| |
C © updated 03032005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Andreas Anangguru Yewangoe
Lahir:
Mamboru, Sumba Barat, NTT, 31 Maret 1945
Agama:
Kristen
Jabatan:
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Istri:
Petronella Lejloh
Anak:
- Yudhistira Gresko Umbu Turu Bunosoru (1972)
- Anna Theodore Yewangoe (1980)
Ayah Angkat:
Pdt. SM Yewangoe
Ibu Angkat:
Leda Kaka
Ayah Kandung:
Lakimbaba
Ibu Kandung:
Kuba Yowi
Pendidikan:
- Lulusan STT Jakarta (1969)
- Doktoral dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda, pada 1987 dengan
disertasi, “Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia”, kemudian diterbitkan BPK Gunung
Mulia menjadi buku dengan judul Theologia Crucis di Asia, dan tahun 2005
memasuki tahun cetakan keempat.
Pekerjaan:
- Penulis tetap rubrik "Titik Pandang" di Suara Pembaruan
- Pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) di Waingapu, Sumba
- Dosen di Akademi Theologia Kupang (1971)
- Rektor Akademi Theologia Kupang (1972-1976)
- Rektor Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (1990-1994 dan 1994-1998)
- Ketua PGI (1994-1999 dan 2000-2004)
- Anggota Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI (1989-1994)
- Advisor dari Reformed Ecumenical Council (1992-1996)
- Pengurus Persetia (1980-1984)
- Wakil Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia (1996-2001)
- Pengurus International Reformed Theological Institutions (IRTI), Leiden
- Pengurus International Association for Promoting Christian Higher Education (IAPCHE), Michigan, USA
- Moderator cluster Unity Theology and Mission dari Christian Conference of Asia (ACA), Hongkong
- Penasihat Sinode Gereja Kristen Sumba
- Anggota Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor
Kegiatan Lainnya:
- Dosen tamu di Theologische Universiteit Kampen, 1995
- Menyampaikan makalah di Seminar International Reformed Theological Institutions di Leiden (1999), Princeton, USA (2001)
Buku:
- Pendamaian (BPK Gunung Mulia, 1983)
- Theologia Crucis in Asia, Rodopi, Amsterdam, 1987
- Theologia Crucis in Asia (BPK Gunung Mulia, 1989, 1993, 1996)
- Firman Hidup 27 dan 34 (BPK Gunung Mulia, 1984)
- Pengantar Sejarah Dogma Kristen (2001)
- Agama dan Kerukunan (2002)
- Lea (2002)
- Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila (2002)
- Yesus dan Politik, Sebuah Bunga Rampai, 2004. Ditulis bersama Eka
Darmaputera, Ph.D, Dr. PD Latuihamallo, Dr Paul Marshall (2004) |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Dr Andreas Anangguru Yewangoe
Pelayan Gereja bagi Orang Lain
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) periode 2004-2009,
Pdt Dr AA Yewangoe, ini punya obsesi menjadikan gereja berguna bagi orang
lain. Tidak hanya pelayan bagi jemaat sendiri tetapi juga pelayan bagi
orang di luar komunitas Kristen. Dia bertekad mewujudkan keyakinan itu
lewat cita-cita PGI yang dipimpinnya yakni Keesaaan Gereja di Indonesia
yang dimplementasikan dalam keesaan in action (aksi bersama).
Menurut doktor theologia dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda
(1987) dengan disertasi, “Theologia Crucis in Asia”, ini istilah keesaan
in action adalah keesaan yang terwujud dalam perbuatan, dan bermakna bahwa
gereja-gereja mesti sungguh-sungguh peduli dengan masalah-masalah
kemanusiaan di Indonesia, yang diistilahkan gereja bagi orang lain.
Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis
dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Manusia bagi orang
lain berarti, menurut kepercayaan Kristiani, justru karena Dia mau menjadi
manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diri-Nya. Dengan
pemikiran seperti ini, gereja harus melakukan hal yang sama.
Gereja yang memberitakan kabar baik mestinya juga memberitakan hal-hal
yang membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang dihadapi
sehari-hari. Itu berarti, gereja harus lebih peduli kepada masalah-masalah
sosial. Misalkan bencana tsunami di Aceh, gereja menolong dan membantu
bukan malah menghasut supaya masuk Kristen. “Kalau itu yang terjadi, saya
katakan berulang-ulang kepada gereja-gereja di sini, lebih bagus kita
tidak usah pergi ke Aceh,” kata pendeta kelahiran Mamboru, Sumba Barat, 31
Maret 1945 itu.
Menurutnya, kita menolong bukan hanya karena belas kasihan, bukan hanya
karena kita mau menjalankan tugas-tugas sosial, tetapi karena Allah
memihak kepada mereka yang menderita, bahkan Allah sendiri rela menderita
dengan turun sebagai manusia melalui Yesus Kristus.
Maka menurutnya, gereja harus kembali kepada hakikatnya. Itu tidak berarti
bahwa gereja sama seperti LSM. Dia tegaskan, gereja tidak sama dengan LSM
karena gereja tidak bertolak dari kepentingan philantropis atau idealis.
Melainkan gereja bertolak dari keyakinan bahwa Allah berpihak pada yang
menderita, maka gereja harus berpihak kepada mereka yang menderita.
Dia menyadari tidaklah mudah mencapai keyakinan dan cita-cita itu. Apalagi
gereja-gereja yang ada di Indonesia memiliki corak dan ciri khasnya
sendiri. Perbedaan-perbedaan seperti bentuk organisasi, tata cara ibadah,
bahkan perbedaan pemahaman teologia terhadap subyek tertentu bisa membuat
jurang pemisah satu sama lain.
Oleh karena itulah, PGI bercita-cita mempersatukan seluruh gereja di
Indonesia meski mereka memiliki sejumlah perbedaan. Dalam Sidang Raya X di
Ambon, 1984 diterima Lima Dokumen Keesaan Gereja (DKG), yang terdiri atas
Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB), Pemahaman Bersama Iman Kristen
(PBIK), Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima (PSMSM), Tata Dasar,
dan Menuju Kemandirian Teologi, Daya dan Dana.
Kemudian pada Sidang Raya XIII Palangkaraya (2000), diterima satu bentuk
DKG yang sangat tegas. Gereja Kristen yang esa itu harus sudah
diwujudnyatakan pada 2004 atau 2005, dengan prasyarat gereja-gereja harus
menjalankan empat agenda, yakni mengatasi kekerasan, ikut mewujudkan civil
society, derajat konektivitas dan akuntabilitas gereja.
Sayangnya, target tahun 2004 atau 2005 ini semakin jauh dari jangkauan
karena banyak gereja yang tidak memahami DKG itu atau berbeda pemahaman
mengenai DKG itu. Sehingga, sebelum dan selama proses sosialisasi DKG,
muncul dua kutub pemikiran tentang Keesaan Gereja.
Kutub pertama menghendaki keesaan yang terwujud dalam bentuk institusi
atau organisasi yang jelas. Kutub kedua menghendaki keesaan yang terwujud
secara fungsional di mana semua gereja menjalankan fungsi-fungsi gereja
dalam visi yang sama.
Persoalan dilema ‘keesaan’ ini setidaknya mulai teratasi setelah Sidang
Raya PGI XIV yang kembali menegaskan bahwa kendati bentuk institusi
organisasi penting, tetapi bukan itu yang terpenting dalam perjalanan
gereja-gereja. Sebab bila gereja sibuk mengurusi intern organisasinya,
masalah-masalah kemanusiaan yang menjadi ladang pelayanan gereja menjadi
terbengkalai.
Karena itu, Sidang Raya PGI XIV mengajak seluruh gereja untuk lebih
menekankan pada fungsinya sebagai gereja. Untuk memberi pemahaman yang
lebih menyatu dibuatlah istilah keesaan in action yang juga disamartikan
dengan gereja bagi orang lain.
Dibesarkan Orangtua Angkat
Andreas Anangguru Yewangoe dilahirkan di Mamboru, Sumba Barat, 31 Maret
1945. Sehari-harinya, ia biasa dipanggil Yewangoe saja. Hanya kalangan
terdekatnya yang memanggilnya dengan nama kecilnya, Andreas.
Bagi orang dekatnya, Yewangoe punya tempat tersendiri di hati mereka.
Sedangkan bagi orang yang belum mengenalnya, ia kerap kali dicap sangat
pendiam dan terkesan angkuh. Padahal ia tidak bermaksud angkuh dan
semacamnya. Diakuinya, komentar tersebut mungkin muncul karena karakternya
yang serius dan bicara seperlunya.
Istrinya, Petronella Lejloh (baca Leyloh) punya kesan tersendiri. Ia
menilai Yewangoe sebagai pribadi yang tegas, yang selalu mengerjakan
pekerjaannya sampai selesai, tanpa menunda. Namun, pada dasarnya, ia orang
yang terbuka, membiasakan berdiskusi di rumah, dan memberi kebebasan
kepada keluarga untuk berpendapat. Ia bahkan gelisah kalau tidak ada yang
mengkritiknya.
Sejak usia 7 bulan, Yewangoe sudah diasuh oleh orang tua angkatnya yakni
Pdt SM Yawange (ayah) yang melayani sebagai pendeta di kampungnya dan Leda
Kaka (ibu). Ia menjadi anak angkat bukan karena tidak mempunyai orang tua
lagi namun karena ayah angkatnya, saudara ayahnya sendiri, ini tidak
mempunyai anak. Ada kebiasaan di Sumba bahwa anak dari saudara bisa
diangkat. Orang tua kandungnya Lakimbaba (ayah) dan Kuba Yowi (ibu) juga
sangat menyayanginya.
Kehidupan keluarga ayah angkatnya terbilang sangat sederhana. Ayah
angkatnya menggantungkan hidupnya sebagai petani sebab gaji seorang
pendeta sangatlah kecil. Meski hidup dalam kesederhanaan, cinta kasih
antara Yewangoe dan keluarganya terjalin erat.
Bila mengingat masa kanak-kanaknya, Yewangoe terbawa pada masa di mana ia
dan kawan-kawannya menggembalakan kerbau. Mereka punya hobi yang sama
yaitu mengadu kerbau. Setiap kali kerbau sedang diadu, ia dan
kawan-kawannya memanjat pohon agar terhindar dari serudukan kerbau yang
sedang bertarung. Pengalaman ini tidak pernah dilupakannya.
Waktu terus berlalu dan Yewangoe menjalani hidup seperti orang desa
kebanyakan. Karena akrab dengan kehidupan seorang pendeta, terlintas dalam
hatinya untuk menjadi pendeta. Bahkan, ayah angkatnya mendorongnya agar
menjadi pendeta. Di benak Yewangoe muda, satu-satunya cara agar ia bisa
menjadi pendeta adalah dengan mengikuti sekolah pendeta. Saat itu, ia sama
sekali tidak mengerti apa itu belajar teologia dan segala hal yang
berkaitan dengannya.
Setelah mengikuti pendidikan dasar selama 6 tahun di Sekolah Rakyat Masehi
di Mamboru (1951-1957), pendidikan Menengah Pertama dan Atas di sebuah
sekolah Kristen di Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat (1957-1960;
1960-1963), ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta.
Cultural Shock
Berangkat ke Jakarta bukan perkara yang mudah baginya. Dalam perjalanannya
ke Jakarta, ia harus naik kapal hewan. Mau tidak mau, ia tidur ditemani
kuda atau kerbau. Menurutnya, keadaan saat itu sudah tergolong mewah.
Sebagai orang desa, Yewangoe berpikir bahwa Jakarta itu luar biasa
besarnya, berbeda dengan kampungnya yang ada di pulau terpencil. Tidaklah
mengherankan, pada bulan-bulan pertamanya di Jakarta, ia mengalami
cultural shock yang sering dialami oleh para pendatang.
Ia kemudian mengisahkan bahwa melalui masa studi di STT Jakarta tidaklah
mudah karena setiap mahasiswa harus melalui berbagai ujian yang cukup
berat terutama ujian bahasa Yunani dan Ibrani yang menjadi momok bagi
mereka. Apalagi bagi Yewangoe sebagai mahasiswa yang berasal dari kampung.
Tantangan semakin bertambah karena kemampuan bahasa Inggris Yewangoe masih
pas-pasan. Sebab pada waktu itu, dosen yang mengajar bahasa Yunani adalah
orang Amerika yang setiap kali mengajar menggunakan bahasa Inggris. Mau
tidak mau, ia harus memelajari dua bahasa sekaligus, bahasa Inggris dan
bahasa Yunani.
Sebagai mahasiswa, Yewangoe mengaku tidak terlampau rajin dan agak santai
dalam berkuliah. Ia berhasil melewati ujian demi ujian karena terlibat
dalam Persekutuan Mahasiswa. Di sana, ia dan rekan-rekannya saling
membantu mengerjakan tugas dan belajar bersama.
Pada masa itu, kuliah di STT terbilang tidak mudah. Ada saja mahasiswa
yang drop out karena tidak mampu mengikuti perkuliahan. Belakangan ia
semakin bersyukur karena dari 40 orang yang masuk, hanya 8 orang saja yang
lulus kuliah termasuk dirinya.
Semasa kuliah inilah ia baru mengerti apa itu teologia dan mulai tertarik
untuk mendalaminya. Ia bergelut dengan berbagai pertanyaan hidup tentang
iman dan eksistensi manusia.
Perlahan-lahan, lewat pemikiran dan buku-buku yang dibacanya, ia
menyimpulkan bahwa tidaklah mungkin orang beriman tanpa keraguan. Dari
situlah ia melihat bahwa keraguan itu suatu keharusan dan tidak mungkin
ada orang yang tidak ragu. Meski keraguan itu tidak diformulasikan,
setidaknya dalam hati orang pasti ada keraguan. Dari situlah iman timbul.
Dengan pemikiran seperti ini, ia berpendapat bahwa tidak perlu takut bila
orang ragu.
Pelayan Pendidikan Theologia
Setelah menyelesaikan studinya di STT Jakarta pada 1969, Yewangoe
mengabdikan diri sebagai pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) di Waingapu,
Sumba. Mestinya ia menjadi pendeta di daerah pedalaman, namun karena ada
satu pendeta yang mestinya menjadi dosen di Akademi Theologia Kupang (sekarang
Universitas Kristen Artha Wacana) mengundurkan diri, ia diangkat menjadi
dosen yang mengajar ilmu Theologia Sistematika pada 1971. Akademi ini dibuka oleh dua gereja besar yaitu Gereja
Masehi Injili di Timor dan Gereja Kristen Sumba.
Setahun kemudian, pada usia yang sangat muda (27 tahun), ia dipercaya
menjadi rektor periode 1972-1976. Posisinya itu membuat ia banyak
berhadapan dengan para mahasiswa yang usianya jauh lebih tua darinya.
Perlahan namun pasti, perjalanan hidupnya dipenuhi dengan berbagai kejutan.
Selama tiga tahun, 1976-1979, ia diutus ke Belanda untuk belajar teologia
di Vrije Universiteit dan berhasil meraih gelar doktorandus teologi. Meski
sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda, Yewangoe dengan gigih
memelajarinya hingga akhirnya lulus dengan nilai yang bagus.
Sekembalinya dari sana, Akademi Theologia Kupang dikembangkan menjadi
Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kupang dan ia dipercaya menjadi rektor,
1980-1984.
Tidak lama kemudian, pada tahun 1984, ia kembali ke negeri Belanda melanjutkan studi di
universitas yang sama. Ia meraih gelar doktor setelah berhasil
mempertahankan disertasinya yang berjudul "Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia " bulan
September 1987. Disertasinya ini kemudian diterbitkan BPK Gunung Mulia
menjadi buku dengan judul Theologia Crucis di Asia, dimana tahun 2005
sudah memasuki cetakan ke empat.
Sekembalinya dari Belanda, Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kupang sudah
berubah menjadi Universitas Kristen Artha Wacana. Ia kembali dipercaya
menjabat sebagai rektor untuk dua periode, 1990-1994 dan 1994-1998.
Selesai masa jabatannya, ia terus menekuni profesinya sebagai dosen di
Fakultas Teologia.
Pada tahun 2001, ia berangkat ke Jakarta dan menjadi dosen Theologia Sistematika di STT Jakarta
sambil menjalani kegiatannya sebagai Ketua PGI yang dijabatnya untuk
periode 2000-2004 hasil Sidang Raya XIII Palangkaraya. Sebelumnya, ia
sudah dipilih sebagai Ketua PGI untuk periode 1994-1999, dan menjadi
anggota Majelis Pekerja Harian (MPH) pada periode 1989-1994.
Ketua Umum PGI
Terhitung sejak Desember 2004, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum
PGI periode 2004-2009 melalui Sidang Raya XIV Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI) yang berlangsung sejak 30 November 2004 di Wisma Kinasih,
Caringin, Bogor. Sidang Raya PGI kali ini mengambil tema "Berubahlah oleh
Pembaharuan Budimu".
Penulis tetap rubrik "Titik Pandang" di Suara Pembaruan, itu terpilih
bersama Pdt Dr Richard M Daulay (sekretaris umum). Keduanya menggantikan
posisi pimpinan PGI periode lalu yang dijabat Pdt Natan Setiabudi PhD dan
Pdt Dr IP Lambe.
Pemilihan Ketua Umum dan Sekum PGI dilakukan terpisah. Dalam pemilihan
Ketua Umum PGI, Yewangoe dari Gereja Kristen Sumba meraih 41 suara,
menyisihkan dua calon lain: Pdt Dr John Titaley dari Gereja Protestan di
Indonesia Bagian Barat/GPIB (16 suara) dan Pdt Dr Nico Gara dari Gereja
Masehi Injili di Minahasa (14 suara). Pemilihan Ketua Umum PGI hanya
berlangsung satu kali.
Sementara, Daulay, yang sebelumnya menjabat Wakil Sekretaris Umum PGI,
memperoleh 41 suara, menyisihkan Nico Gara (34 suara). Pemilihan Sekum
berlangsung dalam tiga putaran.
Ia bersama istri, Petronella Lejloh, yang dinikahinya 15 Desember 1970
dikaruniai dua orang anak. Si sulung bernama Yudhistira Gresko Umbu Turu
Bunosoru lahir 1972. Menurut pengakuannya, nama Yudhistira diambilnya dari
kisah Mahabarata dalam tradisi Hindu. Si bungsu bernama Anna Theodore
(1980).
Meski tak seorang pun dari dua anaknya mengikuti jejaknya menjadi pendeta,
namun Yudhistira, yang meraih gelar master dalam ilmu perniagaan dari
sebuah universitas di Sydney, Australia, mempersunting seorang pendeta
dari Kupang. Anna, hingga saat ini, masih memperdalam ilmu kepariwisataan
di Bali.
Selain hobi mengajar, membaca buku sudah menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam kehidupannya. Biasanya, sesudah membaca sebuah buku, ia
membagi apa yang telah dibacanya itu kepada sang istri.
Tidak cukup hanya membaca buku, ia pun menulis beberapa buku di antaranya
Pendamaian (1983), Pengantar Sejarah Dogma Kristen (2001), Agama dan
Kerukunan (2002), Lea (2002) serta Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara
Pancasila (2002).
Ia juga mengisi waktunya dengan menulis. Bahkan, di tengah-tengah rapat
pun, ia bisa memecah konsentrasinya untuk menulis suatu artikel. Sebagai
salah satu penulis tetap rubrik "Titik Pandang" di Suara Pembaruan, ia
termasuk kategori penulis disiplin memenuhi tenggat waktu. Walau mempunyai
jabatan baru yang bakal membuatnya lebih sibuk, ia berjanji tetap menulis
seperti biasa. "Saya melakukannya dengan gembira," katanya. ► e-ti/ht-mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|