| |
C © updated
16102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sp |
|
| |
Nama:
Mayjen TNI (Purn) H Andi Mattalatta
Lahir:
Barru, 1 September 1920
Wafat:
Makassar, 16 Oktober 2004
Istri:
Hj Sitti Aminah Daeng Pudji (Alm)
Anak:
1. dr Hj Andi Hermien Mattalatta
2. H Muh Andi Ilham Mattalatta
3. Ir Hj Andi Radlia Mattalatta, MBA
4. dr Andi Faridha Mattalatta, SPA
5. Hj Andi Meriem Mattalatta
6. Ir Hj Andi Sorayantina Mattalatta
Pendidikan:
1. Gouv Inl School, 1927-1929
2. Gouv Openb Schakelschool. 1929-1934
3. MULO + Vakhandelschool, 1934-1937
4. Kursus Keolahragaan, 1937-1940
Pendidikan Kemiliteran:
1. Tokubetsu Teisintai 1944
2. Republik Indonesia, 1946
3. Chandradimuka, 1951
4. SESKOAD Kursus C, 1960-1962
Bintang dan Satya Lencana:
1. Bintang Gerilya
2. Bintang Sakti
3. Bintang Darma
4. Bintang Kartika
5. Bintang Angkatan 45
6. Bintang Veteran
7. Bintang Mahaputra Nararya
8. Bintang 50 Tahun Kemerdekaan
9. Medali Kl 1 Pembina Utama Pratama Olahraga
10. Medali Sewindu
11. Medali Pancawindu angkatan 45
12. Lencana Bakti Catur Dharma Pepabri
13. Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun
14. Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun
15. Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun
16. Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
17. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
18. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I
19. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer II
20. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer III
21. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer IV
22. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer V
23. Satya Lencana Gerakan Operasi Militer VI
24. Satya Lencana Saptamarga
25. Satya Lencana Penegak
26. Satya Lencana Kebudayaan
27. Lencana Cikal Bakal TNI
Alamat:
Jl. Dr. Ratulangi No. 12 Makassar, Sulsel
Sumber:
Suara Pembaruan, Sabtu, 16 Okt 2004
|
|
| |
|
|
|
|
Mayjen TNI (Purn) H Andi Mattalatta
Jenderal dan Tokoh Olahraga
Mayjen (Purn) H Andi Mattalatta, seorang tokoh pejuang
kemerdekaan asal tanah Bugis yang juga tokoh olahraga meninggal dunia sekitar pukul 01.10 Wita
Sabtu 16 Oktober 2004 di rumahnya, Jalan Dr Ratulangi 12 Makassar. Pak Mat
-- panggilan akrabnya -- kelahiran
Barru, 1 September 1920 meninggal dalam usia 84 tahun.
Ayah dari artis kondang Andi Meriam Mattalatta dan politisi Dr Muhammad
Andi Mattalatta ini adalah panglima pertama Komando Daerah Militer
Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST), dilantik 1 Juni 1957 oleh Kasad
Mayjen TNI AH Nasution. Sebelum meninggal dunia, Andi Mattalatta telah
membukukan kisah perjuangannya yang ditulis sendiri setebal 644 halaman.
Kisah itu itu diberi berjudul : Meniti Siri dan Harga Diri.
Dalam tulisan itu, Mattalatta tidak hanya menapaktilasi perjuangannya
di pentas militer yang diawali sebagai Tokubetsu Teisintai di masa
pendudukan Jepang tahun 1944. Namun penyandang berbagai anugerah bintang
dan satya lencana perjuangan itu juga mengurai berbagai pengalamannya
membangun dunia olahraga di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.
Sebelum mengawali karier militer, bangsawan Bugis-Makassar kelahiran
Barru 1 September 1920 itu, mendalami bidang atlet. Ia memiliki prestasi
olahraga renang, loncat indah, tinju, bahkan hampir semua jenis olahraga
ditekuninya.
Andi Mattalatta dijuluki maniak olahraga, ia serba bisa sehingga atas
kehebatannya di masa kolonial Belanda, menjadikan ia satu-satunya pribumi
yang direstui bergabung menjadi anggota Sport Stait Spieren (SSS) yang
didirikan untuk anak-anak Belanda di masa itu.
Stadion Mattoanging
Tahun 1952 Andi Mattalatta memprakarsai pembangunan Stadion Mattoanging
Makassar yang dilengkapi gedung olahraga, kolam renang, serta fasilitas
olahraga lainnya di Makassar. Dia juga menjadi tokoh penyelenggara Pekan
Olahraga Nasional (PON) IV tahun 1957 di Kota Makassar.
Di bidang olahraga, Mattalatta sudah menunjukkan kehebatannya sejak
1932, menyisihkan atlet-atlet keturunan Belanda dalam renang gaya dada
memperebutkan piala Ratu Wilhelmina der Nederlanden van Oranje Nassau di
Makassar. Diusia 15 tahun Mattalatta menjadi petinju yang mengawali
prestasi di kelas bulu (55kg) dengan meng-KO petinju Batavia, Kid Usman,
kelas ringan (60 kg). Ia juga menjadi pelatih dibeberapa klub atlet karena
kemahirannya.
Pantai LumpuE, Kota Pare-Pare (163 km arah Utara Makassar), memiliki
kesan sejarah yang tak terlupakan oleh Mayjen TNI (Purn) Andi Mattalatta.
Dari pantai indah berpasir putih yang terletak sekitar 122 km dari Kota
Makassar itu, ia mulai merintis cikal bakal keberadaan olahraga ski air di
Indonesia.
Keinginan Andi Mattalatta untuk mempelajari olahraga itu bangkit karena
terobsesi film Easy to Love yang ditontonnya saat bertugas di Semarang.
"Saya kagum pada tokoh film Easy to Love itu, berulang kali saya tonton
dan itu film kesukaan saya," katanya dalam wawancara khusus dengan
Pembaruan beberapa waktu lalu.
Ketiadaan fasilitas olahraga tersebut tidak mematahkan keinginannya,
berbekal gambar speedboat yang diperoleh dari majalah Mechanic
Illustrated Andi Mattalatta membawanya kepada Jo Thong Siang, seorang
pembuat sekoci di Kota Makassar. Ia lalu memesan untuk dibuatkan dua buah
sekoci type Runabout serta memesan motor tempel 35 PK melalui NV Jacohson
van den Berg.
Dua minggu kemudian, alat-alat itu telah rampung. Namun, karena
sulitnya mendapatkan papan ski, terpaksa ia membuat sendiri menggunakan
papan sepanjang 1,70 m, lebar 0,20, pada ujungnya dilengkungkan. Ia juga
membuat sepatu ski hanya dengan memakai sepatu kets yang diikat, sedangkan
tali penariknya ski hanya menggunakan tali ijuk tanpa alat pegangan.
Tumpas RMS
Ketika bertugas sebagai Komandan Batalyon di Pare-Pare, Mayor Andi
Mattalatta mengharuskan semua anak buahnya untuk pandai berenang.
Masalahnya, kata Andi Mattalatta, dia punya pengalaman pahit saat memimpin
Ge-rakan Operasi Militer (GOM) di Pulau Haruku, Maluku Selatan ketika
menumpas gerombolan Republik Maluku Selatan (RMS).
Prajurit yang tergabung dalam Batalyon 705 Mattalatta yang
diberangkatkan 18 Desember 1950 banyak yang gugur bukan karena tertembak
musuh, melainkan tenggelam ketika terjadi pendaratan pantai."Soal
kepandaian berenang sangat prinsip bagi seorang prajurit, dan itu harus
dikuasai," kata Andi Mattalatta.
Karena belum mengenal alat pelampung (lifevest), maka setiap yang
berminat untuk belajar, harus terlebih dahulu pandai berenang. Itulah yang
membuat Andi Mattalatta, puas sebab pasukannya yang berminat dengan
olahraga yang ramai ditonton masyarakat itu, dengan sendirinya harus
menguasai renang sehingga tidak perlu lagi repot melatih prajurit
berenang.
Ketika menjadi Komandan Komando Pangkalan Militer Makassar tahun 1953,
olahraga ski air berkembang pesat di Makassar dan menarik perhatian
masyarakat luas. Andi Mattalatta sering mengundang para perwira untuk
memperoleh rekreasi segar agar membebaskan mereka dari kejenuhan tugas.
Tak ketinggalan bangsa asing yang berdomisili di Makassar ikut belajar
main ski air menyusuri pantai Makassar, Pulau Lae-Lae, Pulau Samalona dan
Pulau Meroux yang sekarang bernama Pulau Kayangan.
Tahun 1954, ayah kandung artis Andi Meriam Mattalatta ini mendirikan
Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air (POPSA) di Makassar dan
membangun rumah klub di depan Fort Rotterdam, tepi pantai Kota Makassar.
Hingga kini tempat itu masih menjadi pusat kegiatan olahraga air.
Semua putra-putri Andi Mattalatta mahir bermain ski air mewarisi
kemampuan alam yang dimiliki Andi Mattalatta. Mereka adalah dr Hj Andi
Hermien Mattalatta, H Andi Muh Ilhamsyah Mattalatta, Ir H Andi Radlia
Mattalatta,MBA, dr Andi Farida Mattalatta, SPA, Hj Andi Meriam Mattalatta
dan Ir Hj Andi Sorayantina Mattalatta. Dua diantaranya merupakan atlet ski
air yang cukup tangguh yaitu Andi Ilhamsyah, pernah mendapat gelar"seniman
slalom" pada Kejurnas Ski 1972, sedangkan Andi Sorayantina, putri bungsu
Andi Mattalatta memiliki prestasi terbaik di PON X di Jakarta, 1981.
Pembaruan/ M Kiblat Said
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|