| |
C © updated
06102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/yus |
|
| |
Nama:
Abdullah Totong Mahmud
Nama Terkenal: A. T. Mahmud
Lahir:
Palembang. 3 Februari 1930
Agama:
Islam
Pekerjaan:
Pencipta Lagu Anak-anak
Pensiunan Pengawas Kantor Wilayah Depdikbud DKI Jakarta
Isteri:
Mulyani Sumarman (Lahir Sambu. 26 Februari 1934, menikah di Surabaya, 2
Februari 1958)
Anak:
1. Ruri Mahmud, (SE) (L) Jakarta 23 Februari 1959
2. Rika Vitrina, SH (P) Jakarta 1 Oktober 1960
3. Revina Ayu, SE (P) Jakarta 13 April 1974
Ayah:
Masagus Mahmud
Ibu:
Masayu Aisyah
Pendidikan Formal:
HIS/SD 1944
SMU Bag. Pertama (SMP) 1950
SGA 1953
BI Bahasa Inggeris 1959 FKIP Sarjana Muda Diploma 1964
Pendidikan Informal:
The Teaching of English As a Foreign Language (Australia) Des.1961 sd.
Des. 1962 PATA (Jakarta) Nov. sd. Desember 1979
SPAFA "Further development Trainor Teachers of the Arts in Schools"
(Workshop, Filipina ) Mei 1985
Bidang Karya:
Pencipta lagu anak-anak untuk anak usia Pendidikan Dasar.
Buku Pelajaran Musik:
Anggota tim penulis Buku Musik 1,2,3, dan 4 untuk SPG tahun Proyek
1973/74,1974/75.
Anggota tim penulis Buku Seni Musik untuk PGSMTP Proyek Pembinaan tahun
1982/83.
Anggota tim penulis Buku Seni Musik untuk KPG Proyek Pembinaan KPG/PGSMTP
1982/83.
Penulis Musik dan Anak atas permintaan Proyek Pembinaan dan Peningkatan
Mutu Tenaga Kependidikan 1994/95 Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen
P dan K.
Penghargaan:
Menerima Piagam Hadiah Seni atas Keputusan Presiden Republik Indonesia
melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diserahkan pada tanggal
11 Oktober 1999.
Anugerah Pendidikan Seni oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta tanggal 27
Juni 2003 pada Dies Natalis Universitas Negeri Jakarta ke-39.
Merima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden
Megawati Soekarnoputri pada tanggal 14 Agustus 2003.
Alamat:
Jalan Tebet Barat llA No.18
Jakarta Selatan 12810
Telepon 021-8296113
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2 3
==
Abdullah Totong Mahmud (1)
Maestro Pencipta Lagu Anak-Anak
Pencipta lagu anak-anak Abdullah Totong Mahmud yang dikenal dengan nama
AT Mahmud ini menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma
dari pemerintah RI. Ia dinilai berjasa dalam mengembangkan dan
meningkatkan sumber daya bangsa dalam menciptakan lagu untuk anak-anak
yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
Penerima Piagam hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini
memang telah menciptakan sekitar 500 judul lagu anak-anak. Lagu-lagu
ciptaannya antara lain Ameia, Cicak, Pelangi, Bintang Kejora, dan
Ambilkan Bulan, sangat terkenal dan baik untuk anak-anak. Semua lagu
ciptaannya mengandung unsur edukasi yang sangat bermanfaat bagi
perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anak.
Maka melihat perkembangan lagu anak-anak sekarang ini, ia sangat
prihatin. Keprihatinan ini dikemukakannya saat wawancara dengan Wartawan
TokohIndonesia DotCom di rumah kediamannya, Jalan Tebet Barat II
Jakarta, Senin 8 September 2003.
Menurutnya, banyak sekali lagu yang dinyanyikan anak-anak bukan lagu
anak melainkan lagu orang dewasa dengan pikiran dan kemauan orang dewasa.
Anak-anak hanya menyanyikan saja. Tanpa pemahaman dan penghayatan akan
isi lagu. AT Mahmud mencontohkan dua lagu yaitu “Aku Cinta Rupiah” dan
“Mister Bush”.
“Anak kecil mana tahu nilai rupiah atau dolar atau ringgit dan mata uang
lainnya. Mereka juga tidak begitu kenal dan hirau dengan George Bush
Junior yang melakukan invasi ke Iraq. Mereka belum memikirkan hal itu.
Semua itu adalah pikiran dan kemauan orang dewasa yang dipaksa
disuarakan anak-anak,” paparnya.
Menurut Mahmud, lagu anak-anak hendaknya mengungkapkan kegembiraan,
kasih sayang, dan memiliki nilai pendidikan yang sesuai dengan tingkat
perkembangan psikologis anak. Bahasa dalam lagu anak pun harus
menggunakan kosakata yang akrab di telinga anak.
Siapa sebenarnya AT Mahmud? Apakah dia sejak muda mempersiapkan diri
menjadi pencipta lagu anak dan melulu mengurusi soal lagu anak?
AT Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, 3 Februari
1930. Ia anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ibu bernama Masayu Aisyah,
ayah bernama Masagus Mahmud. Ia diberi nama Abdullah dan sehari-hari
dipanggil “Dola”. Namun, sebutan nama Abdullah atau Dola kemudian “menghilang”.
Nama pemberian orang tua tercatat terakhir pada ijazah yang dimilikinya
pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) tahun 1945.
Pada ijazah itu nama lengkapnya tertulis: Mgs (Masagus) Abdu'llah
Mahmoed. Di rumah, kampung, dan teman sekolah, ia lebih dikenal dengan
nama Totong. Pada surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat
SLTP) tahun 1950, namanya tertulis Totong Machmud. Konon menurut cerita
ibunya, ketika dirinya masih bayi ada keluarga Sunda, tetangganya,
sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “... tong! ...otong!”
Sang Ibu mendengarnya seperti bunyi “totong”. Sejak itu, entah mengapa,
ibunya memanggilnya dengan “Totong”. Nama ini diterima di lingkungan
keluarga dan kerabat. Nama lengkapnya kemudian menjadi Abdullah Totong
Mahmud, disingkat A. T. Mahmud.
Mahmud masuk Sekolah Rakyat (SD) ketika tinggal di Sembilan Ilir.
Setahun kemudian, setelah berumur 7 tahun, ia dipindahkan ke Hollandse
Indische School (HIS) 24 Ilir. Ada kenangan yang tak dapat dilupakannya
kepada guru HIS yang mengajarkan musik, khususnya membaca notasi angka.
Cara guru mengajarkannya sangat menarik. Guru memperkenalkan urutan nada
do rendah sampai do tinggi dengan kata-kata do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an.
Kemudian, urutan nada dinyanyikan kebalikannya, dari nada tinggi turun
ke nada rendah masih dengan kata-kata kocak e-nak-ni-an-do-dol-ga-rut.
Setelah murid menguasai tinggi urutan nada dengan baik, naik dan turun,
melalui latihan dengan kata-kata, guru mengganti kata-kata dengan notasi.
Setelah itu, diberikan latihan lanjut membaca notasi angka, seperti
menyanyikan bermacam-macam jarak nada (interval), bentuk dan nilai not.
Sesudah itu barulah murid-murid diberi nyanyian baru secara lengkap
untuk dipelajari. Cara mempelajari nyanyian demikian sungguh
menyenangkan.
Pada tahun 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah pada bala tentara
Jepang. Saat itu ia duduk di kelas V HIS. Dalam keadaan peralihan
kekuasaan pemerintahan itu, ia pindah ke Muaraenim. Di sana, ia
dimasukkan ke sekolah eks HIS, yang telah berganti nama menjadi Kanzen
Syogakko. Di sinilah ia mulai bermain sandiwara dan mengenal musik.
Sandiwara yang pernah ia ikuti adalah ketika sekolah mengadakan
pertunjukan pada akhir tahun ajaran bertempat di gedung bioskop. Cerita
yang ditampilkan legenda dari Sumatra Barat, berjudul Sabai Nan Aluih
dan ia berperan sebagai Mangkutak Alam.
Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ishak Mahmuddin, seorang anggota
orkes musik Ming yang terkenal di kota Muaraenim. Ming adalah nama
pemimpin orkes. Alat yang dikuasai Ishak adalah alat musik tiup saksofon,
selain beberapa alat musik lain. Ishak kemudian mengajarinya bermain
gitar. Selain itu, Ishak yang pandai mengarang lagu itu turut
membimbingnya mengarang lagu. Melihat kemampuan Mahmud yang terus
meningkat, Ishak pun mengajaknya bergabung dengan Orkes Ming umtuk
memainkan alat musik, dan kadang-kadang ukulele serta bas.
Masa revolusi 1945-1949 membuatnya tidak dapat bersekolah dengan baik.
Ia ikut masuk kancah perjuangan dengan menjadi anggota Tentara Pelajar.
Selama masa itu, kehidupannya berubah. Ia berpindah-pindah dari satu
tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan keluar masuk
hutan. Syukurlah, ia dapat melewati masa itu dengan selamat, meskipun
ada rkan-rekannya yang meninggal.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, Mahmud pun keluar dari kesatuan
Tentara Pelajar. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan dinyatakan lulus
dari SMU bagian Pertama (SLTP) setelah mengikuti ujian akhir pada
tanggal 11-16 Agustus 1950. Ketiadaan biaya membuatnya tidak dapat
segera melanjutkan pendidikan. Pamannya, Masagus Alwi mengajaknya
bekerja di salah satu bank milik Belanda yang masih beroperasi. Ajakan
tersebut diterima. Di tempatnya bekerja, ia dapat melihat langsung
keramaian lalu-lintas, lalu-lalang kendaraan, pejalan kaki, juga para
siswa membawa buku sekolahnya. Pikiran dan perasaannya mulai gelisah. Ia
ingin kembali ke sekolah.
Kebetulan di Palembang sedang dibuka Sekolah Guru bagian A (SGA) yang
memberi tunjangan belajar bagi siswanya selama tiga tahun, dengan syarat
setelah tamat bersedia ditempatkan di mana saja sebagai guru. Ia pun
berhenti bekerja di bank dan segera mendaftar sebagai siswa baru di SGA.
Selama tiga tahun (1951-1953) ia belajar di SGA, dari tahun 1951 sampai
dengan 1953. Selama pendidikan di SGA, ia pernah mengarang nyanyian
untuk ibu. Kata-katanya bila disimpulkan, berbunyi: betapa dalam laut,
betapa tinggi gunung, tidak dapat melebihi dalam dan tingginya kasih Ibu.
Sayang, teks nyanyian ini tidak dimilikinya lagi, hilang.
Setelah lulus SGA, ia ditempatkan di Tanjungpinang, Riau, menjadi guru
SGB di kota itu. Ia berangkat ke Tanjungpinang dengan pesawat terbang
Catalina yang mampu mendarat di permukaan laut. Di dermaga, Kepala SGB
menyambut kedatangannya. Ia dibawa ke sebuah hotel tempat tinggalnya
selama bertugas di Tanjungpinang. Di luar dugaannya, gaji pegawai di
Tanjungpinang dibayar dengan mata uang dolar, bukan rupiah. Dengan gaji
dolar, hidup guru dan pegawai PNS pada umumnya lebih dari cukup.
Di kota inilah ia berkenalan dengan Mulyani Sumarman, guru Bahasa
Inggris SMP Negeri. Hubungan pun makin lama makin erat. Menjelang tahun
ketiga berada di Tanjungpinang, ia merasa sudah waktunya pindah. Ia
ingin ke Jakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikan di B I Jurusan Bahasa
Inggris dan membangun rumah tangga dengan Mulyani. Ia mengajukan
permohonan pindah, dan dikabulkan. Mulyani akan menyusul.
Pada tahun 1956, ia pindah ke Jakarta diangkat menjadi guru di SGB V
Kebayoran Baru. Kemudian, mendaftarkan diri pada B I Jurusan Bahasa
Inggris. Tanggal 2 Februari 1958 ia menikah dengan Mulyani. Kemudian
Mulyani diboyong ke Jakarta setelah mengajukan permohonan pindah
mengajar.
Mulyani ditempatkan di SMP 11 Kebayoran Baru yang tepat berhadapan
dengan sekolahnya mengajar. Mulyani pun mendaftar diri kembali pada B I
Jurusan Bahasa Inggris. Dengan demikian, mereka dapat pergi dan pulang
dari mengajar, atau pun kuliah di BI bersama-sama dengan mengendarai
sepeda motor. Dari perkawinan ini mereka dikarunia tiga orang anak,
seorang laki-laki, dua orang perempuan, yaitu Ruri Mahmud, Rika Vitrina,
dan Revina Ayu.
Setelah menyelesaikan B I Jurusan Bahasa Inggris tahun 1959, Mahmud
dipindahkan mengajar pada SGA Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan. SGA
mendididik calon guru Sekolah Dasar. Di sini ia berkenalan dengan Bu Fat
dan Bu Meinar, guru Seni Suara.
Awal tahun 1962, dengan biaya Colombo Plan, ia ditugaskan kuliah di
University of Sydney, Australia, guna memperoleh sertifikat mata kuliah
The Teaching Of English As A Foreign Language selama satu tahun. Januari
1963 ia mendaftarkan diri pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta
untuk melanjutkan pendidikan sampai sarjana. Pada tahun yang sama ia
dipindahtugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan
Halimun, Jakarta Selatan.
Di SGTK seolah ia menemukan lahan subur untuk mengembangkan bakat
musiknya, khususnya mencipta lagu anak-anak. Ia pun meninggalkan kuliah
bahasa Inggris, keluar dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, dan
menekuni musik.
SGTK memiliki suasana yang mendorongnya untuk menekuni dunia musik.
Pimpinan sekolah sendiri senang akan musik. Guru Seni Musik pandai
bermain piano dan mengarang lagu. Siswa SGTK turut memberikan dorongan
baginya untuk mengarang lagu anak-anak. Tiap kali siswa SGTK melakukan
latihan praktik mengajar, ada yang memerlukan lagu dengan tema tertentu
menurut tugasnya. Pada masa itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai
dengan anak-anak agak sulit. Siswa yang memerlukan lagu baru datang
kepadanya meminta dibuatkan lagu. Ia pun mencoba. Lagu yang telah dibuat,
diajarkan pada anak-anak TK saat praktik mengajar. Ternyata, lagu itu
disukai. Hal ini membesarkan hatinya dan membuatnya makin tekun
mengarang lagu anak-anak.
Di rumah pada waktu senggang, ia mencoba mengarang lagu anak-anak sambil
memetik gitar miliknya. Lagu anak-anak tentu berbeda dengan lagu untuk
orang dewasa. Di mana bedanya? Pada pikiran, perasaan, dan perilaku anak
itu sendiri. Ia pun mempelajari lagu anak-anak yang telah ada, seperti
lagu-lagu Ibu Sud, Pak Dal, dan pencipta lagu anak-anak yang lain.
Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud sering mengajak anaknya bermain
ke Taman Puring. Di sana ada ayunan, jungkat-jungkit, dan lapangan yang
cukup luas sehingga anak-anak dapat melakukan permainan lain, seperti
main lempar bola atau kejar-kejaran. Roike yang saat itu baru berumur 5
tahun senang sekali bermain ayunan. Ia begitu menikmati permainan itu
dan menjaga agar anaknya tidak sampai mengalami kecelakaan. Perasaan
Roike dan pesan agar hati-hati sehingga tidak mengalami itu ia tuangkan
ke dalam lagu "Main Ayunan".
Inspirasi lagu “Pelangi” hadir ketika ia mengantar anaknya, Rika, yang
masih berusia lima tahun sekolah di TK. Di tengah perjalanan, Rika
berteriak, “Pelangi!” sambil menunjuk ke arah langit. Ia mulai
menyanyikan pelangi, mencari kata-kata yang tepat yang menjadi pikiran
anak kecil, selanjutnya ketika tiba di rumah, ia iringi dengan gitar dan
jadilah sebuah lagu.
Lahirnya lagu “Ambilkan Bulan” terjadi ketika anaknya Roike tengah
bermain di beranda rumah. Saat itulah ia melihat ke langit dan melihat
bula. Segera ia berlari dan menggandeng lengan ayahnya diajak ke luar.
Tiba-tiba si anak berkata, “Pa, ambilkan bulan.” Jelas saja AT Mahmud
bingung. Awalnya kejadian itu berlalu begitu saja. Namun, permintaan si
anak terus terngiang di telinganya. Minta bulan, untuk apa? Dengan
mencoba menerawang dunia dan bahasa anak, AT Mahmud pun menuliskan
permintaan itu dalam bait-bait lagu. Tadinya “ambilkan bulan pa” diubah
menjadi “ambilkan bulan bu” sehingga terkesan lebih lembut.
Lain lagi dengan lagu “Amelia”. Amelia adalah nama seorang anak kecil
yang riang, sering bertanya, tidak bisa diam, lincah, dan ingin tahu
banyak hal. Amelia adalah anak dari Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup
pada masa Orde Baru. Emil Salim tak lain adalah sahabat waktu kecil
Mahmud ketika sama-sama sekolah di Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama
(SMU, setingkat SLTP), di Palembang. A.T. Mahmud melukiskan sifat Amelia
dalam lagunya sebagai gadis cilik lincah nian, tak pernah sedih, riang
selalu sepanjang hari.
Dorongan untuk membuat lagu datang pula dari guru-guru. Salah satunya
adalah Ibu Rosna Nahar. Para siswa pun senang dengan lagu-lagu
ciptaannya. Ia kemudian membentuk kelompok paduan suara siswa SPG. Lagu
ciptaannya terus bertambah, dan mulai tersebar di Taman Kanak-Kanak dan
Sekolah Dasar terdekat, kemudian melebar di sekolah-sekolah lain. Radio
Repulik Indonesia (RRI) memintanya membantu mengisi acara anak-anak pada
sore hari, dengan memperkenalkan lagu lama maupun baru. Kesempatan ini
ia pergunakan untuk memperkenalkan lagu ciptaannya sendiri.
Pelan tapi mantap, lagu-lagunya mulai dikenal di kalangan anak-anak,
guru sekolah, dan orang tua. Tahun 1968, Televisi Republik Indonesia (TVRI)
mengundangnya. Salah seorang pejabat di sana menjelaskan bahwa TVRI
ingin menyelenggarakan sebuah acara baru, yaitu musik anak-anak tingkat
SD. Ia diminta untuk mengoordinasi acara ini. Akhirnya jadilah sebuah
acara bertajuk “Ayo Menyanyi” yang mulai mengudara tanggal 3 Juni 1968.
Sumber lagu umumnya diambil dari lagu-lagu ciptaan, antara lain: Ibu Sud,
Pak Dal, Pak Tono, S.M. Moechtar, Kasim St. M. Syah, A.E. Wairata, S.
Anjar Sumyana, C. Tuwuh, Martono, Andana Kusuma, Angkama Setiadipradja,
Pak Sut, Pak Rat, Kusbini, Daeng Soetigna, Hs. Mutahar, L. Manik, M.P.
Siagian, A. Simanjuntak, R.C. Hardjosubrata, Sancaya HR, dan Mus K.
Wirya.
Dari lagu-lagu yang dikirimkan, dan masih dikenal, antara lain: "Terima
Kasihku" oleh Sri Widodo dari Yogyakarta, "Bunga Nusa Indah" oleh Djoko
Sutrisno, dan 'Anugerah" oleh Indra Budi (putra Bu Meinar). Ayo Menyanyi
telah menjadi salah satu wadah bagi mereka yang berminat untuk membuat
lagu anak-anak, pendidikan musik anak-anak khususnya. Bertanggal April
1968, ia menerima sebuah lagu dari Mochtar Embut, berjudul "Ibu Guru
Kami", yang kemudian disiarkan di TVRI.
Atas usul AT Mahmud, tahun 1969 TVRI menambah acara lagu anak yaitu
“Lagu Pilihanku”. Jika “Ayo Menyanyi” berbentuk pelajaran untuk
menyanyikan lagu baru, maka “Lagu Pilihanku” bersifat lomba. Jumlah
peserta 5 (lima) orang yang dipilih melalui tes. Untuk testing, calon
peserta harus melapor diri pada Kepala Sub Bagian Pendidikan, yang
kemudian akan memperoleh Surat Peserta Testing. Testing dilakukan oleh
dua orang yang ditunjuk koordinator acara, berlangsung di studio TVRI.
Acara ini ditayangkan dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu
sekali dengan Ayo Menyanyi.
Setelah kedua acara di atas berlanjut dan berkesinambungan selama 20
tahun, pada tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh
tim diminta mundur dari kedua acara tersebut. Untuk beberapa saat acara
Ayo Menyanyi dengan nama lain dilanjutkan dengan pembawa acara seorang
artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan
seorang artis lain. Itu pun hanya bertahan sebentar, kemudian untuk
seterusnya menghilang sama sekali dari tayangan di layar TVRI.
Kehadiran acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menarik
minat kalangan perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada
piringan hitam. Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti: Remaco,
Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J & B Records. Lagu-lagu
ciptaan AT Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan
pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A. T. Mahmud tersebar pada 7 (tujuh)
piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu,
yakni Citaria, Musim Panen. Jangkrik, Gelatikku. Layang-Layangku, Ade
Irma Suryani, Kereta Apiku, Jakarta Berulang Tahun, Pemandangan, Timang
Adik Timang, Pulang Memancing, Hadiah untuk Adik, Tidurlah Sayang,
Mendaki Gunung, Sekuntum Mawar, Tepuk Tangan, Kincir Air, Dua Ekor Anak
Kucing, Bulan Sabit, Lagu Tor-Tor, Tupai, Burung Nuri, Di Pantai, Senam,
Bintang Kejora, Aku Anak Indonesia, Aku Anak Gembala, Kunang-Kunang,
Naik Kelas, dan Awan Putih.
Waktu terus berjalan. Akhirnya, salah satu lembaga pendidikan Islami
meminta AT Mahmud untuk memberikan penataran sejenis pada sekolahnya
untuk guru-guru TK. Ia berpendapat, alangkah baiknya jika contoh lagu
yang ia berikan, juga bernapaskan Islami. Yang Islami itu yang mana?
Karena hal ini merupakan sesuatu yang baru baginya. Mahmud mencari tahu
apa yang dimaksudkan dengan lagu islami, seni islami pada umumnya. Di
satu sisi, tentu ada yang sama, yaitu sasarannya tetap anak-anak juga.
Akan tetapi, di sisi lain, tentu ada bedanya dengan lagu anak-anak yang
umum. Bedanya paling tidak pada pesan yang akan disampaikan, pada maksud
dan tujuan yang ingin dicapai.
Mulailah ia mencari buku-buku referensi. Dari beberapa buku Islami yang
dibaca, ia mulai mempelajari tentang seni Islam, musik Islami, atau lagu
Islami. Ia menemukan jawaban pada buku yang ditulis M. Quraish Shihab "Wasasan
Al-Quran", bagian keempat: "Wawasan Al-Quran tentang Aspek-Aspek
Kegiatan Manusia" subbab "Seni" halaman 398.
"... seni Islam adalah ekspresi tentang alam, hidup, dan manusia yang
mengantarkan menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan
...menggambarkan hubungan ...dengan hakikat mutlak, yaitu Allah swt. ...dengan
tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia,
menggambarkan akibat baik dan buruk dari suatu pengamalan ..."
Pengertian ini dianggapnya sejalan dengan rumusan yang dikutip dari
bacaan lain, berbunyi: " (musik islami) bermaksud dan bertujuan untuk
meningkatkan daya pikir dan rasa dalam kaitan gagasan dan pendidikan
akhlak, dengan cakupan dua aspek, yaitu a) akhlak terhadap Allah, dan b)
akhlak terhadap sesama manusla.
Dalam pengertian inilah kemudian ia menciptakan lagu-lagu Islami, dengan
cara menerjemahkannya menurut dan sesuai dengan karakteristik anak yang
sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaannya.
AT Mahmud pun memikirkan untuk menghimpun semua lagu yang diciptakan
dalam bentuk buku. Ia pernah mencetak sendiri, dengan biaya sendiri, dan
penyebaran sendiri melalui sekolah langsung, yang menghasilkan dua buku
kumpulan lagu yaitu “Lagu Anak-Anak Kami Menyanyi” (44 lagu) disusun
pada tahun 1969 dan “Lagu Anak-Anak Main Ayunan” (30 lagu) pada tahun
1970.
Penerbit PT Sinar Bandung mencetak lagu-lagunya berjudul “Nyanyianku”
(30 lagu yang pada umumnya berbeda dengan lagu pada “Main Ayunan”, tahun
penerbitan tidak ada. Tahun 1976, I. Elisa dari Bandung menerbitkan
sendiri 8 lagu cipaannya dalam gubahan untuk iringan piano, dengan judul
“Lagu Anak-Anak”. Penerbit Yudhistira Jakarta menerbitkan tiga kumpulan
lagu berturut-turut, masing-masing dengan judul “Merdu Berlagu” dalam 4
jilid (tahun penerbitan tidak tercantum).
Ternyata, penerbit besar pun ikut tertarik menerbitkan buku lagu-lagu
anak. Di antara penerbit yang menerbitkan buku kumpulan lagu-lagu adalah
Balai Pustaka, Tiga Serangkai Solo, Gramedia, Grasindo. Grasindo pun
menerbitkan nyanyian Islami berjudul “Mustiqa Dzikir Nyanyian Islami
Berdasarkan Hadis Rasulullah”.
Selain menciptakanlagu, AT Mahmud pun sempat menulis beberapa buku,
terutama sebagai anggota tim. Hal itu terjadi ketika menjadi anggota tim
penulis untuk buku musik SPG pada Proyek Penyedian Buku Sekolah Guru
Tahun ke-5 Pembangunan Lima Tahun I 1973/1974. Sejumlah buku yang
ditugaskan pada timnya adalah Buku Musik 1, 2, 3, dan 4 untuk SPG.
Selanjutnya, ia bersama Bu Fat menulis buku pelajaran musik “Musik di
Sekolah Kami Belajar Seni Musik Aktif dan Kreatif untuk Sekolah Dasar”
yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1994.
Tahun 1995 ia menulis buku “Musik dan Anak” atas permintaan Proyek
Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 1994/1995 Direktorat
Jenderal Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sekitar bulan Oktober 1999, Seli (Seli Theorupun Pontoh) dari Sony Music
bertamu ke rumahnya. Dia datang bersama Dian Hadipranowo yang ternyata
pernah menjadi guru piano cucunya, Sasti. Seli menjelaskan maksud
kedatangan mereka, pertama ingin berkenalan dengan A. T. Mahmud, kedua,
Sony Music bermaksud meluncurkan album perdana lagu anak-anak dengan
label Sony Wonder.
Saat itu dirasakan bahwa lagu anak-anak yang ada di pasaran pada umumnya
lagu-lagu yang agak "lain", berbeda dengan lagu anak-anak yang pernah
diciptakan seperti oleh A. T. Mahmud, Ibu Sud, atau Pak Kasur. Sony
Music ingin memunculkan kembali lagu anak-anak yang dahulu akrab di
telinga anak-anak Indonesia. Mereka yakin, di kalangan orang tua pada
umumnya ada rasa kerinduan akan lagu-lagu semacam itu.
AT Mahmud terkejut dengan apa yang disampaikan. Ia sangat senang
lagu-lagu karyanya diperhatikan. Segera ia serahkan sejumlah koleksi
lagu-lagu yang kebetulan telah difotokopi dari naskah asli. Menjelang
bulan Mei 2000, Sony Music telah memilih 15 (lima belas) lagu dengan
penyanyi Tasya (Shafa Tasya Kamila), dan penata musik Dian Hadipranowo.
Pada 4 Mei 2000 lagu-lagu yang terpilih dengan label Sony Wonder
berjudul "Libur Telah Tiba" dengan subjudul "Karya Abadi A. T. Mahmud"
diedarkan. Atas keberhasilan album ini, selalu ia katakan pada diri
sendiri, keberhasilan album itu bukanlah semata karena lagu A. T. Mahmud.
Setidaknya ada tiga unsur yang terlibat, saling mendukung, yaitu, lagu,
Tasya sebagai penyanyi anak, dan tatanan musik Dian, dalam kesatuan utuh.
Tak kalah penting adalah "keberanian" Sony Music memunculkan kembali
lagu-lagu lama yang sudah puluhan tahun umurnya dalam satu kaset.
Setahun kemudian tanggal 5 Juni 2001 Sony Wonder mengedarkan album kedua
dengan semua lagu ciptaannya berjudul "Gembira Berkumpul". Kembali
sambutan masyarakat akan album ini tidak mengecewakan. Kemudian 18
Oktober 2001, menjelang bulan Ramadan 1422 H, Sony Wonder meluncurkan
album "Ketupat Lebaran" yang memuat 11 (sebelas) lagu Islami. Tiga di
antara lagu itu, liriknya ditulis oleh Ni Luh Dewi Chandrawati, yakni "Ketupat
Lebaran", "Sahur Telah Tiba", dan "Tanganku Ada Dua". Dua lagu diambil
dari lagu lama yang tidak dikenal nama penciptanya.
Atas prestasinya di bidang musik, AT Mahmud telah banyak menerima
penghargaan. Empat penghargaan terakhir adalah bulan Oktober 1999,
menerima Hadiah Seni dari Pemerintah, yang diserahkan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan RI, Juwono Sudarsono. Inilah hadiah seni pertama yang
diterimanya dari Pemerintah dalam suatu upacara resmi.
Februari tahun 2001, pada saat peluncuran film Visi Anak Bangsa karya
Garin Nugroho, bertempat di gedung Teater Indonesia TMII, menerima
penghargaan dalam bentuk lontar yang diserahkan oleh Wakil Presiden
Megawati Soekarnoputri. Di atas lontar tertulis: Untuk yang mencipta
melintasi keberagaman budaya memberi keindahan dan kemuliaan keberagaman
hidup
Mei 2001 bertempat di Golden Room Hotel Hilton, diprakarsai dan melalui
Yayasan Genta Sriwijaya, ia menerima penghargaan berupa trofi dari
masyarakat Sumatra bagian Selatan, bersama-sama dengan tiga orang tokoh
yang lain.
Pada Agustus 2003, ia pun menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya
Parama Dharma dari Pemerintah RI (Keppres No.052 /TK/Tahun 2003 Tanggal
12 Agustus 2003).
Satu bulan kemudian, Anugerah Musik Indonesia (AMI) memberikan
penghargaan berupa Lifetime Achievement Award kepadanya atas
sumbangsihnya terhadap dunia musik.
Namun, di samping penghargaan formal itu, ada bentuk penghargaan lain
yang informal, tetapi sangat menyentuh hati, menimbulkan rasa haru yang
mendalam, yaitu penghargaan dari guru, berbentuk lagu. Lagu pertama,
pada tahun 1982, ketika terlibat pada proyek peningkatan mutu guru SPG
tingkat Nasional yang diselenggarakan di Puncak. Bertepatan pada hari
ulang tahunnya, tanggal 3 Februari 1982, Siti Romlah, salah seorang
peserta dari Yogyakarta, menghadiahkan sebuah lagu ciptaannya sendiri,
berjudul "Di Hari Ulang Tahunmu, Papa".
Lagu kedua ketika menjadi salah seorang penatar pada Pendidikan dan
Pelatihan Instruktur Tingkat Dasar Guru Taman Kanak-Kanak Atraktif,
Pusat Pengembangan Penataran Guru Keguruan Jakarta yang diselenggarakan
di Parung, Bogor, bertempat di gedung PPPG Bahasa tahun 1999, dengan
peserta para guru pembina Taman Kanak-Kanak se-Indonesia. Pada saat
minta diri, para peserta memintanya untuk mendengarkan sebuah lagu yang
telah diciptakan sebagai kenang-kenangan. Lagu dibuat oleh Renni
Kusnaeni dari TK Pembina Subang, Jawa Barat, dan syair oleh Munifah dari
TK Pembina Lamongan, Jawa Timur. Naskah lagu ini bertanggal 23 Juli
1999. Seluruh peserta yang sudah dilatih malam sebelumnya bernyanyi
bersama.
Setiap kali mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan, yang pertama-tama
terbayang adalah peristiwa atau cerita bagaimana lagu itu tercipta dalam
ruang, waktu, dan pelaku yang melatari. Atas dasar itu pulalah dikatakan
bahwa lagu ciptaannya bersumber pada tiga hal, yang berdiri sendiri atau
saling mempengaruhi. Pertama: bersumber pada perilaku anak itu sendiri.
Kedua: pada pengalaman masa kecilnya. Ketiga: pesan pendidikan yang
ingin ia sampaikan pada anak-anak. ► Yayat
Sudrajat - Yusak
► Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), |
|