| |
C © updated 30102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas.com |
|
| |
Nama :
Bambang Wiratmadji Soeharto
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur, 19 Agustus 1943
Agama :
Islam
Isteri:
Lenny Marlina
Ayah:
R.M. Sosrohadiwiyono
Ibu:
R.A. Soetinah
Pendidikan :
SD (1956); SMP (1959); SMA (1962); Ilmu Sosial Politik (1976),
Program Internasional Human Rights & Law Oxford University, Inggris (1997)
Karir :
- Ketua DPP Generasi Muda Kosgoro (1978-1982)
- Ketua DPP AMPI (1978-1984)
- Ketua DPP FKPPI (1979-1984)
- Pokja Menteri Muda Urusan Pemuda (1980-1982)
- Anggota FKP MPR RI (1982-1987)
- Ketua DPP Himpunan Pekerja Sosial Indonesia (1993-sekarang)
- Ketua Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO (1990-1995)
- Wakil Ketua Sub Komisi Pemantauan HAM Komnas Hak Asasi Manusia
(1993-1998)
- Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro (1995-2000)
- Anggota FKP MPR (1997-sekarang)
- Wakil Ketua Komnas HAM (1998-2003)
- Ketua Umum “Gerakan Rekonsiliasi Nasional” (2001-2006)
Kegiatan Lain :
- Direktur Umum Hero Group (1977-1990)
- Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (1979-1986
- Direktur Utama PT Suba Indah (1980-1990)
- Komisaris Utama PT Jembar Golf Batam (1990-1992)
- Komisaris Utama PT Huna Land Bangun Negara (1991-1994)
- Pimpinan Koperasi Primer Nasional (1997-sekarang)
Alamat Rumah :
Jalan Intan 8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan Telepon 7503747,
7660502
|
|
| |
|
|
|
|
Bambang W. Soeharto
Politisi yang Selalu Ganteng
Sebuah pesan singkat (SMS-short messages) dari seorang teman
lama, nadanya menggoda. Ia menulis SMS: "Saya bertemu pacar pertama, dan
sekarang kami suka jalan bareng. Keluarga setuju, tapi anak-anak menentang".
SMS itu berlanjut dengan SMS berikutnya. "Sudah 30-an tahun kami tak
bertemu, ternyata rasa itu masih ada. Masih ingat almarhum suami, tetapi
hidup kan harus berjalan. Dia masih seganteng dulu".
Si pengirim SMS, menjanda sejak suaminya meninggal dunia. Usianya 50-an
tahun, hidup sendirian karena ketiga anaknya kuliah di tiga kota yang
berbeda. Sementara pacar pertamanya menduda 10 tahun.
Lenny Marlina, mengaku Bambang Soeharto sebagai pacar pertama, di usia
mudanya pernah jadi bintang film terpopuler dan termahal. Meski tak lagi
berakting di depan kamera, film-filmnya dulu masih sering diputar ulang di
layar televisi. Walau begitu, Lenny mengaku tak terusik berakting kembali.
Leny tidak menemukan kedamaian sampai menikah dengan suami pertamanya.
Kini ia merasa lebih berbahagia dan berguna setelah menikah dengan Bambang
(61).
Apa komentar Lenny tentang suami keduanya? "Tuhan mengirim saya kepadanya,
seperti Tuhan mengirim dia kepada saya. Semua terjadi begitu saja. Saya
tidak terlalu peduli terhadap fisiknya, tetapi ketulusan hatinya pada saya,
sama seperti saya kepadanya."
Bambang hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga militer yang memiliki
disiplin sangat tinggi. Ayahnya, pensiunan perwira menengah TNI Angkatan
Darat, cukup keras dalam mendidiknya. Bambang pernah diikat ayahnya karena
melempari orang Belanda. Padahal kebenciannya terhadap Belanda karena --
ketika masih kecil -- ia melihat sang ayah ditangkap dan ditawan oleh
tentara Belanda.
Tak cuma sekali ia menerima hukuman semacam itu, sehingga, karena tak
tahan dihukum, Bambang pernah kabur dari rumah. Ia lalu bersembunyi di
Studio Film Persari, di bilangan Polonia, Jakarta Timur. Untuk bertahan
hidup, ia terpaksa ikut main film bersama almarhum S. Bono dan Fifi Young.
"Saya dapat honor Rp 25, sudah cukup besar pada saat itu. Untuk sekali
makan, saya hanya menghabiskan Rp 2," kenangnya. Dengan honor tersebut,
Bambang bisa bertahan tiga hari. Ia baru pulang ke rumah setelah seorang
kakak menjemputnya.
Masa kecil anak kedua dari empat bersaudara pasangan R.M. Sosrohadiwiyono
dan R.A. Soetinah itu penuh prihatin. Bambang membikin sendiri
mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali. Karena tak pernah punya mainan bagus
di masa kecil itulah, ia kini masih suka bermain kereta-keretaan listrik.
Sekarang hidup Bambang terbilang mapan. Ia mempunyai rumah yang cukup
besar, serta beberapa mobil mewah. Di sebuah rumah di atas tanah seluas
2.500 meter persegi, di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, ia tinggal
bersama istri dan 10 anaknya. Lenny membawa tiga anak dari suami pertama,
sedangkan Bambang tujuh anak dari istri pertama.
Satu hal yang tampaknya mustahil dilupakan Bambang dalam perjalanan
hidupnya, gagal menjadi tentara. Berpostur tegap, ia memang sempat
menjalani seleksi masuk Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1965.
Lantaran Bambang terserang penyakit tifus, tes masuk AMN tidak berjalan
sempurna. Ia dinyatakan tak lulus. Cita-citanya menjadi perwira TNI
Angkatan Darat kandas di tengah jalan.
Keinginannya menjadi tentara memang terobsesi oleh profesi yang pernah
disandang ayahnya. "Waktu kecil, saya terkesan dengan bapak saya yang
berseragam tentara. Ia tampak gagah sekali. Terus, ia juga punya banyak
anak buah," kisahnya. Kepada teman-temannya yang berhasil menjadi tentara,
ia berkata, "Kita nanti akan bertemu di atas. Eh, ternyata benar juga.
Mereka jadi tentara, saya di Komnas HAM. Ada yang melanggar HAM, ya saya
tindak."
Gagal menjadi tentara, Bambang memilih kuliah di jurusan ilmu politik.
Selepas kuliah, 1976, ia kemudian aktif dalam organisasi kepemudaan
pendukung Golkar. Selama 1978-1982, misalnya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat
Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPP AMPI). Selama lima tahun ia
memangku jabatan Ketua DPP Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI
(FKPPI). Bahkan, pemegang sabuk hitam karate ini termasuk salah seorang
pendiri FKPPI.
Namun kepemimpinan Bambang lebih terlihat di Kesatuan Organisasi Serbaguna
Gotong Royong (Kosgoro). Di organisasi pendukung Golkar itu, ia sempat
duduk sebagai Ketua DPP Generasi Muda Kosgoro.
Selama aktif
mendukung Golkar, pengagum presiden pertama Amerika Serikat George
Washington ini tak pernah menjadi pengurus organisasi berlambang pohon
beringin tersebut. Ia cuma mendapat kesempatan tiga periode (1982-1987,
1987-1992, 1997-1999) menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
dari Fraksi Karya Pembangunan (FKP).►tsl-sh, dari berbagai
sumber, di antaranya pdat
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|