| |
C © updated
20122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
rpr |
|
| |
Nama:
Dr.dr.Arry Harryanto Reksodiputro
Lahir:
Malang, 28 Januari 1939
Agama:
Islam
Profesi:
Dokter Ahli Penyakit dalam
Istri:
Anggraeni Suryanatamiharja
Anak:
Drs. Dharmawan Reksodiputro,
Anggia Arifiati Reksodiputro,
Mirta Hediyati Reksodiputro
Ayah:
Mr. Sumitro Reksodiputro
Ibu:
Siti Djaenab
Pendidikan:
::1944-1950: Sekolah Rakyat Cikini di Jakarta
::1950-1953: SMP I di Jakarta
::1953-1956: SMA I di Jakarta
::1956-1963: Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
::1963-1969: Dokter Ahli Penyakit Dalam, FK-UI di Jakarta
::1969-1970: Pendidikan Hematologi di Hospital St. Louis, L' Universite de
Paris di Perancis
::1978: Postgraduate training di St. Bartholomew's Hospital di London
::1979: Postgraduate Training di Hopital Pitie Salpetriere di Paris
::21 Juli 1984: Doktor dalam Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia,
Tesis: "Limfoma Non-Hodgkin dan Saran Mengenai Alternatif
Penatalaksanaannya di Indonesia".
::Desember 1991: Dikukuhkan sebagai Guru Besar di FK-UI
Pengalaman Kerja:
::1. Memberi Kuliah Hematologi Kepada Mahasiswa Tk.III dan IV FK-UI
tahun 1971 – sekarang
::2. Membimbing Karya Tulis Mahasiswa Tk. V FK-UI tahun 1972
::3. Penguji Pendamping Pada Ujian NB/CMS FK-UI, 1973 – 1976
::4. Penguji Ujian NB/CMS FK-UI, 1982
::5. Koordinator Penatalaksanaan Penyakit Limfoma Malignum FK-UI RSCM 1974
– sekarang
::6. Anggota Tim Kanker RSCM, 1975
::7. Staf Pengajar pada The Regional Graduate Diploma Applied
::8. Anggota Unit Kanker FK-UI/RSCM, 1976
::9. National Faculty Member pada UICC Postgraduate Course on Clinical
Cancer Chemotherapy tanggal 4- 5 Mei 1981
::10. Kasubag. Hematologi Bag. I Penyakit Dalam FK-UI/RSCM, 1984 –
sekarang
::11. Koordinator Penelitian di Bag. I Penyakit Dalam FK-UI, 1985
::12. Ketua Kelompok Studi Khusus AIDS di FK-UI, 1986
::13. Ketua Tim Transplantasi Sumsum Tulang FK-UI, 1986
::14. Wk. Ketua Urusan Onkologi Medik pada Kelompok Kerja Kanker FK-UI,
1986
::15. Anggota Kelompok Kerja Imunologi FK-UI, 1986
::16. Anggota Sub Panitia Pemilihan Penelitian Terbaik di Lingkungan FK-UI,
tanggal 6 Oktober 1987
::17. Anggota Sub Panitia Pemilihan Penelitian Terbaik FK-UI tanggal ::26
Januari 1988 .
::18. Tenaga Ahli Bidang Lupus Erythematosus, 1988
::19. Anggota Kelompok Kerja Gerontologi FK-UI, 1988
::20. Ketua Tim Inti Penyusun Konsep Pembangunan Rumah Sakit "Cancer
Centre" S.K. tanggal 11 November 1988
::21. Anggota Sub Pokja Kanker Ginekologi FK-UI tanggal 4 Januari 1989
::22. Anggota Penilai Program Doktor Pola A dan Usulan Penelitian Untuk
Penulisan Disertasi Dalam Bidang Kedokteran 1990
::23. Anggota Tim Pra-Usulan Penelitian Calon Peserta Program Doktor
Terstruktur Dalam Bidang I. Kedokteran, 1990
::24. Anggota Tim Pengurus Program Dokter Terstruktur Khusus Metodologi
Penelitian Kelompok Klinis di FK-UI 1990
::25. Anggota Tim Kurikulum Program Doktor Terstruktur dalam bidang I.
Kedokteran di FK-UI, 1990
::26. Anggota Tim Dokter Ahli Presiden RI, 1982.
|
|
| |
|
|
|
|
Prof Dr Arry Harryanto Reksodiputro
Bekerja dengan Kepekaan Sosial
Konsisten dalam prinsip, teguh dalam keyakinan agama, namun tetap
menyadari adanya kelemahan sebagai manusia. Itulah potret pribadi Prof.
Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro. Bagi mantan anggotaTim Dokter Ahli Presiden
RI, ini hidup adalah tantangan dan agama adalah modal untuk menghadapi
tantangan itu. Ia seorang dokter yang memiliki kepekaan sosial cukup
tinggi dan menganut prinsip bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Prinsip, iman dan kesadaran itulah yang menuntun Kasubag
Hematologi-Onkologi Medis, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta, ini bahwa bekerja adalah untuk
kepentingan masyarakat.
Dalam pembentukan jiwanya, yang selalu berusaha agar setiap pekerjaannya
betul-betul menyentuh kepentingan masyarakat dan bermanfaat bagi
kepentingan umum, banyak didorong tuntunan ayahnya Mr.Sumitro Reksodiputro
yang berasal dari Rembang, Jateng dan ibunya dan Siti Djaenab yang berasal
dari Sumedang.
Sejak kecil, pria yang dilahirkan di Malang, 28 Januari 1939, ini telah
dituntun ayah-bundanya agar menjadi anak yang taat beragama, tidak
menyombongkan diri, selalu peduli dengan sesama dan menghargai orang lain.
Hal itu terbawa hingga di hari tuanya yang dalam segala sendi kehidupannya
selalu mengedepankan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Sampai-sampai
dalam memilih olah raga dan musik sekalipun selalu dengan pertimbangan
tersebut.
Peraih Doktor bidang Ilmu Kedokteran dari FK-UI, Jakarta pada 21 Juli
1984, ini tidak pernah lupa berolahraga. Baginya, berolahraga jauh lebih
penting dari hanya sekedar hoby dan prestasi saja, karena dengan
berolahraga manusia akan sehat dan rileks. Apalagi di dalam olah raga itu
terselip nilai-nilai sportivitas, sehingga orang yang suka berolahraga
dengan sendirinya akan selalu berusaha menghargai orang lain. "Kalau bisa,
berolahragalah sekali atau dua kali seminggu," anjurnya.
Dokter yang semasa kecilnya bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Cikini ini
punya kepekaan sosial yang cukup tinggi sehingga dengan segala upaya dia
berusaha untuk tidak membuat batas-batas di antara sesama. Banyak jembatan
yang mesti ia titi untuk mengenal lebih jauh tentang pandangan hidup
bermasyarakat. Salah satu contoh, dalam memilih olahraga dia tidak mau
memilih olahraga eksklusif yang bisa membuat dirinya malah jadi jauh dari
masyarakat banyak.
Maka dengan maksud agar bisa selalu berinteraksi dengan masyarakat banyak
tersebut sekaligus menghemat biaya maka dia memilih olahraga jogging dan
renang sebagai olahraga rutinitasnya setiap minggu. "Dengan olahraga yang
sederhana itu, kita bisa bertemu dengan masyarakat awam dan tidak
mahal-mahal," katanya sambil tersenyum.
Dalam hal musik, pecinta musik klasik ini berpandangan bahwa musik
merupakan salah satu sarana komunikasi universal untuk mendeteksi
pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang. Menurutnya, musik
merupakan pantulan dari perasaan masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk
irama dengan bantuan sejumlah alat. "Kalau kita mendengarkan musik orang
barat, kita akan bisa menggambarkan pola hidup mereka. Begitu pula
pandangan hidup mereka," tuturnya. Dia bisa mengikuti dan memahami sekian
banyak jenis musik, seperti musik Dangdut, Melayu, Pop, Cadas maupun
Klasik.
Namun, pria berkaca mata yang selalu menekankan perlunya disiplin ini,
memilih musik klasik sebagai musik kesenangannya. Karena menurutnya, musik
klasik itu berdimensi kemanusiaan.
Suami dari Anggraeni Suryanatamiharja ini selalu berusaha menempatkan diri
agar bisa bergaul dengan masyarakat awam maupun di tengah keluarga. Namun
tentu dia juga selalu berusaha agar tidak terjerumus kepada penyimpangan
norma-norma masyarakat.
Dia tidak mudah kehilangan kendali hidup, berkat telah mendapat pengajaran
norma-norma agama Islam yang dianut dan dipegangnya teguh sejak dini.
Dengan pemahaman agama tersebut juga ia bisa mengetahui batas norma-norma
hidup yang dijalankannya.
"Hidup adalah tantangan. Agama, modal untuk menghadapi tantangan itu. Dan
tanpa agama, kita tidak bisa mensyukuri nikmat Tuhan." ujarnya. Dengan
keyakinan itu, ia tidak mau melepaskan diri dari ikatan agama yang sudah
menjadi pedoman hidupnya. Pedoman hidup yang membuat kesehariannya selalu
tampil tenang dan tegar.
Ketika mengikuti pendidikan Hematologi di Hospital St. Louis, L Universite
de Paris, Perancis dan mengikuti pelatihan (postgraduate training) di St.
Bartholomew's Hospital, London, Inggris, dan pelatihan di Hospital
Pitie-Salpetriere, Paris, Perancis, dia melihat semua orang bekerja keras,
masing-masing tahu akan kewajiban mereka.
Selama mengikuti pendidikan itu, mereka dituntut mampu memecahkan segala
masalah. Karena itulah, menurutnya, orang-orang yang pernah belajar di
sana akan terlatih membuat keputusan. “Kalau mau belajar, harus tahu di
mana tempatnya, bagaimana membagi waktu dan bagaimana mencari ilmu. Itu
semua kita cari sendiri. Belajar sendiri," katanya menerangkan.
Selain kemandirian, mereka juga selalu didorong untuk berani menyatakan
pendapat. "Kita harus berani menyatakan pendapat. Kalau memang kita salah,
kita harus berani mengakui bahwa itu salah," tuturnya. Di situ jugalah,
menurutnya, pentingnya berolahraga. Sebab berolah raga bukan saja berolah
fisik tetapi juga berolah hati nurani.
Dikatakannya, berbeda pandangan hal biasa. Perbedaan pandangan itu terjadi
karena kapasitas setiap manusia tidaklah sama, karenanya beda padangan itu
sudah menjadi bagian dari hidup. Tetapi hasil pemikiran bersama, justru
akan menghasilkan pemikiran atau konsep yang berbobot. Disitulah
pentingnya menghargai pendapat orang lain, sambil mempertimbangkannya
dengan pendapat sendiri.
Pengagum Mantan Presiden AS John F. Kennedy, dan Proklamator RI Bung Karno
- Bung Hatta dan pemimpin India Jawaharlal Nehru, ini sangat konsisten
dalam pendirian terutama dalam mendudukkan prinsip kemanusiaan sama
seperti tokoh-tokoh yang dikaguminya tersebut. la juga mengagumi
tokoh-tokoh dari kalangan kedokteran seperti, Prof. Sutomo Tjokronegoro,
Prof. Djuned Pusponegoro serta Prof. Slamet Imam Santoso.
Sikap kemandirian dan kekonsistenannya itu terbina sejak dia masih berumur
8 tahun. Ketika zaman revolusi, ia dan kakaknya dibawa ayahnya mengungsi
ke kota Gudeg, sedangkan ibu dan adik-adiknya tetap bermukim di Jakarta.
Ketika di Yogyakarta itu ia tidak mengetahui kalau ayahnya diculik tentara
Belanda. Selama ayahnya diculik, ia tinggal bersama kakeknya di Malang.
Tempaan demi tempaan semasa revolusi, menyebabkan Harryanto kecil menjadi
tegar dan kuat. Setelah dua tahun tinggal bersama kakeknya di Malang, ia
kembali ke Jakarta. Di sekolahnya pun, di SR Cikini, Jakarta, berkali-kali
ia mesti masuk lubang perlindungan, setiap ada bunyi sirene pertanda
adanya serangan dari tentara sekutu. “Kalau ada perang, saya dan
kawan-kawan masuk dalam lubang perlindungan sambil menggigit karet,”
kenangnya.
Pria yang bergaya hidup sederhana ini ketika sekolah di SMA I, Jakarta,
1953-1956, lebih suka bersepeda ke sekolah, padahal dia sebetulnya
termasuk salah seorang yang beruntung sebab ayahnya menjabat sebagai
Sekjen Departemen P & K ketika itu yang bisa membelikannya motor atau
mengantar jemputnya.
"Sebagai teman yang sama-sama seperjuangan, sama-sama pelajar, kami
ramai-ramai naik sepeda. Itulah kenangan saya semasa di SMA," tuturnya
mengenang masa remajanya. Setelah menamatkan SMA, dia kemudian masuk
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1956, yang diselesaikannya
tahun 1963.
Sebagai penerima beasiswa, ia harus mengikuti ikatan dinas selama 6 tahun
sebagai pegawai negeri sambil mendalami spesialis di bidang ilmu penyakit
dalam tahun 1963-1969. Setelah bertugas selama enam tahun di Pekan Baru,
pada tahun 1969 dia mendalami masalah darah selama setahun di Hospital St.
Louis, L’Universite de Paris, Perancis, 1969-1970. Delapan tahun kemudian,
tepatnya pada tahun 1978, dia mengikuti pelatihan di St. Bartholomew's
Hospital, London. Setahun setelah itu, dia mengikuti lagi pelatihan di
Hospital Pitie-Salpetriere, Paris, Perancis.
Pada tanggal 21 Juli 1984, dia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu
kedokteran dengan tesis yang berjudul: "Limfoma Non-Hodgkin dan Saran
Mengenai Alternatif Penatalaksanannya di Indonesia". Selanjutnya, pada 14
Desember 1991, ia mengucapkan pidato guru besar dengan judul: "Onkologi
Medis Masa Lampau, Kini dan Masa Mendatang: Peranannya dalam Menunjang
Strategi Penanggulangan Kanker secara Terpadu". Di dalam Tim Dokter Ahli
Presiden RI, dia diangkat sebagai ahli penyakit dalam.
Alumni Anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) ini, mengemukakan ketika
masalah AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome) menghantui masyarakat
pada dekade 80-an, dia juga sibuk menekuni penyakit yang melemahkan sistem
kekebalan tubuh itu.
Menurutnya, sekarang ini masyarakat masih sering salah persepsi dimana
dokter yang tidak menggunakan peralatan canggih, langsung dianggap dokter
yang kurang piawai. Padahal, banyak sekali penyakit yang diderita pasien
tidak memerlukan peralatan kedokteran yang canggih. Sebetulnya, menurutnya,
sekitar 75 persen penyakit masih bisa dideteksi dengan stetoskop saja.
Sisanya, baru perlu peralatan atau obat-obatan yang mewah. “Sering
masyarakat meminta diobati dengan alat-alat yang canggih. Di sinilah
perlunya pendidikan masyarakat," katanya.
Menurut ayah dari Drs. Dharmawan Reksodiputro, Anggia Arifiati
Reksodiputro, dan Mirta Hediyati Reksodiputro ini, seorang dokter yang
profesional adalah dokter yang mampu menggunakan peralatan yang tepat guna.
Yang penting perlu standarisasi pengobatan yang cocok dengan keadaan di
Indonesia. Masyarakat awam juga perlu mengetahui pemeriksaan apa saja yang
perlu dilakukan untuk setiap jenis penyakit serta manfaat pemeriksaan
tersebut.
Yang menjadi masalah sekarang adalah standar itu belum ada. Akibatnya,
banyak dokter yang kadangkala lebih suka menggunakan peralatan canggih
padahal tidak semua penyakit memerlukan peralatan yang modern. Hal ini
bisa terjadi, karena tuntutan pasiennya atau keinginan dokternya itu
sendiri. Tidak heran, kalau kemudian biaya pengobatan di sini semakin
mahal.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|