|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
R updated 070702 | ||||||||||||||||||||||||||||
|
|
![]() Nama : Antonius Joenoes Supit Status perkawinan : Kawin Pendidikan : 1970 – 1973 : FIPK Unika Atma Jaya Jakarta Pengalaman Kerja : 1970 – 1976 : Perwakilan Fa. Dwi Karya Manado, Jakarta 1976 – 1982 : Direktur Bina Kosmos, Manado 1983 – 1985 : Direktur PT. Argasoka, Manado 1983 – 1986 : Direktur PT. Bangun Wenang Beverages Company (Bottling Coca Cola) Manado 1981 – 1989 : Direktur PT. Abe Sejahtera, Jakarta 1989 – 1999 : Direktur PT. Lintas Adhikrida, Jakarta 1999 – sekarang : Vice President Sierad Group, Jakarta Organisasi : 1979 – 1982 : Bendahara KNPI Propinsi Sulawesi Utara 1983 – 1986 : Bendahara KUKMI Propinsi Sulawesi Utara 1991 – 1994 : Sekretaris II Asosiasi Pengusaha Sepatu Indonesia (APRISINDO) 1994 – 1997 : Ketua II APRISINDO April 1997 – sekarang : Ketua Umum APRISINDO Desember 1999 – Agustus 2000 : Anggota Dewan Pengembangan Usaha Nasional (DPUN) September 2000 – sekarang : Ketua Kolektif Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) |
Antonius Joenoes Supit Patriotisme Pengusaha Bervisi JauhSebagai ketua asosiasi perusahaan sepatu, Anton Junus Supit cukup konsisten memperjuangkan kepentingan anggotanya. Ketika muncul kabar adanya sejumlah perusahaan -- terutama perusahaan persepatuan -- melarikan usaha ke luar negeri, tiba-tiba mencuat pernyataan Supit yang menyejukkan. “Tidak ada relokasi usaha. Yang ada pengembangan usaha ke luar negeri,” katanya ketika itu. Suara ini tentu saja berbeda dengan pernyataan Sekjen Aprisindo, Djimanto, yang mengatakan bahwa ada sebagian pengusaha terpaksa pindah ke luar negeri karena tidak mungkin lagi melakukan produksi di Indonesia. Atau dalam bahasa Djimanto, “mencari cadangan tempat untuk memenuhi tuntutan order.” Tetapi Anton menolak disebut berbeda: “cuma beda pengemasan saja. Substansinya kan sama. Apa yang berbeda.” Anton membantah dikatakan bahwa pengusaha yang melakukan relokasi usaha ke luar negeri tidak nasionalis. Para pengusaha memiliki rasionalisme yang tinggi. Nasionalisme itu bukan hanya milik politisi atau pun tentara. Bedanya, patriotisme pengusaha bervisi jauh, bukan nasionalisme dan patriotisme sempit. Misalnya, apa yang ditunjukkan ketika mereka mengusulkan untuk menggunakan robotisasi dalam industri berteknologi tinggi. “Kalau itu berhasil, turunan industrinya kan mampu menyerap tenaga kerja yang besar.” Menurut dia, soal Kepmenaker No. 150/2000 itu sudah dikeluhkan para pengusaha sejak sebelum kelahirannya. “Di tingkat Sekber Tripartit saja, usulan itu tidak lolos. Tetapi tetap dipaksakan untuk lahir. Itu jelas tidak adil.” Anton juga mengecam kebijakan pemerintah dalam menangani sektor perburuhan. Ia melihat, sejak awal pemerintah tidak memiliki konsep yang jelas dalam mengelola perburuhan. Misalnya, ketika Menaker Sudomo, pemerintah menolak kebijakan untuk melakukan “robotisasi” sebagian industri, terutama yang terkait dengan industri berteknologi tinggi. Alasannya, kebijakan itu akan menutup kesempatan berusaha kelompok masyarakat, dan bisa meningkatkan tingkat pengangguran. “Tapi coba sekarang, kita ketinggalan jauh dalam industri TI (teknologi informasi). Sementara para pengusaha yang ditolak menggunakan fairchild dalam industrinya beralih ke Malasyia.” Pada akhirnya, menurut Anton, Malaysia ketiban untung. Saat ini, Malaysia menjadi salah satu negara yang memiliki industri TI paling tinggi di kawasan Asia. Ia menilai, kebijakan keberpihakan pemerintah terhadap buruh jelas kurang visioner. Andaikata pemerintah mengizinkan digunakannya robot untuk sebagian industri yang memang membutuhkan presisi tinggi, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi kekuatan industri TI di Asia, seperti yang terjadi di Malasyia saat ini. Seharusnya, kata Anton, pemerintah bertindak sebagai wasit yang adil dan jujur. Tidak pilih kasih dalam memperlakukan pengusaha maupun buruh. Sebab keduanya menjadi faktor yang saling mendukung. Tanpa pengusaha, kesempatan kerja akan terbengkalai. Sedangkan tanpa buruh, pengusaha tidak dapat berproduksi. Karena itu, hal yang perlu disadari oleh pemerintah adalah antara pengusaha dan buruh memiliki tujuan dan kepentingan yang berbeda. “Untuk itu butuh wasit yang adil. Bukan seperti saat ini.” Untuk itu, ia tidak menyalahkan rekan-rekannya yang telah memindahkan pengembangan usahanya ke Thailand, Vietnam maupun China. Sepanjang iklim usaha di Indonesia tidak kondusif, mereka memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di luar negeri. “Kalau kami terus diganggu dengan masalah-masalah itu, terutama masalah buruh, kapan kami bekerja. Sementara pemerintah tidak dapat berbuat adil.” Berbincang dengan Anton memang cukup menyenangkan. Wawasannya luas, sehingga ia mampu memperlakukan lawan bicaranya dengan cukup hangat. Di sela-sela melayani pertanyaan TEMPO Interaktif, ponsel Nokia 9110 tak henti berdering. Sabtu pekan lalu itu, kesibukan Anton masih belum tuntas. Memang, tiap akhir pekan, jadwal acaranya menjadi sangat padat. “Sabtu justru makin sibuk. Karena banyak pertemuan-pertemuan yang harus saya lakukan di hari Sabtu,” kata putra Minahasa yang senang mengemudikan mobil itu. Ada satu hal yang membuat orang penasaran: berapa usia Anton. Soalnya, ia enggan membukanya. Ia memang selalu mengelak ketika ditanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Ia tidak menyebutkan di mana lahir, besar, sekolah dan seterusnya. Yang sempat ia katakan tentang pendidikannya adalah: “saya tidak sempat menyelesaikan studi di jurusan manajemen Unika Atmajaya.” Itu tak lain, karena masa mahasiswanya dihabiskan dengan menggeluti organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Karena itu, ketertertarikannya pada dunia politik tidak bisa dihapuskan begitu saja. Meskipun dalam aktifitas keseharian banyak berkecimpung dalam dunia bisnis. Beberapa kali ia menduduki posisi eksekutif puncak di beberapa perusahaan. Kini ia masih menduduki posisi eksekutif di sebuah perusahaan sepatu. Tetapi, akunya, di sana ia hanya membantu mengatasi persoalan manajemen. “Saya cuma membantu saja. Kalau kesehariannya bukan saya yang memutuskan,” tambah Anton sambil terus berkonsentrasi mengendalikan mobil Volvonya. Sekarang, di kediamannya di kawasan Lebak Bulus, Anton hanya ditemani sang istri. Karena kedua anaknya sudah bekerja di New York, Amerika Serikat. Sementara bungsunya tengah menyelesaikan studi di Australia. “Ya, saya hanya berdua saja dengan mantan pacar. Asyik juga seperti muda dulu,” katanya berseloroh. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Tempo Interaktif/Deddy Hermawan) |
||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |