| |
C © updated 20082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Prof KH Ali Yafie
Lahir:
Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926
Agama:
Islam
Isteri:
Hj Aisyah
Anak:
Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru
Ayah:
Mohammad Yafie
Jabatan:
1. Ketua Dewan Penasehat ICMI
2. Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA)
3. Ketua Umum Majelis Ulama (MUI)
4. Ketua Dewan Penasehat MUI
5. Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
6. Anggota Dewan Riset Nasional (BDN)
7. Guru Besar UIA-IIQ-IAIN
Riwayat Pekerjaan:
1. Hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar
2. Kepala Inspektorat Peradilan Agama
3. Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang
4. Anggota DPR/MPR (tahun 1971--1987)
5. Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional
6. Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia
7. Ketua Dewan Syariah Nasional MUI
Tanda Jasa/Penghargaan:
1. Bintang Maha Putra
2. Bintang Satya Lencana Pembangunan
Sumber:
Dari berbagai sumber, di antaranya MUI
|
|
| |
|
|
|
|
Prof KH Ali Yafie
Ulama Ahli Fiqh
Prof KH Ali Yafie, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI),
seorang ulama ahli Fiqh (hukum Islam). Dia ulama yang berpenampilan lembut, ramah
dan bijak. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare,
Sulsel, ini juga terbilang tegas dan konsisten dalam memegang
hukum-hukum Islam.
Selain aktif di MUI, ulama kelahiran
Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926, ini juga menjabat
sebagai Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.
Dia sudah menekuni dunia pendidikan sejak usia 23
tahun hingga hari tuanya. Diatas usia 70 tahun pun ulama yang hobi sepak
bola, itu masih aktif
sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di Universitas
Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ali berasal dari keluarga yang taat
menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren.
Ayahnya Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan
memasukkannya ke pesantren.
Sang ayah mendorongnya menuntut
berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama
sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad
Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.
Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak
kecil hingga kemudian dieruskan dalam mendidik
putra-putranya dan santri-santrinya
di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.
Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauiddin, Makassar
(1966-1972), ini mendirikan pesantren itu tahun
1947. Sudah banyak mantan santrinya yang kini telah menjadi orang. Di
antaranya Mantan Menteri Agama Quraisy
Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.
Dia seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang produktif menulis buku. Dia
telah menulis beberapa judul buku. Dia ulama yang berpola
pikir modern dan tidak tradisional, seperti sebagian pemimpin pondok
pesantren.
Kiai Ali (panggilan akrabnya), selalu
mengedepankan Ukuwah Islamiyah di kalangan umat Islam Indonesia, dan
tidak membeda-bedakan dari golongan Islam mana.
Kearifan ini membuatnya diterima oleh semua pihak, baik dari
kalangan Muhammaddiyah maupun kalangan Nahdatul Ulama, dan lain-lain
Salah satu tokoh pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
ini sudah menikah sejak usia 19 tahun. Saat itu, isterinya Hj Aisyah,
masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera
mahligai rumah tangga dengan bahagia. Keluarga ini dikaruniai empat anak,
yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.
Selain pernah aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI, Ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi As-Syafiyah (YAPTA), Ketua Umum Majelis Ulama (MUI), Ketua Dewan Penasehat MUI, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (BDN)
dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama Makasar
dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.
Mantan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ujung Pandang, ini juga menjadi Anggota DPR/MPR (1971--1987), Anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Anggota Komite Ahli Perbankan Syariah Bank Indonesia
dan Ketua Dewan Syariah Nasional MUI.
Atas berbagai pengabdiannya, Kiai Ali, telah menerima
Tanda Jasa/Penghargaan Bintang Maha Putra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan
dari pemerintah RI. ► e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|