|
== 1
2 3 4
5 6 ==
Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Wawancara (2)
Kokohkan Diri Pembaharu Islam
Ketokohannya sebagai pembaha-ru Islam Indonesia semakin mantap dan
strategis. Dia kini guru besar sekaligus Rektor di almamaternya Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) yang sudah ber-ubah nama men-jadi Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatul-lah, Jakarta. Kemurnian berpi-kir,
sehingga pendapatnya sering menjadi rujukan sekaligus sebagai ‘pemadam
kebakaran’ atas berbagai potensi konflik yang mungkin terjadi.
rof. Dr. Azyumardi Azra, MA dahulu tahun 1978 adalah aktivis mahasiswa
dan intelektual muda yang gencar membangun wacana pemikiran tentang
Indonesia, Pembangunan dan Islam. Dia pernah bersikap berani menggelar
demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan Presiden Soeharto yang
dinilai semakin represif terhadap mahasiswa, gencar melakukan Golkarisasi
di kampus serta memecat dosen-dosen IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta yang
anti pemerintah. Aktivitasnya yang berlangsung saat Sidang Umum MPR itu
ditindas aparat keamanan dengan merangsek menyerbu kampusnya yang terletak
di kawasan Ciputat. Kampus didobrak dan banyak mahasiswa berlumuran darah.
Dia lalu merasa bersalah dan trauma sebab tak tega melihat akibat
gerakannya, banyak teman-temannya digebukin. Gerakannya lalu bergeser
murni ke gerakan intelektual. Dia mematangkan diri sebagai tokoh pembaharu
Islam dengan mengambil studi tingkat master hingga doktor ke Columbia
University, satu dari 10 universitas paling top di Amerika Serikat, antara
tahun 1986 hingga 1993.
Dia menyebut penunjukannya sebagai Rektor IAIN pada 14 Oktober 1998
sebagai “musibah”. Sebab dia tidak menyukai birokrasi yang serba
struktural. Dia menyebut birokrasi tak cocok di lingkungan universitas.
Tanpa banyak publikasi, dalam tempo beberapa tahun, dia berhasil
mengubah wajah IAIN itu, yang disimbolkan dengan perubahannya menjadi
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dia berhasil
menggandeng Bank Pembangunan Islam (Islam Develoment Bank/IDB) dan
Pemda DKI Jakarta membangun total 18 gedung perkuliahan baru bertingkat
dua hingga tujuh, berikut prasarana dan sarana secara lengkap. Bersama
sebuah lembaga dari Jepang, tahun 2005, dia berencana membuka Fakultas
Kedokteran disertai kelengkapan rumah sakit praktek.
Dia mengubah UIN dari eksklusif menjadi inklusif. Ilmu agama murni
diintegrasikan dengan ilmu-ilmu sekuler. Dengan kelengkapan disiplin ilmu,
ditambah jumlah 17.000 lebih mahasiswa yang direkrut dari siswa-siswa
terbaik seluruh Indonesia berdasarkan seleksi penerimaan yang kompetitif,
bukan mustahil dalam waktu singkat ke depan, UIN akan menjadi pusat
keunggulan pendidikan tinggi ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sekuler.
Perjalanan hidupnya mengalir begitu saja. Dia menyebutkannya sebagai
sebuah koinsidensi-koinsidensi yang saling mempengaruhi yang melejitkan
namanya semakin kokoh sebagai tokoh pembaharu Islam Indonesia. Dia tak
pernah ngoyo dalam melakukan segala sesuatu kecuali berbuat
maksimal untuk setiap tugas dan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.
Dia juga konsisten sebagai pengajar, sebagai dosen hingga guru besar ,
tak pernah bekerja di tempat lain sebab memang dia berasal dari kampus dan
dibesarkan di situ. Posisi murni sebagai intelektual bukan berarti tak
punya warna dan sikap politik. Golput, misalnya, adalah sikap politik yang
menurutnya kurang bertanggungjawab sebab demokrasi saat ini masih perlu
dibangun. Karenanya, pasca kemunduran Pak Harto semua pihak harus
bertanggung-jawab atas konsolidasi politik yang masih berlangsung.
Walaupun dia memahami alasan orang menjadi golput, namun, menurutnya,
sikap itu sebaiknya dihindari.
Maka tak salah, bila orang menyebutnya aset bangsa yang sangat berharga
demi masa depan. Azyumardi, bukan tipe orang yang suka menyodor-nyodorkan diri.Melihat
tipenya itu, kalaupun suatu ketika ditunjuk menjadi menteri, dia akan
mungkin akan berpikir dulu, apakah dia sudah merupakan orang yang paling
baik dan pas mengisinya.
Dia memang sangat bersahaja, tipikal seorang intelektual kampus sejati.
Dia membesarkan UIN hanya bermodalkan keberanian mengajak semua pihak
bermimpi besar. Kini sebagian besar mimpi itu sudah tercapai. Ia tinggal
menata setumpuk gagasan menjadikan UIN itu, sebagai sebuah institusi
Islam, menjadi lokomotif pembaharuan di bidang pemikiran Islam Indonesia
maupun internasional.
Berikut perbincangan Wartawan TokohIndonesia DotCom dengan Prof.
Dr. Azyumardi Azra, MA, suami dari Ipah Farihah kelahiran Bogor 19 Agustus
1959 yang dinikahinya 13 Maret 1983 dan memberinya empat orang anak.
Perbincangan berlangsung Sabtu 31 Juli 2004 di kampusnya yang asri, UIN
Syarif Hidayatullah, Jalan Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, di Selatan
Jakarta.
MTI: Anda bisa menceritakan tentang masa kecil
di kampung halaman serta bentuk pengasuhan orang tua?
AZA: Ini, ceritanya panjang tapi mungkin saya
tidak perlu cerita terlalu panjang. Salah satu buku tulisan saya mungkin
bisa membantu, di sini banyak human interest-nya (katanya,
sambil menyodorkan kopi salah satu bab buku karyanya, “Islam Substantif).
MTI: Tentang pengasuhan orangtua di masa kecil,
nilai-nilai apa yang bisa Anda petik?
AZA: Yang pertama itu adalah disiplin, disiplin
soal waktu disiplin soal belajar. Yang kedua adalah etos kerja. Orangtua
saya sekali-kali mereka itu ngomong bahwa kita harus bekerja keras
berusaha mencapai yang sebaik-baiknya. Itulah yang saya ambil dari
kehidupan masa kecil orang tua yang selalu berusaha bekerja keras, tidak
pernah menyerah, selalu menciptakan tantangan di dalam dirinya sendiri,
itu yang menjadi kekuatan pendorong bagi saya.
Yang ketiga yang juga yang sangat berpengaruh adalah cinta pada ilmu.
Jadi, orangtua saya itu meskipun tidak sekolah tinggi tapi mencontohkan
kepada saya bahwa ilmu itu sangat penting. Oleh karena itu meskipun mereka
susah dalam kehidupan tapi semua anak-anak mereka itu sekolah dan semuanya
menjadi sarjana.
MTI: Yang paling dominan mendorong Anda hingga
bisa menjadi seperti sekarang ini pendidikan dari orangtua atau contoh
dari orang lain seperti Buya Hamka?
AZA: Oh ya tentu saja dari orangtua saya. Kalau
dari Buya Hamka saya banyak belajar mencoba mengambil hikmah tentang
sikapnya yang moderat, toleran, juga berpijak pada prinsip.
Saya itu selalu ada dorongan berusaha untuk memiliki etos kerja dan
bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu tidak mau setengah-setengah, itu
support dari orangtua. Jadi meskipun saya sibuk seperti sekarang ini,
misalnya saya masih terus menulis makalah, artikel dan sebagainya, itu
karena itu tadi etos kerja. Itu yang saya ambil dari pengalaman waktu
kecil.
MTI: Merasa bersentuhan dengan
konsepsi-konsepsi pemikiran Islam, itu mulai kapan?
AZA: Sebetulnya saya tidak pernah membayangkan
seperti sekarang. Jadi, saya itu dari dulu hidupnya mengalir saja. Salah
satu prinsip hidup saya biar saja mengalir seperti air. Bagaimana nanti
yang penting kita berusaha sebaik-baiknya. Hari ini lebih baik dari
kemarin, dan hari besok lebih baik dari hari ini Itu saja prinsipnya. Saya
tidak pernah punya cita-cita.
Tahun 1978 setelah terjadi huru hara d isini dulu dimana tentara masuk.
Waktu itu saya masih tingkat II, mahasiswa digebukin, dosen-dosen
digebukin, banyak yang berdarah-darahlah di kampus ini digebukin oleh
tentara. Setelah itu tahun 1979 saya mulai menjadi reporter di majalah
Panji Mas. Waktu itu Panji Mas masih dipimpin oleh Buya Hamka.
Jadi saya berhubungan dengan Buya Hamka lebih pada soal-soal perkembangan
Indonesia di Indonesialah.
Jadi, di kampus Ciputat ini saya mulai terlibat dalam kelompok-kelompok
diskusi, aktif di HMI. Di HMI juga banyak diskusi. Dari situlah kemudian
mengembara ke dalam berbagai bidang. Topik-topik diskusi pada waktu itu
pada tahun-tahun terakhir 70-80 itu banyak membahas masalah pembangunan,
Islam dan Pembangunan, agama dan pembangunan, agama dan modernisasi. Ya,
itulah, mulai dari situ minat saya dan saya kemudian terus berkembang.
MTI: Anda cenderung berada di tengah menjadi
pemikir Islam, bukan aktivis lembaga?
AZA: Ya, mungkin kecenderungan pembawaannya lebih
ke dunia akademis, keilmuan, daripada menjadi aktivis baik itu di ormas
maupun juga di politik. Itu, saya enggak aktif di situ. Dulu saya memang
pernah menjadi Ketua Umum HMI cabang Ciputat tahun 1982-1983, tapi saya
pikir, ya sudah saya stop itu kemudian menerjunkan diri ke dalam bidang
keilmuan lebih intens.
Apalagi setelah saya tamat dari sini tahun 1983, kemudian sempat
bekerja di LIPI selama 2 tahun yakni sampai tahun 1985. Tiga tahun setelah
itu saya kembali mengajar di sini, dan kemudian baru terus kuliah S-2 dan
S-3 di Amerika, New York, di Columbia University. Jadi ini mungkin
kecenderungan saya, kecenderungan pribadi yang tidak tertarik pada politik.
MTI: Apakah itu berarti Anda tidak punya warna
politik atau tidak diwarnai politik?
AZA: Oh ya, saya tentu punya sikap politik cuma
tidak berafiliasi juga terlibat ke dalam politik itu. Misalnya pada
pemilihan umum saya termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan sikap
golongan putih atau golput. Apalagi jaman sekarang setelah jatuhnya
Presiden Soeharto dan kita mengembangkan demokrasi maka demokrasi di
Indonesia ini masih perlu di konsolidasikan.
Untuk konsolidasi itulah maka warga negara mempunyai tanggung jawab
untuk memperkuat demokrasi. Oleh karena itu menurut saya meskipun bisa
saya pahami kenapa orang bisa menjadi golput tapi golput merupakan sikap
yang kurang bertanggung jawab. Saya bisa memahami kenapa orang bisa golput,
tapi hemat saya itu sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap
konsolidasi demokrasi di Indonesia.
MTI: Ketika memilih kuliah S-2 S-3 sasarannya
hanya menjadi ilmuwan atau ada hal lain, sebab memilihnya ke Amerika bukan
Kairo atau ke Timur Tengah?
AZA: Sebetulnya tidak terlalu terencana kuliah ke
Amerika ataupun ke Mesir. Itu juga mungkin mengikuti jalan jalur
perjalanan hidup saja. Meskipun dulu saya pernah aktif di kelompok
diskusinya Dawam Saharjo di LP3ES waktu dia menjadi direktur di LP3IS
tahun 1978, 1979 dan awal 1980. Saya sering terlibat diskusi dengan Mas
Dawam terutama tema-tema tentang pembangunan ekonomi, pembangunan sosial,
modernisasi, kemudian juga tentang kepincangan-kepincangan pembangunan,
teori-teori tentang centre dan marginal dan sebagainya,
antara pusat dan pinggiran.
Kemudian kenapa ke Amerika saya kira itu kebetulan saja. Dalam
pengertian, pada waktu itu Menteri Agamanya, Pak Munawir Sjadzali yang
wafat minggu lalu (Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA adalah Menteri Agama
tahun 1983-1993, tokoh yang lahir di Desa Karanganom, Klaten 7 November
1925, meninggal dunia 23 Juli 2004), dia kelihatannya menyadari betul
pentingnya dosen-dosen IAIN yang pada waktu itu muda-muda seperti saya ini
mendapatkan pendidikan khususnya pendidikan di Barat.
Rupanya Pak Munawir ini dalam pikirannya, karena Pak Munawir Sjadzali
S-2-nya dari George Washington University melihat ada manfaatnya maka dia
pengen dosen-dosen muda ini belajar ke Amerika. Maka kemudian melalui
jaringannya dia mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan dubes Amerika
pada waktu itu di Jakarta, Paul Wolfowitz yang sekarang menjadi Assisten
Menteri Pertahanan. Nah, disitulah ceritanya sehingga kemudian tahu 1986
saya termasuk diantara 6 orang yang, melalui skema yang berhasil di
program yang dibikin oleh Pak Munawir dengan Dubes Amerika Paul Wolfowitz.
Lima orang lainnya adalah Prof. Dr. Faisal Ismail sekarang Sekjen
Departemen Agama, kedua Prof. Dr. Kodri Azizi Dirjen Kelembagaan Islam
Depag, ketiga Dr. Mulyadi Kartanegara dosen di sini, keempat Prof. Dr. Din
Syamsuddin Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Sekjen MUI dan dosen juga disini,
kelima Dr. Toha dosen di Surabaya, dan keenam saya.
Jadi sekali lagi tidak direncanakan. Saya sering melihat apa yang saya
capai itu pertama, karena koinsidensi. Koinsidensi sejarah,
koinsidensi-koinsidensi di dalam perkembangan di lingkungan saya. Jadi ada
koinsidensi saya tamat dari IAIN tahun 1983, menjadi dosen di sini
walaupun sempat kerja di LIPI, kemudian ada Pak Munawir Sjadzali yang
punya obsesi seperti itu, kemudian disini ada rektornya Prof. Harun
Nasution almarhum juga punya keinginan-keinginan seperti itu. Jadi ada
pertemuan-pertemuannya.
Menurut saya saya diuntungkan oleh keadaan. Saya merasa bahwa saya ini
tidak pintar-pintar amat banyak orang lain yang lebih pintar dari saya
tapi saya diuntungkan oleh keadaan, oleh koinsidensi-koinsidensi yang tadi
itu. Misalnya ketika orang susah sekali mencari beasiswa tapi saya
alhamdulillah dapat beasiswa untuk S-3 dari universitas saya sendiri. Dan
itu tidak mudah untuk mendapatkan beasiswa di universitas itu, Columbia
University itu merupakan salah satu universitas dari 1o universitas yang
paling top di Amerika. Saya merasa koinsidensi-koinsidensi sering terjadi
dalam kehidupan saya.
MTI: Tapi, koinsidensi itu masih selalu
menguntungkan?
AZA: Ya, membuat saya itu mendapat banyak manfaat
dan keuntungan dari situ.
MTI: Setelah pulang dari Amerika ada perubahan
orientasi atau pemikiran misalnya lebih toleran, liberal, atau bagaimana?
AZA: Saya ‘kan belajar sejarah di Columbia itu.
Saya punya master dua, Kajian Timur Tengah dan Bidang Sejarah, MA.
Kemudian M.Sc dalam bidang sejarah juga. Dari sejarah itulah saya tidak
hanya mengetahui teori-teori yang bersifat wacana-wacana spekulatif. Teori
‘kan spekulatif juga.
Tapi melihat betul secara historis apa yang aktual pernah terjadi dalam
perjalanan sejarah kehidupan manusia. Sehingga, itulah mungkin juga
mempengaruhi cara pandang kita sehingga kita tidak bisa melihat itu secara
black and white. Dalam kehidupan sosial khususnya dalam kehidupan
sosial, politik, budaya, tidak bisa melihat hitam putih karena di dalam
sejarah perjalanan kehidupan manusia itu banyak sekali faktor yang
mempengaruhi orang untuk bertindak. Itulah mungkin yang mempengaruhi saya,
seperti itu, dan saya merasa lebih konsisten dalam dunia akademis.
Nah setelah pulang saya diminta oleh Menteri Agama waktu itu, Tarmizi
Taher, untuk mendirikan dan mengembangkan jurnal berbahasa Inggris
Studia Islamika. Sampai sekarang saya masih Pemimpin Redaksinya. Islam
di Indonesia ini kan kurang dikenal, jarang orang menulis dalam bahasa
Inggris, tidak ada jurnal yang berbahasa Inggris. Jurnal ini bisa
ditemukan di hampir seluruh pusat-pusat kajian tentang Indonesia dan
tentang Islam di luar negeri, di perpustakaan-perpustakaan universitas dan
pusat-pusat kajian di luar negeri.
Waktu ini saya hanya dibekali modal komputer butut, gedung kantor yang
enggak memadai, tapi saya tetap bertahan. Sejak pulang dari luar negeri
tidak pernah bekerja di instansi lain saya hanya di sini saja dari dulu.
Awal-awalnya susah tapi saya punya prinsip begini, kita harus mengerjakan
sesuatu itu tidak bisa setengah-setengah. Jadi harus punya komitmen,
enggak bisa ini kita pegang, ini kita pegang, sehingga akhirnya semuanya
enggak ada yang jadi. Jadi harus ada satu yang kita pegang terus sampai
jadi.
MTI: Kalau dilihat dulu harus menulis untuk
dapat menutupi kebutuhan dasar tapi sekarang malah menjadi rektor, apakah
pencapaian itu sudah mencukupi?
AZA: Ya, saya sesungguhnya orang yang tidak ngoyo
saya hanya ingin berbuat. Tapi, berbuat namun tidak memaksakan diri
apalagi memaksakan orang lain. Jadi tahun 1993-1994 mendirikan jurnal,
tahun 1994 -1995 saya ke Inggris di Oxford University ikut program
Doktoral. Saya pulang ke sini, kembali lagi mengelola Studia Islamika,
dan kemudian di Lembaga Riset UIN yaitu Pusat Pengkajian Islam dan
Masyarakat (PPIM). Apa doktor dari luar negeri terus harus memegang posisi
lebih dari orang lain? Saya enggak begitu. Jadi saya tetap saja mengelola
jurnal, biasa saja, enggak banyak menuntut macam-macam kepada IAIN.
Saya juga pernah menolak jabatan, ditawarin jadi ketua jurusan dan lain
sebagainya saya menolak. Biarlah saya selesaikan dulu jurnal ini mungkin
ini memberikan kontribusi tertentu bagi IAIN. Tahun 1997 saya diminta oleh
Pak Quraish untuk menjadi PR I itu juga saya tolak dengan berbagai alasan,
mungkin ada enam atau tujuh alasan untuk tidak menerima.
MTI: Tapi, kesediaan akhirnya Anda menerima
jabatan Purek diangggap orang pula sebagai pertanda kesediaan menjadi
calon rektor di kemudian hari?
AZA: Saya malah bilang ke Pak Quraish, salah satu
alasan saya tidak menerima ini adalah takut saya kebablasan. Bukan saya
saja yang kebablasan tapi orang lain juga kebablasan.
Nah orang melihat saya berbuat maksimal mungkin ada satu hasilnya,
orang punya harapan akhirnya memilih saya. Jadi orang lain kebablasan
memilih saya, kebablasan menaruh harapan kepada saya. Dan itu terbukti.
Ketika Pak Quraish ditarik jadi Menteri kemudian ada pejabat sementara di
sini yakni Prof. Achmad Sukarja menyiapkan pemilihan rektor dan kemudian
saya terpilih. Bukan hanya sekali, setelah habis masa jabatan tahun 2002
dipilih lagi, kebablasan.
Hasil yang dicapai di sini ada beberapa. Pertama, kampusnya hampir
seluruhnya baru, kemudian sudah berubah dari IAIN menjadi UIN yakni
universitas, dan mahasiswanya dari lima ribu sekian ketika saya pertama
kali menjadi rektor, sekarang sudah 17.000-an karena banyak program baru,
fakultas-fakultas baru dibuka.
MTI: Apakah Anda tidak takut kebablasan akan
ekspektasi masyarakat meminta Anda salah satu anggota kabinet, misalnya?
AZA: Ya, yang pertama seperti yang memang
pembawaan pribadi saya bahwa saya tidak akan pernah menyodor-nyodorkan
diri, memperdagangkan diri sendiri. Jadi saya harus kembali pada prinsip
saya, itu biarkan saja mengalir.
Kalau memang ada orang yang melihat saya itu pantas misalnya
mengerjakan sesuatu hal yang lain, ya saya akan lihat dulu apakah saya
kira-kira punya kemampuan untuk mengerjakan itu. Jadi harus dilihat dulu
tidak bisa dengan serta merta saya mengatakan, “Oh ya, saya bersedia.”
MTI: Tapi kalau ternyata masih ada koinsidensi
tentu Anda harus loyal pada atasan?
AZA: Ya, itulah kadang-kadang saya enggak bisa
berbuat apa-apa meskipun yang punya diri itu saya sendiri. Tapi pada
akhirnya ternyata diri kita tidak bisa di tentukan oleh diri kita sendiri
ada faktor-faktor lain. Ya, itulah yang dinamakan takdir. Ada
kejadian-kejadian seperti yang tadi saya sebut historical coincidence
yang tidak bisa dielakkan. Meskipun kita mengelakkan tapi enggak bisa
karena berbagai-bagai faktor.
MTI: Sepertinya Anda seorang yang
persfeksionis sehingga tidak begitu saja menerima tugas kepercayaan orang?
AZA: Ingin sesuatu itu terbaik, gitu, perfek
bukan seratus persen sempurna. Saya juga memahami kalau orang-orang punya
kekurangan. Jadi kepada mahasiswa S-1, S-2, maupun di S-3 kalau saya
bersikap perfeksionis maka mahasiswa saya itu banyak yang enggak lulus
atau nilainya jelek-jelek.
Jadi, anda lihat kampus ini bersih, rapi, dan lain sebagainya itu
karena saya ingin yang terbaik. Memang belum sempurna di sana-sini. Itulah
yang saya bilang dengan konsistensi, tidak setengah-setengah. Jadi, saya
masih suka keliling lihat kebersihan, mencontohkan kepada karyawan
bagaimana seharusnya kebersihan itu.
MTI: Ketika dahulu menerima jabatan Rektor ada
kondisi-kondisi yang Anda ajukan sebagai prasyarat. Bisa dijelaskan apa
saja perubahan lain yang sudah terjadi?
AZA: Ya, waktu saya diangkat menjadi rektor
kemudian melakukan pertemuan pertama dengan senat, saya bilang saya enggak
menjanjikan apa-apa tapi mari kita sama-sama. Itu yang pertama, dan yang
kedua, mari kita bermimpi. Kita harus berani bermimpi.
Dari mimpi yang besar itulah kemudian nanti yang kita coba wujudkan
secara bersama-sama. Kita harus berani bermimpi. Bermimpi saja enggak
berani apalagi melakukan sesuatu. Jadi, itu saja kata kuncinya. Ya, memang
membangkitkan etos, mendorong memiliki inner driver, dorongan dari
dalam.
Alhamdulillah pembangunan kembali kampus ini sudah selesai. Kita punya
kampus di sini Kampus I dan Kampus II. Kita punya fakultas-fakultas yang
semakin kompetitif, tidak mudah masuk. Beberapa jurusan sangat kompetitif,
seperti Psikologi hanya 1 dari 10 yang mendaftar yang diterima. Kemudian
jurusan Teknologi Informatika hanya 1 dari 15 pendaftar yang bisa diterima.
Total mahasiswa sekarang 17. 000-an. Terus fakultas terakhir adalah
Fakultas Kedokteran, belum semua jurusannya ada. Yang baru menerima
mahasiswa tahun ini adalah jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, peminatnya
juga besar. Kita hanya terima 80 tapi yang daftar dekat-dekat 1.000.
Itupun baru satu jalur penerimaan yaitu SPMB lokal belum yang nasionalnya.
Dalam waktu dekat juga akan dibuka Jurusan Farmasi. Juga dalam waktu yang
tidak terlalu lama Jurusan Ilmu Kedokteran dan Ilmu Keperawatan.
MTI: Calon mahasiswa itu menurut pengamatan
Anda sudah merupakan siswa terbaik di sekolah asalnya?
AZA: Ya siswa terbaiklah, kalau tidak siswa
terbaik mereka tidak akan bisa masuk ke situ. Susah mereka masuk. Terbaik
karena sangat kompetitif.
MTI: Kalau boleh tahu, masih adakah mimpi baru
Anda tentang kampus ini?
AZA: Sekarang mimpinya sebagian sudah terlaksana.
Mimpi kita sekarang adalah membuat salah satu fakultas kedokteran yang
terbaik di Indonesia ini. Oleh karena itu kita sekarang sedang merancang
fakultas kedokteran yang juga memiliki rumah sakitnya sendiri, rumah sakit
universitas dengan laboratorium yang lengkap dan lain sebagainya.
MTI: Mimpi yang lain?
AZA: Enggak ada mimpi yang lain, sementara ini
enggak ada. Alhamdulillah karena mimpinya sebagian besar sudah menjadi
kenyataan, jadi tinggal sedikit lagi.
MTI: Dengan nama IAIN terkesan ekslusif
setelah menjadi Universitas Islam Negeri sudah mulai inklusif?
AZA: Ya, kita inklusif. Universitas ini inklusif
meskipun ada nafas Islamnya, ya. Tapi ini universitas yang terbuka, negeri,
terbuka untuk siapa-siapa. Yang beragama lain ada di sini sekarang. Kalau
di Pasca itu ada calon pastor ada calon pendeta mengambil kuliah di sini.
Di S-1 juga ada orang Kristen.
Dan kita punya kerjasama dengan dunia internasional.
Mahasiswa-mahasiswa asing juga semakin banyak. Baru dua hari yang lalu
kita terima surat dari sebuah perguruan tinggi di Malaysia mengirim
mahasiswanya kesini 18 orang. Juga kita punya kerjasama program
internasional dengan universitas-universitas luar. Karena saya percaya
semua universitas di Indonesia ini bisa maju bisa terangkat ke tingkat
internasional kalau kita kerjasama dengan dunia internasional. Kalau kita
eksklusif tidak akan bisa maju.
MTI: Anda menggagas pemikiran demikian masih
terkait dengan latar belakang studi historikal tadi?
AZA: Saya ‘kan pada dasarnya bukan orang birokrat.
Sejak saya di sini menjadi rektor, anda boleh lihat hampir tidak ada orang
yang berpakaian safari di sini. Saya sendiri tidak pernah punya sepotong
pun pakaian safari sampai sekarang. Kenapa begitu? Karena safari itu
adalah simbol birokrat. Birokrasi itu tidak cocok di universitas. Meskipun
birokrasi diperlukan tapi kita tidak boleh menjadi seorang birokrat. Jadi
simbol-simbol yang seperti itu enggak.
Saya juga pada dasarnya melarang memanggil saya Pak Rektor. Panggil
nama saya saja. Jadi, jangan panggil nama saya Pak Rektor. Orang sini
memanggil saya Pak Edi, atau Pak Azra, atau Pak Mardi, atau kak Edi, bang
Edi. Kecuali sedang dalam memimpin rapat resmi tidak enak maka panggil
saya Pak Edi. Saya di rumah itu dipanggil Edi. Kalau tetangga saya
memanggil saya Pak Mardi.
Jadi, saya selalu bilang kita ini bolehlah jadi pegawai negeri tapi
kita harus meninggalkan budaya pegawai negeri yang tidak sehat misalnya
birokratis, selalu struktural, atau juga budaya pegawai negeri itu tidur
siang. Makanya, sejak saya jadi rektor jam kerja saya itu mulai 7:30
sampai jam 16:00.
MTI: Apakah bersikap tidak birokratis itu
sebab ketika mahasiswa Anda suka turun ke jalan?
AZA: Ya, kalau turun ke jalan itu saya kira sifat
mahasiswa seperti itu, dimana-mana juga mahasiswa harus seperti itu. Tapi,
tentu saja dengan pertama harus berpikir yang rasional tidak anarkis.
Sebab kalau mahasiswa anarkis itu tidak cocok sebab mahasiswa itu memberi
kekuatan moral. Mahasiswa harus memberikan contoh bagaimana orang yang
terdidik menyampaikan pandapatnya, mengeksposkan ketidaksukaannya terhadap
sesuatu hal. Dan itu harus disampaikan dengan cara yang santun yang
beradab.
Jadi, menurut saya sangat penting kelompok-kelompok moral manapun dia
harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral kalau tidak dia akan
kehilangan hak moralnya. Kita tidak bisa mengatakan stop korupsi sedangkan
kita sendiri korupsi, itu tidak bisa. Jadi ada satu konsekuensi di situ.
MTI: Kontribusi pemikiran Anda terhadap masa
depan bangsa ini sangat dibutuhkan terutama pasca pemilihan presiden,
dimana akan ada kepemimpinan baru dan dengan bangunan demokrasi yang baru?
AZA: Ya, saya kira memang siapapun yang jadi
presidennya, agenda-agenda yang masih tersisa perlu menjadi prioritas
yakni penciptaan good governance, pemerintahan yang baik. Good
governance yang tentu saja pemerintahan yang bersih, kemudian
betul-betul memiliki komitmen untuk pemberantasan KKN, komitmen untuk
penegakan hukum. Saya kira agenda-agenda seperti ini yang belum selesai
masih jauh dari harapan.
MTI: Pemikiran apa yang bisa Anda sumbangkan
untuk masa depan bangsa?
AZA: Ya, selama ini juga saya sudah memberikan
banyak sumbangan ya, atau paling tidak mengungkapkan hal-hal seperti kita
perlu tadi sebagai kaidah. Menciptakan good governance, melakukan
konsolidasi demokrasi, menegakkan hukum, melakukan rekonsiliasi diantara
berbagai elemen bangsa, memulihkan kembali harkat dan martabat bangsa
karena citra bangsa kita ini terpuruk di depan mata internasional,
bagaimana kita melihat perlakuan orang-orang asing terhadap para TKW kita
di berbagai negara, misalnya di Singapura, di Hongkong.
Indonesia itu bangsa yang besar. Menurut saya salah satu tugas dari
kepemimpinan nasional masa depan adalah memulihkan kembali harkat dan
menumbuhkan kembali proud sebagai bangsa Indonesia. Saya
menganggap Indonesia ini terlalu lama menjadi sleeping giant
menjadi raksasa yang tidur. Jadi, salah satu tugas pemimpin itu adalah
membangkitkan harga diri memberikan semangat terus menerus.
Jadi kalau pemimpinnya sudah terus mengeluh di depan publik bagaimana
negara ini bisa maju, memiliki kebanggaan. Menumbuhkan kebanggaan ini
menurut saya juga salah satu yang sangat penting. Karena kalau kita sudah
memiliki kebanggaan saya kira kemudian itu bisa menjadi inner driving
force, menjadi kekuatan pendorong dalam diri kita untuk berbuat yang
terbaik bagi bangsa dan negara.
MTI: Salah satu pilar menuju itu pendidikan?
AZA: Oh ya jelas, pendidikan jelas merupakan
salah satu kuncinya, kunci pokoknya itu. Jadi pendidikan harus diberikan
perhatian yang lebih besar. Kuncinya adalah perbaikan nasib guru,
pembenahan kurikulum dan penyediaan fasilitas.
Yang saya kira kuncinya adalah perbaikan kesejahteraan. Tapi
peningkatan kesejahteraan saja enggak cukup kalau tidak ada penegakan
hukum. Oleh karena itu saya kira pemerintahan yang akan datang punya
kewajiban untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat, pegawai negeri
khususnya pejabat-pejabat. Tapi juga harus dijelaskan oleh siapapun
presidennya, kalau dia masih macam-macam dengan gaji yang sudah layak akan
ditindak. Tapi jangan dibandingkan dengan menteri-menteri Singapura
misalnya, enggak bisa dibandingkan.
Tapi kalau kebutuhan-kebutuhan pokoknya sudah bisa terpenuhi masih juga
melakukan hal seperti itu, kepemimpinan nasional harus punya keberanian
menindak itu, menterinya, atau siapa saja, terutama pejabat-pejabat
tinggi. Pejabat tinggi ini apa sih yang dibutuhkan lagi, fasilitas sudah
dapat. Kalau mobil tinggal naik tidak pernah memikirkan bensinnya. Yang
memikirkan bensinnya ‘kan masyarakat, tapi setelah itu masih korupsi juga.
Kalau kepemimpinan nasional tidak berani menuntas kerakusan itu saya kira
akan semakin rusak negara kita ini.
MTI: Untuk mengembalikan harkat dan martabat,
Anda punya mimpi cara mengatasinya?
AZA: Ya. Yang pertama harus sering-sering
diungkapkan bahwa bangsa kita ini bangsa yang besar, bangsa yang
berharkat, bangsa yang punya sejarah yang membanggakan di masa lalu.
Kita merdeka bukanlah pemberian orang lain tapi kita betul-betul
merebut kemerdekaan itu dengan darah dan air mata. Dan ini harus
diingatkan secara terus menerus. Itu tugas dari kepemimpinan nasional.
Jadi kita harus terus bilang begini, saya dalam skala yang terbatas di
sini di Universitas Islam ini mengatakan, kita harus jangan sampai
memiliki mental pecundang, mental orang kalah, atau psychology of the
loser, psikologi orang pecundang orang kalah.
Saya sering bilang, memang selalu orang bilang kalau dalam penelitian
kita ini kalah dengan Malaysia. Akhirnya lama-lama memang psikologi kita
psikologi orang kalah. Nah, kita di UIN ini setiap tahun kedatangan tamu
dari Malaysia minta bekerjasama, mengirim mahasiswanya ke sini tidak hanya
dalam ilmu-ilmu agama tapi juga dalam ilmu-ilmu yang lain.
Jadi, kita harus memiliki psychology of the winner psikologi
orang menang. Misalnya psikologis kita adalah psikologis kalah, pecundang,
lama-lama kita memang jadi pecundang. Tidak pernah jadi pemenang. Jadi
tugas kepemimpinan nasional itu membangkitkan kebanggaan kita harkat kita.
MTI: Salah satu pusat pendidikan Islam terpadu
yang kini menjadi phenomenal adalah Kampus Ma’had Al-Zaytun di Indramayu
yang menggagas ide perdamaian dan toleransi. Namun agaknya UIN Jakarta tak
kalah phenomenal sebab berada di tengah kota dengan 17.000 lebih mahasiswa
dan masih mempunyai kesempatan berkembang lebih besar?
AZA: Kita juga seluruhnya dalam bahasa yang lain
begitu. Yang kita rumuskan sebagai visi dan misi Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di sini ini adalah mengintegrasikan
keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Jadi kalaupun kita orang Islam,
Islamnya itu adalah Indonesia bukan Islam di Arab dan macam-macam itu.
Ekspresi kulturalnya adalah ekspresi kultural yang Indonesia.
Jadi, kita jangan membuat dikotomisasi terhadap Islam pada satu pihak
dengan Indonesia pada pihak lain. Kecintaan kita terhadap Islam tidak
mengurangi kecintaan kita terhadap Indonesia, itu yang ingin kita
realisasikan di sini. Dan juga begitu, kecintaan kita kepada keindonesiaan
juga tidak mengurangi kecintaan kita kepada kemanusiaan. Jadi, karena
keindonesiaan itu juga tidak eksklusif milik orang Islam, di dalamnya juga
ada orang-orang lain yang non muslim dan sebagainya, maka kemudian
kecintaan kita kepada keindonesiaan sama dengan kecintaan kita juga kepada
kemanusiaan yang universal.
Jadi itu yang kita rumuskan dalam visi di universitas ini. Secara
subtantif, saya kira tidak banyak beda dengan apa yang dirumuskan oleh Pak
Panji Gumilang. ► e-ti/ ht/ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |