| ARSINAH HOME |
|
|
 |
Arsinah Sumetro Srikandi
Pembela Buruh Migran
Prihatin atas nasib buruh migran perempuan yang sering diperlakukan
secara semena-mena di negeri jiran Malaysia, Arsinah Sumetro mendirikan
LSM Anak Bangsa. Srikandi yang sudah menjanda dan hanya lulusan SMA
Persamaan, itu berjuang secara kesatria untuk menampung dan membela hak-hak buruh migran.
Dia merasa kasihan kepada kaum perempuan yang jadi buruh di
negara lain karena mereka sering kali dilecehkan dan dijadikan barang
dagangan, tanpa perlakuan yang manusiawi.
Arsinah bertekad membela kaum buruh migran berbekal pengalaman
mendampingi korban perdagangan manusia (trafficking) saat bergabung di
lembaga swadaya masyarakat (LSM) Agromitra (2001-2003). Kendati ibu
empat anak ini bukanlah lulusan sarjana hukum, hanya mengantongi ijazah
SMA persamaan, karena putri pasangan Sumetro dan Amas Ahmad ini berasal
dari keluarga miskin, dia tetap gigih dan berani membela hak-hak buruh
migran di tengah segala keterbatasan itu. Bagi Arsinah pendidikan
bukanlah kendala untuk membela sesama.
Walau bukan orang bidang hukum, tetapi dia berani bergerak dalam bidang
hukum. Dalam upaya pembelaannya, dia tidak pernah menyatakan diri
sebagai pengacara atau kuasa hukum. “Saya hanya membela hak buruh migran,”
katanya sebagaimana dikutip Kompas (4 Mei 2007). Sementara untuk dapat
menguasai materi hukum, Arsinah belajar secara otodidak dari buku-buku
dan ikut seminar.
Arsinah sudah menjanda sejak 1989 dan harus menghidupi empat anak
sendirian. Rivani, suami yang menikahinya tahun 1975, meninggal dunia
karena sakit. Perjuangan Arsinah sebagai orangtua tunggal untuk
mencukupi kebutuhan keluarga sama sekali tidak melunturkan semangatnya
untuk membela buruh migran.
Keberanian dan semangat itu pula yang membuat ia pernah mengalami
beragam tindak kekerasan saat membela buruh migran. Ia pernah dicekal,
diculik, dipukuli, dan dibuang ke hutan saat membela warga Indonesia
yang menjadi korban trafficking di Malaysia.
Kekerasan yang pernah dia alami terus melekat dalam memori kehidupan
Arsinah. Satu contoh terjadi pada 27 September 2006, saat dia menjemput
perempuan 17 tahun asal Kabupaten Landak yang melarikan diri dari
majikannya.
Remaja itu sudah 11 bulan menjadi pembantu rumah tangga tanpa diberi
gaji di Malaysia. Bahkan, remaja itu sering disiksa hingga babak belur
oleh majikan dan diberi makan yang sama dengan hewan peliharaan. Dalam
pelariannya, si remaja diselamatkan oleh satu keluarga di Malaysia.
Keluarga itu pula yang menghubungi Arsinah agar menjemputnya.
Dalam perjalanan pulang bersama TKI tadi, tepatnya di Sibu, Malaysia,
Arsinah dicegat sejumlah lelaki tak dikenal. Mereka hendak merebut si
TKI. Arsinah menantang. Meski sangat tidak imbang, ia berkelahi dengan
beberapa lelaki itu hingga berhasil kabur membawa lari TKI yang
dijemputnya.
"Saat masih di Agromitra tahun 2002, waktu menjemput buruh migran yang
dilacurkan di Malaysia, saya malah sempat diculik dan dibuang ke hutan
di Miri (Malaysia). Nyatanya, saya bisa selamat dan sampai sekarang
masih hidup. Setiap orang akan mati. Kalau Tuhan menghendaki saya mati
dengan cara begini, apa lagi yang harus saya takutkan," ujarnya.
Atas keprihatinan dan pengalaman itu Arsinah Sumetro mendirikan LSM Anak
Bangsa di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, 14
Januari 2004. Entikong adalah kecamatan yang berbatasan langsung dengan
Tebedu di Sarawak, Malaysia. Kedua daerah itu merupakan gerbang resmi
kedua negara. Di Entikong, Arsinah mengawali kiprah membela buruh migran
atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.
Sosok Arsinah bersahaja. Penampilannya santun dengan kerudung menghiasi
kepala. Intonasi bahasa Arsinah lembut, tetapi pilihan kata dan
kalimatnya selalu lugas, menyiratkan semangat yang meledak-ledak.
Dengan penampilannya itu, puluhan kali Arsinah menjemput dan membela TKI
yang bermasalah di Malaysia, tanpa dikawal atau didampingi orang lain.
Jika ada buruh migran yang gajinya tidak dibayar, ia pula yang menagih
kepada majikan dan memberikannya ke buruh tersebut.
"Saya pelajari undang-undang Malaysia yang mengatur ketenagakerjaan.
Saya menggunakan itu untuk menuntut dan membela hak-hak buruh migran.
Sering kali saya harus berdebat, terlebih dengan Polisi Diraja Malaysia,
sebelum akhirnya mereka membantu menagih gaji buruh ke majikan. Selama
mereka tahu kita menguasai hukum Malaysia, tuntutan biasanya dipenuhi,"
papar Arsinah.
Berdebat dengan petugas
Karena sering melakukan pembelaan, Arsinah pernah berdebat dengan
petugas imigrasi Malaysia yang melarangnya memasuki Malaysia, sekitar
Juni 2003. Padahal, saat itu ia memiliki paspor dan dokumen lengkap.
Petugas tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mencekal, dan ia juga
mengancam akan melaporkan kasus ini kepada Perdana Menteri di Kuala
Lumpur. Akhirnya, pihak imigrasi Malaysia menyerah.
Setelah menjemput buruh migran, Arsinah menampung mereka di rumahnya.
Para pekerja itu dia rawat, dipulihkan semangat dan psikis mereka
sebelum dipulangkan ke rumah masing- masing.
Arsinah menegaskan, dirinya dan LSM Anak Bangsa tidak pernah memungut
uang sepeser pun dari para buruh migran.
"Aktivitas Anak Bangsa selama ini didanai donatur dan jaringan peduli
HAM. Mereka bersedia memberi dukungan karena mengetahui persis komitmen
dan integritas Anak Bangsa dalam membela hak buruh migran," ucapnya.
Anak Bangsa yang didirikan Arsinah bukanlah LSM yang memiliki kantor
mewah, lengkap dengan pendingin ruangan, serta kendaraan operasional.
Sejak tahun 2001 hingga awal 2007, Anak Bangsa menyewa garasi seluas 4
meter x 5 meter untuk dijadikan sekretariat.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono yang
berkunjung ke Entikong, Januari lalu, secara mendadak memutuskan singgah
dan menyaksikan sendiri kesederhanaan kantor Sekretariat Anak Bangsa.
Kegigihan dan integritas membela hak-hak buruh itu ternyata berbuah
kepercayaan yang semakin besar dari donatur, ataupun jaringan pemerhati
hak-hak buruh migran.
Departemen Pendidikan Nasional juga tergerak membangunkan sebuah gedung
untuk aktivitas pendidikan luar sekolah. Fasilitas itu nantinya juga
bisa dimanfaatkan Anak Bangsa untuk mendidik buruh migran yang mereka
tampung. (C Wahyu Haryo PS, Kompas 4 Mei 2007)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|