| |
C © updated 16032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Dr Ignatius Bambang Sugiharto
Lahir:
Tasikmalaya, Jawa Barat, 6 Maret 1956
Istri:
R Anggraini Prawirakusumah Dipl TEFL
Anak:
- RFA Gilimandra (18)
- R Maria Kirana Rucitra (11)
Pendidikan:
- Program S-1 Fakultas Filsafat Unpar, 1981
- Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat, Universitas Indonesia, 1984
- Universitas San Tomasso, Roma, Italia, lulus sebagai doktor filsafat
dengan predikat " summa cum laude", 1994
Aktivitas:
- Presiden Asian Association of Catholic Philosophers
- Sekjen International Society for Universal Dialogue (New York)
- Anggota Asosiasi Filsafat Indonesia (Asafi)
Publikasi:
- Toward Ecology of Culture, Renvall Institute Publication, Helsinki,
2006
- Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 2005
- "Film-Film Garin dan Transformasi Masyarakat" dalam Membaca Film Garin,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
Sumber:
Kompas Minggu, 16 Maret 2008) |
|
| |
|
|
|
|
| BAMBANG HOME |
|
|
 |
Bambang Sugiharto
Si Hibrida, Filsuf Underground
Profesor Doktor Bambang Sugiharto, pria kelahiran
Tasikmalaya, Jawa Barat, 6 Maret 1956, oleh kawan-kawannya dijuluki
sebagai ”filsuf underground”. Doktor filsafat yang lulus ”summa cum
laude” dari Universitas San Tomasso, Roma, Italia, itu bukan hanya gemar
musik rock, tetapi juga dekat dengan komunitas ”underground” Bandung.
Di
tengah situasi bangsa yang tengah bingung dan korup, Bambang melihat
harapan pada kaum ”underground” itu.
***
Saya Ini Hibrida
Bambang menilai diri sebagai tipe orang yang tidak bisa berhenti di satu
stereotip. "Mungkin karena riwayat saya sendiri hibrida. Secara genetik
saya Jawa, tetapi secara kultural Sunda. Sedangkan secara pendidikan
saya Barat. Jadi, saya hidup di berbagai lini, he-he-he...," kata
Bambang yang orangtuanya berasal dari Purwanggan, Yogyakarta.
Bambang pernah masuk seminari tinggi di Bandung. "Tetapi, mungkin dunia
seni itu bagian dari kodrati saya. Saya menulis, membikin lagu, pernah
menulis puisi, kadang melukis. Barangkali itu mengapa saya tak tahan
hidup terpola. Saya bersyukur karena akhirnya saya menemukan passion
saya di filsafat dan seni. Cuma gaya filsafat saya juga jadi seni-seni
juga."
***
”Mau minum apa? Mau whisky cola?,” kata Bambang menawari minuman pada
Kompas saat bertandang ke ruang kerjanya di Fakultas Filsafat,
Universitas Parahyangan (Unpar), Jalan Nias, Bandung, pada suatu sore
yang sejuk awal Maret lalu.
”Saya suka strong taste (rasa berani),” kata Bambang yang dikukuhkan
sebagai guru besar ilmu filsafat di Unpar pada 16 Desember 2006.
”Sebagai intelektual de facto, saya masih menikmati musik rock. Saya
suka Korn, Limp Bizkit, Linkin Park he-he…. Untuk mood tertentu saya
masih dengerin itu semua,” kata Pembantu Dekan I di Fakultas Filsafat
Unpar.
Apa sebenarnya yang tengah dialami bangsa ini tampaknya ada semacam
kebingungan?
Ini kompleks. Saya melihat salah satu sisi masyarakat Indonesia sekarang
baru terbangun dalam menyadari hak-haknya, tetapi mereka berbenturan
dengan sistem yang tak berjalan baik. Birokrasi yang macet dan etos
kerja yang begitu rendah. Mereka berhadapan dengan sistem yang tidak
efektif untuk mengelola bangunnya kesadaran atas hak-hak itu. Eksesnya,
mereka menjadi over-sensitif terhadap perlakuan sewenang-wenang.
Sensitivitas berlebihan itu terungkap dalam anarkisme. Itu cerminan dari
kebingungan dalam mengungkapkan hak, otonomi, dan kekuasaan. Kalau saya
lihat di televisi, setiap hari pasti ada kekacauan, demo. Entah itu
akibat penggusuran, PHK, atau ketidakpuasan lain.
Bagaimana peran tradisi atau agama?
Sistem atau pola perilaku baku yang mengendalikan perilaku atau etos
kerja itu pun sedang bubrah. Sistem pola baku, entah itu dari tradisi
dan agama, kini berhadapan dengan kemungkinan penawaran baru. Akibatnya,
pola lama menjadi tidak lagi berwibawa sebagai pegangan. Itu menambah
kebingungan.
Korupsi itu bagian kebingungan? Termasuk wakil rakyat sampai jaksa?
Hmm... tiba-tiba juga kita sedang terbuka dalam menikmati hidup,
menikmati komoditas. Kalau saya lihat di mal saya bertanya bagaimana
mereka bisa membiayai beli mainan yang sebenarnya mahal. Saya suka
terheran-heran karena situasi ekonomi sulit, tetapi dunia konsumsi
meledak.
Itu menunjukkan pesona komoditas. Orang yang sudah capai miskin mencari
comfort (kenyamanan) supaya bisa mencicipi material. Bagi mereka yang
punya akses kekuasaan politik atau finansial yang lebih besar, segera
masuk ke wilayah itu dengan membabi buta yang mengakibatkan korupsi dan
segala macam itu.
Apa sebenarnya yang berada di balik budaya korupsi?
Yang lebih mendasar adalah kesulitan untuk konsisten dan berkomitmen.
Korupsi dalam berbagai bentuk itu bukan hanya soal uang, tetapi juga
perilaku dan kiblat nilai. Kita sulit sekali konsisten dalam kesetiaan,
dalam berkomitmen, dalam religi dan kiblat nilai.
Anarki
Sehari-hari Bambang mengendarai Kymco, sepeda motor bebek otomatis untuk
mengajar di Fakultas Filsafat Unpar di Jalan Nias. Tetapi, dia juga
mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
ITB dan FSRD Maranatha. Kadang dalam sehari ia harus wira-wiri ke tiga
kampus itu. Karena Bandung macet, demi efektivitas waktu Bambang memilih
motor. Mobil hanya digunakan untuk akhir pekan bersama keluarga.
”Saat naik motor saya alami betapa mudah saya menjadi bagian dari anarki.
Godaan menjadi anarkis itu luar biasa. Saya berpikir, motor adalah
kekuasaan paling sederhana yang dimiliki masyarakat bawah. Dengan motor,
mereka memiliki excitement dan kekuasaan. Mereka sikat trotoar, terabas
lampu merah. Situasi jalanan itu persis situasi birokrasi yang parah.
Saya pikir itu juga ada kaitannya dengan sistem yang tidak jalan.”
Apakah itu masalah ketidakmampuan mengorganisasi segala sesuatu?
Ini masalah ketidakmampuan mengorganisasi diri yang parah. Membenahi
angkot saja tak jalan sampai puluhan tahun. Ketidakmampuan, bahkan untuk
satu hal yang sederhana, itu sesuatu yang mengerikan. Sementara sistem
yang sudah ada tidak jalan. Ketika kohesi kelompok menjadi sangat
mengendur hal itu menjadi semakin kacau karena yang terjadi adalah
survival of the fittest. Yang penting gue dulu selamat.
Apa sebenarnya di balik anarkisme itu?
Pada tataran politik saya kira kita sudah lama berada dalam situasi
keterjajahan yang parah. Pada masa Orde Lama, Orde Baru kita terus
terjajah. Dalam situasi seperti itu, mau tak mau kekuasaan menjadi
menarik. Bukan karena orang bisa menguasai orang lain, tetapi karena
kekuasaan adalah privilege, hak istimewa, bukan tanggung jawab.
Yang tertanam selama ini adalah atmosfer tertindas dan menindas sehingga
dalam setiap pilkada semua orang ingin menjadi gubernur, bupati, bahkan
presiden. Ada fenomena tragis waktu caleg, yaitu orang menjual apa pun
dengan harapan akan kembali sekian kali lipat. Bahwa itu akses pada
kekayaan dan kenyamanan. Saya kira itu motivasi sederhana bagi orang
untuk memasuki kekuasaan.
Saya sulit sekali menemukan orang yang bisa saya yakini masuk ke dalam
kekuasaan untuk bisa bertanggung jawab, untuk mengubah realitas.
Apakah kita tak punya kultur berorganisas?
Saya curiga, itu bukan karena ketidakmampuan berorganisasi. Dalam sistem
kerajaan organisasi itu mestinya jalan. Dalam Orde Baru kehidupan
masyarakat sangat well organized—terorganisasi dengan sangat baik—sampai
tingkat RT, RW. Ada posyandu di desa-desa dan semuanya jalan. Itu yang
saya kagumi pada zaman Soeharto, yaitu kemampuan membuat struktur yang
dahsyat sekali. Meskipun, tentu saja, ada kelemahan.
Sistem yang top down, dari atas ke bawah?
Ya, sistem top down itu menjadi struktur untuk membungkam aspirasi dari
bawah. Itu seperti struktur dalam negara sosialis.
Kita lihat yang terjadi sekarang, ketika orang ingin mengungkapkan
aspirasi, strukturnya yang menjadi hancur. Ada atmosfer tidak percaya
pada struktur.
Krisis identitas
Dalam situasi bingung dan kacau, Bambang melihat gejala krisis identitas.
Orang kehilangan identitas dan bingung mencari pegangan.
”Intelektual merakit sendiri identitas mereka. Mereka tak andalkan
kategori baku, seperti agama, suku, atau ideologi. Mereka menjumput dari
apa pun. Mereka bangun identitas sendiri dengan bertualang atau
mencampuradukkan apa pun.”
Bagaimana nasib kelompok yang belum terdidik?
Masyarakat yang kurang terdidik, yang kemampuan kritisnya kurang
berkembang, mengalami gerak sentripetal. Mereka kembali ke sistem-sistem
harfiah. Pada agama itu bisa disebut fundamentalisme atau apa pun. Itu
bisa masuk dalam sistem agama atau etnik.
Gerakan ideologisasi identitas seperti itu sedang berkembang. Ada
kecenderungan dalam sistem identitas orang kembali pada sistem yang ada.
Mereka tertutup pada kecenderungan kritis dan revitalisasi.
Sebetulnya, hal ini menambah keruh situasi. Dalam situasi seperti ini,
identitas kolektif menjadi perpanjangan egosentrisme yang tidak
realistis. Itu lebih merupakan identitas kepanikan dalam ketidakmampuan
mengelola hal baru yang serba tak pasti. Akhirnya orang berlindung pada
sesuatu yang pasti. Itu akan menakutkan karena pasti akan
kontraproduktif. Muncul kemudian primordialisme yang berlebihan. Kalau
di dalam agama itu adalah puritanisme yang menakutkan. Puritanisme dalam
arti harfiah, bukan pada kekokohan pada prinsip moral, tetapi juga pada
tendensi pemurnian atau pretensi memurnikan ajaran. Itu menakutkan.
Saya tidak mengatakan itu jelek, tetapi ada unsur kontraproduktifnya.
Ada unsur mengelakkan tantangan yang sebetulnya riil. Saya kira, kita
perlu melihat identitas bukan sebagai sesuatu yang stereotip, baku dan
mandek.
”Underground”
Apakah ada harapan di tengah kondisi seperti sekarang?
Saya melihat ada sementara kelompok yang mengalami gerak sentrifugal.
Mereka keluar dari kerangkeng sistem dan membuat sistem sendiri. Keluar
dari situasi chaotic (kacau), kelabu, dan pesimistis seperti saat ini
saya melihat meriapnya gerakan mikro. Sebutlah itu mikro politik dalam
bidang kebudayaan dan pendidikan. Orang mencari jalan sendiri,
merevitalisasi diri sendiri, dan menggali kemampuan diri. Itu
mengharukan.
Inisiatif, perpanjangan dari individualitas itu ternyata tidak selalu
jatuh pada primordialisme sempit. Dari mereka ada gairah membentuk
gerakan mikro. Misalnya, ada yang peduli pada situasi pendidikan. Mereka
membuat gerakan pendidikan alternatif untuk mengimbangi apa yang tak
didapat di sekolah. Daripada mengeluh terus.
Di Bandung ada kelompok kecil yang merintis toko buku alternatif. Mereka
menjual buku yang mungkin tak pasaran. Mereka punya komunitas tersendiri.
Apakah gerakan underground dari Ujungberung juga masuk dalam wilayah itu?
Itu lebih mengharukan lagi. Bagaimana dari kawasan pinggiran itu
tiba-tiba muncul kelompok yang menata diri. Dari sudut itu terlihat
kemampuan mengorganisasi diri, melembagakan di dalam band-band.
Mereka tidak main-main. Kiblat dan referensi mereka fantastis. Dari
wilayah yang kita kira pinggiran itu mereka punya akses internet ke
denyut band rock global. Tadinya saya tak percaya, tetapi ketika
akhirnya saya terseret masuk ke wilayah seperti itu saya sungguh kagum
karena mutu musikal mereka fantastis. Saya tak pernah bayangkan anak
Ujungberung memasuki wilayah yang sophisticate dalam bidang rock.
”Sophisticate?”
Ya, Ivan dari Burger Kill yang meninggal itu bacaannya George Orwell,
1984. Riwayat Ivan ditulis Ivan jadi novel. Mereka masuki wilayah sastra.
Itu terobosan dari wilayah pinggiran lewat pola mikro sampai akhirnya
memasuki wilayah dunia intelektual dengan cara sendiri.
Yang menarik, setiap komunitas kecil itu punya koneksi dengan komunitas
lain sehingga yang namanya pola organisasi dalam rangka jejaring itu
betul-betul riil. Kelompok underground itu juga berkaitan dengan distro,
penjual pakaian, dan toko buku. Itu menakjubkan.
Apa harapan dari kelompok mikro-politik itu?
Saya tak tahu itu akan bakal jadi apa. Mereka adalah orang-orang yang
masuk dalam jalur sentrifugal. Mereka berani menghadapi perubahan
situasi dengan nyali dan nalar serta dengan passion yang baru. Mereka
menghadapi perubahan tanpa panik, bahkan menyerbu dengan antusias. Ini
sesuatu yang menjanjikan.
Mereka bergerak mengandalkan reflektivitas sendiri. Artinya sambil
mengamit masa lalu mereka juga mengunyah yang baru, tetapi dengan gaya
gue sendiri. Seperti slogan MTV: gue banget.
Mereka dituduh antek kapitalis.
Kalau mereka dibilang budak dunia Barat, ternyata mereka punya jawaban
canggih. Mereka tahu apa itu wayang, calung. Bahkan si Kimung itu
skripsinya tentang sejarah angklung.
Anda dekat dengan kaum underground?
Saya pernah diundang kelompok underground. Semula saya ragu-ragu.
Bagaimanapun pergaulan saya di wilayah intelektual. Saya memang kenal
sama mereka, tetapi ketika harus berhadapan dengan—istilah mereka—begundal-begundalnya,
saya takut. Saya pernah diundang bicara dengan mereka. Di luar dugaan
mereka semua santun. Sedikit saja ada hal sensitif mereka tepuk tangan.
Bagaimana Anda bicara dengan mereka?
Sewaktu saya harus berbicara di depan mereka, saya sempat berpikir, apa
mereka mengerti kalau saya ngomong, meski saya sederhanakan. Ternyata
mereka mengerti dan sangat apresiatif sehingga citra rock itu kekerasan
non-sense. Itu stereotip yang tak benar. (Frans Sartono, Kompas
Minggu, 16 Maret 2008) ►ti/rpr
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|