| |
C © updated
02112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr sh |
|
| |
Nama:
Ariffi Nawawi
Lahir:
Malang. Jawa Timur, 12 Januari 1945
Jabatan:
Dirut PT (Persero) Pertamina (2003)
Pendidikan:
Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB)
Karir di Pertamina:
Trainee Pengilangan Unit Pengolahan (UP) V Balikpapan (1970-1973)
Asisten on site & off site di Balikpapan (1973-1976)
Kepala. ATE UP V (1976-1977)
Kepala Bidang Teknologi di UP II Dumai (1977-1980)
Kepala. Engineering UP II Dumai (1980-1984)
Kepala Kilang UP II (1984-1986)
Pejabat Sementara (Pjs) Kepala OPS UP II (1986-1987)
Staf Dinas Bangkil Direktorat Pengolahan (1987-1988)
Kasi.Pros BBM (1988)
Kepada Dinas Teknologi di Jakarta (1988-1989)
Kepala Dinas Bangkil di Jakarta (1989-1991)
Kepala Kelompok Engineering (1991-1999)
Kepala Divisi Renbang 1991-1995
Kepala Divisi BBM di Jakarta (1995-1997)
Vice Presiden Direktur PT. Arun Jakarta (1997-2000)
Direktur Pengolahan Pertamina (2000-2001)
Direktur Hilir Pertamina (3 Januari 2001)
Ketua Tim Restrukturisasi Proyek Tuban Petrochemical
Direktur Utama PT Pertamina (Persero).
Sumber:
= Kementerian BUMN, 18 September 2003
= Sinar Harapan Senin, 20 Oktober 2003
|
|
| |
|
|
|
|
Ariffi Nawawi
Nakhoda Pertama PT Pertamina (Persero)
Dia nakhoda pertama Pertamina setelah perusahaan minyak negara ini
berobah status menjadi PT (Persero). Di tangannya diserahkan
pengelolaan BUMN yang memiliki aset sekitar Rp 138 triliun itu. Ia orang
dalam Pertamina yang mengawali karirnya dari bawah. Ia diangkat menjabat
Direktur Utama PT Pertamina, dalam RUPS 17 September 2003. Kemudian
dalam RUPS tahun berikutnya, dia digantikan Widya Purnama, Rabu 11
Agustus 2004.
Pemerintah merombak total jajaran Direksi Pertamina ini, setelah perusahaan
minyak negara itu dijadikan perseroan. Dalam RUPS Rabu 17/9/03, Ariffi
Nawawi diangkat menjadi Dirut menggantikan Baihaki Hakim, Bambang Nugroho
menjadi Direktur Hulu menggantikan Eteng A Salam (pjs), Hari Purnomo
menjadi Direktur Hilir menggantikan Muchsin Bahar, Eteng A Salam menjadi
Direktur Pengembangan dan SDM menggantikan Bardi Machraman, dan Alfred H
Rohimone sebagai Direktur Keuangan menggantikan Ainun Naim.
Selain itu, sejalan dengan perubahan status Pertamina menjadi perseroan,
juga dibentuk Dewan komisaris terdiri dari Presiden Komisaris Laksamana
Sukardi dan anggota komisaris Roes Aryawijaya, Iin Arifin Takhyan,
Syafruddin Temenggung dan Anshari Ritongga. Kini Pertamina berada di bawah
pengawasan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara.
Serah terima jabatan Direksi Pertamina dilaksanakan Kamis 18/9/03 di
Kantor Menneg BUMN sekitar pukul 11.00.
Pengangkatan Ariffi adalah wewenang tiga menteri, yakni Menteri Keuangan
Boediono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dan
Menneg BUMN Laksamana Sukardi.
Ariffi adalah orang dalam di Pertamina. Sebelumnya ia menjabat Direktur
Hilir hingga digantikan Muchsin Bahar pada bulan Juli 2001. Kemudian
Ariffi mendapat tugas strategis untuk mengembangkan bisnis Petrokimia
Pertamina. Ia memimpin proyek-proyek petrokimia dan kilang BBM yang
merupakan proyek usaha patungan Pertamina.
Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 12 Januari 1945 ini mengawali karier
di Pertamina sejak tahun 1970 sebagai trainee Pengilangan Unit Pengolahan
(UP) V Balikpapan (1970-1973). Selanjutnya, alumni Fakultas Teknik Kimia
Institut Teknologi Bandung (ITB), ini memangku jabatan Asisten on site &
off site di Balikpapan (1973-1976), berikutnya sebagai Kepala. ATE UP V
(1976-1977).
Kemudian dipindahkan menjadi Kepala Bidang Teknologi di UP II Dumai dari
tahun 1977 hingga 1980. Setelah itu menjadi Kepala. Engineering UP II
Dumai tahun 1980-1984, Kepala Kilang UP II (1984-1986), dan selanjutnya
sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Kepala OPS UP II (1986-1987).
Setelah sekian lama bertugas di derah, selanjutnya ia diangkat ke
Pertamina Pusat. Pada tahun 1987 sampai 1988 ia menjabat sebagai staf
Dinas Bangkil Direktorat Pengolahan di Jakarta, kemudian Kasi.Pros BBM di
tahun 1988. Lalu menjadi Kepala Dinas Teknologi di Jakarta (1988-1989),
Kepala Dinas Bangkil di Jakarta (1989-1991), selanjutnya menjadi Kepala
Kelompok Engineering (1991-1999), Kepala Divisi Renbang 1991-1995 dan
Kepala Divisi BBM di Jakarta (1995-1997).
Ia kemudian menduduki jabatan sebagai Vice Presiden Direktur PT. Arun
Jakarta selama kurun waktu 1997-2000, sebagai Direktur Pengolahan
Pertamina hingga tahun 2001. Tanggung jawab terakhirnya di Pertamina
adalah sebagai Direktur Hilir sejak 3 Januari 2001 sebelum kemudian
memasuki masa purnakarya (pensiun). Ia kemudian menjadi Ketua Tim
Restrukturisasi Proyek Tuban Petrochemical sebelum pada akhirnya dipanggil
untuk menakhodai PT Pertamina (Persero).
Ariffi kepada pers mengatakan, program restrukturisasi yang sudah
dicanangkan oleh direksi lama akan diteruskan di masa kepemimpinannya.
Namun pada tahap awalo ia akan berkonsentrasi pada sektor pemasaran, agar
Pertamina terfokus mencapai keuntungan. Selain itu, ia akan terus
memperbaiki kultur perusahaan, serta meningkatkan peran sumber daya
manusianya.
”Sekarang kita menjadi persero, ini menjadi tantangan bagi Pertamina
sebagai pemain (player) dan bersaing dengan perusahaan lokal maupun
internasional. Tetapi ini juga membuka peluang yang lebih besar bagi kita,
baik sektor hulu atau upstream maupun downstream (hilir),” katanya kepada
pers di Jakarta.
Ia menyatakan akan menerapkan strategi yang berkonsentrasi di sektor hulu
dan menciptakan atau menghasilkan produk migas yang bernilai tambah tinggi.
Hal itu katanya, berangkat dari analisis bahwa Pertamina masih mampu
meningkatkan produksi maupun cadangan migas.
Berdasarkan master plan perusahaan, untuk lima tahun ke depan cadangan
minyak Pertamina ditargetkan mencapai 1,272 miliar barel (MMBO) dan gas
17,2 triliun kaki kubik (TSCF). Kemudian, kata Ariffi, manajemen akan
mengalokasikan 70 persen dari dana investasi yang jumlahnya disebut-sebut
mencapai US$ 5 miliar untuk lima tahun ke depan, untuk aktivitas di hulu.
Langkah itu dilakukan dengan pertimbangan matang bahwa sektor hulu selama
ini terbukti memberikan pemasukan yang cepat (rapid yield) bagi kantung
Pertamina dan tentunya pendapatan bagi Pemerintah.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|