| |
C © updated
22122002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais, MA
Lahir:
Surakarta, 26 April 1944
Orang tua:
Syuhud Rais dan Sudalmiyah
Istri:
Kusnariyati Sri Rahayu
Pendidikan:
Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada (lulus 1968)
Notre Dame Catholic University, Indiana, USA (1974)
Al-Azhar University, Cairo, Mesir (1981)
Chicago University, Chicago, USA (gelar Ph.D dalam ilmu politik 1984)
George Washington University (postdoctoral degree, 1988-1989)
Perjalanan karir:
Dosen pada FISIP UGM (1969-1999)
Pengurus Muhammadiyah (1985)
Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995)
Wakil Ketua Muhammadiyah (1991)
Direktur Pusat Kajian Politik (1988)
Peneliti Senior di BPPT (1991)
Anggota Grup V Dewan Riset Nasional (1995-2000)
Ketua Muhammadiyah (1995-2000)
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1999-sekarang)
Ketua MPR (1999-2004)
Alamat Rumah:
Jl. Pandean Sari II No.5
Rt.003/55 Condong Catur
Depok-Sleman
Yogyakarta
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3
4 5 6 7 ==
Prof. Dr. M. Amien Rais
‘King Maker’ Pentas Politik Nasional
Partai Amanat Nasional mendeklarasikan pasangan Amien Rais dan Siswono
Yudo Husodo sebagai calon presiden dan wapres hari Minggu 9 Mei 2004 di
halaman belakang Gedong Joeang 45, Jakarta. Dwitunggal yang disebut
sebagai koalisi agamis-nasionalis dan nasionalis-agamis itu bertekad
membangun kedamaian dan menuntaskan reformasi.
Selain itu, dwitunggal ini juga disebut sebagai pemimpin yang berani,
jujur dan amanah. Pada acara deklarasi ini, juga dibacakan garis besar
platform Amien Rais Siswono yang bertajuk 'Akselerasi Kemajuan Bangsa
2004-2009. Kiprah Prof. Dr. M. Amien Rais dalam pentas politik nasional cukup
fenomenal. Kendati Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya, hanya
mendapat tujuh persen suara pada Pemilu 1999, ia mampu menjadi king maker
pentas politik nasional dan menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
bahkan nyaris pula jadi presiden pada SU-MPR 1999. Kini, mantan Ketua Umum
Muhammadiyah itu menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden yang
berpeluang memenangi Pemilu Presiden 2004.
Pada awal bergulirnya reformasi, putera bangsa kelahiran Solo, 26 April
1944, ini didaulat berbagai kalangan aktivis sebagai Bapak Reformasi. Ia
menonjol dengan berbagai aktivitas dan pernyataan-pernyataan yang cerdas
dan keras ketika itu. Memang, sejak awal bergulirnya reformasi yang
digerakkan oleh para mahasiswa, Amien Rais sudah menyatakan diri ingin
mencalonkan diri sebagai presiden. Suatu pernyataan yang tergolong amat
berani sebelum lengsernya Pak Harto.
Pencalonan dirinya menjadi presiden itu, bukanlah semata-mata didorong
hasrat untuk berkuasa, melainkan lebih didorong keprihatinannya atas
penderitaan rakyat akibat kesalahan kepemim-pinan nasional yang otoriter
dan korup. Ia melihat, keterpurukan bangsa ini harus diperbaiki mulai dari
tampuk kekuasaan.
Obsesi inilah yang mendorong Guru Besar Universitas Gajah Mada ini
mendirikan PAN bersama-sama dengan para tokoh reformis lainnya. Sebuah
partai terbuka berasas Pancasila dan berbasis utama Muhammadiyah. Namun
suara yang diperoleh PAN pada Pemilu 1999 tidak cukup signifikan untuk
mengantarkannya ke kursi presiden untuk dapat mengendalikan upaya
pewujudan tujuan reformasi total.
Kini, PAN sudah lebih siap untuk bersaing dalam Pemilu Leigslatif dan
Pemilu Presiden 2004. Partai ini bertekad untuk mengantarkan Amien Rais
menjadi Presiden RI 2004-2009 melalui Pemilu Presiden 2004. Para
fungsionaris partai ini diyakini banyak pihak mempunyai kemampuan
menggalang kekuatan beraliansi dengan partai-partai lain untuk memenangi
Pemilu Presiden 2004 itu.
PAN dinilai banyak kalangan sebagai partai masa depan dan reformis yang
memiliki ‘keunikan’ dibanding beberapa partai lain. Partai ini adalah
partai terbuka (kebangsaan) tetapi berkompeten mengatasnamakan (menyuarakan)
aspirasi Islam. Suatu partai yang dinilai sangat ideal untuk Indonesia
masa depan.
Sementara, Amien Rais tampak tampil sebagai personifikasi dari PAN. Ia
memiliki ‘keunikan’ serupa dengan partai yang didirikan dan dipimpinnya
ini. Ia seorang tokoh berjiwa kebangsaan yang berlatarbelakang dan
memiliki kedalaman religi Islam yang taat. Ia seorang cendekiawan muslim
yang berjiwa kebangsaan. Seorang yang sejak kecil diasuh dalam keluarga
Muhammadiyah yang taat. Seorang tokoh yang berkompeten hadir dalam
eksisistensi kebangsaan sekaligus kompeten dalam eksistensi keislaman.
Sehingga pantas saja ia dijagokan sebagai calon presiden terkuat untuk
bersaing dengan calon-calon presiden lainnya.
Kepiawian Berpolitik
Kepiawiannya berpolitik juga sudah terbukti. Kendati partai yang
dipimpinnya bukan pemenang Pemilu 1999, tapi peranannya dalam pentas
politik nasional sangat menonjol. Sehingga ia pantas digelari sebagai King
Maker Pentas Politik Nasional.
Kecerdasannya menggalang partai-partai berbasis Islam membentuk Poros
Tengah, suatu bukti kepiawiaannya berpolitik. Pembentukan Poros Tengah ini
dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kericuhan dan perpecahan bangsa,
sebagai akibat kerasnya persaingan perebutan jabatan presiden antara BJ
Habibie (Partai Golkar) dengan Megawati Sukarnoputri (PDIP).
Dan, memang Poros Tengah secara gemilang berhasil merubah konstalasi
politik nasional secara signifikan. Amien Rais tampak berperan sebagai
play maker bahkan king maker dalam berbagai manuver politik Poros Tengah
yang berpengaruh luas dalam pentas politik nasional. Ia jauh lebih
berperan dari pimpinan partai politik (PDIP, Partai Golkar, PPP dan PKB)
yang meraih suara lebih besar dibanding PAN pada Pemilu 1999.
Salah satu manuver politik Amien Rais (dengan mengangkat bendera Poros
Tengah) yang dinilai banyak orang sangat brilian adalah pernyataannya
menjagokan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden. Manuver
ini berhasil melemahkan kekuatan Megawati, sebagai calon kuat presiden
ketika itu, karena berhasil menarik PKB dari koalisinya dengan PDIP.
Tetapi juga sekaligus melemahkan kekuatan BJ Habibie, yang sebenarnya
tidak diinginkan beberapa elit politik partai berbasis Islam yang
tergabung dalam Poros Tengah, seperti PPP dan PBB.
Bahkan, justeru BJ Habibie yang terlebih dahulu -- secara tidak langsung
-- terkena dampak manuver politik Poros Tengah. Laporan pertangungjawaban
Habibie ditolak SU-MPR 1999, yang memaksanya secara etika politik
mengurungkan pencalonan presiden.
Mundurnya BJ Habibie membuka peluang kepada Amien Rais, Akbar Tanjung,
Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra ikut dalam bursa calon presiden.
Dalam pertemuan di kediaman BJ Habibie, pada malam setelah LPJ-nya ditolak
MPR, nama keempat pemimpin partai ini dibahas sebagai calon presiden
pengganti BJ Habibie. Dan, terakhir Amien Rais yang lebih diunggulkan.
Hampir saja Amien Rais resmi menjadi calon presiden yang dijagokan Poros
Tengah dan Golkar. Tetapi Amien Rais tidak mau gegabah. Kendati peluangnya
menjadi calon kuat presiden telah terbuka, ia ingin melakukannya dengan
lebih elegan.
Ia ingin berbicara lebih dulu dengan Gus Dur. Ia butuh dukungan Gus Dur,
sama seperti ia mengalah-kan Matori Abdul Jalil untuk merebut jabatan
Ketua MPR. Apalagi Amien Rais telah secara terbuka menyatakan bahwa ia dan
Poros Tengah akan mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Sehingga betapa
pun kuatnya dorongan agar ia men-jadi presiden, ia tidak mau gegabah. Ia
punya etika dan moral politik.
Maka ketika Gus Dur telah mendahului secara resmi dicalonkan PKB untuk
merebut kursi presiden, Amien Rais tidak mau bersaing mencalonkan diri. Ia
dan Poros Tengah mendukung pencalonan Gus Dur. Sehingga jadilah Gus Dur,
dengan kesehatan jasmani yang sudah terganggu, terpilih menjabat presiden
menga-lahkan Megawati Sukarnoputri pemimpin partai pemenang Pemilu (35%).
Poros Tengah yang dimotori Amien Rais berhasil merubah konstalasi politik
nasional secara signifikan. Poros Tengah berhasil meredam kemungkinan
terjadinya kericuhan antara dua kekuatan pendukung Megawati dengan BJ
Habibie, yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Poros Tengah
berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid ke singgasana presiden. Kendati
Abdurrahman Wahid dalam banyak hal sering berbeda pendapat dengan prinsip
yang dianut para elit politik Poros Tengah.
Itu semua tidak terlepas dari kepiawian Amien Rais. Dengan hanya mendapat
tujuh persen suara pada pemilu 1999, Partai Amanat Nasional (PAN) yang
dipimpinnya mampu mewarnai peta politik setelah tumbangnya rezim Orde Baru.
Tidak sedikit pujian yang kemudian dialamatkan kepadanya.
Menanggapi puji-pujian ini ia sendiri hanya mengatakan, “Apa yang saya
lakukan itu semata-mata untuk kepentingan bangsa dan negara tercinta. Saat
itu bangsa ini berada di ambang kehancuran. Untuk mencegahnya maka
ditawar-kan Poros Tengah sebagai alternatif. Alhamdulilah, tawaran itu
mendapat sambutan cukup baik dari sebagian besar kalangan,” katanya.
Itulah Amien Rais. Ia piawai dalam memanfaatkan situasi. Canggih dalam
menciptakan peluang, bahkan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada,
meskipun kecil, untuk meraih hasil yang jauh lebih besar.
Hubungan Amien Rais dan Poros Tengah dengan Gus Dur, pada awal
pemerintahan Gus Dur, terkesan sangat baik. Amien Rais bahkan merupakan
satu dari empat orang yang dimintai tolong oleh Gus Dur untuk menyusun
kabinetnya, yang sering disebut sebagai kabinet yang paling kompromistis
dalam sejarah Indonesia.
Tetapi sayang, seiring berjalannya waktu, hubungan antara Gus Dur dan
Amien Rais merenggang. Kekuatan Poros Tengah yang dulu mendukung Gus Dur,
mulai merasa tak dihargai. Gus Dur cepat lupa kepada mereka yang
memungkinkannya jadi presiden. Gus Dur kembali dalam habitatnya, dan
sering kontroversial.
Keretakan makin mencuat terutama setelah Gus Dur memecat Hamzah Haz dari
jabatan Menko Kesra. Poros Tengah merasa dilukai. Poros Tengah berbalik
arah menggalang kekuatan dengan PDIP dan Golkar yang juga sudah merasa
dilecehkan Gus Dur. Akhirnya, pada Juli 2001 Gus Dur pun diturunkan dari
kursi presiden dan Megawati naik menggantikannya. Dalam proses ini, Amien
Rais juga memain-kan peranan yang cukup besar.
Karir politik Amien Rais, mulai mencuat setelah semasa rezim Orde Baru ia
berkesempatan memimpin Muhammadiyah (1995-2000). Kesem-patan itu diperoleh
setelah ia menjabat Wakil Ketua Muhammadi-yah dan Asisten Ketua Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) 1991-1995. Kemudian menjadi Ketua
Dewan Pakar ICMI.
Ia mulai secara terbuka berseberangan dengan Soeharto, setelah Soeharto
mencoret namanya dari daftar calon Anggota MPR 1997 bersama Adi Sasono
yang diajukan oleh BJ Habibie. Sejak itu, ia me-nunjukkan kualitas yang
sesungguh-nya. Bahwa ia bukan orang karbitan. Ia punya kemampuan untuk
menjadi pemimpin nasional.
Seiring bergulirnya reformasi, ia pun sering mengeluarkan
komentar-komentar kritis kepada Soeharto. Sehingga doktor ilmu politik ini
juga berperan besar seputar proses reformasi yang menjatuhkan kekuasaan
presiden kedua Republik Indonesia itu.
Salah seorang tokoh pendeklarasi ICMI ini bersatu dengan mahasiswa
menuntut turunnya Soeharto dari singgasana yang telah dinikmatinya selama
32 tahun. Setelah Soeharto jatuh, Amien Rais bahkan sempat seperti alergi
menyebut nama panggilan Pak Harto. Ia selalu menyebut Soeharto tanpa
embel-embel Pak, sebagaimana lazimnya Suharto dipanggil. Kendati untuk hal
ini, ia dianggap beberapa orang terlalu emosional.
Bukan saja manuver politiknya yang menarik dan seringkali berhasil
mencapai konsensus, tetapi juga ia menjadi tokoh politik yang relatif
bersih dari gosip kotor. Hanya pernah satu kali ia digosipkan oleh orang
tertentu sebagai orang yang membuat terpidana Zarima hamil. Tetapi tuduhan
itu dibantah keras. Publik pun tidak mudah percaya atas gosip murahan itu.
Zarima, si ratu ekstasi pun angkat bicara bahwa ia tidak pernah
berhubungan dengan Amien Rais.
Ketika gosip ini digulirkan, isterinya Kusnasriyati Sri Rahayu,
menunjukkan kualitas pribadinya sebagai seorang ibu yang bijak. Ia tak
mudah diterpa gasip yang diyakini digulirkan orang tak bertanggung jawab
itu.
Apresiasi publik semakin meningkat kepada tokoh yang memiliki integritas
diri yang kuat dan utuh ini. Salah satu, atas sumbangan dan kepiawian
Amien di bidang sosial-politik, masyarakat adat Banuhampu, Padang Luar,
Bukittinggi, Sumatera Barat, menganugerahkan gelar “Tuanku Panghulu Alam
Nan Sati” yang artinya lebih kurang Pemimpin Alam yang Sakti. Buat Amien,
gelar Tuanku Panghulu Alam Nan Sati, itu merupakan anugerah besar. Ketika
menyampaikan pidato sam-butan, Ketua Umum PAN itu merasa akan dapat
berdiri sejajar dengan raja-raja di Jogjakarta dan Solo.
“Di Jogja ada dua raja, Hamengku Buwono dan Paku Alam. Di Solo ada Paku
Buwono dan Mangkunegara. Jadi, kalau saya nanti kembali ke Jogya atau
Solo, saya juga sudah punya gelar. Tidak sembarang orang bisa terima gelar
ini,” kata Amien Rais menyambut penghargaan itu.
Gelar itu diberikan kepada Amien karena banyak rakyat Minangkabau
bersimpati atas kepemimpinannya selama ini. Di samping tentu saja karena
PAN yang dipimpinnya sudah dikenal masyarakat Sumatera Barat. Bahkan,
partai itu mampu meng-ungguli PDI-P dan Partai Golkar di Padang, ibu kota
Sumatera Barat.
Gerakan & Organisasi
Sebelum berkecimpung dalam dunia politik praktis, Amien Rais mengabdikan
dirinya sebagai Guru Besar di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Di UGM,
ia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional serta Sejarah dan
Diplomasi di Timur Tengah. Ia juga dipercaya mengajar mata kuliah
Teori-teori Sosialisme. Yang paling menyenangkannya adalah mata kuliah
Teori Politik Internasional. Di Fakultas Pascasarjana UGM ia dipercaya
memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik.
‘Selain menjabat Ketua Umum DPP Muhammadiyah, ia juga mengelola Pusat
Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK], suatu lembaga pengkajian dan
penelitian di bawah yayasan Mulia Bangsa Yogyakarta. Salah satu raison
d’etre kelahiran PPSK adalah keprihatinan masih terbatasnya hasil-hasil
pengkajian yang menyangkut masalah-masalah strategis dan kebijakan yang
berorientasi pada masyarakat lemah.
Lembaga pengkajian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran
yang meliputi: Pertama, identifikasi permasalahan yang dihadapi bangsa
Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, analisa yang akurat
mengenai berbagai kecenderungan global di bidang sosial-budaya, agama,
ekonomi, politik dan iptek serta dampaknya pada bangsa Indonesia. Ketiga,
usulan pemecahan terhadap berbagai persoalan bangsa berdasarkan telaah
strategis dan kebijakan yang realistis dan matang. Berbagai produk
pemikirannya dipublikasikan lewat majalah Prospektif, yang terbit tiga
bulan sekali.
PPSK ini memiliki peran besar dalam membidani lahirnya ICMI. Di kantor
PPSK inilah pertama kali konsep ICMI digodok, kemudian dibawa ke Wisma
Muhammadiyah di Tawangmangu, Solo, untuk disempurnakan. Setelah itu baru
dibawa ke Malang.
Sejumlah tokoh penting bergabung di lembaga ini, di antaranya: Moeljoto
Djojomartono, Soedjatmoko, Ahmad Baiquni, Kuntowijoyo, Bambang Sudibyo,
Umar Anggara Jenie, Ichlasul Amal, Yahya A. Muhaimin, Affan Gafar, A.
Syafi’i Maarif, dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya.
Masyarakat ilmiah mengenal dan sangat memperhitungkan lembaga ini, selain
karena produk-produk pemikirannya, juga karena kredibilitas keilmuan dan
reputasi tokoh-tokohnya. Namun masyarakat luas baru mengetahuinya setelah
terjadinya dua peristiwa yakni meninggalnya Dr. Soedjatmoko, saat
berceramah di hadapan teman-temannya di kantor PPSK, sehingga hampir semua
media massa di tanah air memberitakan peristiwa kematiannya; dan pertemuan
antara Arifin Panigoro dan kawan-kawan dengan kelompok PPSK yang
diselenggarakan di Hotel Radison, Yogyakarta, 5 Februari 1998.
Pertemuan ini kemudian dikenal dengan istilah “kasus Radison” dan menjadi
polemik panjang yang mewarnai media massa waktu itu. Karena rezim Soeharto
menuduh pertemuan ini sebagai upaya “makar” terhadap pemerintah Orde Baru.
Sebetulnya acara tersebut merupakan acara rutin dan bersifat akademis
dengan tema reformasi yang meliputi reformasi politik, reformasi ekonomi,
dan reformasi hukum. Beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu sempat
dimintai keterangan oleh pihak berwajib, bahkan Arifin Panigoro sempat
menjadi tersangka.
Sejak belia, mantan Ketua Dewan Pakar ICMI ini sudah terlibat dalam
berbagai gerakan. Kecintaannya pada organisasi diawali dari
keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. Ia dipercaya oleh teman-temannya
untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama
regu Rajawali. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan berbagai
perlombaan, seperti lomba tali-temali, morse, membuat jembatan, sampai
pada lomba masak-memasak.
Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan kebersamaan dan makna
kepemimpinan. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. Ia juga pernah aktif di Himpunan
Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah dipercaya untuk menduduki jabatan
sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta.
Di samping kegandrungannya berorganisasi, ia juga sudah aktif menulis
artikel sejak belia. Ketika mahasiswa, ia menjadi penulis kolom yang tajam
dan produktif. Sehingga ia pernah dianugerahi Zainal Zakse Award oleh
tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung dan Harian
Kami di Jakarta, koran mahasiswa yang legendaris di awal Orde Baru. ► ch robin
simanullang, dari
berbagai sumber al: The Amien Rais Center ►
LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) ==
1
2
3
4 5 6 7 ==
|
|