| |
C © updated 26102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wilson |
|
| |
Nama:
Bismar Siregar
Lahir:
Sipirok, Sumatera Utara, 15 September 1928
Agama:
Islam
Karir:
-Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur (1971-1980)
-Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Bandung (1981-1982)
-Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, Medan (1982-1984)
-Hakim Agung di Mahkamah Agung RI (1984 - 2000)
Alamat Rumah:
Jalan Cilandak I No 25 A, Jakarta 12430 Telp: 7657416
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA-DEPTHNEWS |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
= WAWANCARA:
01
02 =
DEPTHNEWS: 01
02
03 =
Bismar Siregar (Depthnews 01)
Surat Bismar ke Pak Harto
Dalam sepucuk surat panjang yang ditulisnya untuk Pak Harto (14/5) yang
sedang dirawat di RSP Pertamina, Bismar menumpahkan perasaan empatinya
kepada bekas presiden 32 tahun itu. Bismar menyatakan ikut merasakan apa
yang dirasakan oleh Pak Harto dan keluarga besarnya.
Surat Bismar dan keluarganya lebih banyak mengadu dan
menyampaikan doa: “Ilahi Rabbi, bilamana kami tanpa iman kepada-Mu
melihat seseorang sakit, sering lupa memahami apa yang terjadi dalam
silih bergantinya malam dan siang, tidak ada yang terjadi kecuali
seizinMu. Kini kami lebih memahami makna, apa yang terjadi atas diri
hambaMu Soeharto, tiada lain menguji iman dan taqwa. Jadikan kami
sebagai umat sekaligus bangsa yang saling mencintai antar sesama.”
Bismar sangat memahami betapa Pak Harto, dalam usia yang sangat lanjut,
telah menemukan nilai dirinya di hadapan Allah SWT. (Pak memasuki usia
85 tahun dalam kalender Masehi, atau 88 tahun dalam kalender Islam). Dan
Bismar percaya pada makna usia seperti diwasiatkan Rasullullah Muhammad
SAW: “Bila seseorang mencapai usia 80 tahun, dan ia beriman, Allah
menghapuskan seluruh dosa sebelumnya dan dia dikembali ke keadaan
seperti anak-anak yang suci.” Konon, mendekati bilangan 88 tahun, Bismar
menjadi penyaksi betapa besar iman dan taqwa Pak Harto menerima cobaan
Allah SWT.
Bismar teringat suatu saat ketika bersilaturrahim pada Pak Harto. Dan
Pak Harto bertanya: “Sdr. Bismar dalam keadaan saya seperti sekarang ini
harus mengalami cobaan, apa dan bagaimana sikap saya?” Kesan Bismar
menangkap pertanyaan tersebut, terasa benar Pak Harto merindukan
pegangan agar selalu mengingatkannya kepada Sang Khalik. Jawab Bismar:
“Jangan abaikan mengembalikan segala sesuatu yang terjadi kepadaNya
seraya berkata, “tidak percuma Dikau jadikan ini Ilahi, kecuali ada
hikmah terkandung di dalamnya. Ikhlas aku serta berucap Alhamdulillah.
Bismar mengingatkan Pak Harto bahwa dzikir yang paling mulia di hadapan
Allah ialah tahmid kepada-Nya.
Bismar mendengar langsung ungkapan Pak Harto betapa dia sangat mencintai
sesama. Tidak pernah sakit hati atas apapun yang terjadi, pasrah sepenuh
pasrah, meskipun menerima caci maki, fitnah, prasangka tidak baik dan
demo. Pak Harto berkata telah memaafkan kesalahan mereka, dan tidak
pernah sakit hati kepada mereka. Pak Harto percaya bahwa sifat memaafkan
jauh lebih baik di mata Allah daripada menyimpan dendam.
Bismar selalu bertanya-tanya: “Mengapa di antara se-sama yang mengaku
umat Muhammad menyimpan dendam kepada beliau, dengan alasan dosanya
sangat besar sampai bersimpul “tiada maaf baginya?” Bismar merasa
sungguh percuma menyampaikan, bila diterapkan akhlak Islam, di negara
yang mengaku lahir dan ada atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa ini,
dalam waktu singkat. tidak perlu berhitung tahunan, kemakmuran akan
dinikmati oleh sebagian besar umat dan bangsa ini.
Tulis Bismar, bila umat/bangsa ini bernalar sebatas akal walau Iahiriah
begitu kental kemuslimannya, namun alpa memahami makna pesanMu dalam
Surat Al-A’raf 7:179: “Benar, jika ia hanya mengandalkan akal ia akan
lebih jahat dari binatang yang tidak berakal.” Sungguh, manusia
Indonesia sekarang ini, llahi tidak terkira yang berprilaku Iebih jahat
dari binatang, ia Dikau karuniai mata tetapi telah buta, Dikau karunia
telinga tetapi telah tuli, Dikau karunia hati tetapi telah mati-rasa.
Benar sungguh banyak manusia di antara kami ini tergolong yang demikian,
berkenankah Dikau mengampuninya?
Tentang maaf-memaafkan, hati Bismar sering menjerit, sambil berdoa
memohon belas kasih dan ampunan Allah, “untuk membukakan hati, telinga
dan mata kami mampu merasakan, mampu mendengar dan mampu melihat yang
dialami sebagian besar bangsa kami yang semakin terpuruk dalam
kemiskinan.” Bangsa yang miskin lahiriah dan batiniah. “Jangan biarkan
pemimpin kami membohongi rakyat yang sangat merindukan kejujuran para
Imam tanpa kecuali,” tulis Bismar. Bismar mendoakan agar mereka sadar
atas makna amanah yang mereka emban, seperti yang dipesankan Nabi
Muhammad SAW: “setiap kamu adalah Imam terhadap diri, keluarga dan
masyarakat.” Singkatnya, kelak tidak ada yang luput dari
pertanggung-jawaban.
Benar, saat melihat serta mendengar tingkah laku di antara pemimpin,
nyatanya banyak di antara mereka tergolong, “lain kata dengan perbuatan,
dan bukankah Dikau sebut yang demikian tergolong munafik?” Bismar merasa
ngeri setelah memahami makna kemunafikan dalam pandangan Allah,
tergolong hamba yang paling Dikau benci-murkai. Tulis Bismar, tidak
salah bila sampai sekarang ini setelah Orde Reformasi menjadi landasan
perjuangan, hari depan bangsa ini bukan semakin jelas dan terang, justru
sebaliknya, semakin kelabu menuju kekelaman.
Bismar mengungkap pertanyaan timbul dalam hatinya; bila dan kapankah
keadaan ini Dikau akhiri? JawabanMu mungkin sederhana saja, “bila dan
kapan hambaKu bertobat minta ampunan atas dosa-kesalahan, baik pribadi
maupun dosa sosial. Hal yang mustahil sekarang ini, karena bukankah saat
seorang di antara hambaMu Bismar merasa bangsa ini sedang diuji
sebanding dengan ujian yang dihadapi Pak Harto yang cukup lama disakiti
batinnya oleh mereka yang sebelumnya sering menyanjung dan memujanya,
kini berbalik menghujat serta memojokkannya. Dia mengutip pesan
leluhurnya : “Molo monang marjuji sude mandok lae, alai molo talu
marjuji sude situnjang na’ gale” (Kalau menang main judi semua memanggil
Lae, tetapi kalau kalah berjudi semua menendang karena tidak berdaya).
Bismar hanya bisa mengadu pada Ilahi bahwa Pak Harto di matanya sudah
dalam keadaan sekarat, menurut perhitungan manusia mustahil disembuhkan,
“namun di antara kami masih ada yang demikian kuat dendam kebencian
menjadikan dalil hukum jahiliah kepastian hukum untuk menyelesaikan
nasib hambaMu,” kata mereka “penuh dosa?” Tidakkah Dikau berfirman:
“Maafkanlah kesalahan sesamamu, walau ia tidak meminta maaf sekalipun
kepadamu. Lupakanlah ketidak baikan sesamamu, serta ingatlah selalu
kebaikannya.
Cintailah sesamamu, seperti mencintai dirimu.” Tetapi itu tidak
mempan bagi mereka, alasannya itu urusan nanti, yang perlu sekarang
dosanya harus di pertanggungjawabkan.
“Naudzubillah min zalik, ucap demikian keluar dari mulut yang mengaku
muslim.” Bismar masih bertanya, “Telah sirnakah iman dan taqwa kami
bahwa memaafkan kesalahan sesama, tidak diminta apalagi diminta,
merupakan perbuatan yang sangat mulia di mataMu, karena Dikau selalu
berkata Aku ghafururrahiim.” Kami telah membudayakan budaya
setan-dajjal, selalu berkata “tiada maaf bagimu.”
Terhadap golongan demikian, tulis Bismar, Dikau peringatkan, sekira
hambaMu berkata demikian terhadap sesamanya Dikaupun menyahut : “Tiada
maaf baginya.” Bismar tidak melupakan sabda indah Nabi Muhammad:
“Sekiranya seorang di antara hambaMu tidak pernah beribadah kepadaMu,
satu saat ia merindukanMu dan ia tidak menyirikkanMu, Dikau berkata:
“Setiap saat dari terbitnya fajar pagi hari sampai datangnya malam serta
dari tenggelamnya malam sampai terbitnya fajar, ditunggui olehMu karena
cintaMu melebihi cinta seorang ibu yang melahirkannya, Dikau
ghafururrahim. “Mengapa kami masih memisahkan serta membedakan maaf
kepada sesama manusia sangat bergantung dari mohon maafnya Soeharto?
Inikah akhlak Islam?”
Bismar juga mengadu, “Mengapa Ilahi Rabbi tersimpan rasa dendam dan
benci dalam hati kami seperti sekarang ini, ribut seakan tidak
terselesaikan. Banyak pro dan kontra, dan bukankah saat-saat sekarang
ini semustinya Majelis Ulama tampil ke depan memberi fatwa sesuai akhlak
Islam? Mengapa mereka seakan diam seribu bahasa, bahkan ada yang sampai
bersebut tiada maaf bagi Soeharto kecuali ia dengan jujur memohon maaf
atas kesalahan yang pemah dilakukannya, serta mengembalikan harta yang
di”jarahnya”? Demikian hukum yang ingin diterapkan mereka yang
mengutamakan penyelesaian secara hukum dunia dahulu, maaf-memaafkan
urusan kemudian. ►mti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|