| |
C © updated 30012008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Biodata
Nama:
Bill Saragih
Nama Lengkap:
Bill Amirsyah Saragih
Lahir:
Sindaraya, Simalungun, Sumatera Utara, 1 Januari 1933
Meninggal:
Jakarta, 29 Januari 2008
Isteri:
Anna Rosemarry
Anak:
- John Anthony
- Leoni Tiana
Ayah:
Jan Kadoek Saragih
|
|
| |
|
|
|
|
| BILL SARAGIH HOME |
|
|
 |
Bill Saragih (1933-2008)
Pemusik Jazz Serba Bisa
Pemusik jazz serba bisa Bill Amirsyah Saragih meninggal dunia dalam
usia 75 tahun pada hari Selasa 29 Januari 2008 pukul 11.15 WIB di Rumah
Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, arena serangan stroke yang dideritanya
sejak 2001. Pria kelahiran Sindaraya, Simalungun, Sumatera Utara, 1
Januari 1933, itu secara total menggeluti musik jazz.
Jenazah Bill disemayamkan di rumah duka, Kompleks Taman Rempoa Indah,
Tangerang, Banten. Bill sempat dirawat di rumah sakit selama 18 hari
karena penyakit paru-paru. Bill terkena stroke pada Februari 2001 dan
sejak itu aktivitas bermusiknya terhenti.
Bill seorang musisi dan penghibur serba bisa. Selain piawai sebagai
penyanyi, Bill juga seba bisa memainkan instrumen piano, saksofon,
flute, dan vibrafon. Dia penghibur yang sangat komunikatif dengan
banyolan serta vokal yang sering dimiripkan dengan suara serak Louis
Armstrong.
Menikah dengan Anna Rosemarry dan dikaruniai dua orang anak John
Anthony dan Leoni Tiana. Istrinya, Anna Rosemary sudah lebih dulu
meninggal di usia ke-63 tahun pada 18 Januari 1999, di Sydney,
Australia.
Bill lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di luar negeri, terutama
Australia, dan total menggeluti musik jazz termasuk menjadi leader untuk
grup Bill Saragih Trio yang eksis di Sydney.
Sejak tahun 1966 Bill telah melanglang buana untuk bermain musik di
luar negeri, seperti Hongkong, Filipina, Thailand dan Jerman. Dia pernah
tampil bersama Lionel hampton dan ikut jazz workshop di Jerman. Lalu
tahun 1972 dia menetap di Australia dan baru kembali ke Indonesia tahun
1987.
Bill Saragih, anak ke-5 dari 11 bersaudara dari keluarga Jan Kadoek
Saragih, mulai bermusik secara profesional di Hotel Indonesia, Jakarta,
awal tahun 1960-an bersama musisi seperti Victor Tobing, Sal Salius,
Poltak Hutabarat, dan Jack Lesmana.
Albumnya, antara lain Bill Saragih, Sings ’n Plays terbitan Suryanada
Indah Pratama tahun 1997.
Berita Majalah Tempo Edisi 18 Mei 1973 mengisahkan kebolehan Bill
tampil di panggung bersama Lionel Hampton. "Siapa yang mau main
dengan saya?” tanya Lionel Hampton. Tak ada yang beringsut dari kursinya
— kecuali seorang yang langsung naik panggung sambil menantang: “Saya
akan ambil oper vibraphon anda”. Dia pun mainlah, sementara Lionel
Hampton sesekali mengetuk piano dan selebihnya menonton permainannya.
Jelas ia tidak sebaik Hampton. Tapi keberaniannya ber jam session dalam
acara konser khusus Lionel Hampton di hadapan musisi kota Bangkok, lima
tahun lalu merupakan potret diri seorang yang bernama Bill Amir Saragih.
Bersaing dengan musisi Asia lain yang banyak mencari rizki di ibukota
Muangthai ini. Bill tidak segan untuk pamer kelihaiannya — sekalipun
berhadapan dengan raja vibraphon Lionel Hampton. Bahkan Hampton langsung
mengatakan: “Anda calon raja”.
Komentar Hampton bukan tanpa alasan. Bill yang di samping vibraphon juga
dapat memainkan piano, fluet dan senor saksophon, sudah punya modal
musik yang lumayan. Menjelang kabur nya ke luar negeri delapan tahun
yang lalu, Bill bersama saudaranya Banner Saragih dan Joe Saragih,
sempat memimpin Jazz Rider nya Hotel Indonesia.
Bahkan di sana Bill turut bernyanyi. Volume suaranya, seperti kata Tim
Kantoso Danumihardja: kalau lagi serius mirip kombinasi Sammy Davis Jr
dan Frank Sinatra.
Sementara permainan pianonya kecipratan cara Horace Silver, seperti juga
misalnya Bubby Chen. Cuma Bill, menurut Tim Kantoso yang pernah
bertindak sebagai adviser Jazz Rid: “Fingering tidak selincah Bubby
Chen, tapi sangat kuat dalam akord”. Bersama Marihot Hutabarat almarhum,
Bill sering mengisi jazz program, yang diselenggarakan USIS pada
menjelang tahun enampuluhan.
Kemampuannya bermain saksophon, bukan asal tiup saja. Konon Tim
Kantosolah yang mengusulkan agar Bill memilih saksophon. “Dengan
instrumen itu, dinamika suaranya bisa ber-ekspresi lebih penuh”.
Menjelang petualangannya di luar negeri, “hanya satu yang belum
dilakukannya, yaitu mencetak kader”, kata Tim Kantoso. Barangkali tidak
seperti yang sudah dilakukan Mus Mualim atau Jack Lesmana misalnya.
Restoran berputar. Dengan modal pengalaman yang lebih banyak -sempat
mengikuti Jazz Workshop di Jerman - Bill dengan isteri Inggerisnya
kemudian mencoba kelihaiannya di Australia. “Kalau orang kita sih di
mana saja bisa cari makan”, kata Bill dengan logat Bataknya yang cukup
medok, “meski di kampung sendiri susah cari nafkah”.
Keyakinannya yang tidak kecil’ tampak nya merupakan modal yang kuat
untuk bersaing di negeri Whitlam itu. Bahkan Bill berhasil merebut
tempat terhormat di kehidupan malam kota dagang Sydney.
Asal mulanya, seorang bekas pemain sepakbola BBSA–sebuah klub Persija -
John Chong menjumpainya di salah sebuah restoran di Bangkok. Bill
ditantang untuk mengadu nasib di Australia. “Saya memberanikan diri”,
kata Bill, “meski setelah tiba selama 5 bulan jadi penganggur”.
Usahanya yang keras mengantarkan dia kepada kontraknya dengan Summit
Restaurant, sebuah restoran berputar di puncak Australia Square pada
tingkat ke 47 — gedung pencakar langit tertinggi di Sydney.
Kemudian, rindunya kepada Indonesia dinyatakan melalui hasratnya untuk
kembaii ke tanah airnya. setelah cukup bekal dari kontraknya berakhir.
Dengan penghasilan $ 200 seminggu, secara materil Bill tergolong orang
yang agak lumayan. Tapi barangkali itu pula yang menariknya kembali ke
sana. Sebab Jakarta belum tentu bisa memberinya sebanyak itu. Hasratnya
baru terpenuhi 1997, ia kembali ke tanah air.
►ti/doan adikara
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|