| |
C © updated 08052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Amrus Natalsya
Lahir:
Medan, 21 Oktober 1933
Ayah:
Rustam Syah Alam
Ibu:
Aminah
Pendidikan:
Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta
Profesi:
- Pematung
Karya,al:
- Patung kayu: Orang Buta yang Terlupakan
- Patung kayu: Pecinan
Organisasi:
Sanggar Bumi Tarung, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di
Yogyakarta.
|
|
| |
|
|
|
|
| AMRUS HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI Amrus Natalsya Pematung Kayu yang Fenomenal
Dia pematung handal yang di akhir tahun 90-an, pernah menggemparkan
dunia seni rupa Indonesia dengan karya fenomenalnya berjudul Pecinan,
dalam bentuk cukil kayu, yang menjadi ciri khasnya. Amrus Natalsya,
pria kelahiran Medan, 21 Oktober 1933, dalam mematung tampak membumi,
baik dalam memilih bahan baku kayu, mengolah bentuk, membentuk sapuan
warna maupun menuangkan sifat dan karakter keseniannya.
Putera dari pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah, ini sejak kecil,
sudah menunjukkan bakat seninya. Agaknya dia mewarisi bakat seni
kakeknya.
Dia menyelesaikan pendidikan SD sampai SMA di Medan. Setamat SLTA , dia
merantau ke Yogyakarta dan mendaftar ke jurusan seni lukis Akademi Seni
Rupa Indonesia (ASRI). Namun, lantaran jurusan itu penuh, ia diterima di
bagian reklame.
Dalam perjalanan hidupnya, dia berkenalan dan bersahabat dengan
pematung Michael Wowor. Persahabatan itu mendorongnya ikut memahat kayu,
yang akhirnya dia tekuni. Lahirlah karya patungnya berjudul Orang Buta
yang Terlupakan. Sejak itu, namanya sebagai pematung mulai dikenal
banyak orang. Pada tahun 50-an, karya-karya patungnya mulai dipamerkan
di luar negeri.
Kemudian pada tahun 1961, bersama teman-temannya dari ASRI, seperti
Isa Hasanda, Misbah Thamrin dan Joko Pekik, mendirikan Sanggar Bumi
Tarung, yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di
Yogyakarta.
Kiprahnya di sanggar yang bernaung di bawa Lekra itu membuatnya
berurusan dengan politik. Sejarah perjalanan bangsa ini yang dinodai
G-30-S/PKI, menyeretnya dalam kancah pertarungan politik. Patung-patung
karyanya dibakar saat pergantian pemerintah berlangsung. Dia pun
ditangkap dan dipenjara (1968- 1973).
Setelah dibebaskan dari penjara (1973), Amrus kembali menekuni seni
mematung. Tapi sangat sulit mendapatkan sponsor untuk memamerkan
karyanya. Tapi, hal itu tidak membuatnya berhenti berkarya. Dalam posisi
dan kondisi sangat sulit, dia berhasil mengisi salah satu kios di Pasar
Seni Ancol, Jakarta.
Ketika Taman Impian Jaya Ancol diperluas, terdapat banyak kayu
tebangan. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara kreatif dia
sia pun membuat lukisan kayu. Karyanya mendapat apresiasi tinggi, dan
laku di pasaran. Amrus semakin bergairah melahirkan karya-karya seni
patung yang membuat namanya pantas diabadikan sebagai maestro pematung
Indonesia. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|