| |
C © updated 10012007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sk |
|
| |
Nama:
Drs H Anwar Adnan Saleh
Lahir:
Polman (Polewali Mandar), 20 Agustus 1948
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur Sulawesi Barat
Karir:
- Anggota Komisi IV DPR
- Gubernur Sulawesi Barat
|
|
| |
|
|
|
|
| ANWAR ADNAN HOME |
|
|
 |
Drs H Anwar Adnan Saleh
Gubernur Sulawesi Barat Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) ini
berobsesi mengembangkan kakao menjadi komoditas unggulan
yang mendunia dari Sulbar. Obsesi itu didorong tekadnya untuk
menyejahterakan rakyat Sulbar sekaligus menjadikan Indonesia sebagai
penghasil kakao terbesar kedua di dunia menggeser Ghana.
Sebagai provinsi penghasil kakao terbesar di Indonesia,
Sulbar memberikan kontribusi sebesar 20 persen dari produksi kakao
nasional. Gubernur Anwar Adnan Saleh menargetkan
pada tahun 2010 Sulbar mampu menghasilkan 400 ribu ton kakao per
tahunnya. Saat ini masih rata-rata 110-115 ribu ton per tahun.
Sebelum menjabat Gubernur, Anwar Adnan Saleh seorang politisi (Partai
Golkar), ia pernah menjabat anggota DPR/MPR pada periode 1999-2004 dari
daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, duduk di Komisi IV yang membidangi
transportasi.
Tokoh yang berperan dalam proses berdirinya Provinsi Sulbar, itu
terpilih menjadi Gubernur Sulbar berpasangan dengan Muhammad Amri Sanusi
(Wakil Gubernur Terpilih) dalam Pilkada 28 Agustus 2006. Mereka dilantik
pada 14 Desember 2006.
Dia menggantikan Syamsul M. Rivai (Penjabat Gubernur 21 Oktober 2005
14 Desember 2006). Sebelum Rivai, jabatan Gubernur Sulbar dipercayakan
kepada Oentarto Sindung Mawardi (Penjabat Gubernur 16 Oktober 2004 21
Oktober 2005). Oentarto sebelumnya menjabat Dirjen Otda Depdagri.
Sulawesi Barat dibentuk pada 5 Oktober 2004 berdasarkan UU No 26
Tahun 2004, merupakan provinsi pengembangan dari provinsi Sulawesi
Selatan. Provinsi seluas 16.796,19 km2 dan berenduduk 938.254 jiwa, ini
beribukota di Mamuju. Penduduknya terdiri dari Suku Mandar (49,15%),
Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan
lainnya (19,15%). Agama Islam (83,1%), Kristen (14,36%), Hindu (1,88%),
Buddha (0,04%), Lain-lain (0,62%).
Bahasa sehari-hari, selain Bahasa Indonesia, juga bahasa Mandar,
bahasa Bugis, bahasa Toraja, dan bahasa Makassar.
Sulawesi Barat dikenal sebagai lokasi wisata. Selain kakao, daerah ini
juga penghasil kopi robusta ataupun kopi arabika, kelapa, dan cengkeh.
Di sektor pertambangan terdapat kandungan emas, batubara, dan minyak
bumi.
Provinsi ini terdiri dari lima kabupaten, yakni: Kabupaten Majene,
Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamuju Utara, dan
Kabupaten Polewali Mandar; serta satu kota yakni: Kota Mamuju. ►ti/tsl
***
Obsesi yang digadang-gadang mantan Anggota Komisi IV DPR dan tokoh
pembentukan provinsi Sulbar ini tentu bukan isapan jempol belaka.
Keinginan untuk mengembangkan komoditas kakao didasarkan atas beberapa
alasan. Pertama karena Sulbar menjadi daerah penghasil kakao terbesar di
Indonesia. Faktor kedua, karena 60 persen penduduk Sulbar hampir
menggantungkan hidupnya dari budidaya kakao.
"Sederhana saja, kalau kakao berhasil kita kembangkan maka akan
mempercepat proses pengentasan kemiskinan di Sulbar," ucap Anwar Adnan
Saleh. Pria kelahiran Polman (Polewali Mandar), 20 Agustus 1948 ini.
Dia
menambahkan bahwa saat ini petani kakao di Sulbar telah memiliki
rata-rata 1-2 Ha lahan yang menjadi hak milik sendiri. Namun, ada satu
persoalan yang mendera petani kakao karena umumnya tanah mereka tidak
bersertifikat sehingga tidak bisa diagunkan di bank untuk kepentingan
permodalan. "Sistem yang dikembangkan di perbankan kita kan berdasarkan
model jaminan, bukan melihat pada prospek" kritik Anwar.
Kondisi ini yang mendorong Sang Gubernur memberikan kemudahan bagi
rakyatnya yang notabene hidupnya bertumpu kepada penghasilan kakao untuk
mendapatkan sertifikat dengan program prona.
Tak hanya dari sisi permodalan, pengembangan industri kakao juga
didukung dengan pengembangan tekonologi baru. "Jika sebelumnya petani
kakao hanya mendapatkan 0,6 ton per Ha, maka dengan teknologi baru dan
bibit baru berupa sistem sambung samping hanya dalam 1 tahun 4 bulan
bisa panen relatif cepat dan hasil panennya bisa meningkat 3-4 kali
lipat dengan mutu yang lebih baik. Sulbar memiliki 156.898 Ha dengan
produksi 90.436 ton per tahun. Produksi kakao secara nasional saat ini
mencapai 600.000 ton atau setara US$ 700 juta.
Penghasil Terbesar
Meski Sulbar memberikan kontribusi sebesar 20 persen dari produksi kakao
nasional dan merupakan provinsi penghasil kakao terbesar di Indonesia
tetapi belumlah mampu mengentaskan kemiskinan di seluruh kabupaten di
provinsi ke 33 Republik Indonesia ini. Berbagai kendala, seperti
minimnya infrastruktur atau aksesibilitas dan teknologi serta rendahnya
produktivitas tanaman mengakibatkan potensi ini belum memberikan nilai
ekonomi secara signifikan (baca: "Kendala Kami Ada di Infrastruktur").
Selain kualitasnya rendah, jelas Anwar Adnan Saleh, permainan tengkulak
pun menyebabkan kerugian cukup besar di tingkat petani. Misalnya harga
kakao ditingkat petani dibeli dengan harga Rp 4.500 per kg, sementara
harga di pedagang besar di Makassar bisa memperoleh Rp 15.000 per kg,
bahkan bisa lebih tinggi lagi di Malaysia. Jika dihitung secara cermat
setiap tahun petani kakao Sulbar kehilangan pendapatan sebesar Rp 500
milliar akibat harga kakao ditingkat petani sangat rendah tersebut. Hal
yang sangat ironis meski permintaan kakao dunia terus saja meningkat.
Tak bermaksud untuk muluk-muluk, Gubernur Anwar Adnan Saleh menargetkan
pada tahun 2010 Sulbar mampu menghasilkan 400 ribu ton kakao per
tahunnya. "Untuk saat ini rata-rata baru 110-115 ribu ton per tahun,"
jelasnya. Komitmen dan keseriusannya kepada potensi kakao dalam
memperkuat ekonomi dan kesejahteraan rakyat Sulbar dia tunjukkan dengan
memunculkan program "Gerakan Pembaruan Kakao" (cokelat) dengan
melibatkan tim-tim ahli dari Universitas Hasanudin Makassar, IPB Bogor
dan ITB Bandung untuk membantu menerapkan konsep-konsep yang tepat
terhadap pengembangan kakao. "Saya juga telah meminta kepada pemerintah
pusat dan kebetulan sudah mendapat persetujuan untuk memindahkan Balai
Penelitian Kakao yang saat ini ada di Jember untuk dipindahkan ke Sulbar.
Untuk mendukung program itu, saya sudah siapkan lahan 15 Ha dan anggaran
dari APBD untuk melengkapi fasilitasnya," jelas Anwar Adnan Saleh yang
juga Ketua DPD Partai Golkar Sulbar.
Mengangkat Perekonomian
Gubernur Anwar meyakini jika dikembangkan dengan baik, maka budidaya
kakao akan mengangkat perekonomian masyarakat Sulbar. Apa sebabnya,
karena kakao telah menjadi komoditas yang mendunia. "Indonesia sendiri
menempati nomor tiga di dunia dalam produksi kakao. Nah, jika kita
optimalkan adalah sebuah keniscayaan kalau 3-4 tahun kedepan, Indonesia
dapat menggeser Ghana di peringkat kedua negara penghasil kakao terbesar
di dunia setelah Pantai Gading,"tegas alumni IIP Jakarta.
Saat ini, pasar kakao yang notabene menjadi bahan baku cokelat telah
mengglobal di seluruh Eropa, AS dan China. Salah satu keunggulan
komparatif yang dimiliki Indonesia karena kakao tidak bisa tumbuh di
Eropa ataupun China. "Ini peluang besar bagi Indonesia dan juga Sulbar.
Permintaan demikian besar sementara negara penghasil kakao sangat
terbatas, nah mengapa kondisi ini tidak bisa kita manfaatkan dengan baik?"
Saat ini, Gubernur Anwar secara aktif telah membangun jaringan pemasaran
dengan mengirimkan ahli-ahlinya ke Korea Selatan. Buah yang bisa dipetik,
saat ini sudah ada investor dari Korea yang berinvestasi dengan
mendirikan pabrik di Mamuju. Tak hanya itu, Anwar juga mengaku telah
mengirimkan beberapa profesor ahli kakao yang dimilikinya untuk
berbicara dan mempromosikan kakao yang dimiliki oleh Sulbar dalam sebuah
pameran dagang di Perancis. Ia berharap, promosi itu akan menarik minat
bagi investor asing untuk terlibat dalam budidaya komoditi ini.
Lemahnya pemasaran produk kakao Indonesia diakui secara jujur oleh
mantan Ketua Kadin Indonesia jaman Aburizal Bakrie ini. "Saat ini,
Malaysia bisa mengekspor 270 ribu ton padahal mereka tidak memiliki
kebun kakao. Mereka beli itu dari Indonesia, diolah di Malaysia kemudian
mereka ekspor," tuturnya. Ia mengakui jika pasar terbesar kakao Sulbar
memang Malaysia. Namun selama ini, petani kakao belum bisa mendapatkan
manfaat optimal karena rantai perdagangan harus melalui tengkulak
sehingga harga yang diterima petani kakao akan rendah.
"Saya sudah bertemu dengan teman-teman pengusaha dari Malaysia. Mereka
bilang kalau pelabuhan Sulbar telah diperpanjang maka mereka akan
langsung beli kakao ke kita dengan harga yang lebih kompetitif sehingga
lebih menguntungkan petani kita," ungkapnya (Sofyan, Suara Karya, Sabtu,
24 Nopember 2007) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|