| |
C © updated
24062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Bastian Purnama
Lahir:
S
Karir:
- Direktur Utama BES
|
|
| |
|
|
|
|
| BASTIAN HOME |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
BERITA
Bastian Purnama Terpilih sebagai Dirut BES
Jakarta, 24/6/2005: Bastian Purnama terpilih sebagai Direktur Utama Bursa
Efek Surabaya (BES) menggantikan Hindarmojo Hinuri dalam RUPS di Jakarta, Kamis (23/6/2005).
Dia terpilih bersama paketnya, Guntur
Pasaribu (direktur perdagangan, pencatatan dan keanggotaan) dan
Sihol Siagian (direktur pemeriksaan, pengawasan dan hukum), mengalahkan paket A Wishnu Handoyono, Adikin Basirun
dan Sugeng Rijadi.
Bastian sebelumnya menjabat komisaris utama BES dan Direktur
Pengelola Danareksa Sekuritas. Terpilihnya paket Bastian ini sudah
terduga sejak awal. Sebab dalam pendaftaran ke Bapepam paket ini
didukung 23 Anggota Bursa (AB). Sementara paket Wishnu didukung 11 AB.
Selain itu,
RUPS BES juga memutuskan menyetujui kenaikan gaji direktur utama sebesar
15 persen. Sementara fasilitas kendaraan dan perumahan serta fasilitas lainnya,
sama untuk semua direksi.
Setelah terpilih, Bastian menegaskan, pihaknya akan
berkonsentrasi menjadikan BES sebagai pusat perdagangan obligasi dan
derivatif.
Mengenai utang BES kepada AB yang masih sebesar Rp 9,75 miliar, Bastian
mengatakan akan mulai mengusahakan pengembalian secara bertahap.
”Bertahaplah, biar kita masih bisa bernapas,” katanya.
Sementara itu, untuk meningkatkan keakuratan dan kemudahan pelayanan dan
meningkatkan basis investor, BES akan meningkatkan sistem teknologi
informasi.
Mengenai investor obligasi ritel, Bastian mengatakan sangat potensial
dan akan didorong untuk dikembangkan terus. Untuk itu, Bastian
menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.
Guntur menambahkan, manajemen baru akan membuat Edu Center (pusat
pendidikan) untuk masyarakat awam tentang Bursa Efek Surabaya dan semua
produknya. ”Kami akan buka kelas gratis secara reguler. Untuk itu, kami
akan tingkatkan kemampuan tim pengajar. Kami juga tidak menutup
kemungkinan memberikan edukasi atas permintaan khusus dari lembaga
tertentu,” kata Guntur.
Produk baru
Lebih jauh, Bastian mengatakan, selain meneruskan program yang telah
dirintis direksi lama, timnya juga akan membuat produk baru. ”Tujuannya
meningkatkan likuiditas BES,” katanya.
Beberapa produk baru yang akan dikeluarkan adalah interest rate future
(suku bunga berjangka), bond future (obligasi berjangka), dan exchange
trade fund (semacam reksa dana, tetapi portofolionya bisa dijual di
bursa efek).
Sementara itu Hindarmojo dalam pertangungjawabannya kepada RUPS
melaporkan, pada tahun 2004 lalu BES telah berhasil membukukan laba
bersih sebesar Rp 571 juta. Ini adalah untuk pertama kali BES meraih
untung. Pada tahun 2003, BES masih menderita rugi bersih sebesar Rp 143
juta.
”Tahun ini, per Mei, kami telah mencatatkan laba bersih Rp 273 juta,”
kata Hindarmojo, seusai RUPS.
Saat ini nilai perdagangan melalui Fixed Income Trading System (FITS)
yang baru berjalan dua pekan, baru antara Rp 2-3 miliar per hari.
Perdagangan obligasi ritel ini masih menggunakan nilai denominasi sesuai
satuan pemindahbukuan obligasi, yaitu mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 50
juta. Ke depan, BES merencanakan penggunaan satuan pemindahbukuan
(denominasi) Rp 1 dengan satuan perdagangan Rp 1 juta.
Sementara, rata-rata transaksi SUN di BES saat ini masih Rp 2,7 triliun
per hari. Secara teoretis, suatu pasar disebut memiliki tingkat
likuiditas ideal jika transaksi per hari antara 3-5 persen dari total
obligasi yang tercatat. Saat ini total obligasi negara yang tercatat di
BES senilai Rp 400 triliun, sedangkan obligasi korporasi Rp 60 triliun.
Dengan demikian, tingkat likuiditas yang ideal di BES adalah Rp 12
triliun per hari untuk SUN dan Rp 1,8 triliun per hari untuk obligasi
korporasi.
Dalam rangka mengejar peningkatan likuiditas itulah, direksi baru akan
meningkatkan sosialisasi, memperluas basis investor, dan menerbitkan
produk baru. ”BES telah mulai menjajaki kemungkinan kerja sama dengan
Bursa Tokyo, Bursa Malaysia, Bursa Thailand, untuk penerbitan produk
baru,” kata Guntur.
|
|