| |
C © updated 31012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/sm |
|
| |
Nama:
Anton Moedardo Moeliono
Lahir:
Bandung, 21 Februari 1929
Agama :
Katolik
Istri:
Cecilia Soeparni Josowidagdo, bekerja sebagai notaris
Anak:
1. Miriam Dian Pramesti
2. Isbia Nilam Paramitadia
Cucu:
Empat (4) orang
Ayah:
R.M. Moeliono Prawirohardjo
Ibu:
Maria Igno Tjitrosentono
Pendidikan:
1. Tahun 1956, memperoleh gelar sarjana bahasa dari Fakultas Sastra
(FS) Universitas Indonesia (UI), Jakarta
2. Tahun 1965, memperoleh gelar Master of Arts in General Linguistic, dari
Cornell University, Amerika Serikat
3. Tahun 1981, memperoleh gelar doktor Ilmu Sastra Bidang Linguistik, dari
FS UI Jakarta
4. Tahun 1982, menjadi guru besar bahasa Indonesia dan lingustik pada FS
UI, Jakarta.
5. Tahun 1995, memperoleh gelar kehormatan doktor honoris causa ilmu
sastra dari Universitas Melbourne, Australia
6. Tahun 1970, berkenalan dengan kelompok lingusitik dari Amerika Serikat
Karya Tulis:
1. Menerbitkan buku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tahun 1972
2. Menerbitkan buku Tata Bahasa Baku Indonesia, tahun 1988
3. Menerbitkan buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (Ed. 1), tahun 1988
4. Menerbitkan buku Santun Bahasa, tahun 1984
5. Menerbitkan buku Masalah Bahasa yang Dapat Anda Atasi Sendiri, tahun
1988
6. Menerbitkan buku Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar, tahun 1989
Pekerjaan:
1. Tahun 1973-1977, memproduksi 200 siaran televisi di TVRI
2. Tahun 1968-1971, mengasuh rubrik Santun Bahasa di Harian Kompas,
Jakarta
3. Tahun 1982-1983, Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Sastra, FS UI
4. Tahun 1987-2000, Ketua Program Studi Linguistik Pasca Sarjana, FS UI
5. Tahun 1989-1990, Ketua Jurusan Sastra Germania, FS UI
6. Tahun 1991-1995, Ketua Program Studi Sastra Belanda, FS UI
7. Sejak tahun 1960, bekerja di Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan
Nasional, antara lain sebagai Kepala Bidang Perkamusan, Ketua Komisi
Istilah Seksi Linguistik, dan Wakil Ketua Komisi Istilah
8. Tahun 1984-1989, Kepala Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional
9. Tahun 1990-1992, Direktur Eksekutif Indonesia Linguistic Development (Proyek
Kerjasama Universitas Leiden-Pusat Bahasa)
10. Tahun 1993 hingga sekarang aktif sebagai konsultan bahasa terutama
peristilahan
11. Tahun 1962-1999 Anggota Yayasan Atmajaya, Jakarta
12. Tahun 2000 hingga sekarang, guru besar tetap FKIP Atma Jaya merangkap
sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan.
Kegiatan Lain :
- Anggota Perintis dan Pendiri Yayasan Atma Jaya (1960)
- Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Atma Jaya Jakarta (1964-1970)
- Ketua Badan Harian Yayasan Atma Jaya (1967-1968)
- Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Pendidikan
(1967-1970)
- Direktur Pusat Penelitian Atma Jaya (1974-1986; 1991-1994)
- Wakil Ketua Ikatan Sarjana Katolik (1959-1963)
- Wakil Ketua Ikatan Sarjana Sastra Indonesia (1961-1966)
- Anggota Linguistic Society of America (1965-2000)
- Wakil Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia (1975-1979)
- Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (1984-1990)
- Penasihat Pengurus Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (1997-2000)
Hobby:
Mendengar musik klasik Barat dan gamelan, serta menonton opera La
Boheme dan Madam Butterfly
Penghargaan :
- Satyalencana Karya Satya RI (1983) - Ksatria Ordo Gregorius
Magnus, Vatikan (1993) - Doctor of Letters Honoris Causa, Melbourne
University, (1995) - Knight Officer Ordo Oranje-Nassau, Belanda (1996)
Alamat Rumah :
Jalan Kartanegara 51, Jakarta 12110 Telepon 7247281 Faksimile
72799539
|
|
| |
|
|
|
|
Anton Moedardo Moeliono
Pembaku dan Perawat Bahasa Indonesia
Pria Jawa pembaku sekaligus perawat bahasa Indonesia kelahiran Bandung 21
Februari 1929 ini berperan besar menjadikan bahasa Indonesia menjadi
bahasa yang maju seperti dikenal sekarang. Pembentukan bahasa Indonesia
yang baik dan benar itu dia awali dengan kelahiran Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) di tahun 1972, dimana suami dari Cecilia Soeparni
Josowidagdo, ayah dua orang putri serta kakek empat orang cucu ini, adalah
salah satu “bidannya”.
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1988) adalah dua buku lain yang turut dia “bidani” untuk semakin
memperkukuh eksistensi bahasa Indonesia agar lebih dicintai, dibanggakan,
dan disetiai sesuai prinsip trilogi bahasa Indonesia yang dia anut.
Penikmat musik klasik Barat yang juga salah seorang perintis dan pendiri
Yayasan Atmajaya ini banyak memasukkan istilah baru untuk semakin
memperkaya bahasa Indonesia. Guru besar di Fakultas Sastra Universitas
Indonesia (FS-UI) dan Unika Atmajaya telah membimbing banyak mahasiswa
untuk meraih gelar sarjana, master, hingga doktor bahkan sebagian menjadi
pakar di bidang bahasa Indonesia.
Seandainya intensitas penampilannya selama belasan tahun di TVRI satu
setengah dekade lalu membawakan acara Pembinaan Bahasa Indonesia setting
waktunya diubah menjadi sekarang, saat stasiun televisi swasta mulai marak,
maka, bisa dipastikan Anton M Moeliono akan masuk dalam jajaran selebritis
terkenal sama seperti para presenter TV lain yang sukses memupuk
popularitas.
Namun bisa juga sebaliknya dia akan “tenggelam” mengingat kaum cerdik
cendekia dan intelektual hingga pejabat Indonesia masih belum semua peduli
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan betul.
Padahal, menurutnya sebuah bahasa berpeluang menjadi bahasa internasional
bukan karena banyaknya penutur melainkan karena kecendekiaan dan kemahiran
para penutur itu berbahasa. Bahasa Inggris, kata dia, menjadi bahasa
internasional utama karena penuturnya cendekia dan mahir berbahasa
sehingga menjadi pelopor ilmu pengehatuan.
Sebagai perawat bahasa Indonesia, Anton M Moeliono dengan sosok tinggi
besarnya sangat dikenal luas berkat acara yang dia asuh Pembinaan Bahasa
Indonesia di TVRI. Sejak tahun 1973-1977 tak kurang 200 siaran pernah dia
selenggarakan. Dia adalah satu dari sedikit pembicara publik pertama dalam
sejarah siaran televisi di Indonesia.
Sementara antara tahun 1968-1971 untuk konsumsi media cetak dia mengasuh
rubrik Santun Bahasa di harian Kompas, Jakarta sebagai ajang komunikasi
timbal balik bagi pembaca suratkabar yang ingin menanyakan ejaan, tata
bahasa, istilah, dan saran mengatasinya.
Anton M Moeliono dikenal sebagai pembaku sekaligus perawat bahasa
Indonesia in optima forma. Pengenalan itu muncul lantaran Anton begitu
gesit menemukan padan kata yang memadai. Entah itu dipungut dari khazanah
usang, atau berupa rekacipta untuk setiap istilah asing yang memuat konsep
atau makna yang untuk kuping orang Indonesia masih baru. Guru besar
emeritus linguistik Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini dijuluki
pula sebagai perekayasa istilah.
Anton M Moeliono memberikan sumbangan besar akan kemajuan bahasa
Indonesia, terlebih saat memimpin Pusat Bahasa di tahun 1984-1989. Dia
adalah salah satu ikon kemajuan bahasa Indonesia bersama sedikit nama lain
yang pernah ada. Lahir di Bandung 21 Februari 1929, pemilik nama lengkap
Anton Moedardo Moeliono ini pada sisi lain adalah juga salah satu
representasi dari jargon “bahasa Indonesia yang baik dan benar” yang
sangat populer di zaman Orde Baru.
Sebagai jargon ungkapan itu seringkali dikedepankan manakala ditemukan
penutur yang kurang mahfum berbahasa Indonesia. Namun jargon itu akan pula
surut tak menampakkan pengaruh manakala kata-kata seperti “penyesuaian
harga” dipakai sebagai eufimisme terhadap fenomena kenaikan harga-harga.
Bahasa memang lentur untuk dikontruksi, direkonstruksi, maupun
didekonstruksi sehingga terkadang ada muatan tertentu di setiap penggunaan
bahasa.
Sebagai misal, Indonesianis Bennedict Anderson dari Universitas Cornell,
dalam kolomnya di majalah Tempo 6 Januari 2002 lalu menuliskan bahwa di
belakang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang dipaksakan pada bangsa
Indonesia oleh “Babe dan para Pudjonggo setianja” itu ada maksud politik
jahat. Maksud politik itu, menurut Anderson, mencap semua buku, dokumen,
dan majalah dari zaman sebelum Soeharto sebagai barang usang. Otak
anggkatan muda dengan begitu dicuci habis-habisan.
Sebagai pembaku bahasa, Anton adalah bidan utama kelahiran Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) tahun 1972, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988),
dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988). Ketiga produk itu lahir di masa
Orde Baru.
Tegakkan trilogi bahasa Indonesia
Ayah dua orang putri Miriam Dian Pramesti dan Isbia Nilam Paramitadia
serta kakek empat orang cucu ini sesungguhnya tidak pernah bermaksud
mendalami bahasa Indonesia. Dia, ketika itu secara kebetulan saja membaca
iklan beasiswa ikatan dinas masuk ke Fakultas Sastra (FS) Universitas
Indonesia (UI) untuk menjadi pegawai bidang bahasa.
Zaman yang menghampiri kehidupannya ikut menentukan perkembangan dan
pengembangan diri dia ketika itu. Setelah lulus meraih gelar sarjana
bahasa di tahun 1956 dia mengajar sebagai dosen sekaligus menjadi tenaga
tidak tetap di Lembaga Bahasa dan Kebudayaan. Dari sanalah kepakaran dia
sebagai ahli bahasa mulai berkembang.
Tahun 1965 dia memperoleh gelar Master of Arts in General Linguistic dari
Universitas Cornell, Amerika Serikat. Kemudian, di tahun 1970 dia mulai
berkenalan dengan kelompok lingusitik Amerika yang mengajarinya
perencanaan bahasa. Sejak perkenalan itu dia mulai mengembangkan wawasan
bagaimana semestinya bahasa Indonesia diperlakukan. Di tahun 1981 dia
berhasil memperoleh gelar doktor Ilmu Sastra Bidang Linguistik FS UI, dan
setahun kemudian tepatnya tahun 1982 dia diangkat menjadi guru besar
bahasa Indonesia dan lingustik pada FS UI.
Di tahun 1995 Universitas Melbourne Australia pernah menganugerahkan gelar
doktor honoris causa Ilmu Sastra kapada dia, pakar bahasa yang telah
menghasilkan beberapa karya buku yang sampai saat ini masih digunakan
sebagai acuan. Antara lain, buku Santun Bahasa (1984), Masalah Bahasa yang
Dapat Anda Atasi Sendiri (1988), dan Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan
Tersebar (1989). Selain itu, aktivis berbagai organisasi terutama bidang
kebahasaan ini adalah penyunting beberapa buku mengenai ejaan, pembentukan
istilah, dan penyunting penyelia Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi I
(1988).
Dosen yang kini mengajar di Unika Atmajaya Jakarta itu tetap ingin
menegakkan trilogi bahasa Indonesia. Yakni, aku cinta bahasa Indonesia,
aku bangga pada bahasa Indonesia, dan aku setia pada bahasa Indonesia
tanpa pernah melakukan selingkuh. Karena itu dia sesungguhnya tidaklah
berniat mengajarkan bahasa Indonesia kecuali mengembangkan sikap yang baik
terhadap bahasa Indonesia. Trilogi itu sudah dia jalankan untuk pribadi
dia sendiri. Yakni, kendati berdarah Jawa dan lahir serta besar di Bandung
sehingga bahasa Jawa dan Sunda fasih dia kuasai dengan baik, namun logat
dan dialek kedua bahasa itu tidak sedikitpun pernah terlontar dalam setiap
tutur katanya.
Rupanya kemahiran berbahasa itu adalah buah kekaguman dia akan keelokan
bicara guru bahasa sekolah menengahnya, di Bandung. Anton, yang pada 21
Februari 2004 genap berusia 75 tahun dengan rambut semua sudah memutih
adalah penutur bahasa Indonesia yang baik dan betul. Setiap hari Kamis
tengah hari dia masih berkesempatan mengisi acara interaktif di RRI
seputar bahasa Indonesia.
Untuk mengembangkan sikap yang baik terhadap bahasa Indonesia itu Anton
pernah dipercaya memangku jabatan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Sastra
1982-1983, Ketua Program Studi Linguistik Pascasarjana 1987-2000, Ketua
Jurusan Sastra Germania 1989-1990, dan tahun 1991-1995 merangkap jabatan
Ketua Program Studi Sastra Belanda semuanya di almamaternya Fakultas
Sastra Universitas Indonesia. Sementara di Pusat Bahasa, Departemen
Pendidikan Nasional, tercatat dia mengabdi sudah sejak tahun 1960 antara
lain pernah sebagai Kepala Bidang Perkamusan, Ketua Komisi Istilah Seksi
Linguistik, dan Wakil Ketua Komisi Istilah.
Khusus di bidang perkamusan dan peristilahan pada masanya dia banyak
berguru pada WJS Poerwadarminta, yang kebetulan sedang menyusun kamus.
“Sehingga, saya kemudian mengembangkan minat dan perhatian pada
peristilahan,’ tutur pria yang memperkenalkan kata sophisticated dengan
kata “canggih” yang lalu banyak digunakan penutur untuk menjelaskan
kerumitan teknologi.
Anton yang juga pernah menjadi Ketua Panitia Ejaan Baru dan Ketua Panitia
Kerja Sama Kebahasaan itu, memangku jabatan sebagai Kepala Pusat Bahasa
pada 1984-1989. Dia juga pernah menjadi Direktur Indonesian Linguistics
Development Project (Proyek Kerja Sama Universitas Leiden-Pusat Bahasa)
dan menjadi direktur eksekutifnya pada tahun 1990-1992. Sejak 1993 sampai
sekarang dia aktif sebagai konsultan bahasa terutama di bidang
peristilahan.
Lelaki yang pernah menjadi profesor tamu di Goethe Universitt Frankfurt
dan Katholieke Universiteit Brabant Tilburg, itu merasa bersyukur diberi
kesempatan mempelajari sembilan bahasa termasuk bahasa etniknya, Jawa dan
Sunda.
Anton M Moeliono tercatat sebagai salah seorang perintis dan pendiri
Yayasan Atmajaya, sekaligus menjadi anggota yayasan tersebut sejak 1962
hingga 1999. Di kampus itu antara lain dia pernah menjadi Ketua Badan
Harian Yayasan Atmajaya, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Ketua Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris. Dia juga pernah terpilih menjadi Ketua Asosiasi
Perguruan Tinggi Katolik serta diangkat sebagai profesor tidak tetap pada
Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Program Pendidikan
Pascasarjana. Baru sejak tahun 2000 lalu dia menjadi guru besar tetap FKIP
Atma Jaya merangkap sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan.
Sebagai perintis dan pendiri Yayasan Atmajaya, Kampus Semanggi ini turut
berbahagia memeriahkan ulang tahun 75 tahun Anton M Moeliono. Kampus di
pusat kota Jakarta Jalan Jenderal Sudirman itu antara lain mengadakan
seminar internasional sehari mengenai bahasa. Kepada Anton diserahkan buku
kenangan. Buku itu adalah festchrift kelima kepada pembaku dan perawat
bahasa Indonesia yang telah membimbing 23 promovendi ilmu bahasa dalam 20
tahun terakhir, seperti Harimurti Kridalaksana, Hasan Alwi, dan Dendy
Sugono.
Dua buku kenangan itu adalah Bahasawan Cendekia dan Mengiring Rekan Sejati,
dipersembahkan oleh UI dan Atmajaya saat merayakan hari lahir ke-65-nya.
Dua lagi terbit lima tahun kemudian untuk hari lahir ke-70 yaitu Telaah
Bahasa dan Sastra kado Pusat Bahasa, dan Kajian Serba Linguistik hadiah
bersama Atmajaya dan BPK Gunung Mulia.
Penggemar musik klasik Barat dan gamelan itu pantas mendapatkan hadiahnya.
Gagasan dia mengubah pola pengajaran Jurusan Indonesia Fakultas Sastra UI
dari yang bersemangat orientalistik menjadi studi Indonesia, telah
melahirkan beberapa nama penting di dunia bahasa seperti MS Hutagalung,
Gorys Keraf, dan Lukman Ali. Kerja sama Leiden dengan Pusat Bahasa selama
lima tahun ia memimpin lembaga itu berhasil mengucurkan Rp 4 miliar.
Hasilnya 44 doktor dan 24 magister ilmu bahasa, 86 terbitan mencakup
disertasi dengan yudisium sangat memuaskan.
Suami dari notaris Cecilia Soeparni Josowidagdo dan kakek empat cucu itu
di usia tua masih tetap berkantor. Dia, setiap pagi pukul delapan sudah
tiba di kantornya di UI, Pusat Bahasa, atau Atmajaya dan meninggalkan
tempat itu sekitar pukul enam petang menuju rumahnya di bilangan Kebayoran
Baru, Jakarta. Begitu tiba di rumah, penggemar primadona gamelan,
Tjondrolukito, ini tinggal makan, membaca, atau menonton. Dia memiliki
koleksi 200-an keping CD, VCD, maupun DVD klasik Barat.
Sepulang misa pagi di hari minggu, misalnya, Anton yang doyan opera La
Boheme dan Madam Butterfly ini biasa mendengar dan menonton musik di rumah.
"Seharian saya bisa mendengar Andrea Bocelli," kata Anton yang menyebutkan
hidup adalah karunia yang harus dijalani. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|