| |
C © updated 26072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bwr |
|
| |
Nama:
Hi. Andy Achmad Sampurna Jaya
Lahir:
Tanjungkarang, 2 September 1949
Alamat:
Kampung I Rt. 02 Rw 02 Terbanggi Besar, Lampung Tengah
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI Andy Achmad Sampurna Jaya
Tokoh Pemersatu dari Tanah Melayu
Lebih akrab dengan panggilan Kanjeng, Andy Achmad Sampurna Jaya, selama
menjabat Bupati Lampung Tengah (2001-2005), berhasil mempersatukan
warganya yang berlatar belakang multi etnis, golongan dan agama. Amat
beralasan bilamana Kanjeng mendapat julukan Tokoh Pemersatu dari Tanah
Melayu. Kanjeng berikrar untuk sepenuhnya memusatkan diri bagi kemajuan
dan kesejahteraan masyarakat Lampung Tengah.
Dia seorang pemimpin multidiomensional. Dalam kesahajaannya sangat
memegang komitmen. Karena itu, bagi orang awam, terasa janggal apabila
Kanjeng menolak tawaran untuk bertarung pada pemilihan Gubernur Lampung.
Lampung Tengah, yang sekarang berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa,
praktis selama lima tahun telah mengejar ketertinggalan. Dalam nada
datar, ia mengatakan bahwa apa yang telah dilakukannya baru sebagian
kecil dari keinginannya mewujudkan masyarakat madani. “Ukuran
keberhasilan pembangunan pada hakikatnya ialah mampu meningkatkan
kesejahteraan rakyat, tidak mungkin mencapai kesejahteraan tanpa
dibarengi pertumbuhan ekonomi.
Dan yang layak menilai tingkat keberhasilan tentu masyarakat itu sendiri.
Tapi, yang jelas Lampung Tengah sudah melakukan perubahaan sejak empat
tahun lalu. Dan itu berlangsung dengan dana yang sangat ketat,” katanya
menegaskan.
Latar belakang sosial, demografis dan kultur yang ada pada kondisi
Lampung Tengah, sangat berpengaruh terhadap perilaku dan karakter para
warganya, baik secara individual maupun kolektif. Dalam kondisi seperti
itu, Lampung Tengah sangat rentan terjadinya konflik horizontal apabila
pemerintah daerah salah menerapkan kebijakan.
Karena itu, Andy terus membangun toleransi dan saling menghargai di
dalam setiap perbedaan, termasuk perbedaan keimanan. Ini sebuah kekuatan
besar yang memberikan kontribusi pada kelangsungan pembangunan daerah,
negara ataupun bangsa. Andy, lewat dialog dan pendekatan sosial dengan
berbagai tokoh agama, adat dan pemuda, berusaha menjalin lebih erat
komunikasi lintas agama, suku maupun golongan.
Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat dari berbagai agama; Islam,
Kristen, Hindu dan Budha. Juga berbagai suku; Melayu (Lampung), Jawa,
Banten, Bugis, Batak, Padang, Bali, Lombok, Timor dan Tionghoa.
Karenanya interaksi antar suku telah melahirkan basis sosial baru.
Proses pembauran masyarakat Jawa dan Lampung berlangsung amat cepat,
dalam kepemimpinannya, menyadari bahwa keragaman suku yang bermukim di
daerahnya, merupakan potensi khas. Tak berlebihan selama kepemimpinannya,
percikan kecil yang pernah terjadi di masyarakat, segera terminimalisir
secara signifikan. Menciptakan suasana baru, tenang dan eratnya
pertalian sesama warga kini sangat terasa.
“Bagi kami di Lampung sekarang ini, tidak ada lagi sebutan orang Jawa,
Orang Bali, Tionghoa dlsb yang berkonotasi mengkontak-kotakkan dan
membuat sekat, bahwa yang sebenarnya adalah orang Lampung yang berasal
dari Jawa dan orang Lampung yang berasal dari Bali serta orang Lampung
yang berasal dari Banten dlsb, semua itu merupakan ikatan bagi kita,
bahwa kita semua adalah orang Lampung yang bersama-sama merawat daerah
yang kita ditinggali ini.” Kata Subarkah, salah seorang pedagang
kelontong di pasar Bandarjaya.
“Budaya Lampung yang heterogen merupakan sebuah kekuatan yang besar.
Dalam membina semangat kebersamaan dan setiakawan sosial memberi peluang
bagi tumbuhnya kemandirian bangsa untuk memperkokoh ketahanan nasional,”
katanya.
Hal ini pulalah yang terjadi pada masyarakat Bali yang menganugerahi
gelar kepada tokoh yang dianggap layak.
Dikenal di kalangan masyarakat Bali, pemberian gelar merupakan ‘seleksi
ketat’ bagi seseorang yang berasal dari kasta tinggi.
Setelah dicapai kesepakatan, maka proses selanjutnya adalah pemberian
gelar dalam suatu upacara kebesaran yang melibatkan masyarakat adat
secara keseluruhan, sebagai implementasi dari rasa syukur dengan memberi
penghormatan kepada tokoh yang menunjukkan kreativitas budaya tinggi
dalam menjaga eksisnya seni budaya daerah. Untuk itu semua, masyarakat
Hindu Bali di Lampung Tengah memberinya gelar, Anak Agung Dharma Wisesa.
Pria berdarah Melayu ini lahir tanggal 2 September 1949 di Penengahan,
Tanjung Karang, Lampung Selatan. Ayah Achmad, Hi. Ibrahim Sepulau Raya
bergelar Suttan Pengiran Ratu Sangun (Alm), sedang ibunya, Fatimah,
berdarah seni keturunan Pesirah Bumi Tinggi. Kakeknya dari garis ayah,
Achmad Bermawi bergelar Suttan Sampurna Jaya pernah menjabat Regent van
Lampung atau Ketua Dewan Warga yang dipilih oleh para Kepala Kampung.
Achmad dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang cukup berpengaruh
yang patuh menjalankan perintah Agama.
Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan belajar mengaji di Surau
tak jauh dari rumahnya. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, ia
mendapat tempaan keras dari sang ayah yang selalu menekankan pentingnya
menguasai ilmu pengetahuan dan menjaga kebersihan hati.
Achmad selalu mengenang dan berpegang pada pesan ayahnya, ia lebih
senang menyebutnya Buyah, yang mengantarnya sampai mencapai titik
keberhasilan saat ini. Ayahnya seorang yang berperangai keras, pendiam
dan penuh disiplin. Dalam hal mendidik anaknya, sebagai pemimpin
masyarakat adat, dalam kesehariannya Ibrahim tidak banyak bicara, tetapi
lebih sering memberikan contoh nyata.
Hari-hari di tahun pertama menjabat, Andy dikepung jadual kerja yang
sangat padat. Dari Senin sampai Kamis, Andy menyediakan waktunya untuk
melayani masyarakat. Dari Jumat (selain shalat) sampai Minggu memburu
investor. Baginya “revolusi” dimulai pada hari Jumat. Praktis ia tidak
masuk kantor pada hari Jumat. Pada pengujung hari kerja, ia sibuk
berkunjung dari hotel ke hotel, menghadiri seminar, membuka pameran,
menemui pejabat tinggi, dan beragam kesibukan lain yang berkaitan dengan
investasi.
Tidak aneh bila ia selalu tampak dalam acara-acara nasional yang
berkaitan dengan investasi. Untuk kepentingan memancing investor, ia pun
terkadang bepergian ke luar negeri.
Kebiasaannya yang tidak masuk hari Jumat dan sering ke luar negeri, pada
awalnya mendapat reaksi keras beberapa pihak, khususnya DPRD. Ada yang
menganggap pemborosan, yang lain menilai Andy tidak menunjukkan sikap
dekat dengan rakyat.
Anggapan itu tidak mengganggunya untuk tetap bekerja keras, Baginya,
sebagai bupati pada kabupaten yang baru, harus jemput bola ke mana saja.
Yang penting bisa bermanfaat bagi pembangunan masyarakat dan daerah.
Lama kelamaan, setelah Andy membuktikan kehadiran para investor di
daerahnya, pihak-pihak yang bereaksi negatif mulai mengerti. Bahkan
mengacungi jempol. Memburu investasi sampai-sampai ia tidak sempat
berkumpul dengan keluarga.
la digerakkan obsesi besar, memacu dunia usaha, sesuatu yang terkadang
sulit dipahami orang awam. “Kita hidup di era otonomi daerah, yang
sebelumnya didera krisis. Perekonomian kita stagnan untuk tidak
mengatakan mati suri. Kita tidak punya uang untuk memaksimalkan
pembangunan sebagaimana yang menjadi tuntutan rakyat Dalam kondisi
seperti ini, untuk menggerakkan kembali perekonomian, kehadiran investor
sangat menentukan,” kata Andy.
Selain pola jemput bola, yaitu melakukan lobi langsung dengan pengusaha
domestik dan mancanegara, Andy juga membuat kebijakan investasi yang
mendukung, lewat kemudahan perizinan.
Jabatan bupati bagi Andy sangat dinamis dan menantang. Perjalanannya ke
luar negeri, memberinya pelajaran dan inspirasi di dalam mengambil
kebijakan pembangunan.
Bagi Andy memimpin itu banyak dinamikanya. Tapi semua kebijakan
pembangunan harus ditujukan bagi kepentingan masyarakat. Inilah cara
untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, terutama mereka yang
tidak beruntung.
Di dalam mengembangkan perekonomian daerah, Andy selalu memperhatikan
kebersamaan di antara para pedagang. Misalnya, di pasar Bandarjaya
terkonsentrasi sekitar 3500 pedagang dengan berbagai latar belakang
sosial budaya. Mereka tumbuh dalam satu komunitas. Ketika menata pasar
yang dibangun dengan investasi sebesar Rp 110 miliar, ia pun menggunakan
pendekatan kultural, sehingga segala bentuk benturan dapat segera
dihindari dan diantisipasi.
Bandarjaya merupakan kota perdagangan yang menjanjikan bagi masyarakat
Lampung Tengah dan pelaku usaha pada masa depan. Di kota ini terdapat
pasar yang strategis dan memiliki banyak potensi yang mendukung
percepatan pembangunan ekonomi.
Andy bertekad untuk menata ulang pembangunan ekonomi Lampung Tengah
dengan membangun infrastruktur dan supra-struktur pendukung, seperti
pembangunan Pasar Bandarjaya.
Setelah dipercaya memimpin, dengan mantap ia langsung mengusulkan
pembangunan Pasar Bandarjaya kepada masyarakat. Sebelum pembangunan
fisik gedung pasar dimulai, terlebih dahulu ia banyak bertukar pendapat
dengan tokoh masyarakat, para sesepuh adat, pemuda dan terutama
masyarakat pedagang itu sendiri. Pendapat mereka ia tampung dan
dijadikan pijakan dasar dalam pembuatan master plan.
Tanpa melalui proses yang panjang, masyarakat mendukungnya. Kemudian ia
memasukkan rencana pembangunan Pasar Bandarjaya sebagai bagian dari
grand strategy pembangunan Lampung Tengah.
Untuk mendukung sistem transportasi internal kawasan dan aksesibilitas,
direncanakan penyediaan sub terminal. Ia mengusulkan untuk memilih model
BOT (build operation and transfer), misalnya, dalam waktu 30 tahun.
Untuk angkutan pedesaan dan kota, ia mengusulkan sistem yang
terintegrasi dengan pola operation leasing. Tentunya, konsep rencana
pembangunan ini mengacu pada dua fungsi utama Bandarjaya, yaitu sebagai
pusat perdagangan dan distribusi, dan transportasi.
Bersamaan dengan program awal pembangunan pasar Bandarjaya, Andy sudah
menyiapkan jalan lingkar alternatif. Dari situ bisa dikembangkan sebagai
rest road area atau semacam stop over, yang rencananya terletak di
lintas barat kota. Di sana juga akan disiapkan infrastruktur dan
fasilitas pendukung, seperti perkampungan budaya, pasar kesenian dan
kerajinan serta sumber lainnya yang terkait dengan tourist development (pengembangan
pariwisata). ►e-ti/bambang wr
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |
|