| |
C © updated 02122008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/inilah.com |
|
| |
BIODATA:
Nama:
Bambang Hendarso Danuri
Pangkat:
Jenderal Polisi
Lahir:
Bogor, 10 Oktober 1952
Agama:
Islam
Jabatan:
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri)
Isteri:
Nanny Hartiningsih
Pendidikan:
- Akademi Kepolisian (1974)
- Meraih gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jakarta
Karir:
- Wakasat Sabhara Polresta Bogor Polda Jawa Barat (1975)
- Kapolres Jayapura (1993)
- Wakapolwil Bogor Polda Jawa Barat (1994)
- Kadit Serse Polda Nusa Tengggara Barat (1997)
- Kadit Serse Polda Bali (1999)
- Kadit Serse Polda Jawa Timur (2000)
- Kadit Serse Polda Metro Jaya (2005)
- Kapolda Kalimantan Selatan (2005)
- Kapolda Sumatera Utara (2005-2006)
- Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri
(2006-2008)
- Kepala Kepolisian Republik Indonesia (2008-sekarang)
Penghargaan:
- Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun
- Satya Lencana Karya Bhakti
- Satya Lencana Ksatria Tamtama
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Bambang Hendarso Danuri
Polisi Tegas dan Humanis
Jakarta, 6 Desember 2008: Dalam dua bulan pertama masa
jabatannya, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri membuat
gebrakan yang cukup menyedot perhatian publik: operasi pemberantasan
preman dan menindak delapan perwira tinggi Polri.
Gebrakan ke luar dilakukan melalui operasi kejahatan jalanan (operasi
preman), sedangkan gebrakan ke dalam dilakukan dengan menindak delapan
perwira tinggi yang pernah menjabat di Kepolisian Daerah Riau karena
dianggap bertanggung jawab terhadap perjudian. Gebrakan itu, selain
tetap dikritik, juga diapresiasi termasuk oleh kalangan DPR, dengan
catatan hal tersebut akan dilakukan secara konsisten.
Dalam percakapan khusus dengan Kompas, didampingi Kepala Divisi Humas
Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Jumat (5/12), Bambang
menyampaikan latar belakang kebijakannya.
Kepala Polri mengatakan, hal itu dilakukan demi menggenjot reformasi
kultural Polri, yang selama ini dianggap jalan di tempat, tanpa
perubahan berarti. Melalui gebrakan itu, Bambang juga menargetkan untuk
membentuk wajah Polri yang tegas dan humanis. Dengan demikian, rasa aman
dan nyaman masyarakat akan lebih terjamin.
Berikut ini adalah petikan percakapan tersebut:
Bagaimana sebenarnya upaya untuk membentuk polisi yang humanis tersebut?
Dalam setiap kesempatan di DPR, misalnya, perubahan kultur kita dinilai
jalan di tempat. Ini kita evaluasi. Intinya, menurut saya, mulai dari
lembaga pendidikan di Polri yang harus dibenahi. Tanpa pembenahan di
sini, masalah kultur (negatif) tidak akan pernah selesai.
Proses rekrutmen, mau sekolah, mau mutasi, kalau ada yang coba-coba
memungut uang, laporkan asalkan laporan itu bukan fitnah dan bisa
dibuktikan, maka akan diproses di pengadilan umum. Saya tidak akan
tolerir betul. Supaya ada efek jera, kalau tidak susah.
Polisi tidak bisa lagi bersikap sombong, arogan. Masyarakat tidak
bersimpati, kebijakan apa pun yang kita buat omong kosong. Kita harus
bisa mengajak masyarakat, dengan kedudukan yang sejajar. Di London,
polisi begitu dicintai rakyatnya, disebut bobby, kenapa di Indonesia
tidak bisa?
Bagaimana konkretnya hal itu dilakukan sistematis?
Semua pejabat tinggi setingkat kepala polda dan pejabat di Mabes Polri
harus menandatangani pakta integritas yang dievaluasi per tiga bulan
oleh gugus kendali mutu di bawah Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum).
Setiap tiga bulan, setiap polda dipotret tingkat pengaduan masyarakat
dan keluhan terkait penyimpangan aparat. Kalau merah, dalam tiga bulan
pertama harus diusahakan kuning, lalu hijau. Jika tiga bulan kedua masih
merah, diberi warning. Tiga bulan ketiga masih merah juga, terpaksa (pejabatnya)
diganti.
Ini bukan sesaat saja untuk sekadar popularitas. Soal di Riau, misalnya,
Irwasum sudah mengumumkan kepala poltabes yang dicopot. Ini bukan
berarti saya melindungi yang perwira tinggi, tidak. Supaya ke dalam ada
efek jera. Mereka tidak membekingi perjudian, tetapi bertanggung jawab
dalam konteks manajerial. Saya juga tidak ingin organisasi saya ini
goyang.
Bagaimana menjaga keberlanjutan operasi preman, terlebih di tahun
mendatang potensi masalah menjelang pemilu dan dampak sosial krisis
global cukup besar?
Operasi preman ini tidak berarti nanti selesai. Kehadiran polisi di
wilayah yang rawan harus ada pos yang mobile. Dengan begitu, masyarakat
melihat, tahu, dan merasakan kehadiran polisi. Tujuan utama saya melalui
operasi kejahatan jalanan (preman) ini adalah masyarakat merasakan
polisi ada dan memberi sesuatu.
Apabila pengaduan masyarakat tidak direspons, pejabat terdepannya yang
kami tegur, bukan polisi yang di lapangan. Kita harus begitu ke dalam,
tidak bisa lagi menolerir.
Apa yang dirasakan masyarakat harus direspons. Orang merasa tidak nyaman
naik mobil ke tempat tertentu dicongkel, ada paku, pedagang kecil di
pasar dipalak. Hal-hal ini harus ditindak kalau kita mau memberikan rasa
aman kepada masyarakat. Ini target saya.
Bagaimana dengan terorisme, terutama setelah kejadian di Mumbai yang
polanya tidak lagi peledakan bom?
Prinsipnya kita harus tetap hati-hati. Masyarakat curiga sedikit
sebaiknya lapor. Kejadian seperti di Mumbai harus bisa dideteksi secara
dini sehingga perlu sinergi antara polisi dan masyarakat.
Aparat Polri dan TNI kerap bentrok. Apa akar persoalannya dan cara
mengatasinya?
Kami sudah komitmen bersama dengan Panglima TNI. Hingga komandan di
tingkat bawah dengan kepala polres, kepala polda sudah berkomitmen.
Jangan sampai terjadi lagi. Kalau terjadi, komandan langsung turun
lapangan segera supaya tidak melebar. Dibuat kegiatan bersama yang bisa
membuat situasi bersahabat. Pilar NKRI itu ada di kita, TNI-Polri. Kalau
kita ini potretnya seperti itu, bagaimana dengan masyarakat? (Kompas Sabtu, 6 Desember
2008) ►TI/TSL
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|