| |
C © updated 20082006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Prof Dr KPH Asis H Djadjadiningrat. IPM
Lahir:
Purwakarta, 13 Maret 1946
Jabatan:
- Ketua Majelis Guru Besar ITB
- Kepala Laboratorium Udara Departemen Teknik Lingkungan ITB
Istri:
Dra Reni Adijanti Soemitro Msi (59, psikolog)
Anak:
- Ratna M Pudisiskanti (39)
- Rochma S Septiawati (37)
- Sigit R Adigautama (32)
- Martina Saphira (31)
Pendidikan:
- SD dan SMP Perwari Jakarta
- SMA Negeri 7 Jakarta
- Sarjana Teknik Penyehatan ITB
- Dipl SE Delft University of Technology The Netherlands
- Dipl EA Universite de sciences et Techniques du Languadoc (USTL
Montpellier II France)
- Docteur Inginieur Ditto (USTL)
- Dikukuhkan sebagai guru besar teknik (1997)
- Insinyur Profesional Madya (IPM) (1998)
Pengalaman Kerja:
- Ketua Tim Penasihat Gubernur DKI Tim Penasihat Instalasi dan
Perlengkapan Bangunan (2000-sekarang)
- Ketua Badan Kerja Sama Pusat Studi Lingkungan Indonesia (1999-2000)
- Tim Pakar Menneg LH (1997-2000)
- Ketua Badan Pengawas PDAM Kota Bandung (2000-2006)
Publikasi Ilmiah:
- Djadjadiningrat AH, Setiadi C, "Kinetic study on anaerobic and
aerobic, baffle channel reactor for industrial waste containing high
organic carbon", International Water Research Journal
- Suwardin D, Djadjadiningrat Asis, Setiani B, dan Setiadi T,
"Implementation of biofiltration technique on malodour control of crumb
rubber processing", Proceeding The 6th Asian Symposium on Academic
Activities for Waste Management
Pengalaman:
- Perencanaan Waste Water Treatment Plant 5000 PE, Belanda
- Penelitian mengenai "axydation pond" di kawasan Perancis Selatan
- Fasilitas kerja PT PAL Surabaya
- Desain rinci untuk distribusi air bersih, pengolahan air buangan, dan
air hujan Batam Centre
Penghargaan:
- Satya Lencana Pengabdian 30 tahun
- Paul Harris Fellow Rotary International
|
|
| |
|
|
|
|
| ASIS HOME |
|
|
 |
Asis Djadjadiningrat
Sampah dan Siklus Hidup
Ketua Majelis Guru Besar ITB Prof Dr KPH Asis H Djadjadiningrat mendapat
pemahaman tentang siklus hidup setelah banyak menghayati
keberadaan limbah atau sampah. "Limbah bukan sesuatu yang berbahaya,
malah bisa dimanfaatkan kembali," kata Kepala Laboratorium Kualitas
Udara ITB kelahiran Purwakarta, 13 Maret 1946 itu.
Suami dari Dra Reni Adijanti Soemitro Msi (59, psikolog) ini punya kelakar tentang sampah.
"Sampah itu akronim dari Suatu Alat Meningkatkan Pendapatan Anda
Harian," ucapnya sambil tertawa. "Pemulung bisa hidup dari sampah. Ibu
rumahtangga biasa memisahkan koran dan botol, lalu menjualnya. Banyak
peluang bisa diambil dari sampah."
Cara berpikir linier (lurus) mengajarkan orang berpikir dengan runutan
bahan baku-produk-limbah. Tetapi, berpikir melingkar atau tertutup
membuat orang kreatif, menjadikan lagi limbah sebagai bahan baku untuk
dijadikan produk kembali.
Ia mencontohkan, industri tapioka bisa menghasilkan limbah asam nitrat
yang bermanfaat. Hotel bisa menggunakan air limbah untuk menggelontor
air WC atau menyiram tanaman. Teknologi untuk mewujudkan pun terus
berkembang dan makin mudah ditemukan.
Siklus merupakan cara hidup bijaksana antara manusia dan lingkungan, dua
hal tak terpisahkan. Ajaran agama mana pun mengingatkan hal tersebut. Di
Bali dikenal tri hita karana atau tiga penyebab kesejahteraan yang
dibangun karena hubungan baik antara Tuhan, masyarakat, dan lingkungan.
Kerusakan lingkungan secara global terjadi karena manusia berlebihan
menggunakan kebebasannya. Awalnya manusia hanya menggunakan alam untuk
memenuhi kebutuhan bertahan hidup, lalu kebutuhan itu berkembang, dan
manusia lupa tanggung jawabnya. Padahal, sumber daya alam tidak
bertambah.
Dulu, hidup linier tidak menimbulkan masalah karena jumlah manusia masih
sedikit. Alam bisa memperbaiki dirinya dengan mudah. Tetapi, dengan
terus bertambahnya manusia, alam membutuhkan bantuan memperbaiki diri.
Satu orang butuh air bersih minimum 100 liter per hari. Dengan jumlah
manusia di bumi saat ini yang jumlahnya enam miliar, setidaknya air yang
dibutuhkan sekitar 600 miliar liter. Air yang sudah digunakan dibuang
lagi, 70 persen tidak dikelola dengan baik.
"Anda bisa bayangkan apa yang terjadi pada Bumi?" tanya Asis sambil
melanjutkan, jumlah air tetap tetapi jumlah air yang diambil dan menjadi
limbah terus bertambah.
Etika
Itulah sebabnya, ujar Asis, manusia perlu punya etika agar bisa hidup
dalam lingkungan berkualitas baik. "Masalah lingkungan itu masalah hati,
masalah kemauan," ujar Asis.
Etika harus diajarkan sejak pendidikan dasar, dari keluarga, saat anak
masih kecil. Etika hidup yang baik antara manusia dan lingkungan
terlihat pada interaksi orang-orang pedalaman, seperti Dayak, Baduy, dan
Asmat. "Mereka tidak merusak karena sangat akrab dengan alam," ungkap
Asis.
Masalahnya, bagaimana mendidik anak dalam keluarga agar bisa memiliki
budi pekerti memadai untuk hidup berdampingan dengan alam jika orangtua
di rumah masih kurang wawasannya mengenai etika hidup?
"Indonesia kan pernah sukses menjalankan program Keluarga Berencana
dengan memberdayakan para ibu rumah tangga sebagai penyampai informasi
melalui Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Cara
seperti ini masih bisa dilakukan untuk mengajarkan etika pada
lingkungan," tutur Asis.
Pendidikan budi pekerti menjadi penting karena, menurut dia, saat ini
bangsa Indonesia baru bisa memanfaatkan lingkungan tetapi tidak bisa
memeliharanya.
Selain itu, teladan dan keinginan politik juga menjadi penting. Masih
ada beberapa pemimpin masyarakat yang belum memiliki wawasan memadai
tentang lingkungan. Itu sebabnya dalam perbincangan informal maupun
formal bersama para anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau petinggi dari
lembaga lain, Asis selalu berusaha mengangkat tentang persoalan
lingkungan secara lembut tanpa menggurui.
"Ternyata mereka senang," ungkapnya. Asis menilai, banyak pejabat yang
pengetahuan lingkungannya rendah. "Lihat saja pemilihan umum lalu,
paling hanya satu atau dua partai yang fokus pada lingkungan," lanjut
Asis pula.
Dalam era otonomi daerah, pemerintah daerah cenderung memanfaatkan alam
secara maksimal demi pendapatan asli daerah (PAD) sebanyak mungkin.
Namun, sebelum tragedi terjadi, sebaiknya pemerintah mengubah fokus pada
memaksimalkan pengelolaan manusia agar tidak melulu bergantung pada
sumber daya alam.
Asis menyatakan, pergantian generasi terjadi setiap 25 tahun sekali, dan
ia yakin pada generasi keempat setelah Indonesia merdeka, lingkungan
Indonesia akan baik lagi.
"Saya optimis lingkungan kita akan baik kembali pada Hari Kemerdekaan
Ke-100 Republik Indonesia," ujar anak dari ahli perpajakan, Prof Sindia
Djadjadiningrat, ini.
Tempat mandi
Keluarga Djadjadiningrat berasal dari Banten, tetapi Asis lahir di
Purwakarta dan besar di daerah Menteng, Jakarta. Pada saat bocah, ia
sering mandi di sungai di belakang Hotel Indonesia.
"Waktu itu airnya masih bersih sekali," kenang Asis. Di sekitar Jalan
Menteng hingga Kebayoran, tempat kerabatnya tinggal, masih seperti
hutan. Ada hutan karet dan duku. Asis sering melintasi daerah tersebut
sambil mengayuh sepeda.
Kini dia tengah mengupayakan agar wajah Jakarta tempo dulu kembali lagi.
Ia menyampaikan ide membuat tempat rekreasi air bersih, sehingga orang
bisa berenang kembali di Waduk Melati, tempat mandinya masa kecil.
Asis meraih ilmu bidang lingkungan di ITB. Tahun 1963, selepas dari
Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Jakarta. Ia memutuskan mengambil Jurusan
Teknik Mesin ITB, namun tidak diterima. Ia malah diterima di fakultas
teknik sipil yang punya jurusan teknik penyehatan.
Pada masa kuliah, ia bergabung sebagai anggota resimen mahasiswa karena
sangat menyukai kedisiplinan yang dia contoh dari ayah dan ibunya, (alm)
Etty Sukanti. Masa-masa genting akibat peristiwa Gerakan 30 September
membuat mahasiswa sering berdiskusi bersama masyarakat untuk ikut
memecahkan masalah bangsa. Sejak itulah ia menyukai organisasi.
Ia lulus tahun 1970 dari ITB dan ditawari menjadi dosen oleh seniornya
di kampus. Saat itu Asis terkenang obrolan dengan ayahnya. "Hati-hati
kalau mau jadi dosen, kamu tidak akan mungkin kaya. Dosen hanya bisa
hidup berkecukupan, tetapi cukup menyekolahkan anak. Kalau mau kaya,
jadilah pedagang."
"Buat saya, melihat mahasiswa bisa memanfaatkan ilmunya saja saya sudah
bangga," kata Aziz.
Sambil kembali berkelakar, pria yang rajin lari pagi tiga kali seminggu
ini mengatakan, sejak mempelajari limbah, ia baru menyadari namanya
sudah mengisyaratkan masa depannya.
Biasanya orang dinamai Azis yang dalam bahasa Arab berarti menang,
tetapi orangtuanya malah menamai Asis. "Kalau orang Arab membaca dari
kanan ke kiri, maka nama saya dibaca Sisa atau limbah," ujarnya.
Meski dia menjalankan banyak tugas, tetapi kakek dari delapan cucu ini
tampak santai. Di rumahnya, ia masih bisa meluangkan waktu bermain
bersama dengan dua cucu yang tinggal bersamanya.
"Tadinya anak ketiga saya tinggal di Sumbersari, Bandung. Tetapi, karena
harus bekerja, dua anaknya pada pagi hari selalu dititipkan kepada kami
dan dijemput pada sore hari. Saya bilang, lebih baik rumah itu
dikontrakkan saja dan mereka tinggal lagi bersama saya. Padahal sih,
biar saya dan istri bisa main terus dengan cucu," ujar Asis.
Jika tengah bermain dengan cucu-cucunya, Asis sering bernyanyi. Beberapa
lagu sengaja ia ubah liriknya, meskipun cucunya sering protes karena
lirik lagu yang dia nyanyikan tidak sama dengan yang diajarkan guru di
sekolah. Misalnya, lagu Kereta Api, ia mengubahnya dengan kalimat,
"…bolehlah naik dengan membayar…"
Ia yakin ajaran yang diberikan dengan riang jika terus didengungkan
kepada anak-anak akan membantu kebangkitan dunia perkeretaapian yang
selalu merugi karena banyak penumpang yang tidak membayar.
Asis pun menyanyikan satu lagu lagi tentang manusia Indonesia,
"Indonesia Tanah Air beta… Tempat bekerja dan berkarya, sampai akhir
menutup mata." (Yenti Aprianti, Kompas, 20 Agustus 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|