| |
C © updated 06062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/henry |
|
| |
Nama:
Ir. Bejo Rudiantoro, MM
Lahir:
Purworejo, 6 Juli 1966
Agama:
Islam
Istri:
Drg. Tjatur Indah Umara
Anak:
1. Sekar W. Wiridiana (13 tahun)
2. Anantama Kurnia Buana (10 tahun)
3. Aulia Sena Adipraja (5 tahun)
4. Tatya Anindya Ruci (3 tahun)
Pendidikan:
1. S1 Menejemen Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1990
2. S2 Magister Management STIE - IPWI Jakarta 1997
Aktivitas:
1992-Sekarang, Dirut PT. Juang Jaya Nusantara (Konsultan
Management)
2003-Sekarang, Direktur PT. Alamjaya Makmur Sejahtera (Oil & Gas
Services, IT)
2004-Sekarang, Dirut PT. Surya Langgeng Sejahtera (Perkebunan)
Organisasi:
2000-Sekarang, Pimpinan Yayasan Pelita Bangsa
2003-2005, Anggota Pokja Hukum, HAM, dan Lingkungan Hidup DPP Partai
Golkar
2005-Sekarang, Wakil Sekjend DPP Ormas MKGR
2005-Sekarang, Sekjend (Plt) DPP GEMA Ormas MKGR
2005-Sekarang, Wakil Ketua Badan Informasi & Komunikasi (BIK) DPP Partai
Golkar
2006-Sekarang, Anggota Dewan Pakar ICMI Bidang Pengembangan Prasarana
Wilayah |
|
| |
|
|
|
|
| BEJO RUDIANTORO HOME |
|
|
 |
Bejo Rudiantoro Gamang Disebut Politisi
Menyandang predikat politisi, secara umum membuat banyak kader partai
bangga. Namun bagi Bejo Rudiantoro, Wakil Ketua Pengurus Pusat (PP)
Badan Informasi dan Komunikasi Partai Golkar, justru merasa gamang dan
gundah disebut politisi. Itu dikarenakan imej politisi yang berkiprah di
panggung perpolitikan nasional saat ini terkesan hanya bekerja untuk
kepentingan pribadi, golongan, kelompok dan kepentingan-kepentingan
jangka pendek.
Memang tidak semua politisi seperti itu, namun secara umum penilaian,
penglihatan, dan hasil evaluasi masyarakat mempersepsikan demikian,
karena perilaku seperti itu dalam kenyataannya mewarnai kinerja para
politikus Indonesia. “Perilaku inilah yang kemudian mengintrodusir
stigma politik sebagai sesuatu yang kotor dan menghalalkan segala cara
untuk mencapai tujuan,” kata pria kelahiran Purworejo ini.
Menurut saya, tambah lelaki kelahiran 6 Juli 1966 ini, hakikat politik
bukanlah sesuatu yang kotor, tetapi luhur karena mempunyai peran dalam
mengelola bangsa dan negara untuk mencapai cita-citanya, yakni
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. “Cuma, politik menjadi kotor
karena perilaku orang-orang yang bekerja dan bergelut di dunia politik,
yang banyak diantaranya hanya berjuang untuk kepentingan diri dan
kelompoknya,” tandasnya.
Berangkat dari Keprihatinan
Bejo Rudiantoro, pria berusia 40 tahun ini memasuki dunia politik
setelah berhasil mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang
konsultan perminyakan, perkebunan, dan teknologi informasi. Ini berbeda
dengan teman-temannya yang menjadi pengusaha setelah memasuki dunia
politik.
Ada yang sangat mengganjal dalam hatinya sejak masih duduk di bangku
kuliah, di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), yakni
perilaku berbagai kalangan dalam mengelola sumber daya alam di
Indonesia, termasuk diantaranya pengelolaan kehutanan dan sumber daya
lainnya.
Oleh karena itu, selepas dari bangku kuliah, Direktur PT. Alam Makmur
Sejahtera ini mencoba berjuang dengan teman-temannya melalui pendirian
sebuah Lembaga Kajian Pembangunan Kehutanan dan Lingkungan. Mereka
membuat studi-studi tentang pengelolaan hutan yang kemudian menghasilkan
rekomendási-rekomendasi untuk dikirim ke berbagai pihak, termasuk
diantaranya Menteri Kehutanan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil
yang maksimal. Ini membuat direktur beberapa perusahaan ini berpikir
untuk mencari wadah perjuangan yang baru.
Niat perjuangan ini semakin diperkuat dengan situasi ekonomi sosial
masyarakat Indonesia yang tidak karu-karuan setelah memasuki era
reformasi. “Saya harus berbuat sesuatu untuk republik ini,” tuturnya
seraya menyatakan kesadarannya bahwa bila itu dilakukannya sendirian,
akan sangat berat dan tidak ada gaungnya. “Katakanlah saya mengkritik
kebobrokan republik ini tetapi hanya sekadar di meja makan, tidak akan
pernah ada artinya,” kata suami Drg. Tjatur Indah Umara ini.
Menjawab pertanyaan, mengapa memilih partai politik sebagai wadah
perjuangan, pria yang memulai karir polititik di Pokja Hukum, HAM, dan
Lingkungan Hidup DPP Partai Golkar ini, menyatakan karena partai politik
adalah wadah konstitusional dan memiliki garis perjuangan yang kongkrit.
Dengan posisi garis perjuangan seperti itu membuat setiap orang merasa
nyaman dan tidak ragu-ragu berorganisasi dalam partai. Dengan garis
perjuangan itu pula, setiap kader akan mengetahui apa yang akan
dilakukan dan apa yang akan dikerjakan.
Golkar Pilihan Terakhir
Setelah memikirkan dan menghitung-hitung berbagai wadah perjuangan yang
akan digunakannya, akhirnya ia memilih partai politik dan ormas. ”Kita
harus menyalurkan kritik-kritik itu secara kontitusional serta
konstruktif, dan itu bisa kita lakukan di partai politik,” kata ayah
Sekar W. Wiridiana (13 tahun), Anantama Kurnia Buana (10 tahun), Aulia
Sena Adipraja (5 tahun), dan Tatya Anindya Ruci (3 tahun) ini.
Namun setelah memilih partai politik dan ormas sebagai wadah perjuangan,
perenungannya tidaklah berarti sudah selesai. Permasalahan yang muncul
kemudian, partai politik mana yang harus dipilihnya. Ini sedikit
membingungkan bagi Bejo Rudiantoro di tengah-tengah banyaknya partai
politik pasca reformasi di Indonesia.
Jika bertitik tolak dari garis politik keluarga, peraih gelar insiniur
tahun 1990 ini, seharusnya langsung memilih Partai Golkar. Karena, sang
ayah merupakan kader tulen Golkar dan pendiri Sekretariat Bersama Golkar
Purworejo, bahkan pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Purworejo.
“Namun ayah saya memberi kebebasan bagi setiap anak-anaknya untuk
memilih garis politik yang diinginkan masing-masing. Jadi saya tetap
dituntut untuk memilih yang terbaik bagi saya,” katanya sembari
menyatakan bahwa diam-diam ayahnya tetap berharap Rudiantoro memilih
Partai Golkar.
Setelah mempelajari dan membandingkan satu persatu partai politik yang
sempat dinominasikannya, ia menyimpulkan bahwa ia harus memilih partai
politik yang tidak membeda-bedakan kadernya. “Saya melihat, kalau bukan
‘darah biru’ di Nahdatul Ulama, kemungkinan besar tidak akan dapat
menjadi tokoh sentral di PKB. Demikian juga dengan PAN, kalau bukan
anggota Muhammadiyah sangat sulit menjadi tokoh utama PAN. Kalau bukan
aktivis-aktivis di Masjid, sangat sulit menjadi pimpinan di Partai
Keadilan Sejahterah (PKS),” tutur Direktur Utama PT. Juang Jaya
Nusantara ini.
“Sebelum memilih Partai Golkar, saya sempat bersinggungan lebih dahulu
dengan partai-partai lain. Dalam arti, berkomunikasi dengan kader-kader
mereka, baik kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai
Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan termasuk
Partai Golkar,” katanya dengan mengakui bahwa garis perjuangan dan
platform Partai Golkar sejalan dengan garis perjuangannya.
Partai Golkar merupakan partai nasionalis yang memungkinkan semua
komponen-komponen anak bangsa bisa berkompetisi dengan sehat, berkarya
dan berkarir di situ. “Saya tidak melihat ada iklim seperti ini di
partai-partai lain,” tandas peraih Magister Management tahun 1997
tersebut.
Perpolitikan Nasional dan Kader Partai
Menyikapi sikap skeptis masyarakat terhadap politik dan orang-orang yang
bekerja di dalamnya, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat
Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (DPP
Ormas MKGR) ini menyatakan, stigma itu akan terus melekat sepanjang
perilaku para politisi berjuang untuk kepentingannya sendiri. Itu
jugalah yang mempengaruhi buruknya iklim perpolitikan nasional.
“Untuk mengubah stigma yang menganggap politik sebagai sesuatu yang
kotor, maka perilaku para politisi yang mendahulukan kepentingan
pribadi, golongan, dan kelompok harus berubah,” tutur Direktur PT.
Alamjaya Makmur Sejahtera yang bergerak di bidang Oil & Gas Services dan
Information Technologi ini.
Dalam melakoni peran, para politisi seharusnya mendahulukan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan kelompok.
Kepentingan bangsa dan negara seharusnya menjadi garis perjuangan bagi
semua partai politik dan kader-kadernya. Oleh karena itu, setiap kader
partai politik harus berani mengkritisi partainya jika menempuh garis
kebijakan yang berbeda dari platform kepentingan bangsa dan negara.
“Sebagai contoh, saya memang anggota Partai Golkar, tetapi partai saya
yang sesungguhnya adalah partai Indonesia. Golkar bagi saya bukan tujuan
tetapi merupakan kendaraan untuk meraih tujuan-tujuan bersama, yang
tidak terlepas dari kepentingan bangsa dan negara,” tutur Sekretaris
Jenderal (Plt) Dewan Pimpinan Generasi Muda Organisasi Kemasyarakatan
Musyawarah Gotong Royong (DPP GEMA Ormas MKGR) ini.
Stigma politik yang kotor, menurut Direktur Utama PT. Surya Langgeng
Sejahtera yang bergerak di sektor perkebunan ini, berkaitan erat dengan
kualitas sumber daya kader partai politik. ”Jadi permasalahan pokoknya
adalah bagaimana sebaiknya partai politik membangun kader-kadernya,”
tuturnya.
Lebih jauh Anggota Dewan pakar ICMI Bidang Pengembangan Prasarana
Wilayah ini menjelaskan, ujung tombak dan kader-kader partai politik
akan menjadi penentu citra partai menjadi baik atau buruk. Partai
Politik akan mendapat penilaian yang baik dari masyarakat bila
kader-kadernya berperilaku baik. ”Ini menjadi tanggung jawab yang besar
bagi partai politik dalam membangun sistem dan mekanisme rekruitmen
kader yang sehat, sehingga mampu mendorong kinerja perpolitikan nasional
yang lebih baik,” tandasnya.
Penggagas Nasonalisme Baru Indonesia
Sepintas, tidak terlihat ada perbedaan Bejo Rudiantoro dengan teman
seprofesinya, sebagai seorang eksekutif. Namun setelah berbincang dengan
pria yang selalu tampil bersih ini, akan segera terlihat perbedaan
dirinya dengan eksekutif-eksekutif lainnya. Bagaimana tidak, pria
bertubuh langsing ini ternyata tidak hanya memikirkan bagaimana
mengembangkan usaha yang dipimpinnya agar menjadi perusahaan besar
hingga konglomerasi.
Akan tetapi pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah ini, juga memikirkan
perjuangan untuk membesarkan bangsa dan Negara Indonesia yang sangat
dicintainya. Sosok ini tentu menjadi sangat berbeda dengan kebanyakan
kalangan eksekutif lainnya yang hanya memikirkan profit, hingga tidak
sempat memikirkan hal-hal lain di luar bisnis, terlebih urusan bangsa
dan Negara.
Wartawan majalah Berita Indonesia yang pernah bertemu dalam satu acara
dengan lelaki berusia 42 tahun ini, meminta penulisan profilnya dalam
rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2006 yang jatuh pada tanggal
20 Mei. Majalah Berita Indonesia ingin mengetahui dan mendiskusikan
pikiran-pikirannya tentang masa depan bangsa dan Negara Indonesia.
Degradasi Nasionalisme
Saat ditemui di ruang kerjanya yang asri di Menara Kebon Sirih, Jakarta,
pria lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) ini
langsung menyatakan keresahanya terhadap masa depan Indonesia yang saat
ini tengah menghadapi krisis nasionalisme. Pemikiran inilah yang
membedakan Bejo Rudiantoro dengan pelaku bisnis lainnya. Ditengah-tengah
kesibukannya memimpin beberapa perusahaan, pria yang masih tergolong
muda ini, ternyata masih mensisakan waktunya untuk memikirkan
kelangsungan hidup bangsa dan Negara yang dicintainya.
“Krisis nasionalisme yang tengah mencengkram masyarakat Indonesia saat
ini merupakan tantangan besar, yang bila gagal dihadapi, akan berakibat
sangat buruk bagi eksistensi bangsa Indonesia sebagai salah satu negara
di tengah-tengah pergaulan dunia internasional,” ungkap Direktur PT.
Alamjaya Makmur Sejahtera ini, seraya menolak pembenaran atas degradasi
nasionalisme sebagai hal yang wajar dalam era globalisasi dewasa ini.
“Era globalisasi tidak seharusnya menjadi alat pembenaran bagi degradasi
nasionalisme. Bahkan harus sebaliknya, globalisasi yang berpotensi
membonceng kepentingan berbagai kalangan, khususnya kalangan
multinational corporate (MNC), harus semakin diwaspadai dengan
memperkuat nasionalisme,” tutur pria peraih gelar Magister Managemen
pada tahun 1997 ini.
Bagi suami drg. Tjatur Indah Umara ini, bagaimanapun magnitut yang
dibangun dalam globalisasi, tetap harus diwaspadai. “Globalisasi ibarat
pedang bermata dua. Pada satu sisi membawa tantangan, walaupun pada sisi
yang lain membawa berkah,” jelas direktur PT. Juang Jaya Nusantara ini.
Kita, tambah laki-laki yang juga memimpin PT. Surya Langgeng Sejahtera,
seperti terlena dengan berkah globalisasi dan tidak menyadari tantangan
besar yang dibonceng globalisasi itu. ”jika kita tidak memiliki
nasionalisme yang kokoh melakoni globalisasi ini, berarti kita tengah
berada dalam ancaman neo kolonialisme atau penjajahan dalam bentuk yang
berbeda dengan penjajahan di abad ke-19 atau kita memang sudah berada di
dalam cengkaram neo kolonialisme itu tanpa kita sadari,” tutur lelaki
yang bergelut di ormas kepemudaan ini.
Peran Generasi Muda
Sebagai jiwa, tutur pria yang akrab disapa dengan panggilan “Pak Rudi”
ini, spirit nasionalisme berperan menjadi sumber daya energi untuk
menggerakkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena
itu, paham nasionalisme seharusnya tetap kuat mengiringi perjalanan
sebuah Negara, kapan dan dalam kondisi apapun. “Apa jadinya sebuah
Negara tanpa nasionalisme? Itu sama halnya dengan sebuah tubuh tanpa
jiwa, yang pada akhirnya akan mati” katanya.
Saat ditanya, parameter apa yang digunakan untuk mengukur kuat lemahnya
nasionalisme sebuah bangsa atau sebuah masyarakat, Sekretaris Jenderal
DPP Gerakan Muda Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Kekeluargaan
Gotong Royong (GEMA-Ormas MKGR) ini mengukurnya dari penempatan
kepentingan bangsa dan negara oleh warganya.
Kalau kepentingan bangsa dan negara ditempatkan di atas kepentingan
pribadi, kelompok atau golongan, maka nasionalisme di negara itu adalah
kuat. Sebaliknya, bila kepentingan pribadi, kelompok atau golongan
didahulukan dari kepentingan bangsa dan negara, maka nasionalisme bangsa
itu sudah hancur.
“Kita sendirilah yang menelisik, di mana kepentingan pribadi dan
kepentingan kelompok atau golongan, serta kepentingan bangsa dan negara
kita tempatkan. Lalu, kita sendiri akan dapat menjawab sekuat atau
selemah apa nasionalisme kita,” tutur Anggota Dewan Pakar Ikatan
Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini
Lelaki yang menjadi ayah empat anak, dua putra Anantama Buana Putra dan
Aulia Sena Adipraja, serta dua putri Sekar W. Wiridiana dan Tatya
Anindya ini mencontohkan perilaku KKN, perebutan kekuasaan, konflik,
kekerasan, dan persoalan-persoalan yang kerab mengganggu ketenangan
masyarakat juga dapat menjadi titik tolak dalam mengukur tingkat
nasionalisme.
Wakil Sekjen DPP Ormas MKGR ini memandang lemahnya semangat nasionalisme
masyarakat Indonesia, merupakan ancaman yang sangat serius. Oleh karena
itu momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2006 ini, harus
dimanfaatkan untuk mengevaluasi sejauh mana nasionalisme itu meredup
dalam setiap jiwa masyarakat Indonesia.
Ironisnya, tambah Bejo Rudiantoro di kalangan generasi muda, semangat
nasionalisme itu justru semakin menipis. “Apa jadinya Negara ini pada
dua atau tiga dasawarsa mendatang, jika generasi muda bangsa ini tidak
mempunyai nasionalisme yang kokoh. Kehancuran bangsa-bangsa di berbagai
Negara, terjadi karena genarasi muda tidak mempedulikan tantangan yang
dihadapi bangsanya sendiri. Maka, ketika ketiadaan nasionalisme itu
memuncak, kehancuran bangsa itu menjadi Negara-negara kecil, tidak bisa
dihindarkan lagi.
Kehancuran negara-negara yang terjadi di berbagai belahan dunia,
sesungguhnya dapat dihindari jika generasi muda bangsa itu menyadari
kehancuran negaranya tengah berproses. Jika mereka segera mengambil
sikap dan mengobarkan kembali semangat nasionalisme, maka kehancuran
bangsa itu akan dapat dipulihkan. Sebaliknya, kehancuran bangsa itu
semakin lama semakin dalam bila generasi mudanya tidak peduli terhadap
kenyataan bangsanya yang tengah berproses menuju kehancuran.
Nasionalisme Pengelola Negara
Proses kehancuran bangsa Indonesia terjadi ditengah-tengah keterpurukan
moral dalam mengelola Negara. Selama puluhan tahun kehidupan berbangsa
dan bernegara di Indonesia ditengarai perilaku pemerintah dan pengusaha
yang kolutif, koruptif, dan nepotistik (KKN). Ini membuat masyarakat
kehilangan kepercayaan (trust) terhadap pemerintah dan kalangan dunia
usaha.
Idealisme kehidupan berbangsa dan bernegara, yang seharusnya
mensejahterakan rakyat justru menyengsarakan di bawah hegemoni kolusi,
korupsi, dan nepotisme. Sebagian anggota masyarakat tak lagi mempercayai
negara sebagai wadah untuk mensejahterakan diri, karena dalam
kenyataannya masyarakat terjebak dalam kemiskinan, ketiadaan lapangan
kerja, dan biaya hidup yang setiap saat semakin tinggi.
“Ini merupakan embrio pertama kehancuran bangsa. Fenomena ini terus
berproses dan semakin dalam di tengah-tengah kemunculan globalisasi
sebagai peradaban baru dunia. Banyak warga Negara yang kemudian mengubah
oriontasi kehidupannya dari nasionalisme menjadi internasionalisme atau
globalisme,” tuturnya.
Ironisme kehidupan di banyak warga Negara terlihat jelas dari perspektif
yang memandang globalisasi sebagai peradaban yang mampu memberi
kesejahteraan. Perspektif ini mengakibatkan konsekuensi perubahan dalam
memandang hubungan antara warga Negara dengan Negara itu sendiri. Jika
sebelumnya sumber kesejahteraan berasal dari perikatan antara warga
dengan Negara, maka sesudah terbentuknya globalisasi, sumber
kesejahteraan tidak lagi dimonopoli Negara melainkan juga sudah dapat
diperoleh dari globalisasi itu sendiri.
Dalam kondisi demikian, tutur Bejo Rudiantoro, hubungan antara seseorang
dengan negaranya semakin renggang pada satu pihak, dan di pihak lain
merapat dengan internasionalisme. Pada saat seperti ini kebanggaan
bernegara tidak lagi dianggap penting, karena wadah untuk meningkatkan
kesejahteraan ternyata tidak hanya bersumber dari kehidupan bernegara,
tetapi juga dari kehidupan internasional. Ini merupakan ancaman yang
sangat serius terhadap eksistensi Negara. Keberadaan negara sebagai
wadah perjuangan bersama seluruh pendududuk untuk mewujudkan
kesejahteraan bersama dalam sebuah pemerintahan yang berdaulat, mulai
digugat.
Tidak mengherankan, jika muncul fenomena di banyak Negara, yang ditandai
dengan kehancuran semangat nasionalisme dan sebaliknya menguatkan
semangat internasionalisme. Proses ini tentu berpotensi besar muncul
ditengah-tengah pengelolaan Negara yang buruk oleh pemerintahnya.
“Harus kita pahami, tambahnya, nasionalisme tidak tumbuh di
tengah-tengah masyarakat yang sengsara. Nasionalisme hanya akan tumbuh
jika masyarakat Negara itu hidup sejahtera dan bangga terhadap bangsanya
sendiri dan pemerintah yang berkuasa,” kata lelaki yang berprofesi
sebagai konsultan perminyakan ini.
Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan situasi yang sulit. Hal itu
dapat kita lihat dari menggerusnya kebanggaan bernegara dan meningkatnya
orientasi global masyarakat. Ini sesungguhnya dapat dimaklumi karena
dalam kenyataannya kehidupan masyarakat justru semakin terpuruk.
Tentu fenomena ini merupakan kecelakaan besar bagi kelangsungan bangsa
Indonesia ditengah-tengah perubahan, baik yang berskala nasional maupuan
internasional, yang tidak berpihak kepada Indonesia. Reformasi yang
sebelumnya dipandang sebagai jalan keluar dari buruknya pengelolaan
Negara oleh pemerintahan sebelumnya, ternyata tidak membawa perubahan
yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana yang
dieluk-elukkan sebelumnya.
Pemerintahan pasca reformasi juga belum terlihat membawa angin segar dan
harapan akan membaiknya kesejahteraan masyarakat. Yang malah terlihat
justru keadaan yang terbalik dari harapan masyarakat. Kesejahteraan yang
diharapkan akan datang pasca reformasi justru berubah menjadi
keterpurukan, pemiskinan, ketiadaan lapangan kerja dan masa depan yang
tidak menentu.
Bangkitkan Kembali Semangat Nasionalisme
Nasionalisme, dalam realitasnya merupakan alat yang digunakan sebuah
bangsa untuk mempertahankan diri dari perpecahan. Jika pada awalnya
perpecahan Negara ditengarai serangan dari luar maka pada saat ini lebih
banyak ditengarai perpecahan dari dalam Negara itu sendiri.
“Kenapa Papua atau Maluku ataupun Aceh bergolak dan menyatakan
keinginannya memisahkan diri dari NKRI. Jawabannya adalah bahwa mereka
tidak lagi bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jika ada
pertanyaan berikutnya, kenapa mereka tidak bangga, maka jawabannya
adalah karena mereka tidak merasa sejahtera sebagai bagian dari NKRI.
Oleh karena itu mereka merasa, akan hidup lebih sejahtera jika
melepaskan diri NKRI dan menjadi Negara yang berdiri sendiri,” tuturnya.
Jadi, tidak hanya Papua, Maluku, atau Aceh, daerah-daerah lain juga bisa
menuntut hal yang sama, melepaskan diri dari NKRI. Lalu jalan keluar apa
yang harus diupayakan untuk menghindari perpecahan ini. Satu-satunya
adalah membangun nasionalisme disetiap jiwa masyarakat Indonesia
termasuk dikalangan pemerintah dan aparatur pemerintahan dari yang
paling tinggi hingga yang paling rendah, kalangan elit politik dan
kader-kader partai politik, pengusaha dan para professional, hingga
masyarakat bawah.
Pengertian nasionalisme dalam hal ini adalah pandangan dan perilaku yang
mengedepankan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi,
golongan, atau kelompoknya. “kehancuran nasionalisme ditengah-tengah
masyarakat Indonesia terjadi karena sebagian anggota masyarakatnya lebih
mendahulukan kepentingan pribadi, kepentingan golongan, dan kelompoknya
sendiri dan untuk mendapatakan kepentingan itu adalah dengan
mengorbankan kepentingan bangsa dan Negara,” tuturnya.
Lebih lanjut B. Rudianto mencontohkan perilaku KKN di lingkungan
birokrasi dan dunia usaha merupakan wujud nyata penghancuran semangat
nasionalisme. Perilaku itu telah mengakibatkan segelintir orang menjadi
kaya raya sementara jutaan bahkan ratusan juta masyarakat lainnya
menjadi lebih sengsara.
Sumber daya pembangunan dan penyejahteraan masyarakat yang dikorupsi
para penyelenggara Negara dan pelaku usaha telah mengakibatkan mereka
kaya raya, sementara masyarakat lain yang seharusnya menikmati
pembangunan tidak lagi merasakan nya, hingga mereka semakin miskin. ►e-ti/henry
maruasas
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|