| |
C © updated
31102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr tiara |
|
| |
Nama :
Arifin Panigoro
Lahir:
Bandung, 14 Maret 1945
Agama:
Islam
Isteri:
Raisis A Panigoro
Anak:
Maera Hanafiah
Yaser Mairi
Pendidikan:
Lulusan Jurusan Elektro, Institut Teknologi Bandung, 1973
Mengikuti Senior Executive Programme Institute of Business Administration
di Fountainebleau, Prancis yang dikoordinir oleh Kadin, 1979
Pengalaman Kerja :
:: PT Meta Epsi Duta Corporation (Komisaris Utama), sejak 1989
:: PT Inti Persada Multi Graha (Presiden Direktur), sejak 1994
:: PT Meta energi Petrasanga (Komisaris), sejak 1994
:: PT Energi Patranagari (Komisaris), sejak 1994
:: PT Apexindo Pratama Duta (Komisaris) sejak 1987
:: PT Citra Panji Manunggal (Komisaris Utama) sejak 1987
:: PT Meta Epsi Engineering (Komisaris Utama) sejak 1983
:: PT Meta Epsi Antareja Drilling Co.(Komisaris Utama) sejak 1983
:: PT Bina Karya Pariwisindo (Komisaris) sejak 1981
:: PT Meta Epsi Sarana Graha (Presiden Komisaris) sejak 1994
:: PT Meta Epsi Agro (Komisaris) sejak 1994
Jabatan Politik:
Ketua Fraksi PDI-P MPR RI 2002-2003
Organisasi :
:: Yayasan Padamu Negeri (Ketua Umum) 1991-sekarang,
:: Ikatan Alumni Elektro ITB (Ketua I ) 1989-sekarang,
:: Persatuan Insinyur Indonesia (Ketua Umum) 1994
:: Ketua DPP PDI-Perjuangan 1999
Alamat Rumah:
Jalan Jenggala, Kebayoran Baru. |
|
| |
|
|
|
|
Arifin Panigoro
Simbol Kebangkitan Politik Pengusaha
Sebelum Orde Baru tumbang tahun 1998, nama Arifin Panigoro hanya dikenal
kalangan terbatas sebagai pengusaha di bidang perminyakan. Lingkaran
pergaulannya lebih banyak dengan Pertamina dan pengusaha perminyakan
internasional. Namun, ketika reformasi tengan “hamil tua” yang ditandai
dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa, kesadaran politik Arifin
bangkit. Ia telah menjadi simbol kebangkitan politik pengusaha.
Tidak hanya itu, ia turut serta secara aktif membantu pergerakan mahasiswa,
termasuk menyiapkan nasi bungkus untuk dikirim kepada mahasiswa yang
tengah menggelar aksi di Gedung DPR Senayan, Jakarta.
Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai
usahanya tidak langsung menjadi bos di Meta Epsi Drilling Company (Medco).
Sebelum tahun 1980-an, awalnya ia cuma sebagai kontraktor instalasi
listrik door to door. Selanjutnya memulai proyek pemasangan pipa secara
kecil-kecilan. Begitu ada proyek yang berdiameter besar, hal itu bukan
porsi pengusaha lokal, melainkan pengusaha asing. Jadi, setiap Pertamina
melakukan tender untuk pemasangan pipa besar, maka perusahaan asing yang
menang karena untuk pipeline butuh peralatan berat. Peralatan itu umumnya
hanya dimiliki oleh perusahaan asing.
Kondisi itu membuatnya berpikir, sebaiknya pengusaha lokal pun diberi
kesempatan atau dibantu untuk bisa menangani pemasangan pipa besar dan
tidak hanya diberi pekerjaan yang kecil-kecil. Tahun 1981 ia memberanikan
diri untuk mulai masuk proyek pipanisasi yang berdiameter besar. Untuk
pekerjaan itu, ia bekerja sama dengan perusahaan asing. Deal-nya, bila
satu proyek selesai, bagi hasilnya adalah peralatan itu. Mitra setuju,
proyek pun selesai. Sejak itu dengan alat tersebut ia mencari proyek ke
mana-mana.
Selain menggandeng mitra asing, dukungan dan proteksi dari pemerintah amat
diperlukan. Tidak mungkin pengusaha lokal yang baru berdiri dan tidak
memiliki pengalaman dapat tiba-tiba bersaing dengan perusahaan asing yang
berpengalaman di bidang perminyakan sela puluhan tahun. Menggandeng mitra
luar dan dukungan pemerintah itu merupakan cara pengusaha lokal bisa
membuka pintu ke bidang bisnis yang lebih luas. Dengan begitu, persaingan
dengan perusahaan asing bisa dilakukan.
Semuanya dimulai dari tahapan membiasakan pengusaha lokal mengerjakan
proyek besar. Contoh yang dialaminya dengan bendera usaha Medco tejadi
pada tahun 1979-1980 ketika terjadi oil boom, Sekretariat Negara mengambil
inisiatif untuk membangun kilang minyak karena ada tambahan anggaran. Pada
saat itu, pemerintah berkeinginan untuk menyelipkan unsur pembinaan bagi
pengusaha lokal, termasuk Medco. Saat itu, dalam pembangunan Kilang
Cilacap, Medco dikawinkan dengan satu perusahaan asal Amerika Serikat.
Akhirnya, Medco yang tidak tahu apa-apa tentang pemasangan pipa, menjadi
mengerti.
Demikian juga saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981, juga tak
lepas dari bantuan pemerintah. Menurut Arifin, tahun itulah titik awal
Medco menjadi besar. Pada waktu itu, ia memiliki kedekatan dengan Dirjen
Migas Wiharso yang menginginkan ada pengusaha lokal dalam proyek jasa
pengeboran. Kebetulan ada penyertaan modal pemerintah ke Pertamina, yang
mau melakukan pengeboran gas di Sumatera Selatan.
Pemerintah mendorongnya untuk ikut tender, meskipun tidak punya peralatan
ngebor. Pemerintah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang
diminta untuk menyewakan alat, atau memakai orang-orang Medco sebagai
mitra. Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha
lokal. Namun, tanggapan dari perusahaan asing itu membuat Pak Wiharso
tersingung dan batal. Lalu Pak Wiharso memintanya menggarap proyek itu
sendirian. Arifin sama sekali tidak percaya dengan keputusan itu karena ia
tidak memiliki pengalaman melakukan pengeboran.
Hasilnya, ia kelabakan karena proyek yang ditenderkan tahun 1979 sudah
harus mulai dikerjakan pada tahun 1980. Dengan perasaan yakin, ia pun
terima tantangan itu. Tahap awal ia instruksikan staf yang memiliki
kemampuan bahasa Inggris untuk menjajaki pusat penjualan peralatan
pengeboran di AS. Baru setelah ada kepastian dan diketahui harganya, ia
terbang dari Jakarta ke Houston, AS. Perjalanan itu merupakan pengalaman
pertamanya ke AS. Bermodal "bahasa Inggris Tarzan" dan uang 300.000 dollar
AS, ia melakukan deal dengan pemilik barang. Hasilnya, deal berangsung
buruk.
Penjual barang meminta dalam waktu dua minggu barang seharga 4 juta dollar
AS sudah dibayar, kalau tidak maka uang muka 300.000 dollar AS hangus. Ia
terpaksa menerima syarat itu karena posisi tawarnya yang jelek. Setelah
itu ia langsung terbang ke Indonesia. Saking panjangnya perjalanan dengan
tiket ekonomi, tiba di Indonesia langsung sakit. Namun, dengan kondisi
yang berat ia berusaha menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh, lalu
ke Pertamina.
Cara itu merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan karena ia masih
merupakan pengusaha "bayi". Beruntung, Pak Piet Haryono dan Pak Wiharso
memberikan rekomendasi, Medco patut dibantu. Dana pun cair di ambang batas
perjanjian. Proyek pun bisa berjalan sesuai waktu yang ditentukan
pemerintah.
Terhadap bantuan yang diberikan pemerintah itu, Arifin menilai sangat
positif agar pengusaha lokal mampu bersaing. Namun, tetap harus dilakukan
secara betul karena kalau tidak bisa, jadi salah arah. Di sinilah sulitnya,
kadang proteksi itu memberikan hasil yang sebaliknya. Mumpung dikasih
proteksi, pengusaha malah menjadi manja.
Setelah merintis usaha tahun 80-an, Medco memulai kejayaannya pada tahun
1990. Sebelum tahun 1990 Medco selalu bekerja sama dengan pihak ketiga dan
untuk masuk ke sana bukan hanya masalah konsistensi ketekunan dan normatif,
tetapi juga urusan garis tangan sebagai penentu. Sebab, untuk memburu satu
sumur minyak bukan urusan ribuan dollar AS, tetapi jutaan dollar AS dan
itu pun belum tentu ketemu minyaknya.
Namun, keinginan untuk bisa mandiri tetap ada, maka tahun 1990 untuk
pertama kali Arifin membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur,
seharga 13 juta dollar AS. Ladang itu mampu berproduksi 4.000 barrel per
hari (bph). Tahun 1995, beli lagi sumur minyak tertua PT Stanvac Indonesia
milik ExxonMobil, yang sampai saat ini total produksi yang dimiliki Medco
mencapai 80.000 bph.
Barangkali inilah prestasi paling gemilang dari Arifin dan perusahaannya,
Meta Epsi Drilling Company (Medco). Pembelian Stanvac dimenangkan melalui
tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu,
PT Stanvac tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua
di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.
Keberhasilan itu konon karena ada unsur tekanan dari pemerintah. Atas isu
tersebut, Arifin membeberkan bahwa ia membeli perusahaan minyak itu
melalui tender intemasional. Untuk bertemu langsung dengan orangnya saja
tidak bisa. Baru setelah selesai pembelian, mereka bisa benar-benar
bertemu. Ia membelinya secara langsung. Waktu itu cadangannya cuma 20 juta.
Kemudian tahun 1996 produksi digenjot. Hasilnya, satu lapangan saja bisa
mendapatkan 320 juta barel minyak.
Sukses di bidang perminyakan ternyata membuat Arifin berpikir lain masih
dalam sektor tambang. Kenapa orang lokal tidak bisa berjaya di gas,
seperti halnya di minyak. Padahal Indonesia kan salah satu produsen gas
terbesar di dunia dan banyak industri yang berteriak kekurangan gas?
Pernyaan inilah yang kerap membuatnya gundah. Jika kita lihat pada satu
sisi, Indonesia menempati posisi nomor satu di dunia dalam ekspor LNG
karena cadangan gas jauh lebih banyak dari minyak. Kini, cadangan sudah
mencapai 170 triliun kaki kubik (TCF). Jika cadangan itu diproduksi,
sampai 50 tahun pun tidak akan habis.
Gas itu ada di luar Pulau Jawa, tetapi tetap harus harus dibawa ke Pulau
Jawa karena berapa pun harganya tetap menarik. Misalnya PLN, jika membeli
gas harganya hanya 3 dollar per million metric british thermal unit (MMBTU)
sudah sangat mewah. Namun, kalau disetarakan dengan BBM sama dengan 18
dollar AS per barrel. Harga itu sangat murah dibandingkan harga BBM yang
harus dibayar PLN sebesar 30 dollar AS per barrel.
Namun, kembali lagi, kenapa gas tidak ada di Pulau Jawa, ini masalah
kebijakan pemerintah. Jadi, mestinya Bappenas atau Menteri bidang Ekuin
sama memikirkan, apakah terus bergantung minyak yang harganya 30 dollar AS
per barrel. Medco menjual ke Pusri 1,8 dollar AS ditambah ongkos pipa 0,5
sen dollar, sudah bisa untung.
Inilah yang ia anggap kebijakan itu keliru. Demikian juga proyek yang
dibangun oleh PT Perusahaan Gas Negara, yang berhasil menyambung pipa gas
ke Singapura, setelah itu membangun pipa ke Pulau Jawa adalah kebijakan
yang salah. Gas di Sumsel sebenarnya tak banyak lagi, jadi seharusnya
dibawa ke Jawa saja. Tetapi, barangkali pemeritah memiliki pertimbangan
harga di Singapura yang barangkali lebih baik.
Sukses di dunia bisnis membuatnya ikut berpetualang ke dunia politik.
Awalnya ia melakukan pertemuan di Hotel Radisson Yogyakarta tahun 1997.
Sebenarnya itu adalah pertemuan atau diskusi biasa. Namun, efeknya luar
biasa, khususnya buat Arifin. Ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum
MPR yang akan mengesahkan Soeharto menjadi Presiden ketujuh kalinya.
Ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi
kepada para demonstran yang melakukan aksi di Gedung DPR. Ribuan kotak
makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah
tokoh di belakang aksi atau cukong para mahasiswa. Namun, Arifin tahu
bahwa ia tidak sendiri. Gerakan reformasi merupakan suratan untuk
memperbaiki keadaan.
Cobaan terhadap langkahnya di dunia politik masih berlanjut. Di era
Presiden BJ Habibie, Arifin Panigoro kembali dijerat dengan tuduhan pidana
korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun.
Pada waktu itu, sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena
kedekatannya dengan gerakan mahasiswa. Bahkan pada masa pemerintahan
Megawati, Arifin kembali dicoba untuk dijerat lewat perkara di kejaksaan.
Sejak awal, dirinya yakin hanya dikerjain karena masih banyak pihak yang
tidak senang dengan aktivitas politik yang digeluti.
Pengalamannya sebagai pengusaha membuat dia tidak kaget dengan praktik
politik karena di dalamnya ada aktivitas melobi atau menggarap, juga money
politics. Baginya, hari-hari uang adalah urusannya. Dari permulaan bekerja
sebagai pengusaha, ia tidak pernah buat kesepakatan dengan fasilitas yang
diperolehnya.
Demikian juga dengan urusan politik yang juga bagian dari kompromi lintas
fraksi, kesepakatan semua kekuatan. Hal-hal begitu tidak selalu pakai uang,
cukup pengertian bahwa kita punya sesuatu yang lebih besar, mari kita
jalani sama-sama. Namun, perjalanan tidak selalu mulus, godaan banyak.
Apalagi kekuatan politik sekarang sesudah zaman Soeharto, relatif
pemainnya baru semua.
Meskipun terbiasa bermain dengan uang, namun Arifin mengaku memiliki
batasan dalam memainkan uangnya. Sayangnya, proses politik atau proses
pengambilan keputusan politik, ternyata uang yang berbicara. Padahal,
meskipun ia seorang pebisnis, tetapi ia mau bisnis tanpa uang. Meskipun ia
mengaku, cara bisnisnya memang tidak sebersih di AS. Di negara itu,
mentraktir makan di atas 100 dollar AS sudah termasuk kategori sogokan. Ia
tidak begitu amat, tetapi mendambakan good government and corporate
governance, supaya bisa membuat bangsa ini ke depan lebih baik.
Ia berhitung, hari ini, uang dihabiskan untuk apa saja. Ia mau menghitung
berapa total uang yang dikeluarkan dalam pemilihan kepala daerah di
Indonesia, yang akan membebani APBD setiap daerah. Jangan lupa, itu uang
rakyat dari pajak. Kalau pemimpinnya main, tentu menggelembungkan dana
proyek, tentu bawahan juga ikut ambil bagian. Dengan demikian korupsi
akibat kedudukan bisa menimbulkan efek berantai, jika dana diselewengkan
Rp 1 triliun, uang rakyat yang bakal hilang sekitar Rp 10 triliun untuk
pemilihan kepala daerah.
Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika
partai-partai baru bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Soeharto
dari kursi presiden. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan
berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat yan sudah lama dikenal
maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan,
Arifin kerap menghadirinya. Namun, akhirnya pilihannya jatuh ke PDI
Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Bersama PDIP, Arifin pun
melenggang menuju Senayan sebagai anggota DPR/MPR.
Untuk kategori pemain baru di dunia politik, sebenarnya karir politik
Arifin terbailang bagus. Ia bisa duduk di jajaran DPP partai peraih suara
terbanyak dalam pemilu. Ia pernah memimpin lintas fraksi, juga menjadi
Ketua Fraksi PDIP MPR. Namun, dunia politik memang seperti cuaca yang
cepat berubah. Arifin yang kerap dikenal sebagai anak “indekos” di partai
berlambang banteng merah gemuk itu dianggap sudah kurang loyal kepada
partainya dan mulai memihak lawan partai politiknya bernaung.
Arifin Panigoro yang dulu dianggap sebagai inspirator pembangunan jalan
mulus Presiden Megawati menuju kursi kepresidenan, kini dianggap sebagai
anak yang nakal. Isu pun merebak bahwa Arifin bakal dipecat. Namun, hingga
saat ini, isu tersebut tidak berbuah menjadi kenyataan.
Terhadap isu tersebut, ia berpendapat kalau dirinya dikeluarkan,
sepertinya ia harus membuat acara perpisahan dengan teman-teman. Tetapi,
sebetulnya ia sudah memikirkan untuk keluar. Menurutnya, kalau dikeluarkan
dirinya akan lebih senang. Seperti orang kerja, kalau berhenti tidak dapat
pesangon, kalau diberhentikan malah dapat pesangon.
Meskipun siap untuk keluar, namun mengenai masa depan politiknya masih
belum jelas, dan ia sendiri masih belum bisa mengira-ngira ke mana akan
berlabuh. Hal itu terjadi karena dari tahun 1998 ia termasuk non-partisan,
meskipun belakangan bergabung ke partai. Awalnya, ia datang pada setiap
acara peresmian partai baru, sampai akhirnya bergabung dengan PDIP.
Arifin menganggap dirinya sebagai seorang oportunis yang iseng-iseng. Atau
ia hanya ingin ada lima tahun periode yang lain, tidak hanya menjadi
seorang pengusaha.Tetapi yang pasti, hematnya, konyol jika berhenti lalu
serta-merta melawan PDIP, apalagi mau menggulingkan Megawati.
Jika benar-benar mundur dari dunia politik, kemungkinan ia akan relaksasi
dan bermain golf di Paris atau mencari sekolah khusus untuk mereka yang
sudah berumur di kota yang mempunyai makanan yang enak-enak. Mungkin enam
bulan istirahat dulu.
Ia juga termasuk orang yang respek terhadap cendekiawan muslim Noercholish
Madjid (Cak Nur). Menurutnya, Cak Nur itu bukan politikus, tetapi berminat
jadi presiden. Ketika pertama kali mengemukakan minatnya jadi presiden
Arifin termasuk orang yang awal-awal mendatangi dan bertanya, ternyata
jawabannya memang mau. Pikirnya, siapa pun ini, dia dari unsur yang
berbeda dibandingkan politikus yang lain. Dengan demikian bisa menjadi
ukuran moral, sebab moral juga harus terukur. Paling tidak, politikus ada
malu-malu sedikit. Jadi, pencalonan Cak Nur, sebenarnya dapat meningkatkan
kualitas pertandingan.
Mengenai kehidupan keluarganya, suami dari Raisis A Panigoro cukup bahagia.
Anak-anaknya sudah besar, bahkan yang tertua Maera Hanafiah sudah menikah
dan sebentar lagi dikarunia anak kedua. Adapun yang bungsu Yaser Mairi
sedang menambah pendidikan di Singapura pada bidang IT. Sekarang, meskipun
agak telat, ia sadar, kalau dirinya kurang memberikan perhatian kepada
anak-anak, karena jam kerja yang ngawur. Sekarang, sejak sekolah di luar
negeri, anak-anaknya seakan-akan lupa dengan orang tua.
Meskipun anak-anak itu bersekolah di luar negeri, namun tidak ada yang
secara khusus disiapkan menggantikannya. Anak pertamanya seorang ibu rumah
tangga, anak kedua tidak dipersiapkan untuk itu. Prinsipnya, Medco bukan
perusahaan keluarga, jadi sebaiknya dijalankan oleh profesional. Kebetulan,
adiknya orang minyak. Jadi, Hilmi Panigoro duduk Medco.
Ia juga tidak akan memaksakan anak-anak untuk meneruskan usaha orang
tuanya. Jika kapasitasnya sudah dipenuhi, silakan saja kalau mau
meneruskan. Ia mengaku tidak takut jika perusahaannya dipegang oleh orang
lain, toh semua aset, cadangan tidak ke mana-mana.
Meskipun kini sudah menjadi "raja minyak", suami dari Raisis A Panigoro
ini mengaku, kaya itu relatif. Dia mengaku tak pernah menghitung, apakah
dirinya kaya atau tidak, sebab semua hidup yang dijalani terus
menggelinding. Baginya, disebut kaya itu relatif, kalau di Indonesia,
seperti dirinya memang sudah menonjol. Sebagai orang yang beberapa kali
dicekal untuk bepergian ke luar negeri, ia pun bertanya untuk apa kekayaan
itu.
Sebagai orang yang romantis, ia mengaku merasa benar-benar kaya, kalau
berada dalam satu konser musik yang benar-benar disukai. Seperti saat ini,
setelah bisa menikmati alunan gamelan Jawa, maka setiap mendengar musik
Jawa itu sebelum tidur, dia merasa kaya. Jadi, baginya kaya cukup
sederhana, bukan harta melimpah atau kekuasaan.
Arifin juga sadar, suatu saat akan pendiun sebagai orang perminyakan.
Namun, tidak berarti ia akan berdiam diri. Ia merencanakan untuk
memfokuskan ke Medco yang lain yaitu di bidang agrobisnis. Sekarang ini
orang sedang banyak bicara tentang pertanian. Masalah minyak goreng yang
masih kurang kelapa sawitnya. Mungkin itu adalah salah satu pelabuhan yang
akan ditujunya kemudian.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber: = Humas DPR-RI
= Kompas, 24 Agustus 2003
|
|