|
|
 |

Nama:
ALINAFIAH, MBA
Lahir:
Medan, 13 November 1953.
Agama :
Islam.
Status :
Kawin
Jumlah anak :
3 (tiga) orang anak.
Masa kerja:
Lingkungan PT/Perum Pos Indonesia 2 Agustus 1976 sampai sekarang.
Kepangkatan/Golongan
1. PUT IV/E 15 Februari 1999 *) Pangkat Tituler
2. PUTMA IV/D 1 April 2002
3. PUTDA IV /C 1 April 2001
4. PBN I IV /B 1 April 2000
5. PBN IV/A 1 Agustus 1998
6. PNPOS I III/D 1 Agustus 1996
7. PNPOS III/C 1 Oktober 1992
8. PNMPOS-I III/B 1 Oktober 1988
9. PNMPOS III/A 1 Oktober 1984
10. PAPOS I II/D 1 Oktober 1980
11. PAPOS II/C 2 Agustus 1976
Jabatan (Struktural/Fungsional)
1. Direktur Utama Dirut 15 Februari 1999
2. Kawilpos IV Jakarta. Wilpos IV Jkt 18 Agustus 1997
3. Wakil Kawilpos IV Jakarta. Wilpos IV Jkt 29 Juni 1995
4. Ka. Kpb I. Jakarta 13 Februari 1993
5. Kepala Kantor Pos. Ujungpandang 16 Januari 1991
6. Kepala Urusan Wasipos -1. Kantor Pusat 31 Juli 1990
7. Kepala Urusan Kepegawaian. Wilpos I Jakarta 13 Juni 1988
8. Kepala Kantor Pos. Tanjungpinang 7 September 1985
9. Kepala Kantor Pos. Batusangkar 13 September 1984
10. Kepala Kantor Pos. Sidikalang 27 Agustus 1979
11. Ketua Bagian Paket Medan 1 Januari 1979
12. Bendaharawan BPM Medan 15 Maret 1977
Jabatan/Penugasan lainnya
1. GB APPTC -APPU Meeting di Teheran 11 September 2000
2. SIO 7th Asean Postal Business di Malaysia 3 Agustus 2000
3. Executive Briefing 3 G Tech di Bangkok 25 Maret 2000
4. Microsoft Meeting di Seatle USA Mei 2000
5. Penjajagan Valutapos di Saudia Arabia 22 November 1999
6. Pameran Filateli di Swiss 22 November 1999
7. Kunjungan Undangan Pos Malaysia di Malaysia 3 Oktober 1999
8. Kongres UPU ke-22 di Beijing 26 Agustus 1999
9. Studi Banding Ke Amerika 18 Oktober 1997
10. Seminar Creat Value the Multibusiness di Jakarta 3 Juli 1997
11. Pameran Filateli Ce Bit 1997 di Hannover 13 Maret 1997
12. Comperative Marketing / Bulk Pos di Australia 13 Juli 1994
13. OB Post Plan and Development 4-2-1985 sd 29-3-1985
Pendidikan Formal
1. SUSPIM SUSGAB BUMN -Jakarta 1998
2. SUSKAPIM I -Bandung 1998
3. MANAJER MADYA -Bandung 1991
4. SEPALA -Bandung 1987
5. SEPADA -Bandung 1981
6. DIKTI (REGULER) -Bandung 1976
7. SMA IPA Medan 1971
8. SMP - 1968
9. SD - 1965
Pendidikan Lainnya
1. Emotional Intelegence Jakarta 1999
2. Ensuring Nasional Jakarta 1996
3. Teknik GKM Jakarta 1994
4. Penataran Akuntansi Bandung 1993
5. Program MBA Jakarta 1990
6. Penyuluhan Pos dan Giro -1986
7. TOC Bandung 1982
8. Penataran P4 -1980
Penghargaan/Tanda Jasa
1. The Best IT Produck of The Year, Kadin Indonesia 28 Februari 2003
2. The Best CEO BUMN Award 2002 Bidang Inovasi Manajemen, Presiden RI 21
Agustus 2002
3. Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembinaan PUKK,
Presiden RI 14 September 2000
4. Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembangunan Pos,
Presiden RI 13 September 1999
5. Tanda Penghargaan Karya Jasa Pemerintah 8 Juli 1998
6. Piagam Penghargaan Masa Karya II (20 Tahun) PT Pos Indonesia 27
7. September 1996 Piagam Penghargaan Masa Karya I (15 Tahun) Perum Pos dan
Giro 27 September 1991
Karya Tulis:
1. Prospek Jasa Perposan Pada Era Perekonomian Mendatang Serta Analisis
SDM Dalam Meningkatkan Kinerja dan Daya Saing Industri Perposan di Era,
Globlal. 2000
2. Strategi Pengembangan Usaha Jasa Pos Dalam Menghadapi Milenium III.
2000
3. Repositioning Postal Service In Facing The Competition (7th ASEAN
Postal Business Meeting) 2000
4. Petan Telematika Dalam Rekayasa Ulang Dunia Usaha: Pengalaman PT Pos
Indonesia (Seminar Telematika, Bandung). 2000
5. Business Strategy in Hypercompetition: Studi Kasus di PT Pos Indonesia.
2000
6. Reformasi BUMN Mengatasi Krisis Ekonomi Dalam Rangka Mewujudkan
Ketahanan Nasional (Seminar Suspim Susgab BUMN Angkatan VII, Lemhannas,
Jakarta). 1999
7. Membidik Target Pasar Dalam Membangun Perekonomian Indonesia. Baru
(Seminar Direct Marketing, Ujung Pandang). 1999
8. The Network Company Menuju Perusahaan Kelas Dunia (Seminar IPTEK,
Universitas Andalas). 1999
9. Competitive Strategy Dalam Meningkatkan Kinerja Usaha (Seminar Direct
Marketing, Ujung Pandang). 1999
10. Peran Teknologi Dalam Percepatan Pembangunan Bidang Pos Dalam Rangka
Mendukung Wawasan Nusantara (Seminar Suspim Susgab BUMN Angkatan VII,
Lemhannas, Jakarta). 1998
11. Wanita Pengantar Pos: Solusi Layanan Pos di Gedung Bertingkat. 1997
12. Customized Service: Reposisi Layanan Pos Dalam Meraih Segmen Pasar
Industri. 1996
13. Penyiapan Kapasitas Siap Layan di Wilayah Usaha Pos IV Jakarta. 1996
14. Business Mail Service (BMS); Suatu Aplikasi Layanan Pos di Kantor Pos
Kelas I Jakarta. 1994
Alamat kantor :
Kantor Pusat PT Pos Indonesia (Persero)
JI. Banda No.30 Bandung 40115.
Alamat Rumah :
JI. Cipunegara 25 Bandung 40114.
|
|
Alinafiah, MBA
Orientasi Prestasi Sang Inovator
Selalu melakukan inovasi dalam setiap jabatan yang diembannya. CEO Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), ini meniti karir dari bawah hingga menjabat
Direktur Utama PT Pos Indonesia. Ia ‘karyawan pemerintah’ yang
berorientasi prestasi dan tidak gagap jabatan. Ia memiliki integritas dan
keberanian moral melakukan inovasi yang tentu tak sekadar patuh pada
atasan dan tata kerja rutin birokrasi. Sejak kecil ia telah terlatih
mandiri dan punya kepekaan bisnis. Kini ia melakukan transformasi bisnis
untuk menjemput masa depan PT Pos Indonesia memasuki era total logistik
service, yang tak lagi sekadar mengantar paket. Ia memang seorang inovator
pemberani.
Inovasi telah menjadi kata kunci dan sakti yang selalu muncul dalam
perjalanan karir peraih The Best CEO BUMN Award 2002 Bidang Inovasi
Manajemen dari Presiden RI ini. Pria kelahiran Medan, 13 November 1953,
ini sejak masa kecilnya telah diwarnai berbagai inovasi dan kemandirian.
Ia berasal dari keluarga besar, sebagai anak ketiga dari 12 bersaudara.
Dalam proses pembentukan kepribadian, ia sangat terkesan dengan pesan
orang tuanya untuk hidup mandiri. Dimulai dari sejak kecil. Ia tidak
pernah diantar ke sekolah oleh ayahnya. Waktu pendaftaran SD saja,
pamannya yang mendaftarkan. Ia dibonceng naik sepeda, duduk di palang
depan bukan di boncengan. Saat masuk SMP ia mendaftar sendiri. Dalam
proses belajar juga mandiri. Orangtua hanya memberikan dukungan, tetapi
tidak mendikte.
Namun bukan berarti perhatian dan kasih sayang orang tuanya tidak
sepenuhnya dia rasakan. Bahkan ada sesuatu yang sampai kini sangat
berkesan dalam ingatannya perihal pengasuhan ayah-ibunya. Ketika ia masih
bayi, mungkin pada usia di bawah dua tahun. Tapi ia masih ingat sampai
saat ini. Luar biasa. Yakni, saat-saat ia dimandikan ibunya di ember yang
bulat bukan plastik. Ketika selesai, dibalut dengan handuk. Kasih sayang
orangtuanya, terutama ibunya, ini sampai saat ini terkesan sekali dalam
ingatannya.
Ia tidak ingat pada umur berapa, tetapi sebagai bayi dimandikan di ember,
ia ingat sekali. Maka, jika anak-anak sekarang dimandikan dalam ember
plastik, ia selalu terkesan. Dan setiap pulang ke Medan, melihat ibunya,
yang paling ia ingat bukan jabatan atau yang lain. Ia bersyukur pada usia
yang sekarang sudah lanjut, ibu yang melahirkan dan memandikannya masih
hidup. Kesan itu juga yang sekarang ia rasakan ketika sudah memiliki
seorang cucu. Kebetulan pada hari itu, cucunya tepat satu tahun, 30 April
2003. Maka, khusus hari itu ia pulang lebih awal sebelum magrib, biasanya
setelah magrib baru pulang.
Saat ini, manakala cucunya dimandikan oleh ibunya, kebetulan masih satu
rumah, terbayang dibenaknya ketika dulu dimandikan orangtuanya. Ketika selesai dimandikan, seperti ia diperlakukan oleh ayahnya. Begitu
juga ia perlakukan cucunya. Sehingga sekarang ia sangat dekat dengan
cucunya itu. Kalau bapanya pergi cucunya tidak menangis. Tetapi kalau ia
mau pergi cucunya menangis. Diangkat ibunya, tidak mau jadi ngamuk. Hanya
mau digendong kakeknya. Begitu dekatnya, ini barangkali karena
penghayatannya kepada cucu. Ia ingat ketika seumur seperti cucunya.
Insting anak-anak peka akan penghayatan itu. Itu sebuah sentuhan kasih dan
kemanusiaan yang sangat terkesan dalam benaknya.
Namun dalam penerapan kasih sayang itu, orang tuanya mendorongnya untuk
mandiri. Maka etika masuk SMA, ia sudah memiliki penghasilan sendiri. Ia
membuka kelas les privat di rumah, di ruangan tamu yang tidak terlalu
besar. Sehingga bisa beli baju sendiri dan keperluan sendiri. Setiap malam
lepas magrib kawan sekelas dan adik-adik kelas bahkan dari sekolah lain
datang ke rumahnya untuk belajar. Walau ilmunya masih terbatas, hanya
mengandalkan pelajaran yang diperolehnya di sekolah, ia berani membuka les
privat. “Kalau saya dapat pelajaran kimia di SMA, ya saya ajarkan kepada
adik-adik kelas. Kadang-kadang juga kuatir bisa salah sendiri. Tetapi
teman-teman bayar bukan diskusi, karena saya membuka les privat,” ujarnya
mengenang dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indoensia DotCom di ruang
tamu kantornya di Bandung. Semua pelajaran kurikulum SMA dan SMP ia pegang.
Waktu itu ia benar-benar mulai mandiri, berjuang dan berani.
Selain itu, ia juga ikut bertani bersama orangtua. Pada saat SMA,
orangtuanya seorang pegawai negeri juga bertani. Sehingga hampir sepanjang
tahun mereka tidak pernah membeli beras. Mereka mengonsumsi beras hasil
pertanian sendiri. Maka tidak heran jika sampai saat ini ia sangat
memperhatikan masalah pertanian.
Selepas lulus SMA IPA Medan 1971, ia mengikuti ujian Sipenmaru (Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru). Ia diterima di Fakultas Hukum USU. Namun,
sesungguhnya ia tidak sreg, karena bayangan harus menyelesaikan dalam
berapa tahun dan setelah lulus belum tentu langsung ditempatkan. Apalagi,
ia bayangkan kondisi keluarga besarnya. Sehingga ketika ada pengumuman di
kantor pos mengenai penerimaan mahasiswa di Akademi Pos (angkatan dinas),
ia pun mendaftar.
“Sebenarnya pada waktu itu saya bukan orang pilih-pilih. Saya yakin
dimana pun orang menekuni suatu bidang akan membawa benefit (keuntungan)
bagi dirinya dan orang lain jika ditekuni dengan serius. Itu barangkali yang sekarang diterjemahan profesional. Menjadi ahli di bidangnya,
apapun, bisa tukang ukir yang ahli di kampung, jika didalami dan tekuni,”
jelasnya.
Akhirnya ia masuk Akademi Pos, dengan tekad akan belajar secara serius.
Sehingga dari awal ia termasuk mahasiswa yang belajar serius. Ide-ide yang
ada dalam pikirannya pun selalu ia tulis. Ia memang termasuk penulis yang
produktif di majalah mahasiswa ketika itu. “Itu karena saya ingin
mendalami apapun yang saya kerjakan dan di mana pun saya mengerjakannya
secara maksimal,” katanya.
Karirnya dimulai bekerja di Kantor Pos Medan sebagai staf, bersamaan
dengan masa pendidikannya di Akademi Pos. Kemudian menjadi Kepala Kantor
Pos Sidikalang. Sebuah kota kecil yang ketika magrib datang hampir tidak
ada lagi orang yang lewat. Namun di sana ia betah selama 5 tahun (1979 –
1984). Ia pikir kantor pos kabupaten ini bisa mendoronganya mencari
inovasi. “Jadi bukan hanya di Jakarta untuk bisa membuat inovasi,” jelas
penerima Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembangunan
Pos, Presiden RI, 13 September 1999 ini.
Dalam melakukan inovasi, alumni Program MBA (1990) ini banyak bertanya dan
berdiskusi dengan Pemda setempat. “Saya berpikir sebenarnya Kantor Pos
dapat digunakan menjadi kantornya Pemda. Dalam arti, setiap orang yang
ingin mendapatkan surat catatan sipil, sebelum datang ke Kantor Bupati,
selesaikan dulu pembayaran di Kantor Pos. Di Kantor Bupati hanya tinggal
menanda tangan,” katanya. Ide ini pun terwujud. Pemda menyambutnya dengan
baik. Bahkan kemudian, retribusi sampah juga dibayar lewat kantor pos.
Bukan itu saja. Gedung dan dinding kantor pos pun dipergunakan secara
maksimal. Karena petugas pengiriman surat terbatas, ia berpikir
menggalakkan penggunaan kotak pos. Sehingga tidak perlu merekrut pegawai
pengantar pos. Lalu, dinding kantor pos yang lowong digunakan untuk
kotak-kotak pos. Terbentuk berapa ratus kotak surat di sana, sehingga
masyarakat bisa menerima surat 24 jam. Setiap keluarga punya kunci sendiri.
Akhirnya, pengantar pos menjadi berkurang karena masyarakat yang mengambil
sendiri. Tetapi masyarakat membayar untuk setiap kotak pos yang ada.
Itu contoh inovasi yang ia kerjakan di kota kecil. Ia seorang yang dikenal
kaya inovasi dan mempunyai kebiasaan lebih banyak berada di lapangan
dibandingkan di kantor. Ia ‘pegawai pemerintah’ yang berpikir dan mampu
melaksanakan apa yang dipikirkannya. Keberanian berinovasi ini terus
berlangsung di manapun ia ditempatkan. Baik sebagai Kepala Kantor Pos (Ka.Kp)
Batusangkar (1984–1985), Ka. Kp Tanjungpinang (1985), Ka.Ur Kepegawaian
Wilpos I Jakarta (1988-1990), Ka. Wasipos-1 Kantor Pusat (1990-1991),
Ka.Kpb I Ujungpandang (1991-1993), Ka. Kpb I Jakarta (1993-1995), Wakil
Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta (1995-1997), Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta
(1997-1999), sampai menjabat Direktur Utama PT Posindo (sejak 1999).
Sungguh ia seorang yang berorientasi prestasi. Ia pemberani melakukan
perobahan yang diyakininya pasti lebih baik. Ia memang orang yang selalu
ingin tampil beda (lebih). Dalam melakukan berbagai hal baru kadang-kadang
ia harus menentang arus. Misalnya, ketika di Unjung Pandang. Ia dilarang
oleh atasan melakukan perubahan. “Kerjakan sistem ini, karena itu
peraturan.” Perubahan itu biasanya menyimpang. Tetapi ia bersikeras,
“Ijinkan enam bulan saja kami ujicoba Pak, nanti lihat hasilnya.” Jadi
bukan hanya sekedar taat atau loyal tetapi juga dapat mengerjakan hal yang
diyakini lebih baik jika dilakukan. Barangkali, keberanian melakukan
inovasi ini pula yang mengantarnya sampai mencapi puncak di BUMN tempatnya
mengabdi. “Boleh mungkin, saya tidak tahu persis, oleh karena berbeda
dengan yang lain, atasan jadi percaya,” katanya.
Tetapi siap juga orang-orang yang seperti ini ditendang, karena dianggap
melawan arus. Tetapi sekali lagi, niatnya. Ia melakukan itu bukan
untuk diangkat menjadi kepala wilayah.” Dengan melakukan perubahan yang
hasilnya lebih baik, muncul kepuasan batin. Apalagi bila
berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak, anak buah senang dan tambah
bergairah (bekerja tidak melihat jam tetapi menyelesaikan pekerjaan).
Apa yang ia kerjakan mungkin berbeda dan tidak biasa dilakukan oleh
‘karyawan pemerintah’ yang lain. Berbagai inovasi yang telah ia lakukan
sering kali berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang
dimiliki, hemat energi, bukan berarti pelit. Contohnya, salah satu
kebiasaan orang yang sering ia perhatikan, jika ruangan sempit solusinya
selalu menambah ruangan. Kurang lemari, paling mudah solusinya membeli
lemari. Itu sangat umum. Tetapi, katanya, pernahkah kita berpikir, di
dalam lemari itu mungkin ada barang yang tidak perlu lagi disimpan di
situ? Jadi solusinya adalah tidak membeli lemari. Tetapi membakar arsip
dan barang yang sebetulnya secara peraturan setahun sudah harus
dimusnahkan. Tetapi sering kali orang terus menimpannya. Karena apa?
Karena tidak fokus dan memiliki kesungguhan untuk mengelola suatu kantor.
Kepala kantor dianggap memakai dasi, duduk melayani taskdesk. Padahal yang
namanya kepala kantor, pemilik seluruh aspek, harus berpikir bagaimana
mengoptimalkan semua sumber daya. Pemakaian ruang kantor, lemari dan
sebagainya dioptimalkan. “Tetapi selama 2 minggu kerja kami hanya membakar
berkas-berkas lama,” kenangnya. Hal itu tampaknya sederahana, namun pola
pikirnya digunakan untuk perusahaan dan bangsa. BUMN menjadi efesien. Jadi,
anjurnya, jangan gemar membeli. Kebiasaan gemar membeli itu harus
dihilangkan. “Sebab di dalam membeli banyak perampokannya juga kan?”
ujarnya seraya tertawa.
Dalam setiap melakukan inovasi atau pekerjaan rutin pun harus didukung tim
yang padu dan efisien. “Ketika kita diam, itu juga bukan hanya sekedar
diam. Namun bagaimana mengerjakannya dengan efesien, optimal dan hemat
energi,” kata peserta Suspim Susgab BUMN tahun 1998 ini. Di manapun kita
berada harus dapat menyesuaikan diri dengan hemat energi. Kita ini manusia
biasa yang memiliki kapasitas energi terbatas.
Karena itu, kita tidak mungkin mengerjakan segalanya. Menjadi kepala
kantor di Jakarta mempunyai tuntutan sendiri dari ketika menjabat kepala
kantor di Sidikalang. Ketika di Sidikalang, mungkin masih mesti menangani
dari pengantar hingga bagian arsip. Tapi pada level yang lebih tinggi,
menjadi kepala kantor di Jakarta, tentu berbeda. Apalagi sesudah menjadi
penanggung jawab manajemen paling puncak. Untuk itu, hal yang mendasar
adalah percaya orang lain. Tetapi bukan sekedar percaya begitu saja.
Menurutnya, pada saat semakin tinggi level produktivitas kita, bukan
berapa lama kita duduk di sini. “Saya masih menggunakan istilah ada kerja
ada ngantor. Kalau saya di sini tadi beberapa menit, saya mengerjakan
sesuatu, itu namanya pengantor. Saya melakukan pekerjaan kantoran. Tetapi
jika sejak lima hari yang lalu, saya tidak ada di sini, mungkin sampai jam
12 malam saya masih bicara bisnis dengan berbagai mitra kerja di hotel
atau di manapun, itu namanya kerja, itu kerjaan saya. Seperti berbicara
dengan rekan-rekan wartawan saat ini, itu juga ‘kan kerjaan saya. Sebab
itu bagian informasi yang memang harus didengar langsung dari tangan
pertama. Itu berbeda nilainya jika kita hanya mengeluarkan rilis,” urainya.
Lalu ia menggambarkan bagaimana peliknya perusahaan ini dalam tingkatan
yang memiliki 26.500 karyawan, memiliki 13.500 pensiunan dalam kondisi
saat ini. “Kita mengerti porsi kita. Ada waktunya kita entry (masuk) ada
juga saatnya kita serahkan pada staf. Karena kalau semua kita masuk,
akhirnya hal yang penting jadi tak tertangani. Jangan juga kita
memperbesar masalah. Kalau bisa kita sederhanakan dan jangan menambah
permasalah semakin berkembang. Putuskan dengan cepat dan kadang-kadang
pahit. Tapi itulah kadang-kadang resikonya berat, kita harus terima,
jangan salahkan orang lain, semakin ke atas adalah policy systim,”
jelasnya.
Ketika ia baru menduduki jabatan Direktur Utama, saat berada di luar
negeri, terjadi demonstrasi karyawan. Apa yang ia lalukan? No Comment. Ia
menentukan kebijakan, tidak satu orang pun mereka yang demo yang perlu
dipanggil. “Saya tidak perlu tahu siapa penggerak di balik demo,” katanya.
Ia pun sengaja tidak memberikan komentar kepada pers. Ia mau cooling down
(tenang). Yang ia lakukan adalah mencari tahu apa yang menjadi tuntutan
mereka. Ternyata, persoalannnya adalah tuntuan kenaikan gaji 300 ribu
rupiah. “Saya bukan mencari siapa provokatornya, tetapi bagaimana caranya
mencari 300 ribu,” katanya.
Maka, ketika itu, ia segera pulang ke Indonesia untuk mengadakan rapat
sampai malam. “Cari anggaran! Mainkan mana yang bisa digunakan.” Akhirnya
ditemukan solusinya. Tuntutan karyawan dipenuhi dan perusahaan masih bisa
survive dan tetap mendapat keuntungan. Bahkan keuntungan bertambah Rp 98
miliar.
Ia berani mengambil risiko, kemungkinan perusahaan rugi. Sebab ia tidak
mau menghabiskan energi untuk hal itu, karena eranya yang seperti itu. Ada
serikat pekerja yang masih baru, ada kesempatan untuk melakukan perubahan
manajemen juga belum terbiasa. Dulu bekerja dengan Korpri yang semua
setiap tanggal 17 diatur. “Kita sadari itu adalah pembelajaran. Dan di
sela-sela pembelajaran kita belajar, jangan juga kita protek diri. Ketika
masalah selesai, kita lebih mengambil keputusan yang lebih besar yaitu
dengan transformasi diri,” kata penganut falsafah hidup bekerja keras,
hemat dan jangan mengeluh serta jangan menyalahkan orang ini.
Lebih baik energi digunakan untuk memikirkan 5 tahun kedepan perusahaan
ini mau di bawa kemana. Itu pulalah yang menjadi obsesinya saat ini.
Bagaiamana ekistensi perusahaan ini 5 tahun ke depan, siapa pun yang
berperan. Bukan untuk tujuan mempertahankan jabatan.
Ia berharap, (bukan sebuah cerita yang sombong, sebagai pejabat, tokoh
publik atau yang dituakan, apapun namanya) jangan gagap posisi. Sebab
gagap posisi itu takut diganti. Karena kalau tujuan kita duduk jadi dirut,
dengan legalitas SK pengangkatan dan pelantikan, itu kita menjadi gagap
posisi dan menjadi takut. Takut dalam mengambil keputusan dan melakukan
inovasi. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak mengenakan, lalu kita
pikirkan, apakah tergeser dari kedudukan.
“Jadi soal diangkat dan diberhentikan kapan, itu bukan urusan kita. Dan
kita tak perlu berjuang mencari akal untuk mempertahankan jabatan. Jangan
gagap,” katanya dengan penuh keyakinan profesionalisme, bukan kesombongan.
Ia yakin dengan pengabdian yang seperti itu, pimpinan dan masyarakat dapat
menilai. Lebih lagi masyarakat saja yang menilai bukan legalitas, dan kita
tak perlu teriak-teriak, marah-marah malah membuat diri kita menjadi sakit.
Dan yang terpenting, menurutnya, selalu berupaya memberikan yang terbaik
kepada siapapun pengganti kita.
Sejak masuk ke Akademi Pos, ia memang tak pernah mengejar jabatan, apalagi
mengejar jabatan dirut. Ia yakin jabatan atau menjadi dirut itu akan
datang dengan sendirinya, sebagai amanah. Tapi yang terpenting adalah
bagaimana meningkatkan prestasi. Meskipun kata orang harus ada cantolan
dan lainnya, ia mengaku tidak pernah punya cantolan dan mengantungkan diri
dengan cantolan itu. “Saya adalah orang kampung yang datang dari
Titikkuning dan berasal dari keluarga pegawai negeri yang tidak ada satu
pun duduk tingkat golongan III. Kepada siapa saya harus mencantol?”
ujarnya.
Bukan itu, tetapi coba dengan keahlian dan karya, dan siap kapan saja
untuk bekerja. “Alhamdulilah, 5 tahun menjabat sebagai dirut, saya selalu
sehat dan bersama dengan teman-teman juga tidak ada masalah,” katanya.
Dalam kepemimpinnya ia juga dikenal demokratis dan siap dikritik staf. Ia
menegaskan, kalau ada yang berpandangan berbeda dengan kita, jangan
dibenci. Bahkan jadikan pandangannya sebagai masukan, memperkaya gagasan
atau wacana. Selain itu, dalam kepemimpinannya, ia juga hampir tidak
pernah marah kepada staf.
Kenapa ia tak marah? “Saya tidak akan marah sebab marah itu capek dan
kebetulan dalam lingkungan dan gaya saya yang seperti ini hampir tidak
alasan yang membuat saya bisa marah, kadang-kadang saya heran juga,” ujar
putera bangsa yang pernah mengecap pendidikan Emotional Intelegence
(Jakarta 1999) ini. Menurutnya, gaya marah itu tidak perlu teriak-teriak
atau membenci orang, tapi dengan memberikan disposisi, memberikan arahan
sehingga orang menjadi tahu ke mana sebetulnya. Tapi bukan dengan menjadi
teriak-teriak.
Karyawan Posindo juga mengenalnya sebagai orang yang bersahaja. Dalam
setiap kali berkunjung ke daerah, misalnya, ia tidak pernah mengharapkan
penyambutan atau perlakuan istimewa. Seperti ketika berkunjung ke Papua
untuk melihat dari dekat peran Pos Indonesia di sana. Juga ke
Cirebon-Bandung-Tasik sampai Pekalongan, berkomunikasi dengan jajaran
Posindo di sana. Semua menunggu dengan antusias kehadirannya. Dalam satu
hari, ia berbicara di 7-8 kantor, hingga jam 11 malam. Karena jajarannya
menunggu semua sampai jam yang terakhir, berbicara tentang pos masa depan.
Secara kemampuan fisik, itu tentu sangat berat. Tapi itu ia lakukan.
“Kalau mau enak, ngapain sih dirut gitu-gitu. Kalau saya katakan tidak mau,
tinggal saja di hotel dan tidur selesai kan? Demi kenyamanan kita tidur,
tapi apakah di tidurnya kita itu nyenyak?” katanya ketika hal ini
dikonfirmasikan. Setelah itu, baru ia pulang ke hotel, tidur hanya 4 jam,
tetapi penuh dengan keindahan, kepuasan melihat kawan-kawan kita di
Nusantara yang masih tetap semangat. “Itu adalah lebih dari obat tidur
yang dosisnya tinggi sekali. Itu yang saya lihat, dan itu yang membuat
hidup ini tetap sehat, Alhamdulillah,” kata penulis ‘Prospek Jasa Perposan
Pada Era Perekonomian Mendatang Serta Analisis SDM Dalam Meningkatkan
Kinerja dan Daya Saing Industri Perposan di Era Globlal’ (2000) ini.
Salah satu rahasia pengendalian emosi dan pemeliharaan ketahanan fisiknya
mungkin juga terkait pada hoby menikmati alam, pertanian dan perikanan.
Bahkan ia mengaku mimpinya pun selalu berhubungan dengan ikan. “Itu
sebabnya jika saya puyeng, karena rapat dan urusan kantor, saya pergi ke
kebun. Di situ ada ikan. Saya memancing, menangkap ikan. Bukan untuk
dijual tapi hiburan. Setelah itu, saya pulang sudah bisa bekerja sampai 12
malam lagi. Jadi benar-benar saya jadikan sebagai tempat hiburan. Kalau
golf itu bukan hoby tapi itu hanya untuk networking,” kata penggemar
makanan genjer ini.
Pengalamannya lebih 27 tahun di BUMN ini, sejak dimulai naik sepeda hingga
posisi sekarang ini, dengan segala kreatifitas dan inovasinya, telah
menjadi jaminan kompetensi, integritas, dedikasi dan loyalitasnya kepada
perusahaan jasa perposan ini. Ia memang bertekad memberikan yang terbaik,
sebagai bagian sumbangsihnya untuk bangsa dan negara ini. Terutama dalam
meningkatkan peran Pos Indonesia mempersatukan bangsa ini.
Itulah pula antara lain yang selalau menyalakan semangatnya untuk
melakukan inovasi agar Pos Indonesia bisa memberikan pelayan paripurna
kepada publik. Salah satu inovasi yang baru saja dilakukannya adalah
layanan SMS Pos (Short Message Service via Pos) yang diluncurkan pada
Oktober 2002. Layanan ini merupakan hasil kerjasama antara PT Pos
Indonesia dengan Mitra Kerja Cellular Provider ProXL, Satelindo dan
Telkomel. Sedangkan untuk content Providernya dengan PT Bali Iklanmindo
Semesta selaku penyedia SMS-Gateway menjadi inter-face antara SMS-Center
milik Cellular Provider dengan Server Ratsim milik PT Pos Indonesia.
Layanan SMS Pos ini benar-benar feasible. Sehingga tak heran bila dalam
waktu singkat telah berhasil mendapat Anugerah Telematika Kadin Indonesia
berupa Piagam Penghargaan dan Piala "Micronics Internusa Golden Award for
The Best I.T Product of The Year". Penyerahan penghargaan itu dilakukan di
Hotel LeMeridien Nirwana Bali Resort, Bali (28/02/03).
Produk SMS Pos ini memungkinkan masyarakat pengguna ponsel dapat
mengirimkan kartu ucapan kepada masyarakat yang tidak memiliki ponsel.
Masyarakat kini sudah dapat terlayani hanya dengan menekan tombol pada
ponsel tanpa perlu datang ke loket-laket kantor pos.
Layanan SMS Pos ini didukung jaringan 154 Kantor Layanan Kantor Pos di
seluruh Indonesia. Sistem tersebut merupakan cikal-bakal untuk
memungkinkan dikembangkan bagi layanan lain (related). Layanan ini
memiliki prospek bisnis yang tak hanya membawa hasil yang baik bagi
internal PT Pos tapi juga dapat mempengaruhi serta dapat memberi
kesempatan pada lingkungan untuk berkembang.
Total Logistik Service
Selama ini Pos Indonesia lebih dikenal sebagai perusahaan yang melayani
pengiriman surat, wesel, maupun paket ke seluruh pelosok negeri dan
mancanegara. Namun seiring dengan perkembangan bisnis dan teknologi, di
bawah kendali Alinafiah, Pos Indonesia pun melakukan berbagai terobosan
dalam memberikan jasa perposannya. Salah satu terobosan itu adalah
dikembangkannya pelayanan total logistik. Melalui pelayanan ini, kini
pengguna jasa pos dapat mempercayakan kepada Pos Indonesia aktivitas
manajemen distribusi barang-barang atau produk usaha secara menyeluruh.
Pos Indonesia tidak lagi sekedar mengirimkan barang ke alamat tujuan tapi
juga melakukan proses warehousing, assembling, packaging dan bahkan track
and tracing perjalanan barang tersebut ke alamat tujuan.
Menurut Alinafiah, ssunguhnya layanan total logistik bukanlah hal baru.
Pos sejak lama telah mengelola aktivitas total logistik ini, namun belum
maksimum. Seperti, penjualan materai yang dilakukan oleh Pos Indonesia
sebenarnya dikelola dengan pendekatan total logistik. Dalam hal ini, Pos
Indonesia dipercaya oleh Departemen Keuangan tidak saja menjual materai di
loket-loket, tapi juga melakukan proses penyimpanan dan pendistribusian
serta pengadministrasiannya.
Hal yang sama dilakukan pula untuk Universitas Terbuka. Pos Indonesia
tidak saja menjual formulir pendaftaran, tetapi juga menyimpan dan
mendistribusikan dokumen-dokumen serta modul-modul perkuliahan ke seluruh
peserta di pelosok Indonesia. Pengalaman ini, ditambah dengan potensi
jaringan transportasi maupun jaringan pelayanan yang dimiliki oleh Pos
Indonesia, merupakan bekal dalam membuka layanan total logistik.
Pada sisi lain terdapat perkembangan signifikan dalam aktivitas bisnis di
Indonesia. Lalu lintas barang dari dan ke berbagai daerah semakin marak
apalagi dengan diterapkannya Otonomi Daerah. Efesiensi dan efektivitas
pendistribusian barang ke seluruh wilayah menjadi sangat penting bagi
berbagai bidang usaha. Ketatnya persaingan yang ada menuntut pengelolaan
usaha yang lebih fokus pada aktivitas inti tanpa direpotkan
kegiatan-kegiatan lain seperti logistik yang sebenarnya dapat di sub
kontrakan kepada perusahaan logistik service seperti Pos Indonesia.
Pengusaha tidak direpotkan lagi oleh masalah penyimpangan barang,
persediaan, pendistribusian dan sebagainya. Bahkan pengadministrasian
pengiriman barang tersebut. Solusi efesiensi akan terjadi karena adanya
sinergi dan konsolidasi berbagai kegiatan dalam layanan Pos Indonesia.
Dalam kerangka inilah layanan total logistik Pos Indonesia diperkenalkan.
Perusahaan atau produsen produk konsumsi, pharmasi, elektronika dab
sebagainya tidak perlu memikirkan lagi masalah logistiknya. Desain
pergudangan, pola distribusi, cara penyimpanan, pengepakan, administrasi
persediaan dapat disesuaikan dengan spesifikasi barang yang akan ditangani.
Inilah yang disebut Pos Indonesia tidak menjual apa yang dimiliki tetapi
menjual apa yang diinginkan konsumennya.
Salah satu klien yang telah memanfaatkan layanan Total Logistik adalah PT.
Unilever Indonesia Tbk. Perusahaan ini mempercayakan kepada Pos Indonesia
pengiriman barang-barang Point Of Sale (POS), perangkat promosi, dan Gift
dari seluruh merk produk Unilever.
Kepercayaan ini diberikan dengan salah satu pertimbangan bahwa Pos
Indonesia memiliki kemampuan dan pengalaman untuk mengintegrasikan proses
pengirimannya ke berbagai wilayah usaha Unilever di seluruh Indonesia.
Apalagi kebijakan perusahaan menekankan bahwa kantor cabang Unilever
benar-benar difokuskan untuk mengejar target pendapatan dan tidak boleh
direpotkan oleh masalah-masalah pendistibusian produk atau hal-hal lainnya.
Bermitra dengan perusahaan yang mampu dan dapat dipercaya untuk mengelola
logistik adalah pilihan strategis Unilever.
Saat ini total logistik telah dapat dilayani di wilayah Jabotabek. Dalam
waktu dekat akan dikembangkan di Surabaya, Bandung dan Medan. Layanan
Total Logistik sangat sesuai bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang
consumer goods, elektronika, penerbitan buku, office equipment, suku
cadang kendaraan bermotor, perangkat komputer dan produk telekomunikasi,
farmasi dan bahkan produk agribisnis.
Guna memberikan kepuasan kepada pemakai layanan Total Logistik ini, Pos
Indonesia akan memanfaatkan gedung dan sarana yang tersebar di seluruh
Indonesia sebagai pendukung kelancaran aktivitas total logistik ini.
Pendekatan pelayanannya pun dilakukan secara costumize, termasuk jika
konsumen menginginkan produknya diasuransi.
Khusus dalam penyediaan gudang, Pos Indonesia memiliki 4000-an gedung yang
tersebar di seluruh Indonesia dan masih belum optimal dimanfaatkan. Untuk
itu, bila konsumen menginginkan gedung itu dapat diubah menjadi sarana
pergudangan bagi kelancaran logistiknya.
Transformasi Bisnis
Dalam era globalisasi dan kondisi bangsa saat ini, PT Pos Indonesia harus
meningkatkan daya saingnya. Maka ia pun telah mencanangkan Transformasi
Bisnis dalam tubuh Pos Indonesia. Sebuah solusi strategis yang
komprehensif, realistis, rasional dan berjangka panjang melalui program
yang dikemas dalam transformasi bisnis. Dengan solusi tersebut diharapkan
dapat memberikan kenyamanan dan manfaat bagi semua pihak, stakeholder
terutama pegawai dan keluarga pegawai sehingga 'everybody will be happy'.
Melalui transformasi bisnis ini pula diharapkan dapat mendorong terjadinya
perubahan yang signifikan bagi kemajuan PT Pos Indonesia di masa datang.
Ia mencoba mendesign PT Pos Indonesia paling tidak lima tahun ke depan
secara kuantitatif maupun kualitatif. Perusahaan ini di reka dan dirancang
lima tahun ke depan. PT Pos Indonesia akan seperti apa. Ia mendisain
transformasi ini memberikan gambaran bagaimana kontribusi kepada
pemerintah, bagaimana peningkatan kesejahteraan karyawan, bagaimana biaya
harus dikendalikan, bagaimana pendapatan digali secara terencana oleh
konsep transformasi dari sekarang hingga lima tahun ke depan.
Implementasi Transformasi Bisnis ini dilakukan secara bertahap mulai tahun
2003 hingga 2007, yakni tahapan konsolidasi (2003), tahapan revitalisasi
bisnis (2004-2005) dan tahapan pertumbuhan (2006-2007).
Selain itu, prosesnya dilakukan melalui strategi 6 R (repositioning,
reinventing, reengineering, reorganizing, rightsizing, dan resource
alocation).
Pertama, repositioning yaitu proses memetakan kembali potensi dan
kelemahan perusahaan sehingga akan terlihat bisnis yang akan dimasuki,
ditinggalkan atau dikembangkan.
Kedua, reinventing, menemukan kembali bisnis yang telah diposisikan untuk
'reborn' menjadi produk yang lebih kompetitif dan dengan manajemen yang
efisien.
Ketiga, reengineering yaitu me-reengineer proses bisnis untuk dapat
memberikan proses yang efisien, efektif dan dapat dikembangkan dalam
jangka panjang.
Keempat, reorganizing, melakukan perubahan organisasi dengan formal
struktur sebagai bentukan dan penugasan baru, yang menjadi 'design factor'
untuk merubah perilaku organisasi dalam rangka mencapai proses bisnis yang
dikehendaki.
Kelima, rightsizing, upaya melakukan penyesuaian kualitas dan kuantitas
SDM agar fit dengan konteks bisnis.
Keenam, resource alocation yaitu pengaturan kembali alokasi sumber daya
yang dimiliki agar sesuai dengan kebutuhan konteks bisnis.
Ia berharap transformasi bisnis ini membawa dampak bagi perusahaan, antara
lain: (1) menjadi lebih kompetitif (mempunyai produk unggul dalam
persaingan dan mampu berkompetisi); (2) bisa berkembang (dapat
mengembangkan bisnis dan mampu berkolaborasi dengan bisnis lain dalam era
'network economy' dimasa datang); (3) efisien (mampu memberikan kontrol
manajemen yang secara strategis dapat memberikan keunggulan berkompetisi).
Sementara, filosofi dasarnya adalah kepemimpinan yang kuat (strong
leadership), good corporate governance (GCG), komitmen serta penetapan
strategi dan kebijakan yang tepat.
Transformasi bisnis ini dilaksanakan dengan sasaran dapat memberikan
manfaat bagi semua stakeholders. Bagi perusahaan secara finansial akan
terjadi peningkatan pendapatan dan laba, peningkatan total asset dan
modal. Sedangkan non-finansialnya adalah meningkatkan pendapatan
perusahaan, kinerja organisasi, citra perusahaan serta efektivitas dan
efesiensi. Bagi karyawan, peningkatan kesejahteraan, pengingkatan kepuasan
kerja dan peningkatan produktivitas/ pengetahuan serta kemampuan.
Bagi pemegang saham, penerimaan deviden yang lebih baik, penerapan kaidah
GCG dan terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan (going concern).
Sedangkan bagi pelanggan dan masyarakat, mendapatkan nilai uang terbaik,
mendapatkan produk/ layanan yang bernilai tinggi, peningkatan kepuasan
pelanggan dan penyediaan fasilitas pos sampai ke pelosok tanah air.
Program implementasi Transformasi Bisnis di tahun 2003 ini meliputi 8 (delapan)
faktor yakni SBU Express, SBU Direct Mail, Bisnis Reguler, Asset
Management, Pembangunan Jaringan IT, Reorganisasi, Rightsizing dan
Financing/ Pendanaan. Namun keberhasilan Transformasi Bisnis ini
tergantung pada penerapan model kepemimpinan yang kuat pada setiap lini
organisasi serta penerapan sistem reward and punishment.
Dengan strategi transformasi bisnis ini, pada tahun 2003 ini, PT Pos
mencoba mencharge laba sebesar Rp 20 miliar dan untuk tahun 2007 atau lima
tahun ke depan kira-kira akan meningkat menjadi Rp 100 miliar. Sementara,
jika transformasi bisnis ini tidak dilakukan, maksimal PT Pos hanya akan
memperoleh laba sebesar Rp 5 miliar pada tahun 2003 ini..
Untuk itu, tahun 2003 ini PT Pos Indonesia membuat dua rancangan untuk
kesejahteraan pegawai. Sebab dari laba yang Rp 5 miliar itu, kesejahteraan
pegawai hanya naik Rp 40 ribu, tidak seimbang dengan tuntutan pegawai.
Kesejahteraan itu sebetulnya dapat ditingkatkan menjadi Rp 200 ribu, namun
harus kembali dengan konsep transformasi bisnis tadi. Laba yang Rp 5
miliar bisa ditingkatkan menjadi Rp 20 miliar.
Belajar dari pengalaman, dulu PT Pos memang hanya mengutamakan bangunan
fisik semata dan adanya tanggapan bahwa posisi PT Pos hanya berkutat
antara prangko dan surat saja. Namun pada saatnya terutama pada jaman dan
era teknologi seperti sekarang, PT Pos Indonesia menyadari hal itu tidak
akan membawa peningkatan dan kemajuan jika tetap dibiarkan. Untuk itu,
kini PT Pos Indonesia memberdayakan jaringan fisik yang ada didukung
bidang virtual disokong oleh infrastruktur, dengan segmen pasar sasaran
perusahaan asuransi, perbankan, perusahaan logistik dan umum.
Itu sebabnya PT Pos bermaksud mempertegas posisinya melalui transformasi
bisnis dengan memperkental peran bisnis sekaligus menjadi pelakunya tanpa
melupakan tugas untuk memberikan pelayanan pada masyarakat luas.
Salah satu yang perlu dikomunikasikan dalam transformasi bisnis untuk
pertamakalinya adalah PT Pos Indonesia akan meluncurkan obligasi pendanaan
sebesar Rp 135 miliar. Alinafiah menilai, bahwa saat inilah waktu yang
tepat untuk menjual obligasi tersebut, karena ternyata banyak masyarakat
(investor) yang berminat.
Menurutnya, dalam rangka sosialisasi, sangatlah penting bagi masyarakat
mengetahui rencana ke depan PT Pos Indonesia secara terbuka. Tak lain
untuk mempersembahkan dan memberi harapan bagi para investor sebagai
relevansi pengkomunikasian transformasi bisnis kepada publik agar memahami
posisi PT Pos Indonesia. Sedang di mana dan mau ke mana perusahaan ini
berjalan, termasuk dalam hal pembangunan sebagai kompensasi dari investasi
yang dilakukan.
Selain pembangunan, strategi lain yang diterapkan adalah optimalisasi
semua sumber daya yang ada. Seperti yang dilakukan di Bali, dua tahun lalu
telah ditandatangani kerjasama dengan pengusaha setempat untuk membangun
Kantor Pos Bali, 70 ruko dalam 3 lantai dan pembangunan rumah untuk para
pejabat pos di tanah seluas 9000 m2 tanpa satu sen pun mengeluarkan biaya
hanya menggunakan aset yang ada dan jalinan kemitraan yang baik.
Lima tahun ke depan, potret PT Pos Indonesia inilah yang akan
dipersembahkan bagi generasi penerus karena mampu merubah pandangan dan
menggugah karyawannya untuk maju dan saling bahu-membahu mewujudkan
harapan semua pihak.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi secara
terus menerus dalam rangka perbaikan mutu layanan. Di samping itu, ia
berjanji dalam rangka program transformasi bisnis ini, manajemen tidak
akan melakukan PHK, akan tetapi dengan penawaran pensiun dini dan relokasi
SDM ke tempat yang lebih produktif sesuai kebutuhan perusahaan.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Artikel lain:
WAWANCARA: Profesionalisme yang Tidak Pernah
Marah
|
|