| |
C © updated
06102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/yus |
|
| |
Nama:
Abdullah Totong Mahmud
Nama Terkenal: A. T. Mahmud
Lahir:
Palembang. 3 Februari 1930
Agama:
Islam
Pekerjaan:
Pencipta Lagu Anak-anak
Pensiunan Pengawas Kantor Wilayah Depdikbud DKI Jakarta
Alamat:
Jalan Tebet Barat llA No.18
Jakarta Selatan 12810
Telepon 021-8296113
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2 3
==
AT Mahmud (Wawancara)
Ekspresi Anak Tidak Lagi Alami
Pengarang lagu anak-anak Abdullah Totong Mahmud atau dikenal dengan nama
AT Mahmud baru saja mendapat penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia
(AMI). Penghargaan yang diterimanya adalah Life Achievement Award atas
dedikasi dan sumbangsihnya yang tiada henti dalam angka waktu sangat
lama terhadap dunia musik, khususnya musik untuk anak.
AT Mahmud menekuni dunia seni musik untuk anak-anak sudah cukup lama,
yaitu ketika ia menjadi guru di Sekolah Guru TK. Sebagai guru bagi calon
guru TK, ia mendapat kesulitan mencari materi lagu yang cocok untuk
diajarkan. Murid-muridnya yang akan mengajar di TK sering minta bantuan
untuk dibuatkan lagu. Akhirnya, ia mencoba-coba membuat lagu dan
ternyata berhasil. Lagu-lagu ciptaannya diterima dengan baik. Bahkan,
sering ia mendengar, murid-murid TK dan SD menyenandungkan lagu-lagu
ciptaannya. Padahal, lagu-lagu itu hanya diajarkan secara terbatas di
dalam kelas, tidak ada kaset yang merekam lagu-lagunya.
Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya datanglah pihak label yaitu Sony
Musik Indonesia yang tertarik merekam lagu-lagunya dalam bentuk kaset
dan CD. AT Mahmud menyerahkan daftar karyanya yang mencapai 230 judul
lagu. Ia persilakan pihak Sony Musik untuk menyeleksi, lagu mana saja
yang akan direkam. Daftar lagu yang diserahkan itu sudah lengkap dengan
partiturnya. Hasilnya, lagu-lagu AT Mahmud meledak di pasaran. Ternyata,
masyarakat masih menghargai karya musik anak yang sejalan dengan jiwa
perkembangan anak.
Terhadap perkembangan lagu anak sekarang ini, AT Mahmud merasa prihatin.
Anak-anak, menurutnya, dicekoki lagu yang bukan untuk zamannya. Lagu
anak-anak saat ini terlalu dewasa dan banyak yang kurang mendidik.
Lain lagu anak, lain pula dengan lagu dewasa. AT Mahmud memberikan
apresiasi yang cukup positif terhadap lagu-lagu dari kelompok Padi,
Sheila on 7, dan Siti Nurhaliza. Menurutnya, mereka itu sudah bermain
musik dengan baik. Akan tetapi, perkembangan entertainmen di dunia musik
dangdut cukup merisaukannya. Seharusnya lagu itu diapresiasi dengan
penuh perasaan. Sedangkan yang terjadi di musik dangdut saat ini adalah
harus ada goyang pinggul dengan gerakan yang tidak ada dalam teks lagu
yang dinyanyikan. Gerakannya begitu jauh melenceng dari teks dan pesan
yang ingin disampaikan.
Apakah Anda mengalami hambatan dalam menulis lagu untuk anak-anak agar
sesuai dengan bahasa yang biasa digunakan anak-anak?
Saya terus belajar dan belajar. Ketika saya menciptakan lagu anak-anak
saya harus mengetahui dahulu lagu anak-anak itu apa. Jadi buka buku,
saya tanya kepada ahli-ahli psikologi. Ternyata dalam menciptakan lagu
harus memiliki 3 unsur utama yaitu, bahasa nada, bahasa emosi, dan
bahasa gerak. Bagaimana ketika anak saya menanyakan tentang pelangi dan
meminta bulan, itu adalah ungkapan pikiran dan perasaannya. Saya
tambahkan nada dan saya terjemahkan dalam lagu. Tetapi sekarang banyak
pencipta lagu anak-anak tidak mengetahui konsep dalam menciptakan lagu
anak-anak yang baik.
Sama juga ketika saya mengarang lagu Islami, saya belajar dahulu, bukan
karena menyebut nama Tuhan ‘Allah’ sudah Islam, belum tentu. Saya
belajar dengan membaca buku-buku, contohnya buku dari Quraish Shihab,
Nurholish Madjid dan Mustofa Bisri dan saya mencoba menangkap dengan
kemampuan saya untuk mengenal dan memahami lagu Islami. Karena ada juga
lagu-lagu Islam yang tidak Islami. Akhirnya saya memberanikan diri
menciptakan lagu Islam berdasarkan hadits Rasulullah. Dari situ saya
menyimpulkan, ternyata dalam hidup ini yang susah itu tidak ada.
Syaratnya, tekun, sabar, dan belajar terus.
Apa yang menjadi inspirasi ketika Anda mencipta lagu anak-anak?
Yang menjadi dasar inspirasi untuk saya dalam menciptakan lagu anak-anak,
pertama adalah pengamatan saya terhadap anak-anak saya. Seperti lagu
‘Pelangi’ adalah ketika anak saya melihat pelangi yang indah, kemudian
‘Main Ayunan’ juga karena ketika itu anak laki-laki saya begitu
senangnya bermain ayunan. Sumber inspirasi yang kedua adalah pengalaman
masa kecil dan saya ingin mengutarakannya dalam bahasa saya yang
sederhana. Seperti lagu ‘Aku Anak Gembala’ itu bukan sebuah mimpi tetapi
pengalaman saya di kampung. Sumber inspirasi yang ketiga adalah pesan
pendidikan dari seorang guru dan seorang bapak, seperti pesan tentang
bagaimana anak-anak dapat mencintai alam sekitarnya karena alam adalah
ciptaan Tuhan.
Menurut Anda, apa kriteria lagu anak-anak yang baik?
Sebuah lagu anak-anak yang baik adalah sebuah lagu yang mampu
mengembangkan daya imajinasi, daya berpikir anak, dapat menyalurkan
emosinya serta kemampuan aspek sosial dan kebudayaan (bahasa yang baik
dan benar). Berbeda dengan lagu anak-anak sekarang yang lebih cenderung
menyalurkan cara berpikir dan cara berbahasa orang dewasa dan orangtua.
Sebab lagu anak-anak harus berbicara tentang pengalaman anak bukan
pengalaman orangtua. Salah satu judul sebuah lagu anak-anak “Aku cinta
rupiah” siapa yang sebenarnya mengenal rupiah tentu bukan anak-anak,
tetapi orang dewasa. Jadi lagu ini tidak bisa dikategorikan sebagai lagu
anak-anak. Sebagai ujian dari lagu anak-anak yang ada sekarang adalah
apakah lagu-lagu tersebut membantu anak dalam pertumbuhan
kepribadiaannya, moral dan budi pekertinya.
Salah satu dari penyebab berkurang berkualitasnya lagu anak-anak saat
ini, disebabkan oleh karena pada masa globalisasi saat ini semua orang
mengejar duit, memperkaya diri sendiri dan hidup ingin senang, memiliki
mobil mewah, gedung bertingkat dan yang lain. Tetapi apakah hidup
bahagia, belum tentu.
Saya ini seorang guru, jangan dikira banyak duit. Saya mempuyai tiga
anak, dan syukur ketiganya telah menjadi orang yang berhasil, dan sudah
berkeluarga semua. Semuanya dengan perjuangan. Rumah yang saya punyai
saat ini saya beli dengan halal dan saya merasakan bahwa hidup ini
begitu bahagia dan sebuah karunia Tuhan.
Saat ini hati nurani sudah banya ditinggalkan banyak orang, setiap
prilaku yang ada sekarang seakan-akan sudah tidak mendengarkan lagi hati
nurani. Anak-anak SD saja sudah bisa tawuran, melempari kaca bis,
narkoba dan ada juga saya baca di salah satu surat kabar seorang siswa
SD bunuh diri.
Adakah upaya yang bapak lakukan dalam mengembalikan nilai ideal tersebut
secara praktis?
Ya ada, saya berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan mengadakan
bimbingan dan penyuluhan kepada guru-guru TK. Salah satunya saya pernah
berkunjung ke Surabaya, saya berbicara di hadapan 700 guru TK di
Surabaya di bawah naungan Ikatan guru TK Indonesia. Dari situ kita
sebarkan kembali betapa pentingnya peran lagu anak-anak dalam
pertumbuhan perkembangan anak. Sekarang yang menjadi standarisasi kita
adalah apa yang kita selalu lihat di televisi.
Kegiatan saya saat ini banyak berkunjung ke daerah-daerah dan
organisasi-organisasi pendidikan. Di sana saya menjelaskan tentang
karakteristik lagu anak-anak, karena masih banyak yang tidak tahu.
Bukankah tampilnya para penyanyi anak-anak yang belakangan ini muncul
sebagai sebuah ungkapan ekspresi berkesenian?
Benar ekspresi, tetapi yang menjadi ekspresi itu bukan ekspresi
anak-anak, tetapi ekspresi orang tua. Ada penyanyi anak-anak yang
berjoget bukan seperti anak-anak, tetapi ia diatur dan dikondisikan
untuk melakukan beberapa gerakan tertentu. Misalnya penyanyi Tina Toon
yang ketika bernyanyi sudah berjoged meniru gerakan penyanyi senior.
Seperti yang sebelumnya saya katakan, bahwa dalam lagu ada yang namanya
unsur bahasa gerak, gerakan lagu tersebut harus sesuai kelompok umur
anak. Penyanyi anak-anak pun semakin dieksploitasi dengan panggilan
artis. Anak-anak itu menjadi kehilangan kepribadiannya, mungkin selama
satu hingga dua tahun anak itu terkenal. Tetapi setelah itu, yang dalam
pikiran anak itu adalah bahwa ia merupakan seorang artis yang terkenal.
Padahal tidak demikian.
Kalau kita mau adakan pengamatan, ternyata di seluruh dunia ini tidak
ada penyanyi cilik seperti yang ada di Indonesia. Di luar negeri,
anak-anak itu sudah ditangkap karena sudah dimanfaatkan mencari duit
yang dilarang menurut undang-undang perburuhan. Sedangkan kita tidak.
Anak-anak sekarang dibuat menjadi objek bukan menjadi subjek. Ia menjadi
sumber orangtua mencari uang, sumber produser mencari uang. Ini berarti
yang salah adalah orangtuanya.
Apakah ada pihak ketiga yang menawari untuk mempublikasikan karya Anda?
Banyak tawaran kepada saya, meminta lagu-lagu saya di tampilkan di teve,
tetapi dengan mengubah sedikit kata-katanya. Saya bilang saya tidak mau,
lebih baik saya hanya hidup dengan berkat Tuhan sajalah.
Yang kita butuhkan saat ini adalah rasa tanggung jawab bangsa ini di
dalam setiap kita kepada anak-anak ini. Kita memang tidak bisa
menghindari perkembangan teknologi informasi yang pesat sekarang ini,
sehingga yang kita butuhkan adalah sebuah filter atau saringan yang baik,
sekarang permasalahannnya kita tidak mempunyai saringan. Salah satu yang
saya hargai peran Sony Music dalam menyaring musik-musiknya dengan
memiliki tim ahli yang bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga di Hong
Kong.
Mereka yang secara ketat menyeleksi lagu anak-anak yang akan menggunakan
label Sony Music. Salah satunya adalah lagu anak-anak ciptaan saya. Saya
serahkan kepada pihak Sony 230 judul lagu yang nanti akan dipilih Sony
dalam album lagu anak-anak. Ketika mereka tanyakan berapa royalty yang
harus Sony bayarkan kepada saya untuk setiap lagu, saya katakan saya
membuat lagu bukan untuk dijual tetapi untuk anak-anak. Yang terjadi
kemudian Sony mengeluarkan 3 album lagu anak-anak yang dalam tempo 2,5
tahun meledak di pasaran.
Dengan ekploitasi terhadap anak dalam musik anak-anak, adakah niat Bapak
atau dengan rekan-rekan yang lain untuk membawa aspirasi ini ke DPR
untuk medorong DPR menyusun undang-undang dalam perlindungan anak?
Tidak. Saya tidak akan pergi ke DPR lalu merasa bangga sudah menginjakan
kaki di Gedung DPR. Saya menyetujui jika anak-anak nyanyi di mal, tetapi
nyanyi harus baik. Sekarang yang ditampilkan itu bukan anak-anak. Sudah
rusak anak-anak itu. Anak-anak yang disebut sebagai artis itu sudah
kehilangan masa kecilnya. Saya juga menyukai artis sekarang seperti band
Padi atau Sheila on 7, mereka mengespresikan sesuai dengan umurnya. Atau
seperti Siti Nurhaliza yang bisa membuat para pendengarnya terkesima,
dan tertegun ketika ia bernyanyi. Itulah fungsi musik sesungguhnya.
Tetapi ada juga musik band lain yang setiap mereka tampil di panggung
membuat orang histeris, pingsan bahkan mati. Ini bukan maksud musik yang
sebenarnya. Sedangkan musik kebudayaan kita mulai hilang seperti
keroncong. Hanya dangdut yang saat ini sedang digandrungi banyak orang,
tetapi telah dirusak. Dangdut yang dahulu adalah perpaduan antara musik
melayu dan India sekarang menjadi musik erotis dan sensual.
Tiap zaman terdapat dua sumber penciptaan lagu, yang pertama adalah
dorongan seni maka hasilnya adalah seni. Yang kedua adalah dorongan
komersial, yang hasilnya juga komiditi yang dijual, menciptakan gebrakan
kemudian menghilang, asal laku. Mana ada lagu anak-anak sekarang yang
menjunjung seni, kata-katanya terlalu panjang dan rumit, sehingga
sedikit sekali kata-kata yang diingat karena dalam lagu itu bukan
kata-kata mereka.
Saya juga prihatin dan juga takut sekarang menonton televisi dengan
acara-acara infotainment yang mengumbar aib orang lain dan yang saya
heran orang yang tampil itu mau. Sekarang hati nurani sudah tidak lagi
dipakai.
Apakah ada rencana bapak dalam membuat regenerasi dalam membuat lagu
anak-anak?
Saya tidak punya murid, tapi saya didorong untuk ke arah itu. Seperti
yang saya katakan hampir tiap dua tahun saya diundang untuk menatar
guru-guru TK seluruh Indonesia, saya memasukan gagasan ini, tentang
pengertian musik dan lagu anak-anak yang baik, di Surabaya, Bandung,
Yogya, Purworejo dan tersebar ke mana-mana. Dari seluruh peserta
penataran yang mengikuti penataran dari Sabang sampai Merauke tahu
bagaimana memilih lagu anak-anak yang baik.
Banyak wartawan bertanya, bagaimana pendapat bapak terhadap lagu
anak-anak sekarang? Tak pernah di-ekspose bagaimana pendapat orangtua
terhadap lagu anak-anak sekarang. Saya yakin banyak yang mengatakan
tidak setuju. Upaya yang saya jalankan sekarang untuk memperkenalkan
kembali musik anak-anak yang baik kepada generasi Indonesia bukanlah
tugas saya sendiri, tetapi adalah tugas bersama antara guru, orangtua
dan pemerintah. Saya tahu ketika saya terpilih dianugerahi pengharagaan
dari negara saya yakin bukanlah pilih kasih tetapi merupakan sebuah
hasil penelitian yang mendalam.
Bagaimana perasaan Bapak ketika menerima penghargaan dari presiden
Megawati?
Saya bersyukur, tetapi yang paling bersyukur itu bukan saya tetapi
keluarga. Dua hari sebelumnya isteri saya menerima telepon dari
seketariat militer kepresidenan. Ketika mendengar itu ia langsung
keringat dingin, karena sekretaris militer, muncul pemikiran yang
macam-macam, tetapi kemudian dijelaskan maksud undangan untuk datang ke
Istana Negara. Pada tanggal 13 agustus kami datang, kemudian di sana
dijelaskan mengenai maksud pengharagaan itu, dan cara pemilihan.
Ternyata sebuah proses yang panjang yang dimulai sejak 3-4 bulan yang
lalu. Saya senang karena benar-benar diteliti secara objektif bukan
sekadar mengambil secarik kertas. Pertama ditanyakan kepada departemen
yang bersangkutan, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional.
Ditambah dengan ada sebuah dewan ahli yang memberikan penilaian. Dalam
dewan ini saja ada dua profesor yang ditugaskan dan sejumlah menteri.
Setelah ada keputusan baru diberikan kepada presiden.
Ada rencana bapak untuk menciptakan lagu baru daam waktu dekat ini?
Saya tidak bisa menciptakan lagu yang bersifat mendadak, atau sengaja
untuk menyaingi lagu baru, semua itu harus muncul dari hati. Lagu
terakhir yang saya ciptakan adalah pada bulan Juli 2003, isinya tentang
kerinduan saya untuk mencintai orang yang paling saya hormati yaitu “Ibu
dan Bapak”, dan saya mau juga agar anak-anak sekarang selalu mencintai
dan menghormati orangtuanya.
Hidup kita ini adalah berkat dari Tuhan, dan sebelum berkat itu datang
kepada kita, terlebih dahulu kepada orangtua kita. Saya menjadi khawatir
jika saat ini anak-anak sekarang sudah melupakan orangtuanya.
Kemudian lagu berikutnya adalah sebuah lagu yang saya terinspirasi dari
cucu saya, yaitu lagu yang berjudul “Telepon”. Sebab, saya melihat cucu
saya yang baru berusia balita sudah bisa bertelepon dan menerima telepon.
Kalau berbicara itu panjang sekali sampai berjam-jam, tidak baik kan?
Telepon digunakan seefektif mungkin. Saya buat dalam lagu, salah satu
isinya “Angkat gagangnya, bicaralah seperlunya”. Sekarang tugas saya di
rumah, tukang jaga telepon.
Adakah dari anak-anak Bapak yang mengikuti jejak profesi Bapak?
Dari ketika anak saya, kalau disuruh les piano, gitar tidak mau juga,
gagal, untuk nyanyi pun suaranya sumbang. Ada salah satu anak saya sudah
belajar piano selama 10 tahun, sekarang karena sudah bekerja di Bank
menjadi lupa dengan kemampuannya. Artinya saya tidak mau menentukan
pekerjaan apa yang mau dikerjakan anak. Biar mereka memilih sendiri.
Sejak ia memilih sendiri, ia bertanggung jawab. Jadi jangan anak memilih
sesuatu yang dipilih orangtua.
Orangtua hanya memberikan fasilitas dan sarana, sedangkan perkembngan
selanjutnya diserahkan kepada mereka. Begitu juga dengan pengalaman saya,
ketika saya menjadi guru, orangtua saya tidak ada yang tahu, saya
memilih sekolah guru, saya memilih untuk menciptakan lagu tidak ada yang
mendorong-dorong. Hidup saya, saya jalani dengan bahagia, karena hidup
yang saya jalani adalah hidup yang saya pilih.
Apakah Bapak masih memiliki impian yang masih belum tercapai?
Saya ini berprofesi sebagai guru. Sejak kecil itu senang dengan seni dan
bahkan ketika masih di SD saya senang menari, menyanyi, melukis dan saya
juga senang tampil dalam pertunjukan-pertunjukan sandiwara seperti
cerita Maling Kundang, Tangkuban Perahu, dan lain-lain. Ketika saya
menjadi guru di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK) 1964 di sana saya
mulai menetapkan pilihan hidup saya yaitu menciptakan lagu anak-anak.
Sampai hati ini tentu yang saya perhatiakn tentu tentang perkembangan
anak-anak. Karena mereka adalah masa depan kita. Aneh jika bangsa ini
sudah tidak memperhatikan terhadap anak-anak. Yang hanya diperhatikan
hanya politik dan ekonomi, sedangkan pendidikan bukan hanya ketika SD
hingga SMA saja, tetapi pendidikan adalah seumur hidup, saya sendiri
masih belajar.
Sekarang apa yang dicontohkan oleh pemerintah saat ini, hanya ribut di
antara sesamanya merebut kekusaan. Di mana lagi orang-orang seperti Bung
Karno, seperti Sutan Sjahrir, dan Agus Salim. Sehingga saat ini tidak
ada keteladanan. Dari menciptakan lagu anak-anak adalah satu cara dalam
mengembangkan pribadi anak. Jadi lagu anak bukan hanya sekadar agar
dapat bernyanyi gembira-gembira, tetapi terlebih lagu dapat mempengaruhi
pribadi anak. Di dalam musik anak-anak yang benar mampu mengembangkan
imajinasi anak, emosi anak dan dinyanyikan dalam gaya dan bahasa anak
sendiri. Seperti pada tujuh belasan Agustus yang lalu, televisi mana
yang menyiarkan lagu-lagu nasionalisme dan patriotisme. Entah sudah ke
mana sikap patriotisme itu sekarang. Semua asyik dalam menunjukan
penampilan dan sensasi, dan yang membuat saya kecewa dan saya harapkan
tidak begitu.
Saya Alhamdulillah saat ini berumur 73 tahun dan saya telah hidup
melewati beberapa zaman. Zaman Belanda, zaman Jepang, Revolusi, Orde
lama dan Orde baru Soeharto dan sekarang zaman Reformasi yang tidak tahu
apa itu reformasi. Anak-anak pada zaman dahulu kalau berkelahi itu
beradu, satu lawan satu, tidak seperti sekarang anak SD sekarang saja
sudah bisa tawuran, merusak fasilitas umum dan kepentingan umum.
Pada tanggal 14 Agustus 2003 yang lalu saya menerima tanda kehormatan
dari Presiden RI. Sejak 58 tahun Indonesia merdeka, baru pertama kali
seorang pencipta lagu anak-anak dihargai secara resmi dan langsung oleh
negara. Saya mungkin orang yang pertama, tetapi bukan berarti sombong,
karena saya menjadi sekarang ini bukan karena saya sendiri, tetapi
berkat orang banyak juga. ► Yayat Sudrajat - Yusak
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|