| |
C © updated 22102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Dr. Ir. Andung A. Nitimiharja
Lahir:
Bandung, 4 April 1950
Jabatan:
Menteri Perindustrian RI 2004-2005
Agama:
Islam
Pendidikan:
Doktor S-3, bidang Studi Pembangunan University Pittsburg, AS
Sarjana S-1, dari Institut Pertanian Bogor (IPB)
Pengalaman kerja:
Deputi Kepala BKPM Bidang Pengembangan Usaha Nasional
Staf Ahli Menneg Pembinaan BUMN Bidang Investasi dan Otonomi Daerah BUMN
Komisaris Utama PT (Persero) PLN Oktober 2003-sekarang
Komisaris Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Juni
2003-sekarang
Komisaris Utama PT Asuransi Jasa Raharja, Agustus 2003-sekarang
Kegiatan Lain:
Aktif dalam berbagai seminar
Alamat Kantor:
Departemen Perindustrian RI
Jalan Jend. Gatot Subroto Kav. 52-53
Jakarta Selatan
Telp. (021) 525.6458, 525.1149, 520.0700, 525.5509
|
|
| |
|
|
|
|
Andung A. Nitimiharja
Mengabdi Sebatas Kemampuan
Mengabdi selama lebih satu tahun sebagai Menteri Perindustrian Kabinet
Indonesia Bersatu (KIB), dengan segala kemampuannya, Andung A. Nitimiharja,
menyerahkan jabatannya kepada politisi Partai Golkar
Fahmi Idris, pada
perombakan terbatas anggota kabinet yang diumumkan Presiden SBY di
Gedung Agung Yogyakarta, Senin (5/12/2005) pukul 21.00.
Dalam reshuffle kabinet itu, tiga nama baru masuk kabinet, tiga menteri diberhentikan, dan
tiga menteri dirotasi.
Nama Andung Nitimihardja dalam kancah perekonomian nasional bukanlah orang
baru. Dia adalah komisaris utama di tiga BUMN, di antaranya PLN, sebelum
dia dipercaya menjadi menteri perindustrian Kabinet Indonesia
Bersatu. Obsesinya, saat menjabat Menteri Perindustrian adalah menjadikan Indonesia surga bagi
investasi.
Mengejutkan adalah kata yang banyak diungkapkan banyak kalangan seiring
dengan munculnya nama Andung A. Nitimihardja sebagai menteri perindustrian
RI. Bagaimana tidak, hingga sore menjelang pengumuman kabinet pada 21
Oktober, nama direktur keuangan Medco Energy, Sugiharto masih menguat
sebagai kandidat menteri perindustrian. Tetapi, tengah malam pada saat
pengumuman, nama komisaris utama PLN tersebut tiba-tiba diplot sebagai
menteri perindustrian.
Andung sendiri mengaku terkejut terpilih duduk di jajaran Kabinet
Indonesia Bersatu. Tetapi sebagai abdi negara, dia siap untuk menjalankan
amanah dan mengaku departemen perindustrian adalah sektor yang tidak asing
baginya. "Saya bukan orang baru di departemen perindustrian, karena waktu
di BKPM, saya selalu berhubungan dengan investor, pengusaha dan departemen
perindustrian," kata mantan Deputi Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman
Modal) Bidang Pengembangan Usaha Nasional tersebut.
Doktor bidang Studi Pembangunan University Pittsburg, AS, tersebut
berkeinginan menjadikan Indonesia sebagai surga bagi investasi asing.
Caranya, dengan jalan melakukan perbaikan terhadap sejumlah peraturan yang
menghambat investasi dan industri. Selain itu, menjaga investasi yang
sudah ada supaya tidak hengkang ke luar negeri.
"Persaingan merebut investasi sangat ketat karena investasi tidak mengenal
nasionalisme. Investasi mengalir seperti air, mana yang lebih rendah, ke
situlah air mengalir. Jika negara itu bisa menghasilkan profit yang lebih
baik dengan risiko yang terukur," jelas pria kelahiran Bandung, 4 April
1950, itu.
Andung menekankan, dengan keadaan ekonomi mikro yang membaik dan keamanan
serta kepastian hukum yang lebih baik akan menjadi pertimbangan bagi
investor untuk masuk. "Saya akan bertemu dengan asosiasi serta investor
asing untuk mendapat masukan dari mereka. Yang penting sekarang dengan
sumber daya alam dan sumber daya manusia ini, kita bisa menjadikan
Indonesia sebagai surga bagi investasi manufaktur," tambahnya.
Pada bagian lain, komisaris utama PT RNI (Rajawali Nusantara Indonesia),
PT PLN, dan PT Dirgantara Indonesia tersebut mengatakan, struktur industri
akan diperkuat dari hulu ke hilir. Sejauh mungkin diharapkan proses
produksi berlangsung di dalam negeri terutama produk-produk berbasis
sumber daya alam.
Prioritas
Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja mengungkapkan (2/11/2004),
pihaknya telah memfinalisasi program 100 hari di bidang industri. Menurut
dia, pihak Departemen Perindustrian akan memprioritaskan pengembangan
industri berbasis agro, transportasi, dan juga industri manufaktur yang
padat karya.
"Kita sudah membuat program jangka pendek dan menengah. Prioritas
pengembangan industri adalah industri agro, dari hulu sampai hilir," kata
Andung. Untuk itu, pihaknya akan bekerja sama dengan Departemen Pertanian
untuk menyejajarkan kebijakan guna membangun industri berbasis agro.
Sementara itu, mengenai persoalan harmonisasi tarif produk industri agro
di sektor hulu dan hilir perlu dibahas bersama untuk mendapatkan formula
tarif yang pas. "Jangan sampai tarif bea masuk produk di sektor hulu lebih
besar daripada produk di sektor hilir, agar industri berdaya saing," ujar
Andung.
Selain itu, industri di bidang transportasi juga penting dikembangkan,
seperti industri otomotif, sepeda motor, termasuk industri galangan kapal.
Pengembangan industri itu diharapkan juga dapat mendorong pertumbuhan
industri pendukung lainnya, seperti industri komponen.
Di sektor industri manufaktur, pihaknya juga tetap akan memerhatikan
program pengembangan industri manufaktur yang padat karya, seperti
industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan elektronik. Industri
seperti itu masih memiliki potensi untuk pasar ekspor. ►tsl - Indo Pos, Selasa, 26 Okt 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|