| |
C © updated 27042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama :
August Parengkuan
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur, 1 Agustus 1943
Jabatan:
Presiden Direktur TV7
Menikah:
Tahun 1976
Istri:
Sonya Parengkuan
Anak:
1. Charles Ronald
2. Ira Melanie
3. Nadiaputri
4. Atika Gadis
Orangtua :
-Ayah Letkol (Purn.) Jacob Parengkuan
-Ibu B.P. Parengkuan
Pendidikan:
-Fakultas Hukum dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia (tidak
selesai) (1967)
-Jurnalistik, Berlin Barat (1968)
-Diploma Ilmu Politik Australia National University, Canberra, Australia
Pekerjaan:
-Reporter Kompas untuk berita-berita pengadilan (1965-1966)
-Reporter Kompas untuk berita-berita kepresidenan (1966-1971)
-Wartawan roving Kompas (1971-1974)
-Redaktur peristiwa daerah Kompas (1974-1978)
-Redaktur Pelaksana Kompas edisi Minggu (1978-1981)
-Redaktur Berita Politik Kompas (1981-1987)
-Wakil Redaktur Berita Kompas (1988-1989)
-Wakil Redaktur Pelaksana Kompas (1989-1990)
-Redaktur Pelaksana Kompas (1990-1992)
-Wakil Pemimpin Redaksi Kompas (1992-1993)
-Redaktur Eksekutif/Wakil Pemred Kompas (1993-2000)
-Redaktur Senior Kompas (2000 – sekarang)
-Pemimpin redaksi majalah Bridge Indonesia (1998-sekarang)
-Direktur Komunikasi Kelompok Kompas-Gramedia (2000-sekarang)
-Presiden Direktur TV7(2001–sekarang)
-Wakil Presiden Senior Grup Kompas-Gramedia (2002)
Kegiatan Lain:
-Wakil Presiden Perhimpunan Humas Indonesia (1993-1996)
-Direktur Konfederasi Wartawan ASEAN (1994-sekarang)
-Presiden Perhimpunan Humas Indonesia (2000-2002)
Alamat Kantor:
-Harian Kompas, Jalan Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270
Telepon (021) 5302200, 5347710/20/30
-Tivi 7, Wisma Dharmala Sakti Kav. 32, Jalan Sudirman, Jakarta
Telepon (021) 570-7979, 5709777 |
|
| |
|
|
|
|
| AUGUST P HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
August Parengkuan
Generasi Pertama Harian Kompas
August Parengkuan adalah reporter harian Kompas generasi pertama yang
berhasil mencapai karir tertinggi sebagai pucuk pimpinan di Kelompok
Kompas-Gramedia (KKG). Padahal awalnya, dari Makassar di tahun 1963
August menuju Jakarta hendak menjumpai seorang paman yang bekerja di
Departemen Luar Negeri. Pemuda berdarah Manado kelahiran Surabaya 1
Agustus 1943 ini ingin masuk Akademi Dinas ke Luar Negeri.
Sayang akademi dimaksud keburu tutup duluan. August lalu melirik dan
mengajukan lamaran ke harian Kompas, yang berencana mulai terbit di
tahun 1965. Dan diterima pula. Walau bukan cita-cita awal di masa belia,
August tertarik dengan dunia jurnalistik sudah sejak lama. Ketika duduk
di bangku SMA di Makassar August suka menulis dan memasok sejumlah
tulisan ke salah satu koran minggu di ibukota Sulawesi Selatan itu.
Perjalanan karir kewartawanan August di Kompas mulus-mulus saja. Mulai
dari tingkatan bawah reporter yang ditugaskan khusus meliput
berita-berita pengadilan (1965-1966), hingga dipercaya sebagai redaktur
eksekutif merangkap wakil pemimpin redaksi (1993-2000), redaktur senior
(sejak tahun 2000), direktur komunikasi Kelompok Kompas-Gramedia (sejak
2000), presiden direktur TV7 (sejak 2001), dan sebagai wakil presiden
senior Kelompok Kompas-Gramedia (sejak 2002).
Karena posisi dan peluang August menjadi pemimpin redaksi harian Kompas
hampir berimbang dengan Ninok Leksono, bahkan jabatan keduanya
sebelumnya selalu diiringkan bersama, misal sebagai sesama wakil
pemimpin redaksi, maka untuk menghindari perpecahan, ketika pendiri dan
pemimpin redaksi/pemimpin umum Kompas Jakob Oetama hendak mengurangi
peran dengan mundur sebagai pemimpin redaksi, dimunculkanlah tokoh
alternatif yakni Suryopratomo.
Kepada August yang hobinya main tenis, dan Ninok lantas diberi lahan
baru yang lebih menantang. Yakni, Ninok ditugaskan memimpin Kompas Cyber
Media (KCM), sedangkan kepada August diserahkan mengelola stasiun
televisi TV7 milik KKG. Sedangkan di harian Kompas keduanya dinaikkan
sama-sama sebagai redaktur senior.
Karir sekaligus pengalaman jurnalistik August Parengkuan bermula dari
penugasan sebagai reporter di desk malam. Ia kemudian ditugaskan sebagai
reporter pengadilan, lalu meliput kegiatan militer, dan bidang politik.
Suami dari Sonya Parengkuan ini, mereka menikah tahun 1976 dan
dikaruniai empat orang anak, sangat senang berpetualang. Karena itu
August Parengkuan, terutama di masa muda, sangat menikmati pekerjaan
termasuk ketika harus ditugaskan ke luar negeri meliput sejumlah
kejadian perang. Dalam catatan pribadinya August pernah meliput perang
di Cekoslovakia tatkala pasukan Pakta Pertahanan Warsawa menyerang
negara itu di tahun 1968. Demikian pula ke Papua Nugini August ada di
sana sebelum negara ini memperoeh kemerdekaan. Atau, memasuki Timor
Timur di tahun 1972 mendahului kedatangan pasukan Indonesia. Di tahun
1979 August kembali ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Dan ketika
presiden Mesir Anwar Sadat dibunuh dalam suatu parade militer di Kairo
tahun 1981 August ikut meliput ke sana.
Memasuki dekade 1980-an August mulai memegang sejumlah jabatan kunci nan
bergengsi. Antara lain sebagai redaktur bidang politik Kompas
(1981-1987) dan wakil redaktur pelaksana Kompas (1989-1990). Pada dekade
1990-an August semakin berada di posisi strategis antara lain sebagai
redaktur pelaksana Kompas (1990-1992), wakil pemimpin redaksi Kompas
(1992-1993), dan redaktur eksekutif merangkap wakil pemimpin redaksi
Kompas (1993-2000).
Mengesankan
Ketika menempati pos sebagai reporter untuk berita-berita kepresidenan
(1966-1971), August yang kerap menyertai perjalanan Presiden Soeharto ke
luar negeri dan mengelilingi sejumlah tempat di nusantara, pernah
mengalami sebuah kejadian unik dan mengharukan di tahun. Pengalaman yang
mengesankan itu terjadi sewaktu August menyertai perjalanan Presiden
Soeharto ke Manado pada tahun 1969. Ketika itu Jacob Parengkuan seorang
perwira angkatan darat sedang menjabat sebagai komandan militer di sana.
Perwira itu ikut menyambut kedatangan rombongan presiden. Orang-orang
yang berada di sekitar lokasi penyambutan melihat kepada August dan
bertanya, siapakah gerangan komandan militer tersebut. August kontan
menjawab, ‘Itu ayah saya’,” tutur lelaki ini dengan perasaan bangga.
August boleh gagal memasuki pendidikan di Akademi Dinas ke Luar Negeri.
Namun dalam soal pencarian ilmu August tetaplah bersemangat. Terbukti,
walau tak sampai selesai, August pernah memasuki Fakultas Hukum dan
Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia (1967). August juga mau
memperdalam ilmu jurnalistiknya di Berlin Barat tahun 1968. August
akhirnya berhasil memperoleh Diploma Ilmu Politik dari Australia Natinal
University (ANU), di Canberra, Australia. Seandainya kelak memasuki masa
pensiun dari dunia kewartawanan August masih ingin mengisi hari-hari
tuanya dengan kuliah atau mengikuti les piano.
Anak dari pasangan ayah Letkol (Purn) Jacob Parengkuan dan ibu B.P.
Parengkuan, ini oleh orangtua digembleng dengan keras untuk menjadikan
kata disiplin sebagai salah satu kunci kesuksesan dalam hidup. Selain
disiplin August juga berprinsip bahwa seorang wartawan harus
profesional. Makna profesionalisme terutama dimaksudkannya melaksanakan
penugasan bukan atas dasar suka atau tidak. Pesan ini tak henti-hentinya
ditularkan August kepada yunior-yuniornya di lingkungan KKG.
August Parengkuan yang pada Pemilu Presiden 2004 secara pribadi
bergabung dalam Tim Mega Center, sebuah think tank kumpulan para pemikir
untuk memenangkan pasangan calon presiden Megawati Soekarnoputri-KH
Hasyim Muzadi, merasakan sedang memasuki tantangan baru tatkala
dipercaya memimpin TV7. Terutama tantangan untuk menyesuaikan diri dari
kultur lama bergelut di media cetak, memasuki dunia pertelevisian yang
sama sekali baru yang mengharuskannya bekerja 24 jam sehari. Sebagai
pekerja media August, yang menyukai jenis musik apa saja mulai dari
musik klasik, keroncong, hingga dangdut, harus mampu menjawab tantangan
tersebut dengan keberhasilan. Sebab jika tidak ia bisa dimaki.
Menjadi wartawan sesungguhnya tak pernah terbersit sebagai cita-cita
dalam diri August di masa belia. Figur ayah Jacob Parengkuan seorang
perwira militer, yang ketika August kanak-kanak sang ayah disaksikannya
sering ditugaskan memadamkan sejumlah pemberontakan di Maluku dan
Sulawesi, pernah membuat August berkehendak menjadi tentara. Ditambah
lagi, August melihat bahwa seorang perwira bisa-bisanya menjadi seorang
bupati, gubernur, duta besar, hingga menteri. Berpikir lalu bertekad
bulat kalau begitu lebih baik menjadi tentara saja, namun ketika August
hendak melamar gantian sang ibu malah menangis. Sebagai anak sulung
August tentu paham makna tangisan seorang ibu. Maka tercurahlah kesamaan
paham, bahwa sebagai istri tentara sang ibu dulunya sering ditinggal
pergi oleh suami yang bertugas ke medan tempur, bahkan si ibu yang
sangat dikasihi August ini pernah selama beberapa bulan tidak memperoleh
kabar berita dan gaji dari suami.
August lalu membatalkan niat menjadi tentara. Ia ingin menjadi diplomat
saja. Keinginan baru inilah yang menuntun August untuk mengunjungi
Jakarta di tahun 1963. Namun August malah kepincut berkarir di Kompas.
Ia mengisi hidup dengan memegang kuat motto, ‘Kita boleh maju tapi tidak
dengan merugikan orang lain.’ Sama seperti wartawan kebanyakan, August
tak pernah mau memikirkan soal pensiun. Malah membayangkan penisun saja
sudah membuatnya stres. Pokoknya, kalau pensiun kita jangan stuck di
rumah sebab itu berbahaya sekali. Karena itu kalaupun nanti tidak ada
pekerjaan ia ingin kuliah saja dan belajar bermain piano. ► haposan t
► TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|