| |
C © updated 04062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/suara merdeka |
|
| |
Nama:
Arbi Sanit
Lahir:
Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 4 Juni 1939
Agama:
Islam
Pendidikan :
- SD, Painan (1954)
- SMP, Painan (1957)
- SMA, Medan (1962)
- FISIP UI (1969)
- Program nongelar Sistem Politik Indonesia Universitas Wisconcin, AS
(1973-1974)
Karier:
- Kepala Bagian Kemahasiswaan (1970-1971), Sekretaris Departemen
Ilmu Politik (1971-1973), Kepala Bagian Administrasi (1971-1973), Kepala
Biro Administrasi Pendidikan (1974-1977), dan Pembantu Dekan III FISIP UI
(1975-1978)
- Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta (1980-1983)
- Ketua Harian Kelompok Kerja Perencanaan Pengembangan FISIP UI (1980-)
Kegiatan Lain:
- Anggota Redaksi Indonesia Magazine, Jakarta (1978-1979) Anggota
Redaksi Majalah Persepsi, Jakarta (1979-sekarang)
- Anggota Redaksi Majalah Ilmu dan Budaya, Universitas Nasional
(1981-sekarang)
Karya:
- Antara lain: Sistem Politik Indonesia, Penghampiran dan Beberapa
Aspek Lingkungan, YIIS, Jakarta, 1981
Alamat Rumah :
Kompleks Dosen UI, Ciputat 29, Jakarta Selatan
Alamat Kantor :
FISIP UI, Rawamangun, Jakarta Timur Telp.: 483547
|
|
| |
|
|
|
|
Arbi Sanit
Dosen dan Pengamat Politik
Pengamat politik dan dosen Ilmu Politik dari Fakultas Ilmu Sosial &
Politik Universitas Indonesia,
sebelum dan saat kuliah di FISIP UI, sambil bekerja di perusahaan
pelayaran Djakarta Lloyd, hingga menjadi asisten dosen di fakultasnya. Dia
Lulus pada 1969, dan menjadi dosen. Setelah itu, barulah Arbi berhenti
dari Djakarta Lloyd.
Lalu empat tahun kemudian, Anak kelima dari 11
bersaudara ini mengikuti studi bebas mengenai sistem politik Indonesia di
Universitas Wisconsin, AS. Pendidikan SD (1954) dan SMP (1957)
dijalani di kampung kelahirannya Desa Batangkapas, Painan, Pesisir Selatan,
Sumatera Barat. Setamat SD, dia sempat diminta kakaknya agar meneruskan ke
sekolah guru (SGB). Tetapi, dia menampik karena ingin seperti ayahnya,
menjadi ahli politik atau pelukis. Setelah menamatkan SMA di Medan (1962),
ia sempat bermaksud mendaftar di Akademi Seni Rupa, tetapi tidak jadi. Dia
lalu masuk FISI UI.
Selama sekolah dan kuliah, dia tergolong pendiam. Sifat
pendiam itu muncul sepeninggal ayahandanya, wedana Muara Labuh di
Sumatera Barat. Sejak itu, dia jarang bermain di luar rumah. Dia
menyendiri dan lebih suka belajar. Pada masa kuliah pun, dia tidak
terlibat kegiatan kampus. Bahkan dia tidak ikut dan tidak lulus mapram.
Soal PKB Arbi menilai keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendukung duet
Wiranto-Salahuddin Wahid merupakan kemunduran. PKB telah mengkhianati
reformasi demi kepentingan kekuasaan. Ia melihat motifnya hanya kekuasaan,
tidak ada kepentingan ideologi. Pria kelahiran Painan, 4 Juni 1939, ini mengatakan keputusan PKB
mendukung capres Partai Golkar, merupakan pilihan yang pragmatis dari
kondisi saat ini. Yakni PKB kini dalam posisi hanya bisa memberikan
dukungan karena tidak punya capres sendiri. Ia melihat motifnya hanya
kekuasaan, tidak ada kepentingan ideologi. "Masa mendukung militerisme.
PKB dan Gus Dur kan dulu blok reformasi," ujarnya.
Dalam kesempatan terpisah, pengamat politik ini mengatakan, pemerintahan
reformasi telah mengalami perluasan dan pendalaman korupsi sampai ke
daerah, yang selama ini mungkin belum tersentuh sehingga berakibat pada
kemerosotan kehidupan rakyat.
"Akibat pendalaman dan perluasan cara korupsi itu membuat Indonesia selalu
dianggap negara koruptor tinggi, dan di ASEAN sebagai terkorup sedangkan
di Asia kedua terkorup, dan di dunia sebagai ketiga terkorup," kata Arbi
Sanit, dalam seminar nasional "Menuju pemerintahan yang bersih dan
berwibawa", di Jambi, Senin (28/07).
Seminar nasional yang diselenggarakan LSM Tempat Pembicaraan Orang Banyak
(Tempoyak) itu, Arbi Sanit mengemukakan, indeks yang disusun UNDP tahun
2001, peringkat pengembangan SDM Indonesia adalah nomor urut 102 di Dunia
atau setingkat di bawah Vietnam,dan 19 tingkat di atas Kamboja.
"Keadaan itu persis sama dengan Indonesia tahun 1966, atau tiga tingkat di
atas tahun 1977 dan 1998 dan tujuh tingkat di bawah tahun 1999-2000,"
katanya, lalu mengemukakan bahwa tingkat korupsi Indonesia sudah tidak
diragukan lagi peningkatannya dari tahun ke tahun.
Tingkat korupsi itu, lanjut Arbi Sanit, juga membuktikan bahwa kondisi SDM
rakyat Indonesia menunjukkan pemerintah dan pemerintahan yang otoriterian,
salah urus dan mandul selama lebih empat dekade, yang menghabiskan lebih
dari tiga perempat waktu kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.
Arbi Sanit mengemukakan pula, agar kondisi itu tidak berlanjut dan
berkembang terus menerus, dibutuhkan pemerintahan yang bersih sebagai
solusi dari permasalahan yang dihadapi negara dan bangsa sekarang ini.
Dia mengakui, secara paradigma ada tiga bentuk pemerintahan di dalam
perkembangannya.
Pemerintahan birokrat, yaitu bentuk sistem pemerintahan modern, kewenangan
untuk memerintah adalah dasar kehadiran dan kinerja dan kewenangan itu
diformalkan melalui UUD dan Perundangan lainnya, sehingga pemerintah
berkuasa secara syah dan berhak melakukan represi kepada rakyat yang
mengingkari.
"Tapi kecenderungan oligarkhi pemegang kewenangan pemerintah membelokkan
pemerintah demokrasi menjadi birokratisasi, sehingga menimbulkan peluang
penguasa untuk enyalahgunakan kekuasaan dalam berbagai bentuk yang
memuncak menjadi korupsi," katanya.
Arbi Sanit tampil pada seminar nasional itu dengan makalah "Tantangan dan
Peluang Pemerintahan terbaik", bersama tokoh lainya seperti, Drs Ali
Maskur Musa (F-KB DPR-RI) dan Ir Samuel Abdullah Koto (F-Reformasi DPR-RI).
Seminar yang dimotori LSM Tempat Pembicaraan Orang Banyak (Tempoyak) Jambi
tersebut, bertujuan untuk memberikan wacana dan solusi bagi terwujudnya
pemerintahan yang bersih. ► tsl-ant-dc
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|