| |
C © updated 24012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bi |
|
| |
Nama:
Dr Aslim Tadjuddin
Lahir:
Payakumbuh, 30 Desember 1949
Agama:
Islam
Jabatan:
Deputi Gubernur BI 2002-2007
Pendidikan:
- Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas;
- Gelar MA dalam bidang Ekonomi Internasional, University of Colorado,
Boulder, Amerika Serikat;
- PhD dalam bidang Ekonomi Moneter dan Internasional, University of
Colorado, Boulder, Amerika Serikat
Karir:
- Staf di Bagian Neraca Pembayaran, Urusan Ekonomi Statistik,
Bank Indonesia, 1977;
- Kepala Perwakilan Bank Indonesia di New York, Amerika Serikat, 1998;
- Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter BI, 2001-2002;
- Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor
204/M tahun 2002, 11 November 2002
Alamat:
Jl. MH. Thamrin 2 Jakarta 10110 Indonesia
Telp : (62-21) 381-7187 Faks : (62-21) 350-1867
Sumber:
Bank Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| ASLIM HOME |
|
|
 |
Aslim Tadjuddin
Deputi Gubernur BI
Aslim Tadjuddin, Deputi Gubernur BI, lahir di Payakumbuh, 30 Desember
1949. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas,
Gelar MA dalam bidang Ekonomi Internasional dan gelar PhD dalam bidang
Ekonomi Moneter dan Internasional diraih dari University of Colorado,
Boulder, Amerika Serikat.
Karirnya di Bank Indonesia dimulai tahun 1977 sebagai staf di Bagian
Neraca Pembayaran, Urusan Ekonomi Statistik. Tahun 1998, dipercayakan
sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia di New York, Amerika Serikat,
kemudian pada tahun 2001-2002 menjabat sebagai Direktur Direktorat
Pengelolaan Moneter.
Tanggal 11 November 2002 mulai menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank
Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 204/M tahun 2002.
Kondisi Moneter 2003 Stabil
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aslim Tadjuddin, menyatakan bahwa
perkembangan indikator-indikator moneter tahun 2003 menunjukkan kondisi
yang stabil dan perkembangan yang sangat baik. "Ini bisa dilihat dari
nilai tukar rupiah yang terus menguat dan stabil, inflasi yang
terkendali, serta suku bunga yang menurun," katanya ketika dihubungi
Tempo News Room, Senin (22/12) pagi.
Inflasi misalnya, menurut Aslim, kemungkinan bahkan bisa turun di bawah
target inflasi 2003 yang mencapai 5-6 persen. Nyatanya, sampai November
2003 ini, inflasi telah mencapai 4,08 persen. "Jadi masih ada
kemungkinan di bawah 5 persen," katanya.
Berdasarkan pengalaman empiris tahun sebelumnya, kata Aslim, inflasi
Desember lebih rendah dari November, yang diramaikan oleh bulan Puasa
dan Idul Fitri. Apabila mengambil patokan inflasi Desember 2002 yang
mencapai 0,50 persen, maka kemungkinan inflasi tahun 2003 adalah 4,58
persen.
Inflasi yang rendah itu, menurut Aslim, sangat bagus karena bisa
memberikan ruang lagi kepada bank sentral untuk menciptakan kondisi yang
kondusif bagi sektor riil melalui kebijakan moneter yang longgar dengan
menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank Indonesia,
kata Aslim, akan tetap konsisten menerapkan kebijakan melonggarkan
moneter secara hati-hati untuk menggerakkan sektor riil. Hingga akhir
November suku bunga SBI telah turun sebanyak 450 basis poin.
Dengan inflasi hingga November 4,08 persen, menurut Aslim, masih ada
ruang bagi BI untuk menurunkan bunga SBI tapi itu walaupun tidak akan
sebesar bulan-bulan sebelumnya. "Ini tergantung pada kemampuan menekan
inflasi ke depan," katanya. Saat ini, tingkat diskonto Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) jangka waktu 1 bulan hasil lelang tanggal 17 Desember
2003 adalah sebesar 8,41% (sebelumnya 8,42%) atau turun 0,01 persen.
Dengan penurunan bunga SBI, kata Aslim, diharapkan dapat mendorong
penurunan suku bunga kredit lebih lanjut yang pada gilirannya akan
membantu pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Namun Aslim mengakui
penurunan yang terjadi tidak secepat yang diharapkan. Saat ini spread
atau selisih antara bunga deposito dan bunga kredit masih terlalu jauh,
yakni sekitar 8 sampai 11 persen. "Normalnya sekitar 3 sampai 3,5 persen,"
katanya. Artinya, kestabilan sektor moneter ini belum diikuti oleh
akselerasi pertumbuhan di sektor riil. Kemungkinannya, kata Aslim, dunia
usaha masih menunggu pasca Pemilu 2004 untuk melakukan investasi. "Masih
ada keraguan dunia usaha," katanya.
Hal ini, kata Aslim, bisa dibuktikan dengan masih rendahnya tingkat
pencairan kredit atau credit disbursement rate dibandingkan dengan
tingkat pinjaman yang telah disepakati (credit approval rate). Dari data
BI, tingkat penggunaan kredit baru mencapai 33,9 persen dari total
pinjaman yang disetujui. "Hal ini menunjukkan keragu-raguan sektor riil
untuk melakukan investasi," katanya.
Walaupun demikian, setidaknya pertumbuhan ekspor sudah mengalami
peningkatan yang kemungkinan besar dalam tahun 2003 ini akan mencapai
lebih dari 5 persen. "Ini juga dipengaruhi oleh mulai menggeliatnya
perekonomian dunia," katanya.
Selain itu, menurut Aslim, stabilitas nilai tukar rupiah juga menyumbang
peranan. Stabilitas nilai tukar ini diakibatkan stabilitas moneter
domestik yang membuat meningkatnya kepercayaan internasional. Ini
dibuktikan kenaikan sovereignity rate atau peringkat Indonesia oleh
berbagai lembaga pemeringkat seperti Moddys, Standard and poors, Fitch
dan lainnya.
Stabilitas nilai tukar rupiah dan peningkatan ekspor ini juga membawa
implikasi berupa posisi cadangan devisa yang pada minggu kedua bulan
Desember 2003 ini mencapai adalah sebesar USD 35,03 miliar, atau naik
sebesar USD 29,1 juta dari posisi minggu sebelumnya. "Ini setara dengan
7 bulan impor," ujarnya
Kondisi moneter yang stabil selama tahun 2003 ini, kata Aslim, akan
mendapat tantangan pada tahun 2004 berupa agenda Pemilu. Walaupun
demikian, kata Aslim, Pihak otoritas moneter akan berusaha
mempertahankan stabilitas moneter yang ada sehingga diharapkan dapat
membantu percepatan proses pemulihan ekonomi Indonesia tahun 2004. ►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|