| |
C © updated 24012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/car |
|
| |
Nama
Anthony Salim alias Liem Hong Sien
Lahir
-
Isteri:
-
Anak:
- -
Ayah:
Sudono Salim alias Liem Sioe Liong
Ibu:
Pendidikan:
-
Pekerjaan:
- CEO Salim Group
- Presiden Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk
Penghargaan:
- Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005
Alamat Rumah:
J
|
|
| |
|
|
|
|
| ANTHONY SALIM HOME |
|
|
 |
Anthony Salim
Generasi Kedua Salim Group
Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi kedua)
terpilih sebagai salah seorang
10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Dia dinilai
berhasil membangun
kembali kerajaan bisnis Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran
akibat krisis ekonomi 1998.
Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang
konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar
(sekitar Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem
Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di
dunia.
Bank Central Asia, miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional
1998 itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya
berutang Rp 52 trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali
perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini
pun bertanggung jawab.
Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas
beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT
Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital
dan Grup Djarum) dan PT Indomobil Sukses Internasional.
Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT
Indofood Sukses Makmu Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan
produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga
berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong,
Thailand, Filipina, Cina dan India.
Salah satu upayanya mendongkrak penjualan mi instan produknya, dia menggandeng Nestle
SA. Langkah
ini dipercaya bisa mendongkrak nilai tambah Indofood, andalannya.
Putra taipan Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT Indofood
Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap
perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata
Anthony. Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle
S.A. Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan
Nestle.
Deal bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada
pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus
PMA ini menyedot dana Rp50 miliar, dengan masing-masing pihak menyetor
50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang untuk
memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,”
kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan
setidaknya bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang
saham.
Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan,
pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005 lalu, pada
botol kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan
patungan tersebut. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi
penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood.
Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya,
jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen
melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain
utama di bidang industri bumbu penyedap makanan. Sementara itu, Nestle
bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk makanan dan
minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh dunia.
Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang
kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal yang
besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar
kinerja perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata
Anthony, sebenarnya aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak,
hanya saja tidak terlihat. “Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang
tinggi dalam bisnis,” ungkapnya. (Evi Ratnasari, Warta Ekonomi, 28
Desember 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|