| |
C © updated 04112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Anna Maria Winarti Goris
Lahir:
1950
Suami:
Johanes Goris (54)
Anak:
Johan Sebastian Marc (26) dan Agnes Devi (25).
Pendidikan:
= Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Bandung
= Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB)
= Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta
= Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung
Profesi:
Seniman - Pencipta Lagu
|
|
| |
|
|
|
|
Anna Maria Winarti Goris
Alunan Perdamaian Dunia
Apa yang dia perbuat sebenarnya sederhana: ingin menularkan semangat
perdamaian dunia kepada anak-anak. Maka dia pun menciptakan album (ini
album pertama), berjudul Bring Peace to the World di Pasundan
Intercontinental, Bandung, beberapa pekan lalu. Lagu-lagu dari album itu,
dinyanyikan oleh anak-anak dari sekolah-sekolah negeri, swasta, dan
internasional di Bandung.
ITULAH yang dilakukan oleh Anna Maria Winarti Goris (54). Namanya-sebagai
pencipta lagu-boleh jadi kurang dikenal dalam pelataran industri musik.
Dia memang menciptakan lagu-lagu pada wilayah khusus, yang disebutnya
sebagai "lagu pendidikan". Tema yang diangkatnya dalam lagu-lagu
ciptaannya umumnya kecintaan pada negeri Indonesia, lingkungan hidup, dan
seruan perdamaian dunia.
Pada album Bring Peace to the World, kecuali lagu Wir Sind Alle Kinder
Dieser Welt, seluruh lagu adalah ciptaan Anna Maria, seperti Planet Earth
is Our Home, This is Our Dream, Let’s Bring Peace, We Need a Nice Place,
Indahnya Persahabatan, Hiroshima Nagasaki, The Power of Our Dream, Yang
Aku Rindu, Sauyunan, dan Peace for All Children.
Dalam hal menciptakan lagu, Anna sebenarnya cukup punya pengalaman.
Lagu-lagu Anna pernah menjuarai berbagai perlombaan.
PADA peringatan Hari Kartini tahun 1973, ia menjuarai Lomba Cipta Lagu
Anak-Anak di Akademi Muik Indonesia (AMI), Yogyakarta. Lagunya Semoga Alam
Lestari dan Jadikan Bandung Hijau dan Berbunga menjadi juara favorit pada
Lomba Cipta Lagu Lingkungan Hidup tahun 1997.
Pada tahun 2003, ia mendapat penghargaan dari Honda dalam program The
Power of Dream berkat gagasannya menyuarakan perdamaian lewat lagu yang
dibawakan anak-anak. Selain penghargaan, ia juga mendapatkan uang Rp 20
juta.
Sebagian dari uang itulah yang dia pakai untuk mendanai album perdamaian
tadi. Album tersebut juga mendapatkan sponsor dari Bimbingan Anak
Sampoerna sebesar Rp 75 juta.
Dari uang tersebut, ia memproduksi 2.000 kaset dan 2.000 compact disc
(CD). Kaset dan CD ini dia jual lewat teman-temannya yang tersebar di
Indonesia maupun luar negeri. Anna memilih jalur pertemanan untuk
distribusi album perdamaian karena untuk menjual lewat distributor besar,
memerlukan biaya produksi yang lebih besar.
“Sementara kami sudah tidak punya dana," kata Anna yang menilai peluncuran
albumnya sukses karena tidak ada penonton yang meninggalkan acara sebelum
acara selesai.
Hasil dari penjualan album yang berharga Rp 25.000 per keping itu akan
disumbangkan pada anak-anak korban konflik di berbagai daerah. Anak-anak
yang menjadi korban konflik ini merupakan salah satu hal yang
memprihatinkannya selain kepicikan cara berpikir beberapa kelompok
masyarakat di Indonesia tentang keberagaman, serta kebobrokan moral para
pejabat negara.
Dunia yang damai adalah mimpi besarnya yang ingin ia wariskan pada
generasi selanjutnya. Itu sebabnya Anna memilih anak-anak menyanyikan
lagu-lagunya. “Keterlibatan mereka untuk menyuarakan perdamaian
mudah-mudahan bisa mendatangkan kerinduan untuk terus menerus mengusahakan
perdamaian," katanya.
ANTUSIASME untuk menyerukan perdamaian tersulut ketika tahun 1976, Anna
berkesempatan ikut dalam misi kesenian ke Eropa selama tiga bulan bersama
Paduan Suara Vocaslita Sonora, Yogyakarta.
Bersama paduan suara itu ia pentas di 50 kota di empat negara yaitu Belgia,
Belanda, Swiss, dan Jerman. Selama tiga bulan itu, ia tinggal di beberapa
keluarga. Sekembali dari sana, hubungan dengan orangtua-orangtua asuhnya
tetap terjalin. Mereka saling bersahabat.
Suatu hari, seorang sahabat Anna yang telah masuk rumah jompo mengundang
ke negaranya. “Dia bukan orang kaya. Dari tabungannya yang tersisa, ia
belikan saya tiket untuk mengunjunginya agar kami bisa bertemu sebelum ia
meninggal dunia," cerita Anna. “Persahabatan atas dasar kemanusiaan begitu
tulus dan kekal. Tidak dapat ternilai dengan uang," ungkap Anna.
“Pengalaman yang hanya tiga bulan mengikuti misi kesenian tersebut terus
membekas di hati saya. Mudah-mudahan anak-anak pun merasakan itu juga,"
harap Anna yang menjadi salah satu pendiri paduan suara Kelompok Anak
Indonesia Peduli pada tahun 1999.
Kelompok ini pernah terlibat dalam berbagai acara amal. Di antaranya
program Balita Kurang Gizi yang diselenggarakan United Nation Children’s
Fund (UNICEF), Hari Tanpa Tembakau atau No Tobacco Day yang
diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO), menghibur anak-anak
penderita kanker di Yayasan Kanker, serta Aubade Suara Seribu Anak untuk
memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Kelompok paduan suaranya menarik minat anak-anak lain, termasuk anak-anak
yang sekolah di sekolah-sekolah Internasional. Dari situ Anna mendirikan
Solidaritas Anak-Anak Perdamaian pada tahun 2002.
MEMBINA anak-anak bernyanyi bukan hal yang menyulitkan bagi Anna.
Bertahun-tahun alumnus Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di
Bandung, Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Akademi Musik
Indonesia (AMI) di Yogyakarta, dan Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran
(Unpad), Bandung ini mengajar di beberapa sekolah. Selain mengajar ilmu
pengetahuan alam dan kesenian, ia juga mengajar bahasa Jerman.
Saat mengajar ia bertemu Johanes Goris (54) yang menjadi suaminya. Mereka
dikaruniai dua anak, Johan Sebastian Marc (26) dan Agnes Devi (25).
Agnes sering menjadi saksi untuk penciptaan karya-karya Anna. Tanda tangan
Agnes menghiasi hampir seluruh partitur ibunya. “Untuk berjaga-jaga agar
tidak diplagiat orang," kata Anna.
Ia berharap, anak-anak binaannya bisa menyuarakan perdamaian ke luar
Indonesia. Kesempatan itu sedikit tebuka ketika ia mengundang seorang
tenaga ahli dari Bahasa dan Sastra Jepang, Unpad, Osamu Kanada untuk
membantu anak-anak mengucapkan dengan benar lirik berbahasa Jepang pada
lagu Hiroshima Nagasaki.
Osamu sangat tertarik pada lagu itu. Kebetulan, tahun depan Jepang akan
memperingati Tragedi Hiroshima Nagasaki ke-60. Ia berjanji akan membawa
lagu-lagu itu pada Wali Kota Hiroshima dan Nagasaki. “Ia berharap Jepang
bisa mengundang kami untuk menyanyikan lagu itu," kata Anna.
“Kalau ini terwujud, mungkin kami akan menjadi kelompok paduan suara
indonesia yang membawa suara perdamaian ke dunia luar. Ini pasti akan
sangat baik bagi bangsa indonesia yang citranya sudah menurun, bahkan
dikatakan sebagai daerah yang penuh konflik," katanya penuh harap. ►e-ti/Kompas,
Kamis, 04 November 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|