ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
CEO
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
C © updated 190503
PROFIL
INDEX PROFESI   

garis

:::::: Profesi garis

:::::: Advokat garis
:::::: Akuntan
garis
:::::: Arsitek
garis
:::::: Bankers
garis
:::::: CEO-Manajer
garis
:::::: Dokter
garis
:::::: Guru
garis
:::::: Konsultan
garis
:::::: Kurator garis

:::::: Notaris garis
:::::: Peneliti-Ilmuwan
garis
:::::: Pialang
garis
:::::: Psikolog
garis
:::::: Seniman
garis
:::::: Teknolog
garis
:::::: Wartawan
garis
:::::: Profesi Lainnya
garis
:::::: Redaksi
garis

garis
garis

 


Nama:
ALINAFIAH, MBA
Lahir:
Medan, 13 November 1953.
Agama :
Islam.
Status :
Kawin
Jumlah anak :
3 (tiga) orang anak.

Masa kerja:
Lingkungan PT/Perum Pos Indonesia 2 Agustus 1976 sampai sekarang.
Kepangkatan/Golongan
1. PUT IV/E 15 Februari 1999 *) Pangkat Tituler
2. PUTMA IV/D 1 April 2002
3. PUTDA IV /C 1 April 2001
4. PBN I IV /B 1 April 2000
5. PBN IV/A 1 Agustus 1998
6. PNPOS I III/D 1 Agustus 1996
7. PNPOS III/C 1 Oktober 1992
8. PNMPOS-I III/B 1 Oktober 1988
9. PNMPOS III/A 1 Oktober 1984
10. PAPOS I II/D 1 Oktober 1980
11. PAPOS II/C 2 Agustus 1976

Jabatan (Struktural/Fungsional)
1. Direktur Utama Dirut 15 Februari 1999
2. Kawilpos IV Jakarta. Wilpos IV Jkt 18 Agustus 1997
3. Wakil Kawilpos IV Jakarta. Wilpos IV Jkt 29 Juni 1995
4. Ka. Kpb I. Jakarta 13 Februari 1993
5. Kepala Kantor Pos. Ujungpandang 16 Januari 1991
6. Kepala Urusan Wasipos -1. Kantor Pusat 31 Juli 1990
7. Kepala Urusan Kepegawaian. Wilpos I Jakarta 13 Juni 1988
8. Kepala Kantor Pos. Tanjungpinang 7 September 1985
9. Kepala Kantor Pos. Batusangkar 13 September 1984
10. Kepala Kantor Pos. Sidikalang 27 Agustus 1979
11. Ketua Bagian Paket Medan 1 Januari 1979
12. Bendaharawan BPM Medan 15 Maret 1977

Jabatan/Penugasan lainnya
1. GB APPTC -APPU Meeting di Teheran 11 September 2000
2. SIO 7th Asean Postal Business di Malaysia 3 Agustus 2000
3. Executive Briefing 3 G Tech di Bangkok 25 Maret 2000
4. Microsoft Meeting di Seatle USA Mei 2000
5. Penjajagan Valutapos di Saudia Arabia 22 November 1999
6. Pameran Filateli di Swiss 22 November 1999
7. Kunjungan Undangan Pos Malaysia di Malaysia 3 Oktober 1999
8. Kongres UPU ke-22 di Beijing 26 Agustus 1999
9. Studi Banding Ke Amerika 18 Oktober 1997
10. Seminar Creat Value the Multibusiness di Jakarta 3 Juli 1997
11. Pameran Filateli Ce Bit 1997 di Hannover 13 Maret 1997
12. Comperative Marketing / Bulk Pos di Australia 13 Juli 1994
13. OB Post Plan and Development 4-2-1985 sd 29-3-1985

Pendidikan Formal
1. SUSPIM SUSGAB BUMN -Jakarta 1998
2. SUSKAPIM I -Bandung 1998
3. MANAJER MADYA -Bandung 1991
4. SEPALA -Bandung 1987
5. SEPADA -Bandung 1981
6. DIKTI (REGULER) -Bandung 1976
7. SMA IPA Medan 1971
8. SMP - 1968
9. SD - 1965

Pendidikan Lainnya
1. Emotional Intelegence Jakarta 1999
2. Ensuring Nasional Jakarta 1996
3. Teknik GKM Jakarta 1994
4. Penataran Akuntansi Bandung 1993
5. Program MBA Jakarta 1990
6. Penyuluhan Pos dan Giro -1986
7. TOC Bandung 1982
8. Penataran P4 -1980

Penghargaan/Tanda Jasa
1. The Best IT Produck of The Year, Kadin Indonesia 28 Februari 2003
2. The Best CEO BUMN Award 2002 Bidang Inovasi Manajemen, Presiden RI 21 Agustus 2002
3. Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembinaan PUKK, Presiden RI 14 September 2000
4. Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembangunan Pos, Presiden RI 13 September 1999
5. Tanda Penghargaan Karya Jasa Pemerintah 8 Juli 1998
6. Piagam Penghargaan Masa Karya II (20 Tahun) PT Pos Indonesia 27
7. September 1996 Piagam Penghargaan Masa Karya I (15 Tahun) Perum Pos dan Giro 27 September 1991

Karya Tulis:
1. Prospek Jasa Perposan Pada Era Perekonomian Mendatang Serta Analisis SDM Dalam Meningkatkan Kinerja dan Daya Saing Industri Perposan di Era, Globlal. 2000
2. Strategi Pengembangan Usaha Jasa Pos Dalam Menghadapi Milenium III. 2000
3. Repositioning Postal Service In Facing The Competition (7th ASEAN Postal Business Meeting) 2000
4. Petan Telematika Dalam Rekayasa Ulang Dunia Usaha: Pengalaman PT Pos Indonesia (Seminar Telematika, Bandung). 2000
5. Business Strategy in Hypercompetition: Studi Kasus di PT Pos Indonesia. 2000
6. Reformasi BUMN Mengatasi Krisis Ekonomi Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional (Seminar Suspim Susgab BUMN Angkatan VII, Lemhannas, Jakarta). 1999
7. Membidik Target Pasar Dalam Membangun Perekonomian Indonesia. Baru (Seminar Direct Marketing, Ujung Pandang). 1999
8. The Network Company Menuju Perusahaan Kelas Dunia (Seminar IPTEK, Universitas Andalas). 1999
9. Competitive Strategy Dalam Meningkatkan Kinerja Usaha (Seminar Direct Marketing, Ujung Pandang). 1999
10. Peran Teknologi Dalam Percepatan Pembangunan Bidang Pos Dalam Rangka Mendukung Wawasan Nusantara (Seminar Suspim Susgab BUMN Angkatan VII, Lemhannas, Jakarta). 1998
11. Wanita Pengantar Pos: Solusi Layanan Pos di Gedung Bertingkat. 1997
12. Customized Service: Reposisi Layanan Pos Dalam Meraih Segmen Pasar Industri. 1996
13. Penyiapan Kapasitas Siap Layan di Wilayah Usaha Pos IV Jakarta. 1996
14. Business Mail Service (BMS); Suatu Aplikasi Layanan Pos di Kantor Pos Kelas I Jakarta. 1994

Alamat kantor :
Kantor Pusat PT Pos Indonesia (Persero)
JI. Banda No.30 Bandung 40115.

Alamat Rumah :
JI. Cipunegara 25 Bandung 40114.

Alinafiah, MBA

Orientasi Prestasi Sang Inovator


Selalu melakukan inovasi dalam setiap jabatan yang diembannya. CEO Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ini meniti karir dari bawah hingga menjabat Direktur Utama PT Pos Indonesia. Ia ‘karyawan pemerintah’ yang berorientasi prestasi dan tidak gagap jabatan. Ia memiliki integritas dan keberanian moral melakukan inovasi yang tentu tak sekadar patuh pada atasan dan tata kerja rutin birokrasi. Sejak kecil ia telah terlatih mandiri dan punya kepekaan bisnis. Kini ia melakukan transformasi bisnis untuk menjemput masa depan PT Pos Indonesia memasuki era total logistik service, yang tak lagi sekadar mengantar paket. Ia memang seorang inovator pemberani.

Inovasi telah menjadi kata kunci dan sakti yang selalu muncul dalam perjalanan karir peraih The Best CEO BUMN Award 2002 Bidang Inovasi Manajemen dari Presiden RI ini. Pria kelahiran Medan, 13 November 1953, ini sejak masa kecilnya telah diwarnai berbagai inovasi dan kemandirian. Ia berasal dari keluarga besar, sebagai anak ketiga dari 12 bersaudara.

Dalam proses pembentukan kepribadian, ia sangat terkesan dengan pesan orang tuanya untuk hidup mandiri. Dimulai dari sejak kecil. Ia tidak pernah diantar ke sekolah oleh ayahnya. Waktu pendaftaran SD saja, pamannya yang mendaftarkan. Ia dibonceng naik sepeda, duduk di palang depan bukan di boncengan. Saat masuk SMP ia mendaftar sendiri. Dalam proses belajar juga mandiri. Orangtua hanya memberikan dukungan, tetapi tidak mendikte.

Namun bukan berarti perhatian dan kasih sayang orang tuanya tidak sepenuhnya dia rasakan. Bahkan ada sesuatu yang sampai kini sangat berkesan dalam ingatannya perihal pengasuhan ayah-ibunya. Ketika ia masih bayi, mungkin pada usia di bawah dua tahun. Tapi ia masih ingat sampai saat ini. Luar biasa. Yakni, saat-saat ia dimandikan ibunya di ember yang bulat bukan plastik. Ketika selesai, dibalut dengan handuk. Kasih sayang orangtuanya, terutama ibunya, ini sampai saat ini terkesan sekali dalam ingatannya.

Ia tidak ingat pada umur berapa, tetapi sebagai bayi dimandikan di ember, ia ingat sekali. Maka, jika anak-anak sekarang dimandikan dalam ember plastik, ia selalu terkesan. Dan setiap pulang ke Medan, melihat ibunya, yang paling ia ingat bukan jabatan atau yang lain. Ia bersyukur pada usia yang sekarang sudah lanjut, ibu yang melahirkan dan memandikannya masih hidup. Kesan itu juga yang sekarang ia rasakan ketika sudah memiliki seorang cucu. Kebetulan pada hari itu, cucunya tepat satu tahun, 30 April 2003. Maka, khusus hari itu ia pulang lebih awal sebelum magrib, biasanya setelah magrib baru pulang.

Saat ini, manakala cucunya dimandikan oleh ibunya, kebetulan masih satu rumah, terbayang dibenaknya ketika dulu dimandikan orangtuanya. Ketika selesai dimandikan, seperti ia diperlakukan oleh ayahnya. Begitu juga ia perlakukan cucunya. Sehingga sekarang ia sangat dekat dengan cucunya itu. Kalau bapanya pergi cucunya tidak menangis. Tetapi kalau ia mau pergi cucunya menangis. Diangkat ibunya, tidak mau jadi ngamuk. Hanya mau digendong kakeknya. Begitu dekatnya, ini barangkali karena penghayatannya kepada cucu. Ia ingat ketika seumur seperti cucunya. Insting anak-anak peka akan penghayatan itu. Itu sebuah sentuhan kasih dan kemanusiaan yang sangat terkesan dalam benaknya.

Namun dalam penerapan kasih sayang itu, orang tuanya mendorongnya untuk mandiri. Maka etika masuk SMA, ia sudah memiliki penghasilan sendiri. Ia membuka kelas les privat di rumah, di ruangan tamu yang tidak terlalu besar. Sehingga bisa beli baju sendiri dan keperluan sendiri. Setiap malam lepas magrib kawan sekelas dan adik-adik kelas bahkan dari sekolah lain datang ke rumahnya untuk belajar. Walau ilmunya masih terbatas, hanya mengandalkan pelajaran yang diperolehnya di sekolah, ia berani membuka les privat. “Kalau saya dapat pelajaran kimia di SMA, ya saya ajarkan kepada adik-adik kelas. Kadang-kadang juga kuatir bisa salah sendiri. Tetapi teman-teman bayar bukan diskusi, karena saya membuka les privat,” ujarnya mengenang dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indoensia DotCom di ruang tamu kantornya di Bandung. Semua pelajaran kurikulum SMA dan SMP ia pegang. Waktu itu ia benar-benar mulai mandiri, berjuang dan berani.

Selain itu, ia juga ikut bertani bersama orangtua. Pada saat SMA, orangtuanya seorang pegawai negeri juga bertani. Sehingga hampir sepanjang tahun mereka tidak pernah membeli beras. Mereka mengonsumsi beras hasil pertanian sendiri. Maka tidak heran jika sampai saat ini ia sangat memperhatikan masalah pertanian.

Selepas lulus SMA IPA Medan 1971, ia mengikuti ujian Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Ia diterima di Fakultas Hukum USU. Namun, sesungguhnya ia tidak sreg, karena bayangan harus menyelesaikan dalam berapa tahun dan setelah lulus belum tentu langsung ditempatkan. Apalagi, ia bayangkan kondisi keluarga besarnya. Sehingga ketika ada pengumuman di kantor pos mengenai penerimaan mahasiswa di Akademi Pos (angkatan dinas), ia pun mendaftar.

“Sebenarnya pada waktu itu saya bukan orang pilih-pilih. Saya yakin dimana pun orang menekuni suatu bidang akan membawa benefit (keuntungan) bagi dirinya dan orang lain jika ditekuni dengan serius. Itu barangkali yang sekarang diterjemahan profesional. Menjadi ahli di bidangnya, apapun, bisa tukang ukir yang ahli di kampung, jika didalami dan tekuni,” jelasnya.

Akhirnya ia masuk Akademi Pos, dengan tekad akan belajar secara serius. Sehingga dari awal ia termasuk mahasiswa yang belajar serius. Ide-ide yang ada dalam pikirannya pun selalu ia tulis. Ia memang termasuk penulis yang produktif di majalah mahasiswa ketika itu. “Itu karena saya ingin mendalami apapun yang saya kerjakan dan di mana pun saya mengerjakannya secara maksimal,” katanya.

Karirnya dimulai bekerja di Kantor Pos Medan sebagai staf, bersamaan dengan masa pendidikannya di Akademi Pos. Kemudian menjadi Kepala Kantor Pos Sidikalang. Sebuah kota kecil yang ketika magrib datang hampir tidak ada lagi orang yang lewat. Namun di sana ia betah selama 5 tahun (1979 – 1984). Ia pikir kantor pos kabupaten ini bisa mendoronganya mencari inovasi. “Jadi bukan hanya di Jakarta untuk bisa membuat inovasi,” jelas penerima Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembangunan Pos, Presiden RI, 13 September 1999 ini.

Dalam melakukan inovasi, alumni Program MBA (1990) ini banyak bertanya dan berdiskusi dengan Pemda setempat. “Saya berpikir sebenarnya Kantor Pos dapat digunakan menjadi kantornya Pemda. Dalam arti, setiap orang yang ingin mendapatkan surat catatan sipil, sebelum datang ke Kantor Bupati, selesaikan dulu pembayaran di Kantor Pos. Di Kantor Bupati hanya tinggal menanda tangan,” katanya. Ide ini pun terwujud. Pemda menyambutnya dengan baik. Bahkan kemudian, retribusi sampah juga dibayar lewat kantor pos.

Bukan itu saja. Gedung dan dinding kantor pos pun dipergunakan secara maksimal. Karena petugas pengiriman surat terbatas, ia berpikir menggalakkan penggunaan kotak pos. Sehingga tidak perlu merekrut pegawai pengantar pos. Lalu, dinding kantor pos yang lowong digunakan untuk kotak-kotak pos. Terbentuk berapa ratus kotak surat di sana, sehingga masyarakat bisa menerima surat 24 jam. Setiap keluarga punya kunci sendiri. Akhirnya, pengantar pos menjadi berkurang karena masyarakat yang mengambil sendiri. Tetapi masyarakat membayar untuk setiap kotak pos yang ada.

Itu contoh inovasi yang ia kerjakan di kota kecil. Ia seorang yang dikenal kaya inovasi dan mempunyai kebiasaan lebih banyak berada di lapangan dibandingkan di kantor. Ia ‘pegawai pemerintah’ yang berpikir dan mampu melaksanakan apa yang dipikirkannya. Keberanian berinovasi ini terus berlangsung di manapun ia ditempatkan. Baik sebagai Kepala Kantor Pos (Ka.Kp) Batusangkar (1984–1985), Ka. Kp Tanjungpinang (1985), Ka.Ur Kepegawaian Wilpos I Jakarta (1988-1990), Ka. Wasipos-1 Kantor Pusat (1990-1991), Ka.Kpb I Ujungpandang (1991-1993), Ka. Kpb I Jakarta (1993-1995), Wakil Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta (1995-1997), Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta (1997-1999), sampai menjabat Direktur Utama PT Posindo (sejak 1999).

Sungguh ia seorang yang berorientasi prestasi. Ia pemberani melakukan perobahan yang diyakininya pasti lebih baik. Ia memang orang yang selalu ingin tampil beda (lebih). Dalam melakukan berbagai hal baru kadang-kadang ia harus menentang arus. Misalnya, ketika di Unjung Pandang. Ia dilarang oleh atasan melakukan perubahan. “Kerjakan sistem ini, karena itu peraturan.” Perubahan itu biasanya menyimpang. Tetapi ia bersikeras, “Ijinkan enam bulan saja kami ujicoba Pak, nanti lihat hasilnya.” Jadi bukan hanya sekedar taat atau loyal tetapi juga dapat mengerjakan hal yang diyakini lebih baik jika dilakukan. Barangkali, keberanian melakukan inovasi ini pula yang mengantarnya sampai mencapi puncak di BUMN tempatnya mengabdi. “Boleh mungkin, saya tidak tahu persis, oleh karena berbeda dengan yang lain, atasan jadi percaya,” katanya.

Tetapi siap juga orang-orang yang seperti ini ditendang, karena dianggap melawan arus. Tetapi sekali lagi, niatnya. Ia melakukan itu bukan untuk diangkat menjadi kepala wilayah.” Dengan melakukan perubahan yang hasilnya lebih baik, muncul kepuasan batin. Apalagi bila berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak, anak buah senang dan tambah bergairah (bekerja tidak melihat jam tetapi menyelesaikan pekerjaan).

Apa yang ia kerjakan mungkin berbeda dan tidak biasa dilakukan oleh ‘karyawan pemerintah’ yang lain. Berbagai inovasi yang telah ia lakukan sering kali berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, hemat energi, bukan berarti pelit. Contohnya, salah satu kebiasaan orang yang sering ia perhatikan, jika ruangan sempit solusinya selalu menambah ruangan. Kurang lemari, paling mudah solusinya membeli lemari. Itu sangat umum. Tetapi, katanya, pernahkah kita berpikir, di dalam lemari itu mungkin ada barang yang tidak perlu lagi disimpan di situ? Jadi solusinya adalah tidak membeli lemari. Tetapi membakar arsip dan barang yang sebetulnya secara peraturan setahun sudah harus dimusnahkan. Tetapi sering kali orang terus menimpannya. Karena apa? Karena tidak fokus dan memiliki kesungguhan untuk mengelola suatu kantor.

Kepala kantor dianggap memakai dasi, duduk melayani taskdesk. Padahal yang namanya kepala kantor, pemilik seluruh aspek, harus berpikir bagaimana mengoptimalkan semua sumber daya. Pemakaian ruang kantor, lemari dan sebagainya dioptimalkan. “Tetapi selama 2 minggu kerja kami hanya membakar berkas-berkas lama,” kenangnya. Hal itu tampaknya sederahana, namun pola pikirnya digunakan untuk perusahaan dan bangsa. BUMN menjadi efesien. Jadi, anjurnya, jangan gemar membeli. Kebiasaan gemar membeli itu harus dihilangkan. “Sebab di dalam membeli banyak perampokannya juga kan?” ujarnya seraya tertawa.

Dalam setiap melakukan inovasi atau pekerjaan rutin pun harus didukung tim yang padu dan efisien. “Ketika kita diam, itu juga bukan hanya sekedar diam. Namun bagaimana mengerjakannya dengan efesien, optimal dan hemat energi,” kata peserta Suspim Susgab BUMN tahun 1998 ini. Di manapun kita berada harus dapat menyesuaikan diri dengan hemat energi. Kita ini manusia biasa yang memiliki kapasitas energi terbatas.

Karena itu, kita tidak mungkin mengerjakan segalanya. Menjadi kepala kantor di Jakarta mempunyai tuntutan sendiri dari ketika menjabat kepala kantor di Sidikalang. Ketika di Sidikalang, mungkin masih mesti menangani dari pengantar hingga bagian arsip. Tapi pada level yang lebih tinggi, menjadi kepala kantor di Jakarta, tentu berbeda. Apalagi sesudah menjadi penanggung jawab manajemen paling puncak. Untuk itu, hal yang mendasar adalah percaya orang lain. Tetapi bukan sekedar percaya begitu saja.

Menurutnya, pada saat semakin tinggi level produktivitas kita, bukan berapa lama kita duduk di sini. “Saya masih menggunakan istilah ada kerja ada ngantor. Kalau saya di sini tadi beberapa menit, saya mengerjakan sesuatu, itu namanya pengantor. Saya melakukan pekerjaan kantoran. Tetapi jika sejak lima hari yang lalu, saya tidak ada di sini, mungkin sampai jam 12 malam saya masih bicara bisnis dengan berbagai mitra kerja di hotel atau di manapun, itu namanya kerja, itu kerjaan saya. Seperti berbicara dengan rekan-rekan wartawan saat ini, itu juga ‘kan kerjaan saya. Sebab itu bagian informasi yang memang harus didengar langsung dari tangan pertama. Itu berbeda nilainya jika kita hanya mengeluarkan rilis,” urainya.

Lalu ia menggambarkan bagaimana peliknya perusahaan ini dalam tingkatan yang memiliki 26.500 karyawan, memiliki 13.500 pensiunan dalam kondisi saat ini. “Kita mengerti porsi kita. Ada waktunya kita entry (masuk) ada juga saatnya kita serahkan pada staf. Karena kalau semua kita masuk, akhirnya hal yang penting jadi tak tertangani. Jangan juga kita memperbesar masalah. Kalau bisa kita sederhanakan dan jangan menambah permasalah semakin berkembang. Putuskan dengan cepat dan kadang-kadang pahit. Tapi itulah kadang-kadang resikonya berat, kita harus terima, jangan salahkan orang lain, semakin ke atas adalah policy systim,” jelasnya.

Ketika ia baru menduduki jabatan Direktur Utama, saat berada di luar negeri, terjadi demonstrasi karyawan. Apa yang ia lalukan? No Comment. Ia menentukan kebijakan, tidak satu orang pun mereka yang demo yang perlu dipanggil. “Saya tidak perlu tahu siapa penggerak di balik demo,” katanya. Ia pun sengaja tidak memberikan komentar kepada pers. Ia mau cooling down (tenang). Yang ia lakukan adalah mencari tahu apa yang menjadi tuntutan mereka. Ternyata, persoalannnya adalah tuntuan kenaikan gaji 300 ribu rupiah. “Saya bukan mencari siapa provokatornya, tetapi bagaimana caranya mencari 300 ribu,” katanya.

Maka, ketika itu, ia segera pulang ke Indonesia untuk mengadakan rapat sampai malam. “Cari anggaran! Mainkan mana yang bisa digunakan.” Akhirnya ditemukan solusinya. Tuntutan karyawan dipenuhi dan perusahaan masih bisa survive dan tetap mendapat keuntungan. Bahkan keuntungan bertambah Rp 98 miliar.

Ia berani mengambil risiko, kemungkinan perusahaan rugi. Sebab ia tidak mau menghabiskan energi untuk hal itu, karena eranya yang seperti itu. Ada serikat pekerja yang masih baru, ada kesempatan untuk melakukan perubahan manajemen juga belum terbiasa. Dulu bekerja dengan Korpri yang semua setiap tanggal 17 diatur. “Kita sadari itu adalah pembelajaran. Dan di sela-sela pembelajaran kita belajar, jangan juga kita protek diri. Ketika masalah selesai, kita lebih mengambil keputusan yang lebih besar yaitu dengan transformasi diri,” kata penganut falsafah hidup bekerja keras, hemat dan jangan mengeluh serta jangan menyalahkan orang ini.

Lebih baik energi digunakan untuk memikirkan 5 tahun kedepan perusahaan ini mau di bawa kemana. Itu pulalah yang menjadi obsesinya saat ini. Bagaiamana ekistensi perusahaan ini 5 tahun ke depan, siapa pun yang berperan. Bukan untuk tujuan mempertahankan jabatan.

Ia berharap, (bukan sebuah cerita yang sombong, sebagai pejabat, tokoh publik atau yang dituakan, apapun namanya) jangan gagap posisi. Sebab gagap posisi itu takut diganti. Karena kalau tujuan kita duduk jadi dirut, dengan legalitas SK pengangkatan dan pelantikan, itu kita menjadi gagap posisi dan menjadi takut. Takut dalam mengambil keputusan dan melakukan inovasi. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak mengenakan, lalu kita pikirkan, apakah tergeser dari kedudukan.

“Jadi soal diangkat dan diberhentikan kapan, itu bukan urusan kita. Dan kita tak perlu berjuang mencari akal untuk mempertahankan jabatan. Jangan gagap,” katanya dengan penuh keyakinan profesionalisme, bukan kesombongan. Ia yakin dengan pengabdian yang seperti itu, pimpinan dan masyarakat dapat menilai. Lebih lagi masyarakat saja yang menilai bukan legalitas, dan kita tak perlu teriak-teriak, marah-marah malah membuat diri kita menjadi sakit. Dan yang terpenting, menurutnya, selalu berupaya memberikan yang terbaik kepada siapapun pengganti kita.

Sejak masuk ke Akademi Pos, ia memang tak pernah mengejar jabatan, apalagi mengejar jabatan dirut. Ia yakin jabatan atau menjadi dirut itu akan datang dengan sendirinya, sebagai amanah. Tapi yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan prestasi. Meskipun kata orang harus ada cantolan dan lainnya, ia mengaku tidak pernah punya cantolan dan mengantungkan diri dengan cantolan itu. “Saya adalah orang kampung yang datang dari Titikkuning dan berasal dari keluarga pegawai negeri yang tidak ada satu pun duduk tingkat golongan III. Kepada siapa saya harus mencantol?” ujarnya.

Bukan itu, tetapi coba dengan keahlian dan karya, dan siap kapan saja untuk bekerja. “Alhamdulilah, 5 tahun menjabat sebagai dirut, saya selalu sehat dan bersama dengan teman-teman juga tidak ada masalah,” katanya.

Dalam kepemimpinnya ia juga dikenal demokratis dan siap dikritik staf. Ia menegaskan, kalau ada yang berpandangan berbeda dengan kita, jangan dibenci. Bahkan jadikan pandangannya sebagai masukan, memperkaya gagasan atau wacana. Selain itu, dalam kepemimpinannya, ia juga hampir tidak pernah marah kepada staf.

Kenapa ia tak marah? “Saya tidak akan marah sebab marah itu capek dan kebetulan dalam lingkungan dan gaya saya yang seperti ini hampir tidak alasan yang membuat saya bisa marah, kadang-kadang saya heran juga,” ujar putera bangsa yang pernah mengecap pendidikan Emotional Intelegence (Jakarta 1999) ini. Menurutnya, gaya marah itu tidak perlu teriak-teriak atau membenci orang, tapi dengan memberikan disposisi, memberikan arahan sehingga orang menjadi tahu ke mana sebetulnya. Tapi bukan dengan menjadi teriak-teriak.

Karyawan Posindo juga mengenalnya sebagai orang yang bersahaja. Dalam setiap kali berkunjung ke daerah, misalnya, ia tidak pernah mengharapkan penyambutan atau perlakuan istimewa. Seperti ketika berkunjung ke Papua untuk melihat dari dekat peran Pos Indonesia di sana. Juga ke Cirebon-Bandung-Tasik sampai Pekalongan, berkomunikasi dengan jajaran Posindo di sana. Semua menunggu dengan antusias kehadirannya. Dalam satu hari, ia berbicara di 7-8 kantor, hingga jam 11 malam. Karena jajarannya menunggu semua sampai jam yang terakhir, berbicara tentang pos masa depan.

Secara kemampuan fisik, itu tentu sangat berat. Tapi itu ia lakukan. “Kalau mau enak, ngapain sih dirut gitu-gitu. Kalau saya katakan tidak mau, tinggal saja di hotel dan tidur selesai kan? Demi kenyamanan kita tidur, tapi apakah di tidurnya kita itu nyenyak?” katanya ketika hal ini dikonfirmasikan. Setelah itu, baru ia pulang ke hotel, tidur hanya 4 jam, tetapi penuh dengan keindahan, kepuasan melihat kawan-kawan kita di Nusantara yang masih tetap semangat. “Itu adalah lebih dari obat tidur yang dosisnya tinggi sekali. Itu yang saya lihat, dan itu yang membuat hidup ini tetap sehat, Alhamdulillah,” kata penulis ‘Prospek Jasa Perposan Pada Era Perekonomian Mendatang Serta Analisis SDM Dalam Meningkatkan Kinerja dan Daya Saing Industri Perposan di Era Globlal’ (2000) ini.

Salah satu rahasia pengendalian emosi dan pemeliharaan ketahanan fisiknya mungkin juga terkait pada hoby menikmati alam, pertanian dan perikanan. Bahkan ia mengaku mimpinya pun selalu berhubungan dengan ikan. “Itu sebabnya jika saya puyeng, karena rapat dan urusan kantor, saya pergi ke kebun. Di situ ada ikan. Saya memancing, menangkap ikan. Bukan untuk dijual tapi hiburan. Setelah itu, saya pulang sudah bisa bekerja sampai 12 malam lagi. Jadi benar-benar saya jadikan sebagai tempat hiburan. Kalau golf itu bukan hoby tapi itu hanya untuk networking,” kata penggemar makanan genjer ini.

Pengalamannya lebih 27 tahun di BUMN ini, sejak dimulai naik sepeda hingga posisi sekarang ini, dengan segala kreatifitas dan inovasinya, telah menjadi jaminan kompetensi, integritas, dedikasi dan loyalitasnya kepada perusahaan jasa perposan ini. Ia memang bertekad memberikan yang terbaik, sebagai bagian sumbangsihnya untuk bangsa dan negara ini. Terutama dalam meningkatkan peran Pos Indonesia mempersatukan bangsa ini.

Itulah pula antara lain yang selalau menyalakan semangatnya untuk melakukan inovasi agar Pos Indonesia bisa memberikan pelayan paripurna kepada publik. Salah satu inovasi yang baru saja dilakukannya adalah layanan SMS Pos (Short Message Service via Pos) yang diluncurkan pada Oktober 2002. Layanan ini merupakan hasil kerjasama antara PT Pos Indonesia dengan Mitra Kerja Cellular Provider ProXL, Satelindo dan Telkomel. Sedangkan untuk content Providernya dengan PT Bali Iklanmindo Semesta selaku penyedia SMS-Gateway menjadi inter-face antara SMS-Center milik Cellular Provider dengan Server Ratsim milik PT Pos Indonesia.

Layanan SMS Pos ini benar-benar feasible. Sehingga tak heran bila dalam waktu singkat telah berhasil mendapat Anugerah Telematika Kadin Indonesia berupa Piagam Penghargaan dan Piala "Micronics Internusa Golden Award for The Best I.T Product of The Year". Penyerahan penghargaan itu dilakukan di Hotel LeMeridien Nirwana Bali Resort, Bali (28/02/03).

Produk SMS Pos ini memungkinkan masyarakat pengguna ponsel dapat mengirimkan kartu ucapan kepada masyarakat yang tidak memiliki ponsel. Masyarakat kini sudah dapat terlayani hanya dengan menekan tombol pada ponsel tanpa perlu datang ke loket-laket kantor pos.

Layanan SMS Pos ini didukung jaringan 154 Kantor Layanan Kantor Pos di seluruh Indonesia. Sistem tersebut merupakan cikal-bakal untuk memungkinkan dikembangkan bagi layanan lain (related). Layanan ini memiliki prospek bisnis yang tak hanya membawa hasil yang baik bagi internal PT Pos tapi juga dapat mempengaruhi serta dapat memberi kesempatan pada lingkungan untuk berkembang.

Total Logistik Service
Selama ini Pos Indonesia lebih dikenal sebagai perusahaan yang melayani pengiriman surat, wesel, maupun paket ke seluruh pelosok negeri dan mancanegara. Namun seiring dengan perkembangan bisnis dan teknologi, di bawah kendali Alinafiah, Pos Indonesia pun melakukan berbagai terobosan dalam memberikan jasa perposannya. Salah satu terobosan itu adalah dikembangkannya pelayanan total logistik. Melalui pelayanan ini, kini pengguna jasa pos dapat mempercayakan kepada Pos Indonesia aktivitas manajemen distribusi barang-barang atau produk usaha secara menyeluruh.

Pos Indonesia tidak lagi sekedar mengirimkan barang ke alamat tujuan tapi juga melakukan proses warehousing, assembling, packaging dan bahkan track and tracing perjalanan barang tersebut ke alamat tujuan.

Menurut Alinafiah, ssunguhnya layanan total logistik bukanlah hal baru. Pos sejak lama telah mengelola aktivitas total logistik ini, namun belum maksimum. Seperti, penjualan materai yang dilakukan oleh Pos Indonesia sebenarnya dikelola dengan pendekatan total logistik. Dalam hal ini, Pos Indonesia dipercaya oleh Departemen Keuangan tidak saja menjual materai di loket-loket, tapi juga melakukan proses penyimpanan dan pendistribusian serta pengadministrasiannya.

Hal yang sama dilakukan pula untuk Universitas Terbuka. Pos Indonesia tidak saja menjual formulir pendaftaran, tetapi juga menyimpan dan mendistribusikan dokumen-dokumen serta modul-modul perkuliahan ke seluruh peserta di pelosok Indonesia. Pengalaman ini, ditambah dengan potensi jaringan transportasi maupun jaringan pelayanan yang dimiliki oleh Pos Indonesia, merupakan bekal dalam membuka layanan total logistik.

Pada sisi lain terdapat perkembangan signifikan dalam aktivitas bisnis di Indonesia. Lalu lintas barang dari dan ke berbagai daerah semakin marak apalagi dengan diterapkannya Otonomi Daerah. Efesiensi dan efektivitas pendistribusian barang ke seluruh wilayah menjadi sangat penting bagi berbagai bidang usaha. Ketatnya persaingan yang ada menuntut pengelolaan usaha yang lebih fokus pada aktivitas inti tanpa direpotkan kegiatan-kegiatan lain seperti logistik yang sebenarnya dapat di sub kontrakan kepada perusahaan logistik service seperti Pos Indonesia.

Pengusaha tidak direpotkan lagi oleh masalah penyimpangan barang, persediaan, pendistribusian dan sebagainya. Bahkan pengadministrasian pengiriman barang tersebut. Solusi efesiensi akan terjadi karena adanya sinergi dan konsolidasi berbagai kegiatan dalam layanan Pos Indonesia. Dalam kerangka inilah layanan total logistik Pos Indonesia diperkenalkan. Perusahaan atau produsen produk konsumsi, pharmasi, elektronika dab sebagainya tidak perlu memikirkan lagi masalah logistiknya. Desain pergudangan, pola distribusi, cara penyimpanan, pengepakan, administrasi persediaan dapat disesuaikan dengan spesifikasi barang yang akan ditangani. Inilah yang disebut Pos Indonesia tidak menjual apa yang dimiliki tetapi menjual apa yang diinginkan konsumennya.

Salah satu klien yang telah memanfaatkan layanan Total Logistik adalah PT. Unilever Indonesia Tbk. Perusahaan ini mempercayakan kepada Pos Indonesia pengiriman barang-barang Point Of Sale (POS), perangkat promosi, dan Gift dari seluruh merk produk Unilever.

Kepercayaan ini diberikan dengan salah satu pertimbangan bahwa Pos Indonesia memiliki kemampuan dan pengalaman untuk mengintegrasikan proses pengirimannya ke berbagai wilayah usaha Unilever di seluruh Indonesia. Apalagi kebijakan perusahaan menekankan bahwa kantor cabang Unilever benar-benar difokuskan untuk mengejar target pendapatan dan tidak boleh direpotkan oleh masalah-masalah pendistibusian produk atau hal-hal lainnya. Bermitra dengan perusahaan yang mampu dan dapat dipercaya untuk mengelola logistik adalah pilihan strategis Unilever.

Saat ini total logistik telah dapat dilayani di wilayah Jabotabek. Dalam waktu dekat akan dikembangkan di Surabaya, Bandung dan Medan. Layanan Total Logistik sangat sesuai bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang consumer goods, elektronika, penerbitan buku, office equipment, suku cadang kendaraan bermotor, perangkat komputer dan produk telekomunikasi, farmasi dan bahkan produk agribisnis.

Guna memberikan kepuasan kepada pemakai layanan Total Logistik ini, Pos Indonesia akan memanfaatkan gedung dan sarana yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai pendukung kelancaran aktivitas total logistik ini. Pendekatan pelayanannya pun dilakukan secara costumize, termasuk jika konsumen menginginkan produknya diasuransi.

Khusus dalam penyediaan gudang, Pos Indonesia memiliki 4000-an gedung yang tersebar di seluruh Indonesia dan masih belum optimal dimanfaatkan. Untuk itu, bila konsumen menginginkan gedung itu dapat diubah menjadi sarana pergudangan bagi kelancaran logistiknya.

Transformasi Bisnis
Dalam era globalisasi dan kondisi bangsa saat ini, PT Pos Indonesia harus meningkatkan daya saingnya. Maka ia pun telah mencanangkan Transformasi Bisnis dalam tubuh Pos Indonesia. Sebuah solusi strategis yang komprehensif, realistis, rasional dan berjangka panjang melalui program yang dikemas dalam transformasi bisnis. Dengan solusi tersebut diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan manfaat bagi semua pihak, stakeholder terutama pegawai dan keluarga pegawai sehingga 'everybody will be happy'. Melalui transformasi bisnis ini pula diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan yang signifikan bagi kemajuan PT Pos Indonesia di masa datang.

Ia mencoba mendesign PT Pos Indonesia paling tidak lima tahun ke depan secara kuantitatif maupun kualitatif. Perusahaan ini di reka dan dirancang lima tahun ke depan. PT Pos Indonesia akan seperti apa. Ia mendisain transformasi ini memberikan gambaran bagaimana kontribusi kepada pemerintah, bagaimana peningkatan kesejahteraan karyawan, bagaimana biaya harus dikendalikan, bagaimana pendapatan digali secara terencana oleh konsep transformasi dari sekarang hingga lima tahun ke depan.

Implementasi Transformasi Bisnis ini dilakukan secara bertahap mulai tahun 2003 hingga 2007, yakni tahapan konsolidasi (2003), tahapan revitalisasi bisnis (2004-2005) dan tahapan pertumbuhan (2006-2007).

Selain itu, prosesnya dilakukan melalui strategi 6 R (repositioning, reinventing, reengineering, reorganizing, rightsizing, dan resource alocation).

Pertama, repositioning yaitu proses memetakan kembali potensi dan kelemahan perusahaan sehingga akan terlihat bisnis yang akan dimasuki, ditinggalkan atau dikembangkan.

Kedua, reinventing, menemukan kembali bisnis yang telah diposisikan untuk 'reborn' menjadi produk yang lebih kompetitif dan dengan manajemen yang efisien.

Ketiga, reengineering yaitu me-reengineer proses bisnis untuk dapat memberikan proses yang efisien, efektif dan dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

Keempat, reorganizing, melakukan perubahan organisasi dengan formal struktur sebagai bentukan dan penugasan baru, yang menjadi 'design factor' untuk merubah perilaku organisasi dalam rangka mencapai proses bisnis yang dikehendaki.

Kelima, rightsizing, upaya melakukan penyesuaian kualitas dan kuantitas SDM agar fit dengan konteks bisnis.

Keenam, resource alocation yaitu pengaturan kembali alokasi sumber daya yang dimiliki agar sesuai dengan kebutuhan konteks bisnis.

Ia berharap transformasi bisnis ini membawa dampak bagi perusahaan, antara lain: (1) menjadi lebih kompetitif (mempunyai produk unggul dalam persaingan dan mampu berkompetisi); (2) bisa berkembang (dapat mengembangkan bisnis dan mampu berkolaborasi dengan bisnis lain dalam era 'network economy' dimasa datang); (3) efisien (mampu memberikan kontrol manajemen yang secara strategis dapat memberikan keunggulan berkompetisi).

Sementara, filosofi dasarnya adalah kepemimpinan yang kuat (strong leadership), good corporate governance (GCG), komitmen serta penetapan strategi dan kebijakan yang tepat.

Transformasi bisnis ini dilaksanakan dengan sasaran dapat memberikan manfaat bagi semua stakeholders. Bagi perusahaan secara finansial akan terjadi peningkatan pendapatan dan laba, peningkatan total asset dan modal. Sedangkan non-finansialnya adalah meningkatkan pendapatan perusahaan, kinerja organisasi, citra perusahaan serta efektivitas dan efesiensi. Bagi karyawan, peningkatan kesejahteraan, pengingkatan kepuasan kerja dan peningkatan produktivitas/ pengetahuan serta kemampuan.

Bagi pemegang saham, penerimaan deviden yang lebih baik, penerapan kaidah GCG dan terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan (going concern). Sedangkan bagi pelanggan dan masyarakat, mendapatkan nilai uang terbaik, mendapatkan produk/ layanan yang bernilai tinggi, peningkatan kepuasan pelanggan dan penyediaan fasilitas pos sampai ke pelosok tanah air.

Program implementasi Transformasi Bisnis di tahun 2003 ini meliputi 8 (delapan) faktor yakni SBU Express, SBU Direct Mail, Bisnis Reguler, Asset Management, Pembangunan Jaringan IT, Reorganisasi, Rightsizing dan Financing/ Pendanaan. Namun keberhasilan Transformasi Bisnis ini tergantung pada penerapan model kepemimpinan yang kuat pada setiap lini organisasi serta penerapan sistem reward and punishment.

Dengan strategi transformasi bisnis ini, pada tahun 2003 ini, PT Pos mencoba mencharge laba sebesar Rp 20 miliar dan untuk tahun 2007 atau lima tahun ke depan kira-kira akan meningkat menjadi Rp 100 miliar. Sementara, jika transformasi bisnis ini tidak dilakukan, maksimal PT Pos hanya akan memperoleh laba sebesar Rp 5 miliar pada tahun 2003 ini..

Untuk itu, tahun 2003 ini PT Pos Indonesia membuat dua rancangan untuk kesejahteraan pegawai. Sebab dari laba yang Rp 5 miliar itu, kesejahteraan pegawai hanya naik Rp 40 ribu, tidak seimbang dengan tuntutan pegawai. Kesejahteraan itu sebetulnya dapat ditingkatkan menjadi Rp 200 ribu, namun harus kembali dengan konsep transformasi bisnis tadi. Laba yang Rp 5 miliar bisa ditingkatkan menjadi Rp 20 miliar.

Belajar dari pengalaman, dulu PT Pos memang hanya mengutamakan bangunan fisik semata dan adanya tanggapan bahwa posisi PT Pos hanya berkutat antara prangko dan surat saja. Namun pada saatnya terutama pada jaman dan era teknologi seperti sekarang, PT Pos Indonesia menyadari hal itu tidak akan membawa peningkatan dan kemajuan jika tetap dibiarkan. Untuk itu, kini PT Pos Indonesia memberdayakan jaringan fisik yang ada didukung bidang virtual disokong oleh infrastruktur, dengan segmen pasar sasaran perusahaan asuransi, perbankan, perusahaan logistik dan umum.

Itu sebabnya PT Pos bermaksud mempertegas posisinya melalui transformasi bisnis dengan memperkental peran bisnis sekaligus menjadi pelakunya tanpa melupakan tugas untuk memberikan pelayanan pada masyarakat luas.

Salah satu yang perlu dikomunikasikan dalam transformasi bisnis untuk pertamakalinya adalah PT Pos Indonesia akan meluncurkan obligasi pendanaan sebesar Rp 135 miliar. Alinafiah menilai, bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk menjual obligasi tersebut, karena ternyata banyak masyarakat (investor) yang berminat.

Menurutnya, dalam rangka sosialisasi, sangatlah penting bagi masyarakat mengetahui rencana ke depan PT Pos Indonesia secara terbuka. Tak lain untuk mempersembahkan dan memberi harapan bagi para investor sebagai relevansi pengkomunikasian transformasi bisnis kepada publik agar memahami posisi PT Pos Indonesia. Sedang di mana dan mau ke mana perusahaan ini berjalan, termasuk dalam hal pembangunan sebagai kompensasi dari investasi yang dilakukan.

Selain pembangunan, strategi lain yang diterapkan adalah optimalisasi semua sumber daya yang ada. Seperti yang dilakukan di Bali, dua tahun lalu telah ditandatangani kerjasama dengan pengusaha setempat untuk membangun Kantor Pos Bali, 70 ruko dalam 3 lantai dan pembangunan rumah untuk para pejabat pos di tanah seluas 9000 m2 tanpa satu sen pun mengeluarkan biaya hanya menggunakan aset yang ada dan jalinan kemitraan yang baik.

Lima tahun ke depan, potret PT Pos Indonesia inilah yang akan dipersembahkan bagi generasi penerus karena mampu merubah pandangan dan menggugah karyawannya untuk maju dan saling bahu-membahu mewujudkan harapan semua pihak.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi secara terus menerus dalam rangka perbaikan mutu layanan. Di samping itu, ia berjanji dalam rangka program transformasi bisnis ini, manajemen tidak akan melakukan PHK, akan tetapi dengan penawaran pensiun dini dan relokasi SDM ke tempat yang lebih produktif sesuai kebutuhan perusahaan.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Artikel lain:
WAWANCARA: Profesionalisme yang Tidak Pernah Marah

Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero