| |
C © updated 15092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Ir. H. Azwar Anas
Lahir:
Padang, Sumatera Barat, 2 Agustus 1931
Anak:
Lima (5) orang
Ayah:
Engku Anas Sutan Masa Bumi
Pendidikan:
SD di Padang, 1944
SMP di Bukittinggi, 1948
SMA di Padang, 1951
Teknik Kimia ITB Bandung, 1959
Kursus Manajemen di Universitas Syracuse, AS, 1959
Karir:
Pegawai Balai Penyelidikan Kimia, Bogor, 1951-1952
Asisten Prof Dr Dupont di Fakultas Pertanian Bogor, 1954
Asisten Dosen Luar Biasa ITB, 1958-1959
Dosen Luar Biasa ITB, 1959-1960
Kepala Dinas A Pindad, 1960-1961
Kepala Pusat Laboratoria Pindad, 1961-1964
Kepala Pusat Karya Pindad, 1965-1968
Dirut PT Purna Sadhana Pindad, 1968-1970
Dirut PT Semen Padang, 1970-1977
Dirut PT Semen Baturaja, 1973-1977
Anggota MPR Utusan Daerah, 1972-1977
Gubernur Sumatera Barat, 1977-1987
Menteri Perhubungan Kabinet Pembangunan V, 1988-1993
Menko Kesra Kabinet Pembangunan VI, 1993-1998
Kegiatan Lain:
Ketua Dewan Penyantun IKIP Padang, 1975-1977
Ketua I Presidium Asosiasi Semen Indonesia, 1971-1977
Ketua Umum Lembaga Gebu Minang, 1990-sekarang
Ketua Umum PSSI, 1992-2000
Alamat Rumah:
JI. Gedung Hijau Raya No. 23 Pondok Indah
Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
Azwar Anas
Pencetus Gebu Minang
Keuletan mantan Menko Kesra Kabinet Pembangunan VI (1993-1998), ini
berbuah manis. Jabatan apapun yang pernah diembannya, selalu
dijawab dengan memberikan hasil maksimal. Tak mengherankan jika beberapa
jabatan dipercakan sebanyak dua periode kepadanya. Atau, jika tidak,
dipromosikan ke jabatan baru yang menuntut tanggungjawab lebih besar.
Ia pernah delapan tahun menjabat Dirut PT Semen Padang (1970-1977), yang,
karena dianggap sukses lantas dipercayakan menggantikan Prof. Drs. Harun
Zain Dt Sinaro, sebagai Gubernur Sumatera Barat selama dua periode
(1977-1987). Berhasil memimpin “Ranah Minang” dengan meraih penghargaan
Parasamya Purnakarya Nugraha, diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto
di Istana Negara pada 22 Agustus 1984, Azwar Anas lantas dipromosikan
menjadi Menteri Perhubungan pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
Parasamya Purnakarya Nugraha adalah penghargaan negara tertinggi yang
diberikan kepada daerah yang dinilai berhasil melaksanakan pembangunan
dalam skala nasional.
Kemudian, lulusan jurusan teknik kimia ITB Bandung tahun 1959 ini
dipromosikan lagi menjadi Menko Kesra Kabinet Pembangunan VI (1993-1998),
membawahi beberapa menteri di bidang kesejahteraan rakyat.
Pria Minang kelahiran Padang, Sumatera Barat 2 Agustus 1931, ini selalu
melakukan pendekatan keimanan dan ketaqwaan. Dia mengabdi dengan bersikap
lillahi ta’ala, atau ikhlas dan sebulat hati. Banyak orang lantas
terkadang menjadi terlanjur menganggapnya sebagai seorang kyai haji.
Padahal, putra Mato Air pemangku gelar Dt Rajo Sulaiman ini orang
biasa-biasa saja. Ia adalah Ketua Lembaga Gebu (Gerakan Seribu) Minang,
yang mengumpulkan uang seribu rupiah dari tiap warga Minang di perantauan
untuk membangun kampung halaman.
Awalnya, sisi cendekia insinyur kimia ini lebih menonjol. Hal itu terlihat
jika disimak karir awalnya sebagai dosen di almamaternya, di ITB dan IPB
Bogor. Sedangkan, sosok keulamaannya menonjol dalam setiap ceramah dan
perbincangan ngobrol biasa. Di usia menapak senja ia kembali menonjolkan
sifat cendekianya saat duduk sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI).
Mengabdi lillahi ta’ala atau ikhlas dan sebulat hati terpetik karena
tertimpa musibah. Ria, putri sulung dan perempuan tunggal dari antara
kelima anaknya, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang
Merpati Nusantara di Pantai Padang, tahun 1971. Dalam suasana sedih ia
menemukan sebuah buku catatan harian Ria, tertulis di situ, “Sebaiknya
kita menjadi lilin. Biarlah tumbuh hancur terbakar, asal orang lain dapat
menerima manfaat yang kita terangi.”
Baginya, kalimat itu mengandung makna lain, “Kalau Papa sayang sama Ria,
lakukan pesan ini.” Azwar Anas mengamalkan pengabdian semata-mata sebagai
bagian dari amal ibadah terhadap Allah Swt.
AzwarAnas menapaki karir cemerlangnya semenjak dipercaya memimpin PT Semen
Padang, tahun 1970. Perusahaan semen kebanggaan masyarakat Sumatera Barat
sedang dalam kondisi semaput ketika itu. Ia menerima penunjukannya dengan
senang hati. Sekalian pulang kampung, pikirnya, sebab semenjak lulus
kuliah ia lebih banyak bekerja di wilayah Jawa Barat. Ia pernah menjadi
pegawai balai penelitian, asisten dan dosen di almamater ITB dan IPB Bogor,
hingga bekerja di perusahaan persenjataan PT Pindad Bandung.
Banyak pihak yang sesungguhnya meragukan kemampuan perusahaan meraup
untung. Opini yang dikembangkan sudah cenderung lebih baik PT Semen Padang
dijual. Namun begitu Azwar Anas turun tangan dan bekerja langsung di
lokasi pabrik, di kawasan Indarung, PT Semen Padang bukan hanya selamat
melainkan mampu berkembang jauh sekaligus mengangkat nama Azwar Anas. Ayah
lima orang anak ini membuktikan diri seorang enterpreneur yang baik.
Keberhasilan serupa kembali ia raih saat menghuni Rumah Bagonjong alias
Kantor Gubernur Sumatera Barat, sesuatu yang tak pernah terbayangkan
olehnya sebelumnya. Dalam kenangan masa kecil ia selalu merasa takut lewat
di depan gedung yang di jaman Belanda dahulu dihuni oleh pembesar
berpangkat Residen Padang. Namun, setelah menjadi kantor Gubernuran ia
malah berkantor di situ.
Menteri Dalam Negeri Amirmachmud melantiknya menjadi Gubernur pada 18
Oktober 1977. Ketika berkenalan dengan masyarakat, dalam pidato pertama
Azwar Anas mengutip bagian pidato terkenal dari Sayidina Abu Bakar Siddiq
saat dilantik sebagai Khalifah, yang menyebutkan, “Jika tindakan saya
benar ikutilah saya, jika salah betulkanlah.”
Terbukti, tindakan Azwar Anas dianggap benar sebab selama 10 tahun masa
baktinya ia melakukan pendekatan bersentuhkan keimanan dan ketaqwaan. Ia
juga tak jemu-jemu mengingatkan masyarakat Ranah Minang agar selalu ingat
pada Allah, sesuai semboyan “Adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi
Kitabullah”. Ia juga mengutarakan, di setiap kesempatan mulai dari kota
hingga ke nagari-nagari terpencil, agar semua pekerjaan diniatkan karena
Allah semata untuk mencari ridha-Nya. Tujuannya supaya tercipta akhlak
mulia atau akhlaqul karimah.
Azwar Anas beruntung mempunyai penampilan yang meyakinkan disertai rona
muka bersih dan suara mantap melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an serta hadist
Nabi. Dengan kepandaian dan penampilannya, ia menyerukan rakyat agar
berlomba berbuat kebajikan, bekerja tekun, dan giat membangun kampung
halaman menuju masa depan yang lebih baik. Ia mengutip pula surat Ar-Radhu
ayat 11, “Nasib suatu kaum tidak berubah jika mereka sendiri tidak
berusaha mengubahnya.” Rakyat pun menjadi tersentuh dan yakin hanya mereka
sendiri yang harus giat membangun daerah Sumatera Barat. Jika di era Harun
Zain rakyat Sumatera Barat merasakan bangkit harga dirinya, pada era Azwar
Anas keimanan dan ketaqwaan rakyat terpupuk.
Azwar Anas putera dari Engku Anas Sutan Masa Bumi, seorang bekas Kepala
Jawatan Kereta Api Padang, menorehkan Undang-undang No. 14 tahun 1992
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (LLAJ) sebagai peninggalan
bertinta emas. Awalnya muncul beragam protes keras. Azwar Anas berhasil
menepis gelombang protes sekaligus menggolkan LLAJ, dengan logika
sederhana saja.
Dikatakannya, dahulu ketika jalan raya penuh lobang dan batu-batu
resikonya hanya patah per. Dan, per itu bisa dibeli dengan murah. Kecil
sekali kemungkinan terjadi tabrakan karena kendaraan jalan pelan dan
jumlahnya relatif tidak banyak. Tapi dengan jalanan mulus dan kendaraan
berjubel resiko bukan lagi patah per tapi patah kaki, lengan, bahkan tewas
mengenaskan. Lalu, dimana mesti membeli itu semua sebab jelas tak ada
dijual.
Itulah Azwar Anas, tokoh nasional yang tetap menampakkan diri sebagai
“Urang Awak”. Karena ketokohannya mempersatukan warga Minang di perantauan,
sejak tahun 1990 kepadanya dipercayakan jabatan Ketua Umum Lembaga Gebu
Minang, sebuah gerakan mengumpulkan uang seribu rupiah dari setiap warga
sebagai bentuk partisipasi untuk membangun kampung halaman. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|