| |
C © updated 16122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Andreas Anangguru Yewangoe
Lahir:
Mamboru, Sumba Barat, NTT, 31 Maret 1945
Agama:
Kristen
Jabatan:
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| PUBLIKASI |
|
|
 |
Andreas A Yewangoe
Janganlah Takut sebab Aku Menyertai Engkau
ADA banyak alasan untuk takut. Ada alasan sepele. Ada alasan serius.
Bahkan sangat serius. Apabila orang tidak mau mandi karena takut
kedinginan, itu sepele. Tetapi, kalau orang tidak berani berjalan
sendiri karena takut dirampok, itu serius. Lebih serius lagi apabila
orang takut berbicara karena takut ditangkap penguasa yang represif.
Sangat-sangat serius apabila orang takut kepada ketakutan itu sendiri.
Ketakutan adalah sesuatu yang melekat pada diri seseorang. Ialah suatu
mekanisme pertahanan diri guna menyelamatkan yang bersangkutan dari
berbagai bahaya. Cobalah membayangkan seseorang, yang misalnya sama
sekali tidak takut terhadap api, lalu dengan enaknya menceburkan diri ke
dalamnya. Tentu saja tamat riwayatnya. Maka, ketakutan seperti itu
dibutuhkan.
Tetapi, tentu saja ada ketakutan yang sama sekali tidak diperlukan.
Bahkan mesti dihindari. Apabila misalnya seseorang begitu rupa
ketakutannya terhadap bahaya kontaminasi lingkungan, sehingga bahkan
untuk bergerak pun tidak berani, inilah ketakutan yang tidak perlu.
Konon, ada seorang bapak yang sangat takut anaknya terserang penyakit
apabila anak itu menyentuh tanah. Maka ia menjaga sedemikian rupa agar
anak itu tidak bersentuhan dengan tanah. Pada suatu hari, tanpa sengaja
anak itu bersentuhan dengan tanah. Akibatnya sudah dapat diduga. Anak
itu menderita sakit yang luar biasa sebab tubuhnya tidak biasa
memproduksi kekebalan tubuh. Ketakutan seperti ini mesti diatasi. Orang
mesti mampu menghilangkan rasa takut sehingga ada kemungkinan untuk
meneruskan kehidupan.
*
TEMA Pesan Natal Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan
Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) tahun ini adalah seruan untuk
jangan takut. Mengapa seruan itu diperlukan? Kedua lembaga keagamaan itu
mengonstatir bahwa bangsa kita memang sedang berada dalam ketakutan.
Sebagai bangsa kita masih menghadapi berbagai persoalan yang
sungguh-sungguh tidak ringan. Kita masih belum juga bebas dari berbagai
krisis yang melanda kita, kendati tanda-tanda ke arah perbaikan sudah
tampak juga. Kita masih mengalami krisis kepercayaan di berbagai bidang.
Pada gilirannya, hal ini melahirkan iklim politik yang tidak sehat.
Dikonstatir pula, kita sedang mengalami suatu keadaban yang diwarnai
rasa curiga, iri hati, perselisihan, dan balas dendam. Kita masih jauh
dari sikap kedewasaan di dalam menyikapi berbagai hal. Kita
menyelesaikan persoalan-persoalan secara reaktif saja, sementara
pemikiran-pemikiran konseptual dan substansial hampir-hampir absen dari
kehidupan kita.
Seakan-akan itu belum cukup. Kita masih lagi diganggu oleh bencana alam,
wabah penyakit dan busung lapar yang melanda beberapa wilayah di Tanah
Air. Dalam bulan- bulan terakhir ini kebebasan beragama dan
mengekspresikan iman mengalami cobaan yang tidak bisa diremehkan.
Gelombang penutupan rumah-rumah ibadah marak di beberapa wilayah Tanah
Air kita. Itu semua ditengarai sebagai kurang adanya tenggang rasa yang
sesungguhnya merupakan watak otentik bangsa kita.
Wajarlah apabila suasana seperti itu telah membuat kita sebagai bangsa
takut untuk memandang masa depan. Kita bertanya, sanggupkah kita keluar
dari situasi sulit yang melilit kehidupan kita? Kapankah semua persoalan
itu berakhir?
*
MAKA perayaan Natal tahun ini merupakan momentum penting untuk
merenungkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan kita memperbarui tekad
meneruskan perjalanan hidup kita sebagai bangsa. Seruan, "Janganlah
takut..." memberikan penghiburan dan kekuatan. Mengapa? Karena Allah
sendiri yang menyerukan itu. "Janganlah takut sebab Aku menyertai
engkau..." sebagaimana ditulis nabi Perjanjian Lama, Yesaya, adalah
seruan Allah kepada umat-Nya Israel yang sedang berada dalam ketakutan.
Bangsa ini sedang berada dalam tawanan bangsa asing. Kendati mereka
diberikan kebebasan terbatas guna menjalankan ibadahnya, tetapi mereka
tetap bangsa tawanan. Masa depan mereka serba tidak jelas. Bahkan mereka
terancam kehilangan identitasnya sebagai bangsa. Betapa tragisnya
apabila itu terjadi.
Maka, pantaslah apabila mereka menanti-nantikan tibanya Sang Pembebas.
Kapan tibanya, sama sekali tidak jelas. Seperti menunggu Godot. Tetapi
seruan "Jangan Takut" itu menguatkan lagi harapan mereka. Dengan
pengharapan itu mereka memperoleh energi untuk meneruskan kehidupan.
Karena sesungguhnya Allah adalah Allah Masa Depan.
*
RELEVANKAH seruan itu bagi bangsa Indonesia? Lebih-lebih di masa
sekarang? Tentu saja sangat relevan. Allah adalah Allah bangsa-bangsa.
Artinya Ia juga Allah bangsa Indonesia. Maka seruan "Jangan takut..."
adalah pula seruan yang ditujukan kepada bangsa kita yang sangat taat
beragama ini.
Allah ini adalah Allah yang melampaui berbagai formulasi manusia tentang
Dia. Allah ini melampaui berbagai wacana tentang agama. Dia tidak bisa
disekat dalam sekat-sekat buatan manusia. Allah ini adalah Allah yang
peduli kepada nasib manusia, termasuk manusia Indonesia.
Kalau setiap orang Indonesia adalah sungguh-sungguh makhluk beragama
(homo religiosus), mereka pasti peka terhadap seruan ini. Alhasil,
perasaan optimisme akan kembali lagi mewarnai rona kehidupan kita.
Pengharapan dipulihkan lagi.
Kita bisa lagi saling percaya. Kita mampu lagi menghilangkan berbagai
kecurigaan di antara kita. Kita tidak lagi disekat oleh berbagai
pembatasan atas dasar suku, agama, ras dan golongan. Sebaliknya kita
menjadi manusia bebas tanpa beban. Yang memandang relasi-relasi
antarmanusia secara polos. Yang melihat sesama sebagai sungguh-sungguh
sesama, bukan musuh yang mesti dimusnahkan.
Kalau itu adalah keyakinan seluruh bangsa kita, kita akan mempermalukan
siapa saja yang mau bermain-main dengan kehidupan orang lain. Kita akan
membuat tersipu-sipu mereka yang berkehendak jahat mau menjadikan
perayaan Natal tahun ini sebagai ajang memperlihatkan kuasa
kejahatannya.
Sebaliknya, kita akan sungguh-sungguh menghayati makna kehidupan sejati,
ketika saling peduli merupakan sikap dan perilaku kita sehari-hari.
Yesus bersabda: "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan
mempunyainya dalam kelimpahan" (Yohanes10:10b). *Suara Pembaruan, 16
Desember 2005
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Pesan Natal PGI dan KWI 2005
Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan
Konferensi Wali Gereja Indonesia Tahun 2005: "JANGANLAH TAKUT SEBAB AKU
MENYERTAI ENGKAU." (Yes. 41:10a). Kepada segenap umat Kristiani
Indonesia di mana pun berada. Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita
Yesus Kristus. |
|