| |
C © updated
25062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Arwin Rasyid
Lahir:
Roma,Italia, 22 Januari 1957
Agama:
Islam
Istri:
Dotty Suraida
Anak:
1. Ardiana Belina Natasha 2. Arsyah Febrian
3. Marina Rasyid Artricia
4. Adinda A. Bakrie
5. Syailendra S. Bakrie
Ayah:
Mr. H. St. M. Rasyid
Ibu:
Hj. Amansjah Salim
Pendidikan:
- 1973 Sertifikasi Matrikulasi-The Gandhi Memorial School,
Jakarta.
- 1980 Sarjana Ekonomi-Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jurusan
Studi Pembangunan
- 1981 MA International Economics-University of Hawaii, USA
- 1982 MBA International Business-University of Hawaii, USA
- 1984 Chief Executive Program, University of California, Barkeley, AS
Karir:
- Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977–sekarang)
- Staf peneliti Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977-1980)
- Asisten Vice President, Bank of America, Jakarta (1980-1987)
- Asisten Vice President, Kepala Divisi Marketing PT Bank Niaga Tbk
cabang Gajah Mada (1987-1989)
- Vice President, Kepala Divisi Marketing dan Kredit Grup PT Bank Niaga
Tbk. (1989-1990)
- Managing Director PT Niaga Factoring Corporation (1990-1994)
- Senior Vice President Grup Korporat Perbankan PT Bank Biaga Tbk.
(1990-1994)
- Komisaris PT Niaga BZW Securities (1991-Maret 1999)
- Komisaris PT Niaga Factoring Corporation (1994-Maret 1999)
- Direktur Niaga Finance Co. Ltd. Hong Kong (1994-Maret 1999)
- Direktur Korporat Perbankan PT Bank Niaga Tbk. (1994-1998)
- Wakil Direktur Utama PT Bank Niaga Tbk. (1998-Maret 1999)
- Wakil Komisaris Utama Bank Universal (Juni 1999-Desember 2000)
- Staf Ahli Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN (Mei 1999-Januari
2000)
- Wakil Ketua BPPN (Januari 1999-November 2000)
- Direktur Utama Bank Danamon Indonesia (Oktober 2000-2003)
- Wakil Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk, 2003-2005
- Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, 2005
Kegiatan Lain:
- Ketua Ikatan Alumni UI-Fakultas Ekonomi (ILUNI FE),
2003-sekarang
- Anggota dari Apec Business Advisory Council (ABAC), 2002-sekarang
- Anggota BPPW (Badan Pengembangan dan Pengelolaan Wirausaha) – UI,
2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – Perbakin, 2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – PBSI, 2002-sekarang
- Anggota KPEN (Komite Pemulihan Ekonomi Nasional), 2001-sekarang
- Ketua Bidang Pengkajian Perbankan dari Perhimpunan Bank-Bank Umum
Nasional Swasta (Perbanas), 2000-sekarang
Penghargaan:
- President of India Trophy, 1973
- Beasiswa "Supersemar", 1978
- East West Center Award, USA, 1981
- Beta Sigma Award, USA, 1983
Alamat Rumah:
Jl. Simprug Golf XIV/D-1 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT Telekomunikasi Indonesia
Bandung
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA
Arwin Rasyid Bankir Pimpin Telkom
Jakarta 25/6/2005: Di luar dugaan mantan Dirut Bank Danamon dan Wakil
Dirut BNI Arwin Rasyid dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama PT
Telkom Tbk dalam RUPS, yang berlangsung di Kantor Divre II Telkom
Jakarta, Jumat (24/6/2005). Alumni S1 FE-UI (1980) dan S2 (MBA)
International Business-University of Hawaii, USA, itu menggantikan
Kristiono yang semula dijagokan akan tetap menduduki jabatan itu.
Terpilihnya Arwin, pria kelahiran Roma, Italia 22 Januari 1957, yang
sebelumnya juga dicalonkan dalam bursa Dirut Indosat, di luar dugaan
banyak kalangan yang menginginkan dirut Telkom dari orang dalam dan
berpengalaman di industri telekomunikasi. Tidak banyak orang yang
memprediksi Arwin, bankir yang dekat dengan Sofyan Djalil, Menteri
Komunikasi dan Informasi itu setelah gagal menjadi Dirut Indosat akan
dipercaya memimpin Telkom.
RUPS juga menetapkan adanya jabatan Wakil Direktur Utama yang
dipercayakan kepada mantan Direktur Bisnis dan Jasa Telekomunikasi
Garuda Sugardo. RUPS menyetujui susunan Dewan Direksi yang diajukan
Dewan Komisaris Telkom untuk menambah jajaran direksi dari lima menjadi
tujuh. Sementara susunan Dewan Komisaris tidak berubah, tetap lima orang
yang dipimpin Tanri Abeng sebagai Komisaris Utama.
Adapun susunan direksi baru PT Telkom Tbk hasil RUPS 24 Juni 2005
adalah: Direktur Utama Arwin Rasyid, Wakil Dirut Garuda Sugardo,
Direktur Keuangan dan Investasi Rinaldi Firmansyah, Direktur
Infrastruktur dan Jaringan Abdul Haris Matondang, Direktur Korporasi dan
Wholesale Aris Yahya, dan Direktur SDM dan Pengempangan John Welly.
Di hadapan RUPS, Arwin bersama seluruh anggota direksi yang baru
terpilih menyatakan kesediaannya menduduki jabatan ketika ditanya
Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng. Arwin Rasyid mengatakan, dirinya
tidak akan pura-pura menjadi orang yang mengetahui segala hal soal
telekomunikasi. Namun, sebagai bankir, dia akan bekerja sama dengan
seluruh direksi untuk memajukan Telkom sebagai ikon perusahaan
Indonesia. Maka dia meminta diberi waktu untuk menjelaskan mengenai misi
para direksi. Penjelasan tersebut akan disampaikan bersamaan dengan
pengumuman kinerja kuartal II Telkom.
Arwin mengatakan, Telkom menghadapi tantangan untuk meningkatkan
penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan. Saat ini jaringan
telepon hanya menjangkau 50 persen pedesaan di Indonesia, padahal di
China mencapai 80 persen.
Sementara itu, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, Arwin Rasyid
diharapkan dapat mendorong Telkom menjadi perusahaan yang memiliki
kapitalisasi sebesar 33 miliar dollar AS, dari kapitalisasi saat ini
yang hanya 11 miliar dollar AS. Meski tidak berpengalaman di bidang
telekomunikasi, Arwin diharapkan mampu menstabilkan keuangan Telkom
sebagai perusahaan terbesar yang terdaftar di pasar modal Indonesia.
Bagi dividen
RUPS juga memutuskan Telkom mengalokasikan dividen Rp3,06 triliun atau
50% dari laba tahun buku 2004. Sedangkan sebanyak 47% atau Rp2,7 triliun
digunakan untuk pengembangan perusahaan.
Selama 2004, Telkom memperoleh pendapatan operasi Rp33,95 triliun atau
tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya, Rp27,12 triliun. Pada tahun
2005, Telkom Group mengalokasikan capital expenditure (capex) atau
belanja modal Rp6,1 triliun untuk Telkom dan US$700 untuk anak
perusahaan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
PDAT
LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di
Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke
Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa
Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur
Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya
berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal
Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi
dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi
Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar.
Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya
menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya
menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari
empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin
berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan
beasiswa dari The Gandhi Memorial School.
Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya. Ia masuk Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, sambil mengambil kursus intensif bahasa
Indonesia. “Tahun pertama dan kedua kuliah, setiap pertanyaan, saya
jawab dengan bahasa Inggris,” papar MBA dari Universitas Hawaii,
Honolulu, AS, ini. “Untung dosen UI banyak yang lulusan Amerika, seperti
Emil Salim, Sri-Edi Swasono, Miranda Goeltom,” tambahnya. Saat mahasiswa,
selain pernah jadi asisten Sumitro Djojohadikusumo, ia sudah aktif di
Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi,
Universitas Indonesia.
Lulus kuliah, 1980, ia bekerja di Bank of America sambil menyebar
permohonan beasiswa. Impiannya melanjutkan studi di luar negeri terwujud
berkat beasiswa dari HISWA Center untuk kuliah di Universitas Hawaii,
AS, selama dua tahun. Baru satu setengah tahun, ia sudah meraih gelar
M.A. ekonomi; kemudian sekalian ia memanfaatkan sisa waktu dengan
mengambil gelar MBA di universitas yang sama, 1982.
Pulang ke Tanah Air, Arwin kembali ke Bank of America. Setelah tujuh
tahun di bank tersebut, ia bekerja di Bank Niaga. Sepulang dari naik
haji, 1999, ia hijrah ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
sebagai staf ahli, sampai akhirnya menjadi Wakil Ketua BPPN. Sejak
Oktober 2000, Arwin dipercaya memimpin Bank Danamon.
Dalam memimpin perusahaan, ia senantiasa meningkatkan kualitas karyawan,
sebagai aset utama perusahaan. Caranya melalui training dan menerapkan
budaya profesional, serta mengambil bankir-bankir yang profesional,
supaya ada dinamika baru.
Prinsip hidupnya: “Saya mau hidup tenang, tapi dengan taraf hidup sesuai
dengan zaman sekarang.” Seperti yang diajarkan orangtuanya, Arwin
mendidik anak-anaknya agar tidak manja. “Saya tidak pernah dimanja
orangtua. Saya harus sekolah yang benar, bekerja yang benar dan keras.
Orang tua hanya memberikan nilai-nilai hidup dan itu lebih penting
daripada harta,” kata ayah lima anak ini. Untuk itulah, Arwin berupaya
memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk ingin
menyekolahkan mereka di sekolah paling top di dunia.
Selain boling, Arwin hobi main squash sejak 1985. Olahraga ini bisa
membuatnya berkeringat banyak tanpa mengenal cuaca, peralatannya tidak
mahal, dan tidak menyita banyak waktu. Sebagai anggota Persatuan
Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), ia tentunya
gemar berburu. Ia juga pengoleksi berbagai senjata api terdaftar.
►e-ti/atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|