| |
C © updated 20082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky l photo |
|
| |
Nama:
H.M. Aziz Syamsuddin, SE., SH., MH., MAF.
Lahir:
Jakarta, 31 Juli 1970
Agama:
Islam
Istri:
Hj. Nurlita Zubaedah
Anak:
1. Syafira Harum Syamsudin (8 tahun)
2. Karim Nugroho Syamsuddin (7 tahun)
Ayah:
H. Syamsuddin Rahim
Ibu:
Hj. Chosiah Hayum
Jabatan Sekarang:
o Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR-RI (Periode 2004-2009)
dari Daerah Pemilihan II Provinsi Lampung (Kabupaten Lampung Tengah,
Kota Metro, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Way Kanan).
Alamat Kantor:
DPR/MPR-RI Gedung Nusantara I Lantai R. 1028 28, Jl. Jenderal
Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270. Telp. (021) 5755232
Jl. Petogogan I/35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12160.
E-Mail:
syam35@indosat.net.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI: 01
02
03
04
05
06
07
08 = M Aziz Syamsuddin (08)
Membuat Setiap Peran yang Berarti
Dalam memaknai hidup dan kehidupan ini, kapan dan di mana pun berada,
ada satu falsafah hidup yang selalu dipegang Aziz Syamsuddin: “Berusaha
membuat sesuatu itu berarti bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan
negara.”
Tidak muluk-muluk obsesi hidup seorang Aziz Syamsuddin. Baik dulu
sebagai bankir, advokat maupun saat ini sebagai politikus, dia hanya
ingin agar setiap peran dan langkahnya dapat memberikan sesuatu yang
berarti. Dia ingin mengisi hidup dan kehidupan ini dengan berbagai
aktivitas yang berarti bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa dan
negara.
Untuk berarti atau tidak berarti peranan yang seseorang mainkan, kata
Aziz, ada sejumlah kriteria yang mesti dipenuhi.
Sesuatu yang berarti menurut kaca matanya belum tentu berarti bagi orang
lain. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang berarti bagi orang lain belum
tentu memberikan arti bagi dirinya.
Karena setiap orang memiliki tolok ukur masing-masing, yang berbeda satu
sama lain sesuai kemauan, kemampuan dan talenta masing-masing, dan tentu
saja satu hal lagi yang tak bisa diabaikan: faktor tangan Tuhan.
Aziz berpandangan, ada lima pedoman yang sepatutnya dipegang setiap
insan dalam memaknai hidupnya agar dapat memberikan hasil yang berarti.
Pertama, prestasi dalam arti kemampuan. Kedua, pengakuan dari
lingkungan. Bahwa kemampuannya diakui, sebagai contoh seseorang kuliah,
lulus, dan mendapatkan gelar kesarjanaan. Gelar itu kemudian diakui
lingkungan memang diperoleh dari pendidikan di perguruan tinggi, bukan
dari transaksi jual-beli.
Ketiga, berbekal kesarjanaan tersebut, seseorang bisa bekerja dan
mencari pendapatan guna menghidupi keluarga.
Keempat, kemampuan melakukan pendekatan baik kepada lingkungan maupun
kepada diri kita sendiri, dengan berbekalkan pada gabungan dari tiga hal
tersebut di atas. Kelima, kemampuan membaca setiap peluang sesuai dengan
empat hal yang telah lebih dulu kita miliki.
Contohnya, seseorang yang ingin makan buah durian yang masih tergantung
di pohonnya harus melihat peluang yang ada: apakah hanya menunggu pasif
dengan harapan buah durian akan jatuh ke tanah esok pagi ataukah dia
secara aktif menjatuhkan durian ke tanah menggunakan galah untuk
kemudian diperam. Peluangnya pun harus ditakar apakah memang sudah
waktunya durian itu dimakan.
Tapi, proses menikmati durian itu harus dimulai dengan tahap memilih
bibit, menanam, menyiraminya, memberinya pupuk, dan merawatnya dengan
tidak menyampingkan faktor tangan Tuhan. Misalnya, jika datang banjir
atau serangan hama, tidak jadi juga itu barang dinikmati. Kita harus
pikirkan itu.
Banyak rekan Aziz mempertanyakan mengapa dia meninggalkan dunia advokat
justru di saat berada pada posisi prestisius sebagai managing partner.
Dia menjelaskan bahwa dia tidak ingin menjadi orang yang hanya diam
terpaku pada satu sektor saja. Dia ingin memasuki wilayah dengan skop
yang lebih besar untuk kepentingan yang lebih besar.
Aziz tipe orang yang suka dengan tantangan. Tapi, tantangan yang akan
dia ambil haruslah terukur, atau bisa diukur, berangkat dari pertanyaan
apakah dia mampu menggeluti dunia yang baru itu.
“Pada saat saya memutuskan untuk terjun ke dunia politik, saya bertanya
dalam hati: apakah saya mampu memerankan diri sebagai politikus
sebagaimana mestinya?” kata Aziz.
Dengan penuh percaya diri, dia akhirnya mampu mengambil keputusan akhir,
terjun ke dunia politik. Atas dasar itu, menurutnya, setiap orang harus
mengukur setiap peluang yang ada, istilahnya mengukur baju.
Seseorang harus mempunyai naluri mengukur kapasitas diri, yakni segenap
kemauan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Jadi kalaupun
seseorang berspekulasi terhadap sesuatu, maka spekulasi itu terukur
sifatnya sebab kesempatan itu terus berjalan seiring dengan waktu.
Seseorang harus bisa mengukur diri (kemauan, kemampuan, dan talenta yang
dimilikinya) dalam menangkap setiap peluang yang terpampang di
hadapannya.
Ibarat akan membeli baju, seseorang mesti sudah punya ukuran yang
disesuaikan dengan ukuran tubuhnya, apakah S, M, L, XL, atau double XL.
Sangat aneh jika sudah jelas bentuk tubuhnya kecil tapi meminta baju
berukuran double XL. Tidak mungkin pas baju itu dengan tubuhnya.
Akhirnya, semua ukuran baju dicoba-coba karena tidak punya gambaran
pasti berapa ukuran standar tubuhnya. Padahal, proses coba-coba tersebut
menyita banyak waktu. Habis peluang. Momentumnya sudah hilang. Sudah
tidak up to date. ►
e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|