| |
C © updated 14122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Andreas Anangguru Yewangoe
Lahir:
Mamboru, Sumba Barat, NTT, 31 Maret 1945
Agama:
Kristen
Jabatan:
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Perayaan Natal PGI 2005
Janganlah Takut Sebab Aku Menyertai Kamu
JAKARTA - Keluarga Besar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
merayakan Natal (14/12/05) di Ruang Sidang PGI, Jl. Salemba Raya 10,
Jakarta. Acara yang bertema ‘Janganlah Takut, Sebab Aku Menyertai Kamu’
ini dimulai dengan menyalakan lilin Adven.
Selain dihadiri oleh Ketua Umum PGI Pdt. Dr. A.A Yewangoe, Sekum PGI
Pdt. Dr. Richard M. Daulay, Sekretaris Jenderal KWI (Konferensi
Waligereja Indonesia) Mgr. Ignatius Suharyo beserta segenap pengurus,
tampak pula pengusaha Edwin Suryajaya.
Dalam perayaan Natal ini umat Kristiani diajak untuk melihat kembali
peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada bangsa ini dan dunia. Bencana
tsunami di Aceh yang memilukan hati bangsa ini, badai dan topan yang
melanda beberapa negara, aksi terorisme, sakit penyakit seperti flu
burung, busung lapar dan kelaparan yang belum lama ini melanda Papua.
Tidak ketinggalan pula SKB 2 Menteri yang dijadikan alat untuk
menjustifikasi penutupan banyak tempat ibadah.
Berbagai tekanan dan cobaan boleh datang silih berganti, namun umat
Kristiani harus terus percaya dalam menjalankan misi imannya. “Janganlah
takut sebab Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau,“ kata
Ketua Umum PGI Pdt. Dr. A.A Yewangoe dalam khotbahnya. Dalam
perayaan Natal ini dibacakan Pesan Natal Bersama Persekutuan
Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia Tahun
2005, sbb:
Pesan Natal PGI dan KWI 2005
"Janganlah Takut Sebab Aku Menyertai Engkau" Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan
Konferensi Wali Gereja Indonesia Tahun 2005: "JANGANLAH TAKUT SEBAB AKU
MENYERTAI ENGKAU ..." (Yes. 41:10a). Kepada segenap umat Kristiani
Indonesia di mana pun berada. Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita
Yesus Kristus.
Dengan hati yang penuh syukur dan sukacita umat Kristiani Indonesia
merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus, Tuhan dan Juru
Selamat dunia. Di tengah berbagai kondisi yang mewarnai kehidupan, Natal
selalu membawa sukacita dan pengharapan.
Lagu-lagu Natal dan
kidung-kidung rohani yang dikumandangkan dalam perayaan-perayaan Natal,
membuat manusia sungguh¬-sungguh hidup walaupun ada kegetiran,
kepahitan, luka dan duka di dalamnya. Yesus sendiri yang bersabda, “Aku
datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan"
(Yoh. 10:10b).
Ia memberi hidup bagi orang-orang miskin, para tawanan, orang-orang
tertindas, orang-orang buta, orang-orang yang tersingkir dan tersungkur,
serta mereka yang terhempas dan terkandas (bdk, Luk. 4:18-19; 7:22).
Umat Kristiani Indonesia merayakan Natal 2005 ini dalam suasana yang
khusus.
Berbagai peristiwa memilukan terjadi akhir-akhir ini dan mendera
kehidupan bangsa. Berbagai krisis yang melilit perjalanan bangsa sejak
beberapa tahun terakhir belum kunjung usai, bahkan makin menyengsarakan
kehidupan rakyat.
Krisis kepercayaan melahirkan iklim politik yang tidak sehat. Suatu
keadaban yang diwarnai rasa curiga, iri hati, perselisihan dan balas
dendam telah mengganggu hubungan antar warga bangsa. Bencana alam, wabah
penyakit dan kelaparan melanda beberapa wilayah di tanah air. Kebebasan
beragama dan beribadah menghadapi berbagai halangan karena melemahnya
sikap tenggang rasa. Suasana seperti ini telah membuat kita sebagai
bangsa takut untuk memandang masa depan. Sanggupkah kita keluar dari
situasi sulit yang melilit kehidupan kita? Kapankah semua persoalan ini
akan berakhir?
Situasi sulit seperti ini pernah dialami oleh umat Allah di zaman
Perjanjian Lama yang harus menjalani hidup di tanah pembuangan Babilonia
(2 Taw. 36:11-21). Kenyataan ini merupakan pengalaman pahit yang
mengguncang iman mereka. Sekian lama mereka tinggal di tanah pembuangan,
jauh dari tanah air mereka sendiri. Dalam suasana merasa ditinggalkan
sendirian oleh Allah, mereka tidak melihat harapan untuk bebas dari
pembuangan. Akibatnya, mereka takut berharap dapat keluar dari kesulitan
yang membelenggu mereka dan takut memandang masa depan.
Dalam situasi seperti itu dengan perantaraan Nabi Yesaya, Allah berjanji
untuk membawa mereka kembali ke tanah air mereka (Yes. 40:10-11; bkd, 2
Taw. 36:22-23; Ezr. 1:1-4). Allah berkuasa atas alam semesta (Yes.
45:11-13) dan karena itu umat dapat tetap berharap kepada-Nya. Mereka
juga diingatkan untuk tidak takut atau bimbang karena Allah sendiri
menyertai mereka dan mempersiapkan masa depan untuk mereka (Yes. 41:
10).
Allah ada bersama umat-Nya dan turut merasakan pengalaman pahit yang
mereka alami. Allah meneguhkan dan menolong mereka, bekerja bersama
mereka membangun pengharapan baru. Dengan nama Immanuel, yang berarti
"Allah menyertai kita" (Yes. 7:14; Mal. 1: 23), diingatkan bahwa Ia
terlibat dalam usaha-usaha mengatasi segala persoalan dan kesulitan yang
membelenggu bangsa kita selama ini.
Natal mengingatkan kita bahwa Allah yang menjadi manusia juga merasakan
dan mengalami persoalan¬-persoalan hidup kita sebagai manusia. Allah
tidak hanya menonton pergumulan kita, atau hanya melihat kita waktu
penderitaan mendera. Ia tidak membiarkan kita bekerja sendirian, tetapi
bekerja bersama kita, menghadapi segala persoalan kita. Dalam keyakinan
bahwa Allah telah datang dan menyertai kita, janganlah kita menjadi
takut dan putus asa, tetapi justru dengan penuh semangat dan
pengharapan, bekerja membangun masa depan yang lebih baik.
Dengan berpegang teguh pada Firman Allah yang menegaskan bahwa Ia
senantiasa menyertai kita, marilah kita bersama seluruh warga bangsa
terus-menerus berusaha membangun keadaban baru.
Marilah kita wujudkan
pengharapan untuk menjadi suatu bangsa yang bebas dari korupsi;
menghargai kemajemukan, anti kekerasan, menjunjung tinggi hukum dan
keadilan, menghargai hak asasi manusia, dan melestarikan keutuhan
ciptaan, menuju kehidupan yang lebih baik. Kami berharap bahwa peristiwa
Natal sungguh-sungguh memberikan kekuatan, inspirasi, pencerahan dan
visi baru bagi, umat Kristiani Indonesia untuk melaksanakan tugas
kesaksian dengan setia di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Semoga peristiwa Natal benar-benar membangkitkan kesadaran baru bagi
umat Kristiani Indonesia untuk memperkukuh ikatan persaudaraan dengan
seluruh warga bangsa sambil terus-menerus memeriksa diri dan membaca
tanda-tanda zaman agar dapat berperan signifikan dalam pembangunan
bangsa dan negara dengan cara-cara yang tepat. Selamat Natal 2005 dan
Tahun Baru 2006.
Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Ketua Umum : Pdt. Dr. A.A Yewangoe
Sekretaris Umum : Pdt. Dr. Richard M. Daulay
Konferensi Waligereja Indonesia
Ketua : Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.
Sekretaris Jenderal : Mgr. Ignatius Suharyo
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|