| |
C © updated 24042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/pr |
|
| |
Nama:
Barli Sasmitawinata
Lahir:
Bandung 18 Maret 1921
Meninggal:
Bandung, 8 Februari 2007
Agama
Islam
Profesi:
Pelukis dan Guru
Isteri:
Atikah Basari (Almarhum)
Ratu Nakisbandiah
Anak:
Drs Agung Wiwekakaputera dan Drg. Nirwati Chandra Dewi
Ayah:
RH Haroen Al-Rasyid
Ibu:
Hj. Djubaedah
Pendidikan:
:: HIS (1935)
:: Studio Jos Pluimentz, Bandung (1935)
:: Studio Luigi Nobili (1935)
:: MULO (1938)
Karir:
:: Ilustrator Balai Pustaka, Sipataheonan, Algemeen Indische
Dagblad
:: Ketua Seksi Seni Rupa Keimin Bunka Shidoso (1942-1945)
:: Wakil Kasi Propaganda Provinsi Jawa Barat (1945)
:: Ilustrator di Modeme Boekhandel dan Der Lichtbogen, Belanda
:: Pengajar ITB, Unpad, IKIP (UPI) dan Universitas Andalas
:: Sekretaris FS Undap (1958)
Organisasi:
:: Ketua Kesenian Pusaka Sunda
:: Ketua dan Instruktur Studio Gelanggang Karya, Bandung
Ketua Lembaga Kesenian Unpad (1959)
:: Ketua Umum yayasan Viatikara, Bandung (1960)
:: Wakil Presidium Pusat Kebudayaan Jabar (pusdaya, 1962)
:: Ketua Umum Liga Senirupawan Indonesia, bandung (1980)
:: Ketua Umum Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia (1995)
Penghargaan:
:: Menteri Pariwisata dan Budaya RI
:: International Development Citra Awards (199)
Rumah:
Jalan Bukit Pakar Timur IV No.8, Bandung 40198
Kantor:
Museum Barli, Jalan Prof. Ir. Sutami No.91, Bandung 40152
Sumber:
Berbagai sumber teritama Kompas Minggu 28 Maret 2004 dan Buku Apa Siapa Orang Sunda, hal
66
|
|
| |
|
|
|
|
BIOGRAFI:
01
02 ==
Barli Sasmitawinata
Guru dan Pelukis itu Telah Pergi
Barli Sasmitawinata (86), pelukis dan guru yang berperan penting dalam
perkembangan seni rupa Indonesia, telah pergi. Seniman ini meninggal di
Rumah Sakit Advent Bandung, Kamis 8 Februari 2007 sekitar pukul 16.30.
"Bapak masuk rumah sakit, Kamis sekitar pukul 08.00, karena sesak napas
dan batuk, tapi dahaknya tidak bisa keluar. Sempat ditransfusi darah,
tapi Bapak kemudian meninggal," kata istri Barli, Nakisbandiah (66),
saat dihubungi dari Jakarta, Kamis sore.
Kesehatan Barli memburuk setengah bulan terakhir. Ia sempat masuk Rumah
Sakit Advent Bandung, 8 Januari 2007, akibat gangguan pernapasan, ginjal,
dan gula darah naik. Setelah menjalani enam kali cuci darah, kondisinya
sempat membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, Kamis kemarin, ia
kembali masuk rumah sakit.
Jenazah disemayamkan di rumah dan museum Barli di Jalan Sutami 91,
Setrasari, Karangsetra, Kota Bandung. Pemakaman direncanakan Jumat ini.
Barli meninggalkan 2 anak kandung, 3 anak tiri, 15 cucu, dan 9 buyut.
Setelah istri pertamanya, Atikah Basari, meninggal tahun 1991, Barli
menikah lagi dengan Nakisbandiyah tahun 1992.
"Hingga beberapa hari menjelang sakit parah, Bapak tetap melukis dan
mengajar. Bahkan, saat di rumah sakit, Bapak masih sempat membuat sketsa
orang tidur," kata anak kedua Barli, Chandra Dewi Rahmadi (57).
Barli adalah sosok penting dalam sejarah dan perkembangan seni rupa di
Indonesia. Ia dikenal sebagai guru dengan ilmu gambar (drawing) yang
mumpuni, pelukis realis yang andal, serta bergabung bersama pelukis
perjuangan semasa kemerdekaan. Hingga akhir hayatnya, ia konsisten
menekuni pilihannya di tengah perubahan zaman.
Sebagai guru, Barli punya bekal dasar ilmu gambar akademis yang kuat.
Maklum saja, ia belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris,
Perancis, tahun 1950, kemudian di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten,
Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956.
Seni realistik
Menurut kritikus seni rupa Jim Supangkat, Barli menduduki posisi dalam
seni realistik sebagai basis perkembangan seni rupa di Indonesia. Barli
melukis wajah-wajah rakyat secara wajar, apa adanya. Itu memberikan
citra berbeda di tengah lukisan karya pelukis Belanda yang menggambarkan
wajah pribumi dengan jelek. Itu juga lain dengan lukisan Basuki
Abdullah, yang terlanjur berhadapan dengan lukisan realis yang lebih
mengekspresikan "jiwa kethok", sebagaimana disuarakan pelukis Soedjojono.
"Karyanya mungkin agak kurang populer dibandingkan dengan karya pelukis
Affandi atau Hendra Gunawan. Tetapi, peran Barli dalam dunia seni rupa
sangat penting. Dia berada pada 'titik sambung' antara seni lukis masa
kolonial dan seni lukis modern Indonesia. Kalau mau mencari dasar
lukisan realistik, ya ke Barli," katanya.
Enin Supriyanto, pengamat seni rupa yang pernah belajar melukis pada
Barli, mengungkapkan, Barli memahami detail peralatan dan media lukis,
seperti pena, tinta, cat air, crayon, dan cat minyak. Ia pun menguasai
ilmu-ilmu melukis akademis, antara lain anatomi tubuh manusia, warna,
garis, komposisi, atau perpektif.
"Soal anatomi tubuh, Barli bahkan hapal sampai istilah Latin-nya," kata
Enin.
Kemampuan itu berusaha ditularkan Barli kepada murid-muridnya dengan
disiplin dan sistem. Setiap murid diminta mengenali karakter alat dan
belajar bertahap. Bagi Barli, pelukis harus menguasai ilmu menggambar
dengan benar.
Sepulang dari Eropa, tahun 1958, Barli mendirikan Sanggar Rangga Gempol
di kawasan Dago, Bandung. Barli sempat mengajar seni lukis di Institut
Teknologi Bandung (ITB) dan ikut merintis pembentukan jurusan seni rupa
di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung—sekarang
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Setelah itu, Barli memilih lebih banyak mengajar murid secara informal
di sanggar. Usai Sanggar Rangga Gempol eksis tahun 1960-1980-an, ia
membangun studi sekaligus museumnya di Setrasari, Karangsetra, Bandung,
lantas mendirikan Bale Seni Barli di Kota Baru, Padalarang, Bandung.
Keberhasilannya sebagai guru bisa dilihat dari sejumlah muridnya yang
mekar menjadi pelukis kuat. Sebutlah beberapa di antaranya, Popo
Iskandar, Srihadi Soedarsono, Yusuf Affendi, AD Pirous, Anton Huang, R
Rudiyat Martadiraja, Chusin Setiadikara, Sam Bimbo, Rudi Pranajaya.
Chusin (58) termasuk salah satu murid yang berhasil mengembangkan dasar
ilmu gambar menjadi karya seni yang diperhitungkan dalam peta seni
kontemporer. Karyanya punya reputasi baik di dunia internasional.
Pelukis yang kini tinggal di Kuta, Bali, ini pernah mengantongi
penghargaan dari Beijing International Art Biennale tahun 2005.
Pengamat seni rupa asal Bandung Mamannoor mengungkapkan, Barli menjadi
inspirator bagi beberapa generasi pelukis di Bandung. Barli selalu
menegaskan, melukis adalah disiplin hidup yang dijalani dengan semangat
dan produktif berkarya. Ia berkarya dalam banyak corak, tetapi
ketekunannya pada corak realistik dipertahankan lewat pasang-surut
pergeseran zaman.
Saat remaja, sekitar tahun pertengahan tahun 1930-an, Barli bergabung
dalam 'Kelompok Lima' bersama Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, dan
Wahdi. Ia punya semangat nasionalis tinggi.
"Saat terjadi perdebatan realisme sosial pertengahan tahun 1960-an,
Barli tangguh berdiri sendirian. Ia saksi hidup dan rujukan penting bagi
perjalanan seni rupa saat itu," katanya.
Barli pernah menerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden
pada tahun 2000. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi dunia seni
rupa Tanah Air.
Guru gambar di Bale Seni Barli, Hendra (32), mengisahkan, Barli sempat
beramanat agar keluarga memelihara lembaga pendidikan itu. Sehari
sebelum meninggal, ia sempat meneruskan lukisan di kamar. (Ilham Khoiri,
Kompas Jumat 9 Februari 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|