| |
C © updated 03032008 -27012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/maspiom |
|
| |
Nama:
Alim Markus
Lahir:
Surabaya, 24 September 1951
Jabatan:
Presidenn Direktur Grup Maspion
Istri:
Sriyanti
Anak:
Dua laki-laki dan lima perempuan
Orangtua:
Ayah Alim Husin, Ibu Angkasa Rachmawati
Saudara kandung:
Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa
Pendidikan:
Tidak tamat SMP
Maspion singkatan dari:
Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional.
Prinsipal Asing:
1. Samsung, dari Korea
2. Marubeni, dari Jepang
3. Dupont, dari Jepang
4. Ishizuka, dari Jepang
Anak Perusahaan:
1. PT Maspion
2. PT Royal Chemical
3. PT Maspion Flatware
4. PT Indofibre Mattres Indonesia
5. PT Samsung Maspion Indonesia
6. PT Altap Prima Industrial Estate
7. PT Alumindo Industrial Estate
8. PT Trisula Pack Indah
9. PT Indofibre Mattress
10. PT TFC Maspion Indonesia
11. PT Alaska Maspion Indonesia.
12. PT Maspion Kencana
13. PT Indal Steel Pipe
14. PT Alumindo Light Metal Indutsry
15. PT Aneka Kabel Cipta Guna
16. PT Indal Aluminium Industry
17. PT Indalex
18. PT Bintang Osowilangun
19. PT Maspion Industrial Estate
20. Bank Maspion
21. Maspion Securities
22. Maspion Money Changer
23. Maspion Mall
24. Wisma Maspion
25. Wisma Moneter
26. Pondok Maspion
27. CIMAC
28. Plaza Maspion
Karyawan Grup Maspion:
30.000 orang
|
|
| |
|
|
|
|
| ALIM MARKUS HOME |
|
|
 |
Alim Markus
Maspion Berawal dari Lampu Teplok
Maspion, Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional. Alim
Markus, Presiden Direktur Grup Maspion, ini bangga dengan berbagai
produknya yang disebutnya merupakan produk bangsa sendiri (nasional).
Maspion yang berawal dari industri rumah tangga lampu teplok yang
sederhana, itu dirintis Sang Ayah, Alim Husin, pada tahun 1961, telah
menjadi perusahaan konglomerasi dengan puluhan anak perusahaan dan
berbagai jenis produk serta menampung 30.000-an karyawan.
Sebagian besar ibu rumahtangga pasti pernah bersentuhan dengan produk
Maspion. Apakah itu panci teflon, termos plastik, kulkas, kompor gas,
pompa air, kipas angin, kulkas, AC, tempat tidur, aluminium foil, lampu
neon, pompa air dan segala macam. Beragam produk mulai yang sederhana
hingga yang rumit pengoperasiannya, beredar luas di seluruh Indonesia
hingga ekspor ke mancanegara, membuat nama Maspion begitu familiar dan
mudah dikenal.
Namun pasti sedikit ibu rumahtangga yang paham bahwa bisnis Maspion
berawal dari kisah lampu teplok yang sederhana. Sesedikit itu pula yang
mengetahui bahwa sebelum Alim Markus, Presiden Direktur Grup Maspion,
adalah ayahnya sendiri Alim Husin yang memulai usaha lampu teplok ini
berbahan baku aluminium dan logam di Jawa Timur pada tahun 1961 lalu.
Kini, pengakuan pasar terhadap nama Maspion pembuktiannya bukan cuma
sebatas produk-produknya digunakan secara luas di Indonesia dan
mancanegara. Melainkan, ini yang terutama, Maspion telah dipercaya
berbagai prinsipal asing untuk mendirikan usaha patungan secara equal.
Seperti dengan Grup Samsung dari Korea, Grup Marubeni dari Jepang, maupun
dengan Dupont dan Ishizuka dari Jepang. Grup Maspion biasanya mengambil
porsi kepemilikan saham hingga 50 persen di semua anak perusahaannya.
Nama-nama anak perusahaan itu, misalnya PT Samsung Maspion Indonesia, PT
Altap Prima Industrial Estate, PT Alumindo Industrial Estate, PT Trisula
Pack Indah, PT Indofibre Mattress, PT TFC Maspion Indonesia, dan PT Alaska
Maspion Indonesia. Maspion kini bukan lagi jago kandang dari desa Gubeng,
Surabaya, Jawa Timur melainkan sudah mulai diperhitungkan sebagai pemain
bisnis tingkat global yang menghidupi 30.000 lebih karyawan.
Alim Husin, pendiri Maspion, memulai produksi lampu teplok tahun 1961
dengan mendirikan usaha kecil UD Logam Jawa. Dibantu oleh istrinya Angkasa
Rachmawati dan delapan orang karyawan, Alim Husin ketika itu sanggup
memproduksi 300 lusin lampu teplok perhari. Di sini, walau masih kecil
Alim Markus kelahiran Surabaya 24 September 1951 sudah mulai aktif
melibatkan diri membantu ayahnya. Dan ketika duduk di bangku SMP di tahun
1966 dia memilih berhenti sekolah untuk terjun langsung memproduksi lampu
teplok.
Sukses dengan lampu teplok, usaha kemudian dikembangkan memproduksi lampu
badai untuk para nelayan. Di kemudian hari dimulai pula produksi perabot
rumah tangga lain dengan bahan plastik seperti ember, baskom, loyang, dan
sebagainya. Pada tahun 1972 usaha keluarga Alim Husin semakin maju dan
berkembang sehingga dirancanglah nama dan logo baru, ketemu Maspion yang
menurut Alim Markus merupakan singkatan dari Mengajak Anda Selalu Percaya
Industri Olahan Nasional.
Nama dan logo baru ditetapkan pula sebagai nama badan usaha baru yang
dibentuk, PT Maspion. Dan sebagai putra tertua adalah Alim Markus muda
yang ditunjuk langsung sebagai presiden direktur, sedangkan Alim Husin
sebagai Chairman. Saudara kandung lainnya Alim Mulia Sastra, Alim Satria,
dan Alim Prakasa masing-masing didudukan sebagai direktur pengelola. Dalam
perjalanan selanjutnya, pada diri Alim Markus terbukti pengalaman yang
pernah dilakukannya dahulu semasih muda sebagai pekerja keras yang
mendapat perintah langsung dari ayah, semisal membersihkan lantai, staf
administrasi, staf keuangan, bahkan penjualan dan lain-lain, menjadi
sangat berguna ketika harus melakukan pengambilan keputusan sebagai
pemimpin tertinggi perusahaan.
Alim Markus yang menikahi Sriyanti dan kini dikaruniai tujuh orang anak
dua laki-laki dan lima perempuan menyebutkan, ada lima bidang bisnis yang
kini aktif digeluti Maspion. Pertama produk konsumen yang sangat akrab
dengan ibu rumahtangga, antara lain memproduksi panci teflon, termos
plastik, kulkas, kompor gas, pompa air, kipas angin, dan lain-lain. Badan
usaha yang terlibat di sini PT Maspion, PT Trisula Pack Indah, PT Royal
Chemical, PT Maspion Flatware, dan PT Indofibre Mattres Indonesia. Kedua
konstruksi material dan industri yang melibatkan tujuh anak perusahaan, PT
Maspion, PT Maspion Kencana, PT Indal Steel Pipe, PT Alumindo Light Metal
Industry, PT Aneka Kabel Cipta Guna, PT Indal Aluminium Industry, dan PT
Indalex.
Ketiga properti, membangun maupun mengelola aset properti seperti Maspion
Mall, Wisma Maspion, Wisma Moneter, Pondok Maspion, CIMAC, PT Bintang
Osowilangun, PT Maspion Industrial Estate, PT Alumindo Industrial Estate,
dan PT Altap Prima Industrial Estate. Satu aset tersebut yang kini sangat
dibanggakan Alim Markus adalah Kawasan Industri Maspion seluas 300 hektar,
100 hektar diantaranya untuk digunakan sendiri oleh Grup Maspion. Letaknya
hanya 10 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Alim Markus
masih menyimpan gagasannya tentang kawasan semacam ini.
Di kawasan ini, Alim Markus bermimpi bisa didirikan sebuah lokasi export
processing zone. Di dalamnya secara terpadu terdapat institusi perizinan,
perbankan, perpajakan, sistem tenaga kerja yang sesuai kebutuhan pasar,
dan semua pengambilan keputusan ada di situ tanpa birokrasi panjang dan
berbelit. Hal positif yang bisa dirasakan adalah meningkatnya daya saing
produk ekspor di pasar global serta mengurangi jumlah pengangguran. “Kalau
RRC bisa memberikan tawaran-tawaran yang menarik bagi investor asing,
kenapa kita tidak? Kita tidak boleh kalah bersaing,” demikian alasan Alim
Markus, usai melihat gencarnya RRC menawarkan investasi dengan memberikan
kemudahan, memotong jalur birokrasi, bahkan berani menghukum birokrat yang
korupsi hingga hukuman mati.
Bidang bisnis keempat, pendirian gedung perkantoran dan bisnis Plaza
Maspion setinggi 18 lantai di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Dan
kelima bisnis jasa keuangan dengan bendera usaha Bank Maspion, Maspion
Securities, dan Maspion Money Changer.
Yang menonjol pada diri Alim Markus adalah kecintaanya yang luar biasa
kepada produk lokal. Dan ia tetap konsisten di situ walau badai krisis
yang menerjang menggodanya untuk mengalihkan usaha ke tempat lain, RRC
misalnya. Upah minimum regional (UMR) di Jawa Timur yang naik 38 persen
pun masih belum membuatnya bergeming. “Saya akan terus mengendalikan
bisnis ini di sini,” tegas Markus.
Sebagai perusahaan yang telah berhasil mengakumulasi kemampuan modal,
manajemen, sumberdaya manusia, dan jaringan pemasaran adalah tidak sulit
bagi Alim Markus mengimpor produk-produk luar lalu melabelinya dengan nama
Maspion. Tapi, menurut Alim Markus yang pernah diajak Megawati dalam
rombongan kunjungan bisnis kepresidenan ke RRC, hal itu tidak akan memberi
nilai tambah dan tidak ada rasa bangga di situ. “Saya harus menekan gaya
hidup yang import minded, kita harus bangga dengan produk kita sendiri.”
Dengan arif dia lalu mencoba membandingkan peta bisnis di RRC dan
Indonesia yang membuatnya prihatin. Disebutkannya, misalnya, dari segi
material cost, component cost, dan labour cost Indonesia kalah dengan RRC
sehingga menggodanya pindahkan industrinya ke RRC. Namun itu tadi, Alim
Markus masih lebih mengutamakan kepentingan nasional dan kecintaan produk
lokal daripada perhitungan cost yang lebih murah. “Saya tetap concern
dengan karyawan. Kalau pemerintah RRC meminta saya menanamkan investasi 10
juta dolar AS di sana, saya pun mengusulkan agar pengusaha mereka menanam
juga 10 juta dolar AS di sini,” tegas Alim Markus.
Kebesaran Maspion harus dipertahankan. Caranya adalah memelihara etos
kerja di lingkungan perusahaan. Alim Markus menyebutkan ada lima hal yang
menjadi etika kerja dan selalu dijunjung tinggi seluruh karyawan Maspion.
Pertama, kerja keras dan kesetiaan karyawan kepada perusahaan yang
ditunjang dengan kemampuan sehingga bisa menghasilkan banyak hal yang
positif bagi perusahaan. Kedua, memimpin pasar dengan memberikan
keuntungan yang kompetitif kepada semua konsumen, sesuatu yang memang
sangat dibutuhkan oleh konsumen. Ketiga, kesatuan dan rasa kebersamaan
agar perusahaan semakin kuat dan kokoh. Keempat, pertumbuhan yang
berkesinambungan, serta kelima memperhatikan kepuasan konsumen. ►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|