| BERITA |
|
|
 |
Alwi Shihab
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik
Konferensi Asia-Afrika dalam rangka peringatan 50 tahun Deklarasi Bandung
baru saja berlalu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara
pembukaan di Jakarta pada tanggal 22 April 2005 yang lalu, mengemukakan
permasalahan utama yang dihadapi negara-negara di Asia-Afrika adalah
"bagaimana memerangi kemiskinan".
Hal senada juga disampaikan Presiden China Hu Jintao, Presiden Pakistan
Perveraz Musyaraf, Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki, dan Perdana
Menteri Thailand Thaksin Shiniawatra, serta Pemimpin Asia-Afrika lainnya
yang hadir mengikuti Konferensi Asia-Afrika tersebut. Pada akhir
Konferensi, telah dideklarasikan Kemitraan Strategis Global dalam
Penanggulangan Kemiskinan di Asia Afrika.
Sesungguhnya, Indonesia pernah mencatat prestasi penting dalam
menurunkan angka kemiskinan. Pada Tahun 1970, jumlah penduduk miskin
tercatat 67% dan berhasi ditekan pada tahun 1996 menjadi 11.86%. Sebuah
prestasi yang tidak kecil diukur dari pengalaman negara manapun didunia
dalam menanggulangi kemiskinan.
Keadaan Beribah demikian cepat ketika krisis ekonomi melanda pada tahun
1997. Semua proses penurunan angka kemiskinan terhenti, bahkan
hasil-hasil yang selama ini dicapai dengan kerja keras itu sebagian
besar telah terhapus dalam waktu yang relatif singkat.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik ( BPS ), jumlah penduduk miskin
pada tahun 2003 mencapai 37,4 juta atau sekitar 17,4% sedangkan pada
tahun 2004 diperkirakan menjadi 36,1 juta atau masih sebesar 16,6% dari
seluruh penduduk Indonesia. Laporan Pembangunan Manusia 2004 juga
mengungkapkan kondisi kualitas ( fisik ) manusia Indonesia yang masih
sangat memprihatinkan. Indeks Pembangunan Manusia yang mencerminkan
tingkat kesehatan, pendidikan, dan ekonomi rata rata penduduk
menempatkan Indonesia pada peringkat 111 dari 175 negara, jauh dibawah
peringkat negara-negara tetangga seperti Malaysia (59) dan Filipina
(83).
Upaya besar dan mendasar sedang dilakukan untuk mengatasi masalah
kemiskinan dan rendahnya kualitas dasar manusia Indonesia. Dalam Rencana
Pembangunan Nasional Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 sudah diamanatkan
bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan prioritas utama dalam
pembangunan nasional. Namun, RPJM tersebut tidak besar manfaatnya bagi
masyarakat apabila tidak dapat dilaksanakan di kantong-kantong
kemiskinan dengan keragaman karakteristik daerah sesuai potensi dan
suberdaya yang dimilikinya. Untuk Melaksanakan RPJM agar bermanfaat bagi
masyarakan miskin, perlu melibatkan seluruh komponen bangsa dalam
memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat miskin.
Untuk meningkatkan pelayanan, pemerintah telah menetapkan kebijakan
mengenai kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal (SPM) yang harus
dipenuhi oleh setiap Pemerintah Daerah kabupaten / Kota dalam pelayanan
tertentu seperti kesehatan, pendidikan dan sanitasi lingkungan.
Upaya-upaya tersebut masih perlu diperluas dan implementasinya di
lapangan memerlukan dukungan yang lebih besar, koreksi dan pemantauan
dari berbagai lapisan masyarakat atau stakeholders, agar upaya-upaya
tersebut dapat berjalan secara lebih efektif dan kualitas pelayanan
kepada masyarakat dapat ditingkatkan.
Berkaitan dengan itu, kita perlu memberikan perhatian dan penghargaan
yang lebih besar kepada mereka yang berada di garis depan ( frontliners
) dalam pelayanan kepada masyarakat, seperti para tenaga medis dan
paramedis, para guru, serta para penyuluh lapangan yang tersebar di
seluruh pelosok tanah air. Kualitas pelayanan, disamping ditentukan oleh
pengorganisasian unit-unit pelayanan, juga sangat ditentukan oleh para
tenaga yang berada digaris depan tersebut.
Dalam kaitan inilah Kementerian Koordinator Bidang Kesra bekerjasama
dengan Bank Dunia serta lembaga donor internasional lainnya
menyelenggarakan Kompetisi "Indonesia Daya Masyarakat 2005 atau
Indonesia Development Market Place 2005". Selain kerjasama Kementerian
Koordinator Bidang Kesra dengan Bank Dunia, Kompetisi Indonesia Daya
Masyarakat 2005 ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian
Koordinator bidan Kesra dengan kalangan donor internasional DFID
Inggris, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Kedutaan Norwegia, USAID, Bank
Pembangunan Asia, AusAID, CIDA Kanada, Kedutaan Finlandia, Ford
Foundation, GTZ, Oxfam Great Britain, Teater Koma, UNDP, dan UNICEF.
Kegiatan swasta juga turut mendukung, antara lain Coca Cola, Bank Rakyat
Indonesia, BCA, BNI, dan Bank Permata.
Kompetisi ini berupaya untuk mencari dan memberi penghargaan kepada
inovasi-inovasi lokal yang dapat menjadi model pelayanan publik yang
lebih baik bagi masyarakat miskin. Penilaian gagasan-gagasan atas daras
kriteria a).inovasi, b).kesinambungan, c).efektifitas biaya, serta
d).berdampak positif untuk kalangan miskin.
Kompetisi ini diluncurkan pada awal November 2004 dengan upaya
memberikan insentif bagi gagasan-gagasan yang tebaik dalam penyampaian
pelayanan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, serta
air dan sanitasi. Ini merupakan kemitraan antara pemerintah, kalangan
donor dan sektor swasta.
Para pemenang sayembara akan menerima dukungan finansial dan teknis
untuk mengingkatkan upaya-upaya inovatif mereka dalam meningkatkan
pelayanan untuk kalangan miskin. para pemengan akan mendapat hibah dari
para donor dan institusi swasta masing-masing maksimal Rp. 230 juta
sebagai dana stimulus dalam mendukung inovasi mereka lebih lanjut.
Jumlah dana hibah yang tersedia untuk penghargaan dan dana operasional
telah terkumpul mencapai 1 juta Dolar Amerika yang akan diberikan kepada
ke-45 pemenang kompetisi ini.
Sampai saat berakhirnya batas waktu sayembara, proposal yang diterima
sebanyak 2.911 (duaribu sembilanratus sebelas proposal). Dari sejumlah
proposal tersebut terpilih 85 finalis dari seluruh pelosok
Indonesia,termasuk 10 finalis dari Aceh. Sekitar 45 dari finalis ini
telah berhasil menjadi pemenang.
Puncak rangkaian acara kompetisi ini dimulai dengan pameran tentang
Model Pelayanan Masyarakat yang digelar di Plaza Senayan selama tiga
hari, dari tanggal 29 April hingga 1 Mei 2005. Para finalis telah
dinilai oleh sebuah panel juri yang terdiri dari 18 juri terkemuka
termasu, yakni Prof. Dr. Emil Salim, Mr. Mari'ie Muhammad (Ketua PMI),
prof. Muhammad Sadli, Mr. Ahmad Humam Hamid (Aceh Recovery Forum), Mr.
Endy Bayuni (Pimpinan Redaksi The Jakarta Post), Dr. Laode Ida (Wakil
Ketua DPD-RI).
Disamping pemberian penghargaan, Pemerintah terus mengupayakan agar
kualitas pelayanan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat
semakin baik dan tidak membebani masyarakat miskin. Program-program
seperti pembebasan biaya rawat inap bagi keluarga miskin di rumahsakit,
penurunan harga obat generik antara 20 hingga 60%, dan perluasan cakupan
beasiswa untuk pendidikan keluarga miskin, akan terus kita perbaiki dan
sempurnakan dengan disertau penajaman kelompok sasaran atau
tergeting-nya.
Untuk meningkatkan pelayanan publik yang lebih baik dalam rangka
peningkatan pendapatan masyarakat miskin, pemerintah berupaya
meningkatkan penyaluran kredit bagi usaha mikro, kecil dan menengah atau
UMKM untuk memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi
penduduk miskin. Penurunan suku bunga melalui pengembangan pola
kemitraan antara usaha mikro dengan usaha yang lebih besar sebagai
pembeli hasil, perbankan dan lembaga penjamin kredit juga menjadi
perhatian pemerintah. Pengembangan usaha mikro mempunyai posisi yang
strategis, mengingat modal yang dibutuhkannya relatif kecil namun
menyerap tenaga kerja yang relatif besar, dengan pasar yang relatif
luas.
Disamping memberikan kemudahan-kemudahan dalam memperoleh modal atau
kredit, peningkatan perluasan usaha ini juga perlu disertai dengan
perbaikan input, penyuluhan untuk peningkatan ketrampilan dan
pengetahuan sehingga produk-produk yang lebih layak jual (marketable),
serta peningkatan akses terhadap pasar, informasi dan teknologi, yang
pada intinya perlu berbaikan sistem secara keseluruhan yang memberikan
dampak positif bagi masyarakat miskin. Dimasa mendatang, sasaran akan
diberikan lebih besar pada pengembangan atau revitalisasi sektor
pertanian, termasuk perkebuna dan perikanan, dan wilayan pedesaan,
mengingat sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia berada pada
sektor pertanian di pedesaan.
Sangat disadari bahwa intuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih
baik terhadap masyarakat miskin, pemerintah pusat dibatasi ketersediaan
pendanaan. Ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk menggali
sumber-sumber pendanaan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan
yang lebih baik bagi masyarakat miskin:
Pertama, melonggarkan keterbatasan sumberdaya, dimanay pemerintah
mengusahakan secara optimal peningkatan sumber-sumber penerimaannya
(perpajakan, surplus BUMN, privatisasi, recovery aset-aset) serta
mengefisienkan pengeluarannya (pengurangan subsidi yang tidak
ditargetkan khusus bagi orang yang miskin, upaya maksimal untuk
memanfaatkan segala kemingkinan yang dapat meringankan pembayaran
utang),
Kedua, mengusahakan program-program dan proyek-proyek yang dilaksanakan
oleh semua instansi pemerintah dapat memasukkan program penanggulangan
kemiskinan sebagai bagian penting dari sasarannya (mainstreaming).
Ketiga, kendala anggaran ini mengharuskan perubahan pandangan tentang
peran pemerintah dalam menerapkan strategi penanggulangan kemiskinan,
yaitu dari peran pelaku stakeholders pemerintah (termasuk DPR dan DPRD),
masyarakat luas, dan penduduk miskin untuk secara bersama-sama
memecahkan masalah kemiskinan. Kuncinya adalah bagaimana mengembangkan
pola kemitraan antara pemerintah dengan anggota stakeholders lain,
sehingga dengan dana pemerintah yang relatif terbatas, nantinya dapat
dihasilkan pengurangan kemiskinan secara maksimal.
Mengingat dalam era desentralisasi saat ini, ketersediaan dana dan
kewenangan pelaksanaan program bergeser dari pemerintah pusat ke
pemerintah daerah,, maka peranan pemerintah daerah serta inisiatif
inovasi institusi lokal menjadi penting. Proses pelaksasaan
desentralisasi ini sangat penting mengingat pengalaman menunjukkan bahwa
program nasional atau program yang diatur secara terpusat, ternyata
tidak efektif lagi karena adanya keanekaragaman atau diversifikasi dalam
masalah dan karakteristik lokal. Oleh karenanya, kebutuhan untuk
mendesentralisasikan manajemen pembuatan keputusa dan penggunaan sumber
daya internal guna meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih
baik bagi masyarakat miskin oleh pemerintah lokal harus semakin
difasilitasi.
Desentralisasi harus menjadi sarana dan peluang yang penting bagi upaya
membuka akses bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan
kualitas pelayanan publik yang lebih baik bagi masyarakat miskin menuju
kemandirian wilayah. Desentralisasi harus pula diayomi oleh kebijakan
nasional yang bertujuan untuk bersama-sama membangun bangsa, sehingga
akan menumbuhkan sembangat country ownership.
Dalam kaitan ini, mengingat karakteristik kemiskinan dimasing-masing
daerah bervariasi baik dari segi potensi sumberdaya alamnya, sumberdaya
manusianya, maupun sumberdaya teknologi dan budayanya, diharapkan
masing-masing daerah menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah
( SPKD ) sesuai kemampuan sumberdaya dan keinginan masing-masing daerah.
Dalam pada itu, desentralisasi membawa peluang dan sekaligus resiko
dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih baik bagi
masyarakat miskin. Desntralisasi dapat membuat pelaksanaan program
kemiskinan menjadi lebih efisien dan lebih tepat sasaran karena hasilnya
lebih dekat dengan sasaran akhirnya.
Syaratnya adalah bahwa pemerintah daerah harus berkemauan dan berkemampuan
untuk melakukan hal itu. Kuncinya adalah bagaimana dalam kebijakan
meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih baik bagi masyarakat
miskin dapat diciptakan mekanisme yang memberikan insentif bagi daerah
untuk berlomba menanggulangi kemiskinan di masih-masing wilayahnya dan
bagaimana dukungan dan bantuan teknis dapat diberikan segera kepada
daerah-daerah yang membutuhkannya. Desentralisasi mengandung resiko
terbengkalainya program penanggulangan kemiskinan, yaitu manakala
hal-hal dimaksud tidak terwujud karena daerah tidak menganggap penting
masalah kemiskinan dan ada daerah yang menganggap hal itu penting namun
ternyata tidak mampu melaksanakannya.
Resiko juga dapat timbul dalam penanganan masalah kemiskinan apabila
kasus itu ada di perbatasan kewenangan antara daerah yang satu dengan
daerah lainnya. Resiko lebih besar lagi juga dapat timbul apabila
masing-masing daerah hanya melihat (memperhatikan) daerahnya sendiri,
tanpa memperhatikan dampak tindakannya bagi daerah-daerah lain atau bagi
kepentingan yang lebih luas. Mengenakan pungutan-pungutan terhadap
perdagangan antar daerah, misalnya, hanya akan menimbulkan fragmentasi
ekonomi nasional dengan konsekuensi menurunnya seluruh efisiensi pada
tataran ekonomi nasional.
Pinjaman oleh masing-masing daerah yang tidak terkoordinasi juga akan
dapat membahayakan kondisi makro nasional karena jumlah pinjaman daerah
secara total dapat melampaui batas-batas aman pada segi pengelolaan
ekonomi makro. Peluang dan resiko seperti ini, harus dipertimbangkan
masak-masak dalam melaksanakan Rencana Pembangunan Nasional Jangka
Menengah (RPJM) 2005-2009 Bidang Penganggulangan Kemiskinan.
Dari uraian yang dikemukakan diatas, menunjukkan kepada kita bahwa upaya
meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat miskin
memerlukan suatu pendekatan yang multi dimensional, multi sektoral,
serta multi stakeholders. Dalam konteks ini keterlibatan pemerintah
pusat dan daerah serta dunia usaha, tokok-tokoh masyarakat, dan
lembaga-lembaga internasional menjadi sangat penting.
Guna menyerap berbagai pendapat dari seluruh lapisan masyarakat, baik
instansi pemerintah pusat maupun daerah, kalangan LSM, dunia usaha,
perguruan tinggi, dan kalangan DPR, dalam meningkatkan kualitas
pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat miskin, pada tanggal 27 s/d 28
April 2005 diselenggarakan Konferensi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
dan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Gedung Dhanapala
Departemen Keuangan Jakarta dengan tema "Peningkatan Kualitas Pelayanan
yang Lebih Baik bagi Masyarakat Miskin".
Ada tiga alasan mengapa tema "Peningkatan Kualitas Pelayanan yang Lebih
Baik bagi Masyarakat Miskin" diangkat dalam konferensi ini :
1. Berdasarkan data BPS tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Indonesia
diperkirakan 36,1 juta jiwa atau 16,6%. Angka ini hanya turun 0,8%
dibandingkan tahun 2003, yaitu jumlah penduduk miskin sebesar 37,4 juta
jiwa atau 17,4% dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah penduduk miskin
yang cukup tinggi tersebut membutuhkan pelayanan yang lebih baik agar
secara bertahap tapi pasti dapat dikurangi.
2. Kemiskinan di Indonesia juga ditandai adanya ketimpangan antar
wilayah. Kemiskinan di Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur
Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda. Menurut data BPS, lebih
dari 70% penduduk miskin berada di Jawa dan Bali karena lebih dari 60%
penduduk Indonesia tinggal di kawasan ini. Namun, persentase penduduk
miskin di luar pulau Jawa dan Bali, khususnya di Kawasan Timur
Indonesia, jauh meningkat lebih tinggi. Hal ini, mendorong kita untuk
meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada seluruh penduduk Indonesia
dimanapun berada tanpa membedakan di Jawa maupun diluar pulau Jawa.
3. Luas wilayah Indonesia dengan jumlah puluhan ribu pulau dan
terbatasnya infrastruktur transportasi, komunikasi, dan informasi
berdampak terhadap sulitnya melayani penduduk miskin yang bermukim di
daerah terpencil, terutama di luar Pulau Jawa dan daerah perbatasan.
Kodisi ini hendaknya dapat memacu kita untuk mengutamakan pembangunan
infrastruktur di kantong-kantong kemiskinan dan pedesaan dalam upaya
kita meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat miskin.
Konferensi nasional ini diselenggarakan sebagai perwujudan komitmen
pemerintah beserta berbagai pihak atau stakeholders untuk terus
mengupayakan cara-cara yang lebih efektif dalam penanggulangan
kemiskinan di Indonesia, khususnya melalui peningkatan pelayanan bagi
masyarakat miskin. Hali ini juga menegaskan bahwa penganggulangan
kemiskinan merupakan agenda nasional yang mendapatkan prioritas.
Melalui kegiatan konferensi ini diharapkan dapat diperoleh berbagai
pendekatan dan gagasan baru dalam peningkata pelayangna seperti
kesehatan, pendidikan, serta penyediaan air bersih, dan sanistasi
lingkungan yang memberikan dampak positih bagi masyarakat miskin.
Berbagai hal yang dibahas dalam Konferensi Nasional ini sekaligus
diharapkan sebagai upaya bangsa kita mencapai Tujuan Pembanguna Milenium
(MDGs) yang telah ikut kita deklarasikan bersama-sama 189 Negara anggota
PBB yang hadir pada KTT Milenium PBB tahun 2000 sebagai suatu pendekatan
yang inklusif dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia di dunia.
MDGs meliputi 8 tujuan, 18 target, dan 53 indikator yang terukur dan
harus dipenuhi pada tahun 2015. Delapan tujuan tersebut adalah
mengurangi tingkat kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan pelayanan
pendidikan dasar untuk semua, meningkatkan kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan
kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya,
memastikan lingkungan hidup yang berkelanjutan, dan mengembangkan
kemitraan global dalam pembangunan.
Sebagai salah satu negara yang turut mengadopsi MDGs tersebut, Indonesia
telah dengan sungguh-sungguh mengupayakan agar tujuan-tujuan,
sasaran-sasaran, dan indikator-indikator dalam MDGs dapat terpenuhi.
Berbagai bentuk sosialisasi dan kampanye mengenai pentingnya pencapaian
MDGs ini telah dilakukan, tidak hanya oleh lembaga-lembaga pemerintah
yang dalam hal ini menurut bidangnya terkait erat dengan fungsi
koordinasi Menko Kesra, melainkan juga oleh lembaga-lembaga masyarakat
sipil, seperti LSM, media, perguruan tinggi, dan lain sebagainya.
Pencapaian MDGs ini penting karena sangat sejalan dengan konstitusi UUD
1945.
Konferensi Nasional Penanggulangan Kemiskinan dan Pencapaian MDGs ini
dihadiri oleh beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, khususnya yang
terkait dengan penanggulangan kemiskinan dan pencapaian MDGs, para
gubernur, dan beberapa bupati serta walikota, wakil-wakil lembaga
internasional dan donor, Ketua Komite Penanggulangan Kemiskinan Propinsi
seluruh Indonesia, kalangan perguruan tinggi, LSM, perbankan, media dan
dunia swasta. Keseluruhan jumlah peserta diharapkan sebanyak 200 orang.
Konferensi Nasional ini diselenggarakan dalam dua hari. Pada hari
pertama, setelah pembukaan dengan mendengarkan Pidato Pengarahan Bapak
Wakil Presiden dilanjutkan dengan sesi pertama disampaikan pengarahan
oleh Menko Kesra, kemudian diikuti oleh Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Ketua
BAPPENAS.
Sesi berikutnya adalah sidang kelompok yang terdiri dari tiga kelompok.
Kelompok pertama akan membahas mengenai pembiayaan kesehatan untuk
masyarakat miskin. Dalam kelompok ini akan berbicara wakil dari Pusat
Kajian Ekonomi Kesehatan UI, dari ADB, dan wakil dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Pemalang di Jawa Tengah.
Dalam kelompok kedua dibahas mengenai peningkatan akses dan lualitas
pendidikan. Dalam kelompok ini akan berbicara Dirjem Pendidikan Luar
Sekolah dan Pemuda Depdiknas, Gubernur Jawa Timur, kemudian tiga orang
yang terlibat langsung dalam pelayanan pendidikan di lapangan, yaitu
kepala sekolah, seorang guru, dan ketua komite sekolah dari SD Negeri
12, Karama, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Dalam kelompok ketiga dibahas mengenai peningkatan akses air bersih dan
sanitasi untuk orang miskin. Dalam kelompok ini berbicara Deputi Menteri
Negara PPN / Kepala BAPPENAS bidang Sarana dan Prasarana, seorang pakar
dibidang sektor perairan, dan pengalaman PDAM Kota Jember dalam
pelayanan air bersih bagi masyarakan miskin serta model penyediaan air
bersih berbasis komunitas oleh ketua DPMU Kab. Lumajang.
Setelah sidang kelompok, selanjutnya dilakukan paparan oleh tiga
moderator dari masing-masing kelompok. Dalam sesi ini diharapkan dapat
diidentifikasi berbagai pengalaman yang dapat dijadikan pembelajaran
mengenai pelayanan kesehatan, pendidikan, serta penyediaan air bersih
dan sanitasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat miskin.
Pada hari kedua, dimulai dengan tiga sidang kelompok yang akan membahas
tentang pendekatan-pendekatan yang diperlukan bagi peningkatan pelayanan
bagi masyarakat miskin. Kelompok pertama akan membahas tentang
peningkatan pengaruh suara masyarakat, yang akan disampaikan oleh tiga
orang. Masing-masing adalah wakil dari UNSFIR, wakil dari LSM yang
memberikan perhatian masalah transparasi anggaran pemerintah daerah
yaitu LSM BIGS di kota Bandung, dan LSM yang bergerak dalam pemantauan
proyek pembangunan, yang diwakili LSM Pugar dari Aceh.
Dalam kelompok kedua dibahas mengenai peningkatan efektivitas targeting
atau penentuan kelompok sasaran dalam penanggulangan kemiskinan. Tiga
orang yang berbicara adalah, tenaga ahli bidang ekonomi Bank Dunia di
Jakarta, Direktur Lanjutan Pertama Depdiknas, yang akan membahas
mengenai Program Beasiswa Pendidikan, dan anggota Badan Keswadayaan
Masyarakan Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan atau P2KP di
Kota Bogor, Jawa Barat.
Kelompok ketiga membahas mengenai reformasi pelayanan sipil untuk
perbaikan kinerja dan akuntabilitas.
Dalam kelompok ini, akan berbicara tiga orang yakni, wakil dari
Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN), Sekretaris
Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Direktur Lembaga
Penelitian SMERU.
Dari ketiga sidang kelompok tersebut, selanjutnya dilakukan pemaparan
oleh moderator dari masing-masing kelompok dalam sidang pleno. Dari
sidang pleno ini diharapkan dapat diidentifikasi pembelajaran yang
berharga dari berbagai pengalaman mengenai aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam peningkatan pelayanan bagi masyarakat miskin.
Selanjutnya, dalam sidang pleno terakhir disampaikan rangkuman dan
rumusan hasil konferensi selama dua hari dihadapan beberapa Menteri yang
terkait dengan bidang peningkatan kualitas pelayanan publik yang lebih
baik bagi masyarakat miskin, yaitu Menteri Pendidikan, Menteri
Kesehatan, menteri Pekerjaan Umum, Menteri Sosial, menteri Keuangan,
Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional,
dan Menteri Negara Peberdayaan Perempuan. Selanjutnya, masing-masing
Menteri akan memberi tanggapan terhadap isu-isu yang berkembang dalam
konferensi sesuai dengan bidang masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, diharapkan pula setiap Menteri dapat
menyampaikan garis besar rencana aksi yang akan dilakukan dalam rangka
penanggulangan kemiskinan, khususnya melalui peningkatan kualitas
pelayanan publik bagi masyarakat miskin. Setelah sesi tersebut,
dilakukan pula penganugerahan penghargaan atau award kepada para
pemenang kompetisi tahunan tentang penelitian kemiskinan yang
diselenggarakan oleh Bank Dunia.
Disela-sela berlangsungnya Konferensi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
dan Pencapaian MDGs tersebut, diselenggarakan Pameran Peserta Sayembara
Pelayanan bagi Masyarakat Miskin atau Indonesia Daya Masyarakat (IDM)
atau Indonesia Development MarketPlace. Telah dipilih sebanyak tujuh
puluh lima peserta dari kalangan LSM, perguruan tinggi, pemerintah
daerah dan swasta.
Penyelenggaraan sayembara penulisan model-model penanggulangan kemiskinan
ini terkait dengan agenda Bank Dunia yang menyelenggarakan Indonesia
Daya Masyarakat pada tanggal 20-30 April 2005 di Plaza Senayan, Jakarta,
yang akan memilih sebanyak empat puluh lima peserta menjadi pemenangnya
dan akan mendapat hadiah hibah dari para dermawan. Direncanakan para
pemenang sayembara ini akan diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
di Istana Negara pada tanggal 30 April 2005.
Keseluruhan konsep pemikiran dan kegiatan yang dikemukakan diatas
merupakan upaya kita semua untuk memberi stimulans kepada seluruh
lapisan masyarakat agar aktif berpartisipasi dalam suatu gerakan bersama
masyarakat memerangi kemiskinan melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik yang lebih baik bagi masyarakat miskin. Dengan demikian, upaya
memerangi kemiskinan sebagaimana dikemukakan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dalam pembukaan Konferensi Asia-Afrika yang baru lalu "secara
bertahap namun pasi dapat kita wujudkan..."
Semoga keinginan bangsa Indonesia bebas dari kemiskinan terwujud
hendaknya, sebagaimana upaya kita mengimplementasikan semangan
Konferensi Asia-Afrika di Bandung 50 tahun yang lalu, yaitu semangat
anti penindasan, semangat anti ketidakadilan, dan semangat anti
kemiskinan serta ketertinggalan. ►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |