| |
C © updated 16062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Bagong Kussudiardja
Lahir:
Yogyakarta, 9 Oktober 1928
Meninggal:
Yogyakarta, 15 Juni 2004
Profesi:
Koreografi dan Pelukis
Isteri:
Sofiana (meninggal tahun 1997) dan Yuli Sri Hastuti (38)
Anak: Tujuh Orang
Pendidikan:
Taman Siswa Yogyakarta
Belajar ilmu tari modern dari Martha Graham, New York.
Karya:
Menciptakan lebih dari 200 tari, dalam bentuk tunggal atau massal
antara lain tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan
Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng
(1980-an). Selama hidup, Bagong
Pendiri Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo
|
|
| |
|
|
|
|
Bagong Kussudiardja (1928-2004)
Begawan Seni itu Telah Tiada
Koreografer dan pelukis kenamaan yang digelari begawan seni, ini meninggal
dalam usia 75 tahun di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, Selasa 15 Juni
2004 pukul 22.45. Seniman kelahiran Yogyakarta, 9 Oktober 1928 yang telah
mencipta lebih 200 tari dalam bentuk tunggal atau massal, itu
meninggal akibat komplikasi penyakit prostat, paru-paru, diabetes, dan
jantung.
Pendiri Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo itu meninggalkan tujuh anak, 21
cucu, dan dua cicit, serta seorang isteri Yuli Sri Hastuti (38). Isteri
pertamanya, Sofiana telah meninggal tahun 1997 dan Yuli Sri Hastuti
(38). Beberapa anaknya mengikuti jejakya menjadi seniman.
Romo Gong, panggilan akrab Bagong Kussudiardja, meninggal di tengah proses
penciptaan sendratari, pertunjukan lintasan sejarah berjudul Jakarta Maju,
Indonesia Maju yang akan dipentaskan Kamis malam 17 Juni 2004 ini, dalam
rangka pembukaan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Ide sendratari ini digarap oleh
putera-puterinya kakak-beradik Ida Manu Trenggana, Butet Kertaradjasa, dan
Djaduk Ferianto, bersama lebih dari 100-an cantrik Padepokan Bagong
Kussudiardja.
Jenazahnya dimakamkan di sisi makam istri pertamanya, Sofiana, di
makam keluarga Sembungan, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Rabu (16/6) siang.
Seniman tari yang pernah merasa “mabuk teknik tarian barat" itu, menurut
Djaduk Ferianto, sekitar pukul 18.00, Selasa, meminta anak-anaknya
melepaskan tali-tali kain yang mengikat tangan dan kakinya. Ikatan itu
dilakukan karena selama dirawat di Rumah Sakit Bethesda almarhum sering
berontak di tempat tidur.
Bagong kemudian meminta anak-anaknya melihatnya menari di atas tempat
tidur. Masih dalam posisi duduk, ia kemudian menari. “Tangan Bapak
kemudian bergerak-gerak membentuk tarian. Dia masih bersemangat sekali dan
punya energi," kata Djaduk kepada pers kemarin.
Saat itu Romo Gong berseloroh kepada anak dan cucunya yang
menungguinya,"Aku nari dhewe ngene ki, piye aku koyo wong edan durung? (Aku
menari sendiri begini ini, apa aku sudah seperti orang gila?-Red)."
Bagi Iman Sutrisno, Sardono W Kusumo, dan I Made Bandem, Bagong adalah
salah satu seniman besar, seorang ayah, guru, idola, bahkan pahlawan, yang
turut mengharumkan nama Indonesia di kancah kesenian dunia. Karya-karya
tari dan lukisnya memiliki karakter dan taksu yang kuat, yang
membedakannya dengan karya lain. Kepergiannya telah mewariskan jejak
sejarah yang bisa mendorong seniman-seniman muda untuk berproses kreatif
lebih keras lagi.
Dalam dunia tari Indonesia, sempat muncul aliran ‘Bagongisme’, yang
merujuk pada karakter tarian-tarian khas Bagong. Sebagai pencipta tari dan
koreografer, Bagong mampu melahirkan dan membawakan tari-tarian dengan
gerak-gerak yang dimanis, energik, dan hidup.
Selain energik, Bagong juga mendasarkan estetika seni tarinya pada
keikhlasan untuk mengabdi pada kemanusiaan. Keikhlasan dan pengabdian itu
mewarnai hampir semua karya Bagong, seperti tari Layang-layang (1954),
tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968),
juga Bedaya Gendeng (1980-an). Selama hidup, Bagong menciptakan lebih dari
200 tari, dalam bentuk tunggal atau massal.
Penari Didik Nini Thowok menilai, Bagong mampu mengekplorasi khazanah
tradisi leluhur Jawa dan memberinya sentuhan modern. Kombinasi itu terjadi
karena dia adalah buyut dari Sultan Hamengku Buwono VII yang memiliki
latar belakang tradisi Jawa yang kental dan sempat belajar ilmu tari
modern dari Martha Graham, New York.
Dalam dunia seni lukis, karya-karya Bagong juga penuh spirit. Pelukis
Djoko Pekik melihat spirit itu muncul sebagai hasil dinamika dari
militansinya dalam bekerja. “Bagong memilih seni dan komitmen atas
pilihannya itu. Dia total, hanya hidup dan menghidupi kesenian," kata
Pekik.
Lukisan-lukisan Bagong juga sarat dengan dinamika gerak. Ratusan kali dia
berpameran di Indonesia dan luar negeri dan menyabet sejumlah penghargaan.
Salah satunya, Medali Emas dari Paus Paulus II di Vatikan atas karya
lukisnya yang menggambarkan Yesus dalam cita rasa Indonesia.
Profesional
Menurut dua putranya, aktor Butet Kertaradjasa dan musisi Djaduk Ferianto,
Bagong adalah sosok seniman yang profesional dan bertanggung jawab atas
kerja yang dipilihnya. Baginya, semua karya tergantung pada motivasi di
balik karya, meski karya itu pesanan.
“Dalam soal ideologi seni, ayah bisa berdebat panjang dengan kami,
berkompetisi, dan saling mengkritik. Beliau keras, tapi memberi kebebasan.
Itu kami anggap sebagai proses pendewasaan dan bagian dari caranya untuk
mendidik," kata Butet.
Sebagai jebolan Taman Siswa Yogyakarta, sosok Bagong kental dengan
nilai-nilai pendidikan. Buktinya, dia mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT)
pada tahun 1957 dan membangun Padepokan Seni Bagong Kussudiardja tahun
1978. Dengan tekun dan disiplin, kata Djaduk, Bagong telah mendidik
ratusan siswa dari berbagai daerah, bahkan telah merambah Asia. Dan, tiap
kali mendidik siswanya, Bagong selalu mengingatkan: "Jadilah Bagong-Bagong
Besar".
“Mas Gong, Mbak Sofi wis nggoreng kripik paru kesenenganmu. Wis sugeng
tindak (Mas Gong, Mbak Sofi –istrinya yang pertama--sudah menggoreng
keripik paru kesukaanmu. Silakan. Selamat jalan-Red)," kata Sardono W
Kusumo. (K07/HRD)
Bagong memulai kariernya sebagai penari Jawa klasik di Yogyakarta pada
1954. Ia berkenalan dengan seni tersebut melalui Sekolah Tari Kredo Bekso
Wiromo, yang dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.
Sebagai seniman yang proaktif, Bagong memiliki ide sendiri dan
mengekspresikannya melalui tari. Menurutnya, tari Jawa harus tumbuh alami
dan tidak bersifat statis.
Pada 5 Maret 1958 ia mendirikan Pusat Pelatihan Tari Bagong Kussudiardjo.
Sejak itu banyak penari bermunculan.
Setelah sekian lama berpraktek menari dan melakukan observasi, Bagong
akhirnya memutuskan untuk mendirikan padepokan seni di bidang tari,
ketoprak, karawitan, dan sinden, pada 2 Oktober 1978.
Mengenai padepokan seni yang ditinggalkan oleh Bagong, Butet mengatakan
bahwa saat ini belum diputuskan tentang siapa yang akan melanjutkan
pengelolaannya. "Kami akan membahasnya dulu bersama keluarga," katanya. ►tsl-kompas-ant
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|