|
|
 |

Nama:
Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA
Lahir:
Temanggung, 8 Oktober 1952
Agama:
Islam
NIP: 130676403
Isteri:
Prof. Dr. Retno Sunarminingsih MSc. Apt. (Menikah 11 Agustus 1979)
Anak:
Dananta Adi Nugraha (Yogyakarta, 20 Desember 1981)
Harintho Budhi Wibowo (Yogyakarta, 10 Maret 1986)
Pendidikan:
:: Profesor, tahun 2001, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
:: Doctor in Business Administration, tahun 1985, Concentration in
Accounting, Minor in Economics, University of Kentucky, USA.
:: Master of Business Administration, tahun 1980, University of North
Carolina- Greensboro, USA.
:: Sarjana Ekonomi, tahun 1977, Fakultas Ekonomi-Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
:: Training in Accounting and Finance, INSEAD, France, 1985.
Jabatan Akademik:
Guru Besar (Professor)
Kepangkatan Sebagai Dosen:
:: Asisten Ahli Madya, Gol. III/a, 1 Maret 1978.
:: Asisten Ahli, Gol. III/b, 1 April1981.
:: Lektor Muda, Gol. III/c, 1 Oktober 1985.
:: Lektor Madya Gol. III/d, 1 Oktober 1987.
:: Lektor Kepala Madya, Gol. IV/a, 1 April 1994.
:: Lektor Kepala Madya, Gol. IV/b, 1 Oktober 1996
:: Guru Besar Madya, Gol. IV/b, 1 Desember 2000.
:: Guru Besar (Profesor), Gol. IV/c, 2001
Karier Administratif di UGM:
:: Ikut mendirikan Program MM UGM pada tahun 1988, dan kemudian menjabat
sebagai Pengelola Keuangan pada tahun 1988-1989.
:: Wakil Direktur dan Pengelola Akademik 1989-1993.
:: Direktur dan Pengelola Akademik 1993-1999.
:: Anggota Dewan Pembina dan Anggota Dewan Pengembangan sejak 2000.
:: Pengurus PAU Ekonomi UGM, 1988.
:: Ketua Tim Pembinaan Dana Abadi UGM, 2003-sekarang.
Aktivitas Keprofesion di luar UGM:
:: Menteri Keuangan RI, November 1999-Agustus 2000.
:: Ketua Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal,
2001-sekarang.
:: Anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan, 1999-2000.
:: Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, 2000.
:: Anggota Tim Restrukturisasi PLN, 1999-2000.
:: Wakil Ketua Dewan Komisaris Pertamina, 1999-2000.
:: Anggota Tim Penasehat Khusus Presiden, 1999.
:: Anggota Komite Kebijakan Publik Kementerian Pendayagunaan BUMN
1998-1999.
:: Komisaris PTPN X, 1998-sekarang
:: Anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) sejak tahun 1977. Ketua
Bidang Akademik 1994-1997. Ketua Umum 2000-2003. Sebagai ketua umum ISEI,
secara ex officio juga menjabat Ketua Dewan Pembina Yayasan Indonesia
Forum.
:: Anggota Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sejak tahun 1977. Wakill Ketua
Bidang Pelatihan 1994-1998. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan
1998-2002;
:: Chairman, ASEAN Graduate Business and Economics Programs Network (AGBEP
Network), 1999-Sekarang.
:: Anggota Konsorsium Ilmu Ekonomi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
1989-1999.
:: Koordinator Akademik Proyek Pengembangan Pendidikan Akuntansi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989-1994.
:: Ketua Panitia Ahli Persamaan Ijazah Akuntan, 2002-sekarang.
:: Koordinator Akademik Ujian Negara Akuntan (UNA), 1989-sekarang.
:: Anggota Dewan Penyantun STIE Yogyakarta, 1994-sekarang
:: Associate Member, American Accounting Association, 1981-1985;
1993-Sekarang.
:: Bekerja di bidang konsultasi manajemen dan akuntansi publik di Kantor
Akuntan Hadori & Co, 1975-1981.
Aktivitas Sosial dan Politik:
:: Anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan, sejak Mei 2001 hingga sekarang,
mewakili ISEI.
:: Bendahara PP Muhammadiyah 2000-2005.
:: Anggota Majlis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah 1994-2000.
:: Anggota Majlis Tarjih PP Muhammadiyah 1994-2000
:: Ikut mendirikan ICMI tahun 1990. Ketua Bidang Ekonomi Sumberdaya
1990-1995. Anggota Dewan Pakar 1995-2000.
:: Ketua Bidang Ekonomi pada Pusat Pengkajian Strategi & Kebijakan (PPSK)
tahun 1988-1995, dan menjadi Anggota Dewan Direktur, 1995-sekarang.
:: Ikut mendirikan dan menjadi anggota Majlis Amanat Rakyat (MAR), 1998.
:: Ikut mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) tahun 1998, menjabat
sebagai Ketua Dewan Ekonomi pada November 1998-April 1999.
Penghargaan:
:: Dosen Teladan II tahun 1989
:: Pengabdian kepada Negara 20 tahun, pada tahun 1999.
Mengajar di UGM.
:: Sl Akuntansi (Asistensi Akuntansi Biaya 1975-1977, Akuntansi Biaya
1978-1979, 1996, Analisis Laporan Keuangan 1978-1979, Auditing 1980, Teori
Akuntansi 1985-1994, 2002-2003, Serninar Akuntansi 1994-1999,2001, dan
Etika Bisnis 2001-2002.
:: MSi Akuntansi (Metodologi Penelitian 1985-1999,2001-2003)
:: MSi Manajemen (Metodologi Penelitian 1992-1993)
:: Magister Manajemen (Sistem Pengendalian Manajemen 1998-1999, Lingkungan
Bisnis 1994-1999,2001, Kepribadian Manajerial 1994-1999, dan Etika Bisnis
2001-2003).
:: S3 Akuntansi (Riset Akuntansi Manajemen 1997-1999, Filsafat Ilmu
1998-1999, 2002, Independent Study 1998-1999, dan Riset Akuntansi
Keperilakuan 1997-1998)
Publikasi Terakhir Sejak 1994.
:: Analisis Ekonomi Indonesia; Sekarang Saatnya Terobosan Kebijakan
Politik dan Ekonomi Diambil, Mei 2002, Kompas
:: Model Akuarium untuk Ekonomi Indonesia, September 2001, Kompas
:: Kebijaksanaan Pendidikan Tinggi dan Pengembangan IPTEK dalam Konteks
Transformasi Sosial, 1994, Prosiding Seminar Dies ke 45 UGM.
:: Implikasi Kemajuan Teknologi pada Dunia Akuntansi, 1994, Media Penerbit
Akademi Akuntansi Muhammadiyah Jakarta.
:: Akuntoteknologi; Suatu Pemikiran Tentang Redefinisi Akuntansi, 1994,
Kompak No. 4, Nopember.
:: Accountancy Development in Indonesia; the Adequacy of CP As
Understanding of the Relative Seriousness of Alpha and Beta Risks in
Statistical Audit Sampling, 1995, Lembaga Penerbit FE UI, Publikasi No.23.
:: Skenario dan Strategi Pengembangan Manajemen di Indonesia, 1995, Kajian
Bisnis, No. 6, September.
:: Reduksi Norma 'Evidencial Matter' Menjadi Norma 'Evidence' serta
Dampaknya pada Kualitas Audit dan Pembukuan di Indonesia, 1995, Jurnal
Keuangan & Moneter, Vol. 2 No: 2.
:: Implikasi Transformasi Sosial pada Pengembangan Kemampuan Manajerial,
1995, KELOLA No. 8/IV/95.
:: Teori Efisiensi Akuntansi dan Hal-hal lain Yang Terkait, 1995, Kompak
No.8, November.
:: Desain Pendidikan Auditing Sebagai Implementasi Kurikulum Nasional 94,
1995, Kompak No.11, Agustus.
:: State of Art & Masa Depan Pendidikan Akuntansi di Indonesia, 1995,
Kompak No. 7, Juli.
:: Kualitas Manajer Profesional Menjelang Era Pasar Bebas, 1996, Kajian
Bisnis, No. 7, Januari.
:: Warisan Etos Kerja Islam: Perspektif Budaya Jawa, 1996, Kajian Bisnis,
No.9, September.
:: Dampak Perubahan Lingkungan Usaha Terhadap Institusi Birokrasi di
Indonesia, 1996, Kajian Bisnis, No.8, Mei.
|
|
== 1
2 3
4 ==
Prof. Dr. Bambang Sudibyo (1)
Sentuhan Politik Sang Akademisi
Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga mantan Menteri Keuangan RI
seorang akademisi yang memiliki sentuhan dengan politik dan bisnis. Oleh
karena itu ketika ia mengajar flavournya juga terasa lain. Menurutnya,
ekonomi Indonesia rusak seperti sekarang ini, lebih banyak oleh karena
settingnya yang rusak, bukan oleh karena pranata ekonomi yang rusak.
Sekarang ini, katan mantan Ketua Umum ISEI ini, ekonomi Indonesia
dibungkus oleh tiga lapis risiko yakni risiko sosial, risiko polkam dan
risiko global.
Sebagai seorang ekonom, Bambang memiliki kepedulian terhadap permasalahan
dunia politik dengan terus memantau perkembangan politik di Indonesia.
Meskipun Dosen Teladan II tahun 1989 ini memiliki sentuhan dan pemikiran
politik dan pernah ikut mendirikan partai politik (Partai Amanat Nasional),
namun ia mengakui bahwa dirinya bukan seorang praktisi politik.
Ia menjaga betul keterlibatannya dalam dunia politik, hanya sebatas
sumbangsih pemikiran saja. Karena ia melihat adanya keterkaitan yang erat
antara politik dan ekonomi. Sedangkan hukum dianggapnya sebagai produk
dari proses politik. Semetara ekonomi diwadahi oleh kerangka kebersamaan
politik. "Jika kerangkanya saja sudah tidak benar maka kegiatan ekonominya
juga tidak benar," kata mantan Ketua Dewan Ekonomi (November 1998-April
1999), ini dalam percakapannya dengan Atur Lorielcide Paniroy dan Ysak
Sahat Wartawan Tokoh Indonesia DotCom.
Sejak ada peraturan pemerintah tentang status PNS dalam partai poltik,
penerima penghargaan pengabdian kepada negara 20 tahun, pada tahun 1999,
ini memutuskan untuk meninggalkan politik praktis. Kalau dibilang ia
seorang politisi, ia pikir bukan, tapi ia adalah yang peduli terhadap
politik.
Bambang Sudibyo lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Oktober 1952. Ia
adalah anak guru agama yang juga berprofesi sebagai petani tembakau dan
padi di Temanggung. Bambang adalah anak kelima dari 11 bersaudara. Masa
kecil bersama keluarga sampai beranjak remaja ia jalani di desa sekitar
Temanggung.
Ia menempuh pendidikan dasar di kotanya, Temanggung. Setelah lulus SD
kemudian masuk ke SMP Negeri 2 Temanggung dan melanjut ke SMA Negeri 1
Temanggung. Setiap pagi menuju sekolah ia mengayuh sepeda dari desa ke
Temanggung.
Hingga Pada tahun 1972, saat ia berumur 18 tahun, akhirnya Bambang muda
merantau ke kota Yogya mencari ilmu yang lebih tinggi. Ia diterima di
jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Orangtuanya
habis-habisan mendukungnya dalam dana, padahal di keluarganya masih ada 6
adiknya, Tetapi dengan cita-cita yang tinggi semua itu ia jalani dengan
semangat yang kuat. Syukurlah semua kesepuluh saudaranya dapat bersekolah
semua hingga perguruan tinggi. Bambang berhasil menuntaskan kuliah S1
sebagai sarjana ekonomi dari UGM tahun 1977.
Ayahnya seorang guru yang memiliki idealisme yang tinggi luar biasa. Untuk
ukuran pada waktu itu, ayahnya dikenal sebagai orang yang visioner, sebab
tidak mungkin untuk seorang guru yang hanya memiliki beberapa hektar tanah
berani menyekolahkan anaknya ke Yogya dan Semarang.
Ayahnya seorang yang mau melihat anaknya maju. Ketika ia dan
saudara-saudaranya bersekolah, bisa dikatakan hampir seluruh penghasilan
yang ada dalam keluarga, seluruhnya diberikan kepada anak-anaknya dan
semua digunakan untuk menyiapkan mereka untuk hidup kemudian hari,
terutama dalam mencapai ilmu pengetahuan. “Jadi begitu amat besar hutang
kami kepada orangtua.” kenangnya.
Selesai dari bangku kuliah, ia mendapt tawaran untuk menjadi dosen di UGM.
Sejak tahun 1978, Bambang pun mulai mengajar di almamaternya. Padahal
waktu itu, sesungguhnya ia ingin sekali bekerja di Bank Indonesia dan bisa
saja ia bekerja di BI, Depkeu, atau di bank-bank dan di bisnis besar.
Karena tidak sulit bagi seorang sarjana akuntansi dalam memperoleh
pekerjaan di Bank Indonesia, yang kesarjanaannya masih sangat langka.
Hingga ada yang namanya tunjangan kelangkaan khusus untuk lulusan
akuntansi.
Tetapi ia memilih menjadi dosen di UGM. Ayahnya sangat menginginkan ia
menjadi dosen di UGM. Ia memilih jalan hidup ini oleh karena sikap hormat
kepada ayah dan ibunya dan sebagai rasa ucapan terimakasih kepada orang
tuanya yang telah membimbing dan dengan habis-habisan memberikan yang
terbaik untuknya. Karena bagi ayahnya berprofesi sebagai dosen atau guru
memiliki makna yang tinggi.
Pengajar Riset Akuntansi Manajemen pada program Pascasarjana UGM 1997-1999
ini, selalu mengingat ayahnya seorang yang sederhana, tetapi dikenal
sebagai tokoh intelektual, bukan seperti orang kebiasaan. Berbeda dari
masyarakat sekitar yang pada umumnya seorang petani. Beliau dapat memiliki
visi-visi yang maju ke depan yang tidak kalah dengan visi masyarakat
perkotaan pada waktu itu, untuk ukuran waktu itu ayahnya adalah seorang
yang berwawasan sangat luas dan berpikiran maju dan menjadi jalan lebar
bagi Bammbang untuk maju.
Walaupun dari segi materi tidak memberikan banyak, tetapi dari sisi visi
dan wawasan untuk seorang guru di desa bisa dibilang maju meninggalkan
rekan-rekannya. Ayahnya itu sangat menghargai terhadap intelektualisme.
Contohnya ia melihat pendidikan adalah masa depan untuk anak-anaknya,
pendidikan adalah cara menerobos untuk maju, anak-anaknya tidak pernah
disiapkan untuk menjadi petani, dan menjadi manusia yang hanya berpikir
setting lokal saja tetapi yang ia lihat adalah manusia yang global. Beliau
melihat anak-anaknya harus menjadi manusia yang intelektual.
Ia bisa menangkap perasaan ayahnya itu sehingga memutuskan untuk menjadi
seorang pengajar. Idealisme ayahnya benar-benar tertanam dalam dirinya,
walaupun demikian Bambang berkembang menjadi dirinya sendiri. Pengaruh
orangtua sangat besar terutama sang ibu yang memberikan teladan kesabaran.
Bimbingan dari orangtua adalah unsur pertama dalam pembentukan pandangan
hidupnya, kendati perkembangan selanjutnya kebanyakan oleh karena
upaya-upayanya sendiri, seperti membaca buku bergaul dan sebagainya tetapi
yang pertama adalah. Pandangan hidupnya sangat juga dipengaruhi oleh
agama. Ia percaya menjadi seorang muslim adalah selalu ingat bahwa
hidupnya itu adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Jadi
apapun yang dilakukan adalah sebuah pengabdian kepada-Nya. Pengabdian itu
bermakna luas sekali, bekerja untuk-Nya, berkeluarga untuk-Nya, menjabat
ini, menjabat itu, belajar itu semua adalah pengabdian kepada-Nya.
Memang, hobi utama Bambang sejak dulu adalah membaca. Tema-tema bacaannya
tidak hanya terbatas pada bacaan ekonomi saja, melainkan juga
bacaan-bacaan agama, buku-buku filsafat, sosial, dan budaya. Selain
membaca ia juga senang menanam bunga, ia seorang penggemar bunga. Kalau
pulang ke Yogya, kegiatan yang rutin dilakukannya adalah merawat dan
menanam koleksi bunga di rumah. Sementara olahraga yang dilakukan hanya
jalan kaki ringan, baik ketika di Jakarta maupun ketika di Yogya. Hampir
setiap minggu ia berada di Jakarta selama 3 hari, sedangkan di Yogya 4
hari.
Pada tahun 1979 ia menikah dengan Retno Sunarminingsih yang berasal dari
keluarga guru. Setelah menikah, isterinya menjadi dosen farmasi di UGM.
Istrinya kemudian membuktikan bahwa dirinya menjadi dosen bukan karena KKN
dengan suaminya. Terbukti, karir akademik sang istri pun istimewa. Ia kini
menjabat sebagai salah seorang Wakil Rektor bidang Penelitian di UGM
dengan menyandang gelar profesor doktor.
Pernikahannya menghadirkan dua anak yang berbakat dan cerdas. Anaknya yang
paling besar, Dananta Adi Nugraha, kuliah di fakultas ekonomi jurusan
akuntansi. Padahal ketika dulu ingin sekali menjadi insinyur, namun ketika
berada di kelas tiga SMA, waktu itu Bambang dilantik menjadi menteri
keuangan, cita-cita anaknya berubah dari insinyur menjadi sarjana ekonomi.
Anakn kedua, Harintho Budhi Wibowo, mengikuti kegemaran ibunya yaitu suka
sekali dengan musik. Ia memiliki koleksi musik yang banyak.
Sebagai orangtua, Bambang mengaku kurang sensitif terhadap musik. Namun ia
dan isterinya memiliki kesamaan yang sama yaitu sama-sama menyukai lukisan.
Menyukai tidak lantas berubah harus memiliki. Terhadap lukisan yang mahal
yang tidak mampu dibelinya, ia tidak memaksakan diri untuk memilikinya.
Menikah ternyata bukan halangan bagi Bambang untuk berkarir di bidang
akademik. Pada tahun 1979 ia dikirim oleh negara untuk mengambil program
MBA di Universitas North Carolina, AS. Desember 1980 ia berhasil
menyelesaikan studinya dan kembali ke tanah air. Kesempatan studi ke luar
negeri kembali diterimanya pada Januari 1982. Ia pun kembali meninggalkan
tanah air untuk mengenyam pendidikan di Universitas Kentucky sampai tahun
1985 untuk mengambil program doktor bidang business adminitration.
Setelah pulang ke Tanah Air, ia kembali mengajar di UGM. Pada tahun 1988
ia bergabung dalam proses pendirian MM UGM. Kemudian menjadi salah satu
anggota pengurus atau anggota direksi dari program MM UGM, serta menjadi
pengelola bidang program Keuangan. Pada tahun 1988 ia banyak aktif di
pusat studi Pusat Pengkajian Startegi dan Kebijakan (PPSK) yang diketuai
Amien Rais di Yogya. Tahun 1989 ia diangkat menjadi wakil direktur program
dan pengelola akedemik. Di tahun 1993 ia dipromosikan menjadi Direktur
program MM UGM, sampai tahun 1999.
Ketika itu ia berhenti menjadi direktur MM UGM karena diangkat oleh
Presiden Abdurrahman Wahid menjadi menteri keuangan dan hanya berjalan
selama kurang dari satu tahun, karena pada Agustus 2000 terjadi risafel
kabinet dan ia termasuk menteri yang diganti.
Sejak tahun 1998 menjadi komisaris BPPN X, ketika Tanri Abeng menjabat
Menteri BUMN. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan RI, sesuai
dengan undang-undang, ia juga menjabat sebagai wakil ketua dewan komisaris
Pertamina, serta menjadi anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK)
yang diketuai Kwik Kian Gie.
Pendidikan Bisinis dan Politik
Selain akrab dan berpengalaman dengan dunia perguruan tinggi, Bambang juga
banyak teribat dalam bidang konsultasi bisnis. Karena ia percaya dua hal
yang penting dalam dunia ini yaitu politik dan bisnis. Dua hal ini,
menurutnya, sangat menentukan jalannya kehidupan sebuah bangsa. Karena
jika sudah ada kesadaran bahwa hal itu penting, tidak mungkin hanya pasif
saja atau sebagai penonton, tetapi harus terlibat di dalamnya.
Itulah juga alasannya mengapa ia mendirikan sekolah bisnis yang sekarang
ini hadir di Jakarta, karena tidak lepas kepeduliannya terhadap dunia
bisnis di Indonesia dan memandang bisnis itu penting. Baginya profesi
tersebut juga memberikan pendapatan tambahan bagi keluarga. Ia bersama
isterinya juga aktif dalam berbagai usaha penelitian di berbagai pusat
penelitian di Universitas Gadjah Mada.
Ia bisa dibilang seorang akademisi yang memiliki sentuhan dengan politik
dan bisnis. Oleh karena itu ketika ia mengajar flavournya juga terasa
lain. “Pendidikan ekonomi di Indonesia selama ini terlalu steril dan naif,
seakan-akan berjalan dalam ruang vacum, terlepas dari setting politik,
sosial, dan setting global. Padahal, setting tersebut memiliki pegaruh
yang besar sekali. Ekonomi Indonesia rusak seperti sekarang ini, lebih
banyak oleh karena settingnya yang rusak, bukan oleh karena pranata
ekonomi yang rusak,” paparnya.
Sebagai seorang ekonom, Bambang memiliki kepedulian terhadap permasalahan
dunia politik dengan terus memantau perkembangan politik di Indonesia.
Meskipun memiliki sentuhan dan pemikiran politik dan pernah ikut
mendirikan partai politik, namun ia mengakui bahwa dirinya bukan seorang
praktisi politik. Ia menjaga betul untuk terlibat dalam dunia politik,
hanya sebatas sumbangsih pemikiran saja. Karena ia melihat adanya
keterkaitan yang erat antara politik dan ekonomi. Sedangkan hukum
dianggapnya sebagai produk dari proses politik. Semetara ekonomi diwadahi
oleh kerangka kebersamaan politik. Jika kerangkanya saja sudah tidak benar
maka kegiatan ekonominya juga tidak benar.
Di bidang sosial dan politik, ia menjadi Anggota MPR RI Fraksi Utusan
Golongan, sejak Mei 2001-2004 mewakili ISEI. Ia juga menjabat Bendahara PP
Muhammadiyah 2000-2005. ia juga ikut mendirikan ICMI tahun 1990 dan
menjabat Ketua Bidang Ekonomi Sumberdaya 1990-1995 dan Anggota Dewan Pakar
1995-2000 di organisasi itu. Selain itu, ia juga ikut mendirikan dan
menjadi anggota Majlis Amanat Rakyat (MAR), 1998, serta ikut mendirikan
Partai Amanat Nasional (PAN) tahun 1998, dan menjabat sebagai Ketua Dewan
Ekonomi pada November 1998-April 1999. (Bersambung)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Atur/Yusak.
|
|