| |
C © updated 29112006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tum |
|
| |
Nama:
Laksma TNI (Purn) Benyamin Bura
Lahir:
Makale, Tana Toraja, 18 September 1942
Isteri:
Yuli Parantean
Jabatan:
Anggota DPD RI dari Sulsel/Sulbar
Pendidikan:
- Sekolah Rakyat, Makale 1949-1955
- SMP Kristen, Makale,1955-1958
- SMA Neg. Rantepao, 1958-1961
- Akademi Angkatan laut, Surabaya, 1961-1965
- Universitas Terbuka, Jakarta, 1994 -1995
- Institut Bisnis Manajemen Jakarta, 1997
Pendidikan Jenjang:
- Pendidikan Lanjutan Perwira, Surabaya, 1968
- Pendidikan Lanjutan Perwira II, Surabaya, 1975
- Kursus Komandan Kapal Perang, Surabaya, 1972
- Fleet Training Group, US Navy, USA, 1974
- Seskoal 1982
Karier:
- Pembina Taruna AAL, 1965-1966
- Perwira Kapal Perang KRI Nuku, 1996-1967
- Perwira Kapal Perang KRI Yos Sudarso, 1967-1972
- Komandan KRI Cakalang, 1973
- Direktur Sekolah Artileri AL, 1976-1978
- Komandan KRI Multatuli, 1982
- Komandan Satgas Buru Ranjau, 1987-1989
- Komandan Satuan Kapal Ranjau Armada RI, 1990
- Direktur Pendidikan Akademi TNI AL, 1992
- Inspektur Armada Timur, 1993
- Inspektur Pembinaan Sumber Daya, Inspektorat Jenderal TNI AL /Anggota
Dewan Penyantun Universitas Hang Tuah,Surabaya, 1995-1997
Penghargaan:
1. Satya Lencana Penegak, 1980
2. Satya Lencana Widya Sista, 1983
3. Satya Lencana 24 Tahun, 1990
4. Bintang Yalasena Nararia, 1995
Alamat Kantor:
Gedung DPD/MPR RI
Jln. Gatot Subroto no. 6 Senayan, Jakarta
Tilp. 021-57897245; 57697232.
|
|
| |
|
|
|
|
| BENYAMIN BURA HOME |
|
|
 |
Benyamin Bura
Pengabdian Tiada Akhir
Benyamin Bura, Anggota DPD RI dari Provinsi Sulsel/Sulbar. Pria
kelahiran Makale, Tana Toraja, 18 September 1942, ini tak mengenal akhir
dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Mantan Inspektur Pembinaan
Sumber Daya, Inspektorat Jenderal TNI A, berpangkat terakhir Laksamana
Pertama (Laksma TNI) ini telah mengabdi dari kapal perang hingga gedung DPD Senayan.
Postur fisiknya cukup ideal dan mencerminkan sosok prajurit sejati.
Tinggi semampai (172 meter), atletis, padat dan tampak bersih dari
timbunan lemak. Tatapan matanya tajam dan selalu fokus pada lawan
bicaranya. Nada bicaranya tegas dan lugas. Kalimat-kalimatnya runtut,
tapi sangat terukur serta “to the point”. Benyamin Bura anggota Dewan
Perwakilan Daerah dari Prov. Sulsel/Prov. Sulawesi Barat ini memang
bukanlah tipe yang humoris. Dalam urusan senyuman pun dia termasuk irit.
Disiplin dan kultur militer tampaknya telah membentuk karakternya
menjadi pribadi yang serius, berwibawa, dan percaya diri.
Perjuangan keras memang tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup
Benyamin Bura, pria kelahiran Makale, Tana Toraja, Prov. Sulsel, 18
September 1942 ini. Bahkan di usianya yang kini 64 tahun dan sudah lama
pensiun dari dinas militer (AL), beban ekonomisnya diakuinya masih cukup
berat. Ya, anaknya yang paling bungsu masih bergelut untuk menyelesaikan
studi di Negeri Belanda, dan ini tentu saja masih membutuhkan kiriman
dolar yang tidak sedikit. Tapi dengan keyakinan teguh kepada Yang
Mahakuasa, sesuai dengan nilai-nilai Kristiani yang diyakini, lelaki ini
tetap tegar menjalani hidup.
“Selalu ada jalan keluar dari setiap masalah,” ujarnya tanpa ragu.
Masa kecilnya memang diwarnai pergulatan hidup yang keras. Sebagai anak
pendeta/rokhaniawan dan dengan latar belakang ekonomis yang kurang
menguntungkan, Benyamin dipaksa untuk selalu bergegas. Tidak ada ruang
dan kesempatan untuk hidup santai, berleha-leha apalagi berhura-hura
seperti kebanyakan anak-anak keluarga ekonomi mapan. Semasih anak-anak,
membantu orang tua di sawah atau mengembalakan kerbau dan itik menjadi
rutinitas kesehariannya di samping urusan sekolah, belajar atau membantu
orang tuanya di rumah.
Ia benar-benar asli Anak Toraja. Dilahirkan, besar dan hingga menamatkan
SMP di Makale lalu SMA di Rantepao, ibukota kabupaten yang termasuk
salah satu andalan wisata Kawasan Timur Indonesia itu.
Tapi, tuntutan masadepan mengharuskannya keluar dari Tana Toraja.
Apalagi kalau bukan karena urusan pendidikan. Perguruan tinggi waktu itu
cuma ada di Makasar. Selepas SMA, ia pun mendaftar ke Universitas
Hasanuddin, Jurusan Teknik Perkapalan. Namun secara bersamaan, ia juga
menjajal kemampuan untuk menembus Akademi Angkatan Laut, lembaga
pendidikan yang waktu itu masih sangat prestisius di kalangan anak muda.
Akademi Angkatan Laut
Benyamin sempat rada bingung menentukan arah masadepannya. Ia diterima
di Unhas. Dasar otaknya cukup encer dan ditunjang oleh jasmani dan
rokhani yang sehat, ia juga lulus seleksi ke AAL. Akhirnya, setelah
melalui pertimbangan matang, ia pun meninggalkan kegiatan perpeloncoan
yang tengah dijalani di Fak Teknik Unhas dan memantapkan pilihannya ke
AAL.
Ia mengaku bahwa pilihan ke AAL sangat dipengaruhi oleh pertimbangan
ekonomi keluarga. Belum lagi daya tarik dan rasa bangga untuk menjadi
taruna AAL. Selain bebas biaya pendidikan, karier dan masadepan pun
sudah membayang di depan mata. Sementara kuliah di Unhas, selain butuh
jangka waktu lebih lama, biaya yang harus dikeluarkan juga cukup besar.
Dengan kondisi ekonomi keluarganya waktu itu, Benyamin bahkan tidak
yakin bisa menjadi insinyiur perkapalan seperti yang pernah melintas
dalam benaknya. Jangan-jangan dalam beberapa semester, ia sudah harus
drop-out karena tak mampu lagi membayar uang kuliah.
“Saya tidak bisa memperkirakan bakal jadi apa kalau saya terus bertahan
di Unhas,” ujarnya mencoba mengingat peristiwa di tahun 60-an itu.
Masuk AAL tahun 1961, tahun 1965 ia dilantik menjadi perwira muda dengan
pangkat letnan dua. Sederet jabatan dan posisi pun sudah dilakoninya,
tapi sebagian besar di kapal perang. Diawali sebagai pembina taruna AAL
(ia masuk kelompok lulusan terbaik di angkatannya), berikutnya adalah
perwira di sejumlah kapal perang antaralain KRI Yos Sudarso, Komandan
Kapal Perang antaralain KRI Multatuli, Direktur Sekolah Artileri, hingga
Direktur Pendidikan Akademi AL dan diakhiri dengan penugasan sebagai
Inspektur Pembinaan (Irbin) di Mabes AL.
“Masa dinas aktif saya selama 20 tahun saya habiskan di laut pada
berbagai jabatan sampai dengan komandan kapal perang, “ katanya
mengenang.
Namun pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat bertugas
sebagai komandan KRI Multaltuli. Kapal ini merupakan “kapal komando”
bagi seluruh kapal di jajaran Angkatan Laut yang bergabung dalam Eskader
Nusantara. Sebagai kapal markas, posisinya pun sangat dinamis karena
harus menjelajahi seluruh kawan Nusantara, Timur maupun Barat.
Serangkaian pendidikan yang pernah diikuti selama berdinas di AL
antaralain Pendidikan Lanjutan Perwira (1968), Pendidikan Lanjutan
Perwira II (1975), Kursus Komandan Kapal Perang (1972), dan Fleet
Training Group (1974) sampai dengan Sesko TNI AL.
Suami Yuli Parantean ini juga sarat dengan sejumlah penugasan antaralain
menjadi Pembina Taruna AAL (1965-1966), Perwira di Kapal Perang NKRI Yos
Sudarso (1967-1972), Komandan Kapal Perang KRI Multatuli (1973),
Direktur Sekolah Artileri (1976-1978) dan Direktur Pendidikan Akademi
AL, Irbin di Mabes TNI AL (1995-1997). Antara tahun 1987 - 1989 saat
berpangkat Letkol Benyamin mendapat tugas khusus ke Negeri Belanda.
Yakni mengawasi pembuatan KRI Pulau Rengat dan KRI Pulau Rupat.
Kedua
kapal pemburu ranjau ini merupakan pesanan AL untuk memperkuat armada
RI. Salah satu stafnya ketika di Negeri Belanda yakni Freddy Numberi
yang kini menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Benyamin Bura pensiun dari dinas militer tahun 1998 dengan jabatan
terakhir sebagai Inspektur Pembinaan TNI – AL. Ia sangat bersyukur
karena telah menjalani dinas selama 32 tahun tanpa cacat, sejak dilantik
menjadi perwira muda tahun 1966. Kebanggaannya sebagai perajurit semakin
lengkap karena dari angkatannya yang berjumlah 180 orang itu, ia
tercatat sebagai salah satu dari 23 yang berhasil masuk ke jajaran
“bintang” atau kelompok perwira tinggi. Dengan pangkat terakhir
Laksamana Pertama (Laksma TNI), ia berhak mengikuti upacara kehormatan
pelepasan perwira di Surabaya (AAL). Momen seperti ini menjadi dambaaan
sekaligus kehormatan tersendiri bagi setiap perwira, ujarnya.
Haus Ilmu Pensiun dari dinas militer bukan berarti masapengabdian sudah selesai.
Bagi Benyamin, ini justru semacam pintu gerbang untuk memasuki dunia
baru. Sekedar perpindahan ladang pengabdian dari dunia militer ke dunia
sipil. Lagipula jauh-jauh hari, ia telah mempersiapkan diri dengan
kuliah di Universitas Terbuka. Tahun 1995 ia berhasil merampungkan
kuliah S-1-nya dan berhak menyandang gelar sarjana ilmu politik.
Meraih gelar sarjana politik ternyata belum belum menyurutkan
semangatnya untuk menimba ilmu. Tahun 1987, Benyamin mengambil program
Magister Manajemen di Institut Bisnis Manajemen Jakarta. Kuliahnya
sebenarnya sudah selesai tahun 1998 namun ia baru bisa divisuda tahun
2002. Soalnya, selain kuliah, waktu itu dia juga disibukkan berbagai
kegiatan antaralain sebagai komisaris di PT Admiral Lines. Tapi ia tetap
bersyukur karena akhirnya bisa merampungkan studinya yang kedua ini.
Kini, selain pangkat kemiliteran, ia juga berhak menyandang dua gelar
kesarjanaan yang merupakan simbol prestise masyarakat sipil.
Benyamin mengakui bahwa selain dalam rangka berkiprah di dunia sipil,
dengan kesungguhan belajarnya ini ia sekaligus menanamkan kepada
anak-anaknya bahwa tidak ada istilah berhenti untuk belajar (Learn is
never ending). Bukan dengan dengan cara teriak-teriak, tapi dengan
memberikan contoh konkrit, ujarnya.
Untuk urusan pendidikan, sampai titik darah penghabisan pun harus
ditempuh, begitu prinsipnya tentang pentingnya pendidikan dalam rangka
pembentukan generasi penerus yang berkualitas.
Ternyata, prinsip tersebut diamini oleh ketiga anak-anaknya. Anak
pertamanya, perempuan, Jory Firdaus Bura sempat memasuki perguruan
tinggi walau hanya sampai tingkat akademi. Anak keduanya, Romie
Oktavianus Bura telah meraih gelar doktor (S-3) aeronetika dari
Southampton University, Inggeris dan kini mengajar di ITB. Sementara si
bungsu, Erik Elisar Bura tengah menyelesaikan program S-2-nya di Erasmus
Universiteit, Negeri Belanda, yang alumninya antaralain Radius Prawiro
dan Kwik Kian Gie itu.
Benyamin memiliki pengalaman mengharukan di seputar pendidikan anaknya
ini. Ketika itu, Agustus 1997, kedua anaknya sudah berada di Inggeris
dan Negeri Belanda. Keduanya tengah mempersiapkan diri untuk memilih
tempat studi. Namun tahun 1998, krisis tiba-tiba saja menerjang
perekonomian Indonesia dengan salah satu dampaknya yakni merosotnya
nilai Rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS dan
Foundsterling. Anaknya yang di Inggeris, sudah pasrah dan bersiap untuk
kembali ke tanah air. Ia sadar bahwa orang tuanya yang hanya pensiunan
TNI (Benyamin pensiun terhitung 18 September 1997) tidak bakal mampu
menyiapkan 4000 poundsterling (sekitar Rp 100 juta) untuk kebutuhan
kuliah tahun pertama.
Benyamin Bura pun sangat terpukul. Tapi ia bersama keluarga tidak lantas
putus asa danmenyerah. Mereka pun memanjatkan doa kepada Tuhan. Setelah
berdoa, ia lalu menelpon anaknya. dan mengatakan sangat memahami
kegalauan anaknya itu. Namun sebelum pulang ke Tanah Air, atas
rekomendasi Fanny Habibie (waktu itu menjabat sebagai Dubes RI), anaknya
disarankan menghadap salah satu direktur di British Aerospace, Inggeris.
Akhirnya, berkat bantuan Fanny Habibie, anak Benyamin berhasil
mendapatkan bea siswa dari British Aerospace (semacam NASA-nya AS).
Dasar anaknya berotak encer. Bukan hanya program S-1, anak keduanya ini
bahkan mendapat kesempatan meneruskan studi ke jenjang S-3. Akhirnya,
anak keduanya berhasil meraih gelar doktor atas dukungan penuh dari
British Aerospace dan kini telah bekerja sebagai dosen di ITB.
Jadi kalau kita memohon kepada-Nya, Tuhan pasti membukakan jalan, ujar
Benyamin bersaksi. “Krisis moneter waktu itu, justru jadi semacam
blessing in disguise bagi saya. Benar-benar invisible hands”, ujarnya
mantap.
Pengembangan Teluk Bone
Ketika ditanya, mengapa memilih DPD, bukan anggota Parpol lalu menjadi
anggota DPR, ia berterus terang bahwa posisi DPD sangat sesuai dengan
panggilan jiwanya. Soalnya DPD itu non-partisan, non-partai, dan
non-golongan. Ia merasa DPD lebih “nyambung” dengan wawasan kebangsaan
dan semangat nasionalisme yang telah terpatri dalam jiwanya, sebagai
hasil penggemblengan selama berdinas di AL.
Tapi dalam meraih kursi DPD tersebut ia mengaku harus melalui prosesyang
cukup dramatis. Saat perhitungan suara, dari 43 calon anggota DPD Sulsel
yang ikut bertarung waktu itu, ia persis berada di urutan keempat.
Dengan demikian, ia lolos ke Senayan (untuk DPD, tiap propinsi hanya
mendapat jatah 4 kursi). Padahal, ia mengakui kemampuannya serba
terbatas, khususnya dalam urusan dana (political cost). Sementara sudah
menjadi rahasia umum bahwa pentas politik termasuk kegiatan yang “haus
duit”. Siapapun yang terjun ke bidang ini harus siap menguras kantong,
sementara hasil akhir entah itu jabatan bupati, walikota, gubernur,
anggota DPR atau Anggota DPD, masih di awang-awang.
Tapi Benyamin, dengan segala keterbatasan yang ada padanya, tapi dengan
strategi yang jitu, akhirnya bisa meraih satu kursi DPD. Ia pun
mensyukuri ini sebagai berkat dari Tuhan.
Tentang dunia barunya sebagai anggota DPD, Benyamin mengaku tidak begitu
sulit beradaftasi. Soalnya, sewaktu di dinas kemiliteran pun, mereka
telah dibekali dengan sejumlah kemampuan. Dengan demikian, mereka tidak
canggung lagi untuk menjadi pemimpin (leader), manajer/administrator
atau sebagai pembina. Belum lagi lmu politik dan ilmu manajemen yang
diperoleh dari perkuliahan, sangat mendukung pelaksanaan tugasnya
sebagai anggota DPD.
Kunci sukses dalam hidup adalah kesiapan dan kesempatan, ujar Benyamin.
Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan formal maupun nonformal
merupakan bagian dari upaya peningkatan kesiapan itu, katanya.
Tentang DPD itu sendiri, ayah tiga anak ini mengakui bahwa wewenang
lembaga ini dalam melaksanakan fungsi legislasinya relatif terbatas.
Karena apapun yang dihasilkan, baik rancangan UU, pertimbangan, masukan,
dsb tetap bermuara ke DPR. Artinya, produk-produk dari DPD tidak
bersifat final dan mengikat.
Namun demikian, Benyamin Bura melihat masih banyak yang bisa dilakukan
oleh anggota DPD. Antaralain dengan aktif mendorong dan menyuarakan
percepatan pembangunan daerah. Meningkatnya anggaran DAU dari 25 menjadi
26 persen dari penerimanaan negara mulai RAPBN 2007 nanti merupakan
contoh konkrit hasil perjuangan DPD, katanya.
Sebagai wakil dari Provinsi Sulsel/Prov. Sulawesi Barat), Benyamin
memiliki komitmen kuat untuk membantu percepatan pembangunan daerah ini.
Salah satu gagasannya yang cukup gencar dipromosikan yakni pengembangan
kawasan Teluk Bone menjadi kawasan maritim yang bernilai
strategis-ekonomis, lestari dan berkelanjutan. Menurutnya, kawasan yang
mencakup wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan
melibatkan tak kurang dari 12 kabupaten itu harus ditangani secara
terpadu. Soalnya, penduduk kawasan teluk sempit ini relatif padat,
khususnya di sepanjang pesisir pantai.
Kalau penduduk tidak dibina, maka
mereka akan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara merusak lingkungan.
Misalnya dengan melakukan pembalakan liar di areal hutan yang seharusnya
berfungsi sebagai kawasan konservasi atau gudang penyimpanan air. Atau
jika nelayan, mereka mencari ikan dengan cara pengeboman yang sangat
merusak lingkungan hidup atau membabat hutan bakau di pesisir pantai.
Kapal ikan yang beroperasi di kawasan Teluk Bone harus dibatasi. Kapal
bertonase di atas 30 gross ton harus dilarang masuk, sehingga tidak
mematikan nelayan kecil. Pemda, LSM, badan usaha besar seperti PT aneka
Tambang dan PT Inco harus bersinerji untuk mewujudkan kawasan tersebut
menjadi daerah yang makmur dan berkembang, tapi tetap mengedepankan
kelestarian lingkungan strategisnya, katanya.
Guna mewujudkan obsesinya itu, Benyamin aktif mempromosikan idenya ini
kepada berbagai instansi dan pejabat terkait termasuk kepada para
investor. Mendagri, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menristek, Menteri
Pembangunan Daerah Tertinggal sampai Menteri Olah Raga sudah diyakinkan
akan pentingnya keterpaduan pembangunan dan pengembangan kawasan Teluk
Bone. ► e-ti/tumpal siburian
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|