era
kepengurusan Wismoyo Arismunandar, ia duduk sebagai wakil ketua umum.
Keberhasilan ini menjadikan Bob tokoh yang tetap dicintai, disegani, dan
dihormati, di manapun ia berada. Kunjungan 50 atletik, pelatih, dan
ofisial, 18 Desember 2003, ke LP Batu Nusakambangan, usai mengukir
prestasi di arena SEA Games XXII, Vietnam, menggambarkan kecintaan mereka
pada Bob.
Bob dua kali mendapat predikat Pembina Olah Raga Terbaik dari SIWO/PWI
Jaya, 1980 & 1984. Juni 1984, Bob menerima penghargaan Goldene Ehren
Packeten dari Persatuan Atletik Jerman Barat (DLV) untuk jasa-jasanya
meningkatkan hubungan atletik Indonesia-Jerman Barat. Dan, September 1985
Bob bersama Amran Zamzami dan Tahir Djide menerima tanda penghargaan
pemerintah RI untuk Pembina Olah Raga Terbaik.
Keterlibatan The Kian Seng, nama asli Bob, dalam atletik bermula dari rasa
sakit pada bagian belakang lehernya kalau tangannya digerakkan keluar.
Atas anjuran seorang teman, ia melakukan olah raga lari dan senam.
Ternyata, manjur, Bob belakangan berlari paling sedikit 5 km sehari. Kalau
tidak lari, badannya merasa sakit.
Lewat dukungan dana dari belasan perusahaan, Bob menghabiskan milyaran
rupiah untuk pembinaan olah raga, khususnya atletik. Ia juga gemar bermain
golf, yang dilakukannya dua kali seminggu. Bob turut duduk dalam
kepengurusan Persatuan Golf Indonesia (PGI).
Bob sendiri ‘maniak’ olah raga lari. Belasan tahun ia setiap hari berlari
mengitari Stadion Utama Senayan, Jakarta, atau naik turun bukit kecil di
depan stadion. Ketika berlari, Bob tidak memilih waktu, hari hujan atau di
siang bolong. Kalau sedang di luar negeri, dan menginap di hotel
bertingkat, ia pantang naik lift, tetapi lebih suka mendaki dari satu anak
tangga ke anak tangga berikutnya. ►e-ti-tsl-sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|