| |
C © updated
20052008 - 30062002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama:
H. Ali Sadikin
Pangkat:
Letnan Jenderal TNI KKO-AL (Purn.)
Lahir:
Sumedang, 7 Juli 1927
Meninggal:
Singapura, 20 Mei 2008
Agama:
Islam
Istri:
drg. Nani Arnasih (Almarhumah )
Linda Syamsuddin Mangan
Anak :
1. Boy Bernadi Sadikin
2. Edi Trisnadi Sadikin
3. Irawan Hernadi Sadikin
4. Benyamin Irwansyah Sadikin
5. Yasser Umarsyah Sadikin
Orang Tua :
R. Sadikin
Jabatan :
• Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963)
• Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964)
• Menko Kompartimen Maritim/Menteri Perhub. Laut Kabinet Dwikota dan
Kabinet Dwikora Yang disempurnakan (1964- 1966)
• Gubernur KDH DKI Jakarta (1966-1977)
Organisasi:
• Ketua Umum PSSI (1977-1980)
• Anggota Kelompok Kerja Petisi 50 (1980-sekarang)
Pendidikan :
• Sekolah Pelayaran Tinggi, Semarang (1945).
• US. Marine Corps School, A.S.
Jasa:
Berjasa luar biasa terhadap negara dan bangsa Indonesia, khususnya
pengembangkan Kota Jakarta sebagai Kota Metropolitan, penggagas
pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Pendiri Taman Ismail Marzuki, dan
membangun Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang
Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail serta berbagai
bangunan bersejarah antara lain Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum
Keramik, Museum Wayang serta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah,
contoh Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.
Tanda Kehormatan:
1. Bintang Mahaputera Adipradana (12 Agustus 2003)
2. Bintang Mahaputera Utama (1974);
3. Bintang Dharma (1963);
4. Bintang Gerilya (Tanpa Keppres);
5. Bintang Kartika Eka Pak~i Pratama (1970);
6. Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama (1970);
7. Bintang Jalasena Pratama (1969);
8. Bintang Bhayangkara Pratama (1969);
9. Bintang Sewindu APRI;
10. Satyalancana Kesetiaan VIII, XVI, dan XXIV;
11. Satyalancana Perang Kemerdekaan I;
12. Satyalancana Perang Kemerdekaan II;
13. Satyalancana GOM I
14. Satyalancana GOM II
15. Satyalancana GOM III
16. Satyalancana GOM V
17. Satyalancana GOM VI
18. Satyalancana Sapta Marga
19. Satyalancana Wira Dharma
20. Satyalancana Penegak
21. Satyalancana Yudha Tama
22. Satyalancana Dwidja Sistha
23. Satyalancana Kebudayaan (1971).
Tanda Kehormatan Negara Asing :
1. Bintang Kerajaan Ethiopia
2. Bintang Kerajaan Belanda
3. Magsaysay dari Philipina.
4. Tanda Kehormatan dalam rangka pendidikan dari Amerika
5. Tanda Kehormatan dalam rangka pendidikan/ peninjauan dari Belanda
6. Beberapa Tanda Kehormatan dari beberapa Negara Eropa Barat, Timur, dan
Asia dalam kedudukan sebagai pejabat tinggi dan Menteri Perhubungan Laut/Menko
Kompartimen.
Tanda Penghargaan :
• Piagam Anugerah Pendidikan, Pengabdian, Ilmu Pengetahuan dan Olah
Raga.
• Orang pertama penerima "Anugerah Cipta Utama" dari Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ), Sabtu (24/8/02).
Alamat :
JI. Borobudur No. 2 Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Ali Sadikin (1927-2008)
Dimakamkan di TPU Tanah Kusir
Obituari: Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang akrab dipanggil
dengan Bang Ali, meninggal dunia dalam usia 82 tahun, Selasa 20 Mei 2008
pukul 17.30 WIB di RS Gleneagles, Singapura. Letnan Jenderal TNI KKO-AL (Purn),
itu meninggal setelah dirawat selama sebulan di RS tersebut.
Jenazahnya dibawa pulang ke Jakarta, Rabu i21/5 pukul 07.00
waktu Singapura. Putra Ali Sadikin, Boy Benardi Sadikin, kepada wartawan
di rumah duka, Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa 21/5
malam, mengatakan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka dan
dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta, Rabu 21/5.
Menurut Boy, hal ini sesuai pesan Bang Ali agar jenazahnya ditumpangkan
di makam isterinya, Nani Sadikin.
Pemakaman dengan cara ditumpangkan ini sesuai dengan gagasannya dulu
ketika memimpin Jakarta. Ia konsekuen dengan usulannya mengingat lahan
Jakarta semakin sempiti.
Bang Ali meninggalkan lima putra dan 12 cucu. Istri pertamanya, Ny Nani,
sudah meninggal dunia. Istri kedua Bang Ali adalah Ny Linda Syamsuddin
Mangan. ►ti Ali Sadikin
Paling Berjasa Membangun Jakarta
Letnan Jenderal TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin (Bang Ali) menerima
tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana karena dinilai berjasa luar
biasa terhadap negara dan bangsa, khususnya mengembangkan Kota Jakarta
sebagai Kota Metropolitan. Presiden Soekarno mengangkat putera bangsa
kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini sebagai Gubernur Jakarta lantaran
dianggap kopig alias keras kepala. Dia berhasil sebagai pemimpin
justru karena pembawaannya yang keras itu.
Ia juga termasuk salah seorang penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia
Indah, Pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya
Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar
Ismail serta berbagai bangunan bersejarah seperti Museum Fatahillah,
Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Wayang serta mengembalikan fungsi
gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah
Pemuda.
Penyematan Bintang Penghargaan dilaksanakan pada Kamis pagi, 14 Agustus
2003 di Istana Negara. Peristiwa itu mengingatkannya pada peristiwa 37
tahun lalu. Tahun 1966, ia berdiri di depan Presiden Soekarno dalam
upacara pelantikan Gubernur Jakarta. Kamis kemarin, ia berdiri di depan
putri Bung Karno yang bernama Megawati Soekarnoputri dalam suatu upacara
yang khidmat selama 20 menit untuk menerima Bintang Mahaputra Adipradana.
Istana Negara adalah tempat yang tidak pernah diinjaknya setelah ia
dijuluki oleh para pemimpin Orde Baru sebagai pembangkang.
Ia datang ke Istana Negara bersama istrinya, Linda Mangaan, dan putra
bungsunya, Yasser Umarsyah (14).
Setelah upacara, ia menerima ucapan selamat berupa tempel pipi dari
Megawati. Tempel pipi juga diberikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta
Surjadi Soedirdja, mantan Menteri Negara Peranan Wanita Sulasikin
Murpratomo, artis film Christine Hakim, dan kelima putranya yang hadir.
Selama upacara berlangsung, Ali Sadikin disediakan kursi untuk duduk,
tetapi ia tetap berdiri. Seusai upacara, Megawati mempertanyakan
kesehatannya. Ali Sadikin mengatakan, kakinya tidak bisa tahan berdiri
lama. Puluhan wartawan kemudian mengelilinginya. Sekali-sekali istrinya
memberikan air putih. Suara Ali Sadikin di depan para wartawan masih
lantang.
"Bapak sekarang sudah 77 tahun sehingga sering lupa pada banyak hal. Tapi
kalau bicara soal negara, Jakarta, dan perjuangan untuk rakyat, masih
sangat cemerlang," ujar putra sulung Ali Sadikin, Boy Bernadi Sadikin,
tentang ayahnya.
Bang Ali, demikian ia akrab disapa, tidak menyangka mendapat tanda
kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana. Ia mendapat informasi bahwa ia
dinilai patut menjadi tokoh simbol bagai pembinaan budaya dan pariwisata.
"Saya heran karena saya bukan budayawan. Tapi, katanya, saya berhasil
membangun Jakarta sebagai kota budaya dan kota pariwisata," ujar pria
kelahiran Sumedang tanggal 7 Juli 1927 itu.
Gayanya memimpin Bang Ali dinilai cocok dengan kondisi Ibu Kota yang
semrawut dan memerlukan kedisiplinan. Ternyata pilihan Soekarno tidak
salah. Jenderal Angkatan Laut ini mampu menyulap Jakarta dari sekadar
sebagai pusat pemerintahan menjadi pusat perdagangan sekaligus industri.
Sikap keras orang Sumedang, Jawa Barat, ini bukan cuma ditujukan kepada
aparatnya yang tidak berdisiplin. Ketika memimpin Jakarta selama 10 tahun,
ia juga dikenal kuat dalam mempertahankan prinsip. "Sebagai gubernur, saya
harus melindungi dan menyejahterakan rakyat. Itu prinsip saya," katanya.
Caranya? Inilah yang mengundang kontroversi. Ia membuat gebrakan dengan
melegalisasi perjudian. Untuk mengisi pundi anggaran daerah, Ali juga
nekat mengizinkan bar dan panti pijat. Yang penting baginya, ada dana
untuk membuat mulus jalan-jalan di seluruh Jakarta. Kritik keras yang
datang dari para ulama tidak didengarnya.
Soal ijin perjudian tidak terlepas dari minimnya anggaran Pemda dalam
upaya membangun Jakarta. Pada saat pertama kali menjabat, Bang Ali membuat
rencana program pembangunan Jakarta. Saat itu dibutuhkan uang banyak untuk
melakukan pembangun demi kesejahteraan masyarakat. Sedangkan anggaran
Jakarta yang tersedia hanya Rp 66 juta, sementara jumlah penduduk sekitar
3,4 juta jiwa. Padahal pemerintah kolonial Belanda dulu hanya menyiapkan
kota ini untuk menampung 600 sampai 800 ribu orang. Lalu, ia mengumpulkan
seluruh unsur pimpinan daerah dan menjelaskan bahwa Jakarta butuh duit
sangat besar.
Bang Ali bertanya ke mereka, "Saudara-saudara ini dapat berapa, sih,
penghasilan dari judi? Akan saya ganti, malah bisa lebih tinggi." Mereka
tidak bisa melawan. Sebab, uang dapat, tanggung jawab juga lepas. Nah,
waktu itu ada empat tempat judi yang dijaga tentara. Lalu staf saya
langsung mengatur, semua duit dari judi langsung masuk ke rekening bank.
Dari judi ini setahun dapat sekitar Rp 40 miliar.
Selain judi, Ali Sadikin juga membuka tempat hirusan dan melegalisasi
pelacuran. Namun ia mengatakan upaya itu sebagai bagian dari melayani
masyarakat. Karena itu, ia berani membuka judi, steam bath, dan klub-klub,
terutama untuk orang asing. Kalau habis bekerja, mereka biasanya tak mau
pulang dulu, tapi pergi ke klub untuk minum kopi, setelah itu baru pulang.
Pembukaan klub-klub itu dilakukan untuk melayani masyarakat kelompok ini.
Sedangkan pelacuran, karena dulu setiap menjelang malam di Jakarta
bertebaran "becak komplet". Maksudnya, di dalam ada pelacurnya. Si tukang
becak itulah yang menjadi makelarnya. Daripada berkeliaran dan meresahkan
warga Jakarta, maka dibuatlah lokalisasi di Kramat Tunggak. Dulu, tanah
yang digunakan untuk tempat pelacuran itu sudah dibeli. Anehnya, kok
sekarang masyarakat yang datang belakangan menuntut ganti rugi. Itu
berarti arsip bukti aset-aset Pemda itu lenyap entah ke mana sekarang.
Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata
respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang
Yos. Menurut Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang
kenyataannya sudah rusak akibat politik dan segala macam. Sehingga
masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu lain dengan sekarang.
Sekarang juga ada LSM dan segala macam.
Wataknya yang keras masih tergambar pada kerutan-kerutan wajah Ali Sadikin,
yang kini berusia 75 tahun. Kondisi fisiknya mulai lemah. Ia tidak bisa
lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai
menurun. Bahkan sekarang ia perlu memakai alat bantu dengar di telinga.
Kata dokternya, berkurangnya fungsi pendengarannya berkaitan dengan
penyakit ginjalnya.
Ali Sadikin memang baru saja dirawat di rumah sakit militer di Ghuang
Zhou, Cina, selama tujuh bulan karena penyakit yang dideritanya. Ia bisa
pulang setelah mendapat cangkokan ginjal, tapi berat tubuhnya berkurang 25
kilogram.
Yang tidak pernah surut adalah semangatnya. Apalagi bila berbicara tentang
Jakarta. Dia tak lelah menjelaskan dengan runtut dan detail berbagai
program yang dijalankannya selama dua periode menjabat Gubernur Jakarta.
Saat menerima tugas sebagai gubemur pada 1966, inflasi mencapai 600 persen.
Sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan tempat ibadah jumlahnya tidak
mencukupi untuk melayani masyarakat Jakarta. Sedangkan anggaran yang ada
hanya Rp 66 juta.
Pada akhir masa jabatannya tahun 1977, dia meninggalkan uang di kas daerah
sebesar Rp 89,5 miliar. Juga, jalan-jalan yang mulus, penambahan ratusan
sarana pendidikan dan kesehatan, terminal bus, dan pasar. Ali Sadikin juga
mewariskan sejumlah bangunan penting seperti Taman Ismail Marzuki bagi
para seniman, dan sebuah gelanggang mahasiswa di daerah Kuningan.
Ketika disinggung ia memiliki andil dalam pembangunan Taman Mini Indonesia
Indah, Ali Sadikin meluruskan bahwa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
berdiri karena gagasannya bersama dengan Ny Tien Soeharto (almarhumah). "Kalau
tidak ada beliau, TMII tidak lengkap. Beliau bisa memerintahkan tiap
provinsi membangun paviliun di tempat itu. Itu jasa Ibu Tien," katanya.
Sementara kawasan Ancol berasal dari gagasan Bung Karno, orang yang sangat
dihormati dan disayangi. Taman Ismail Marzuki berdiri untuk mengenang
Ismail Marzuki yang merupakan seniman dan pahlawan. Kebun Binatang adalah
salah satu tempat konsentrasi pariwisata.
Sayang, ketika Kota Jakarta genap berusia 475 tahun, tepatnya pada 22 Juni
lalu, sebagian besar gedung itu telantar atau berubah fungsi. Sebagian
areal gelanggang mahasiswa tersebut disulap menjadi pertokoan. Harapan
untuk menjadikan Pusat Perfiliman Usmar Ismail sebagai Hollywood-nya
Indonesia pun tak terwujud.
Perubahan Jakarta saat ini membuatnya merasa dikhianati. Berbagai
fasilitas untuk rakyat yang sudah dibangunnya ternyata tidak dipelihara,
ada yang rusah, bahkan sebagian ditukar-guling (ruilslag). Menurut
pandangannya, para penggantinya sebagai Gubernur Jakarta tidak ada yang
menambah fasilitas untuk rakyat.
Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro di Jalan H.R.Rasuna Said yang
dimaksudkan para mahasiswa mempunyai tempat untuk kumpul-kumpul, sekarang
malah diganti menjadi pertokoan. Lalu gelanggang remaja di Bulungan malah
disewakan untuk swasta. Gedung Perfilman Usmar Ismail di Kuningan yang
diproyeksikan menjadi pusat film semacam Hollywood di Amerika Serikat,
sekarang tanahnya di-ruilslag. Dulu di tiap kecamatan juga ada balai
rakyat yang bisa dipakai untuk hajatan, olahraga, dan segala macam, tetapi
sekarang entah ke mana.
Meskipun kecewa terhadap kinerja Gubernur Jakarta sesudahnya, Bang Ali
tidak mau melakukan penilaian itu sebagai kesalahan pribadi. Sebab,
kepemimpinan seorang gubernur itu ditunjang oleh perangkat dan aparat
pemerintahan.
Nasib Sutiyoso saat ini dianggapnya hampir sama dengan waktu pertama ia
menjadi gubernur tahun 1966. Tetapi keadaan sekarang bukan cuma ekonomi
yang bangkrut. Semuanya hancur, termasuk juga moralnya. Dulu menurutnya,
koruptornya masih bisa dihitung dengan jari. Sekarang, sudh membengkak
berkali lipat.
Melihat kondisi saat ini, Bang Ali teringat ramalan Ronggowarsito.
Sekarang ini sudah zaman edan. Kita tidak punya tokoh untuk dicontoh,
karena semuanya edan. Di samping itu, aparat juga kurang tegas. Hal ini
kemungkinan karena gaji pegawai negeri itu paling cukup untuk 10 hari.
Padahal, pada zaman ia memimpin dulu, gaji anggota DPRD ditentukan
setidaknya 80 persen dari gaji DPR pusat.
Menangani Ibu Kota menurutnya perlu penanganan serius dan berkelanjutan.
Namun hal ini tidak berarti seorang gubernur harus menjabat hingga dua
kali masa jabatan. Yang penting, menurutnya, harus ada program jangka
panjang, misalnya untuk 20 tahun. Selain itu, pengganti gubernur yang
menjabat itu nantinya tidak sok-sokan dengan terus menggagas idenya
sendiri, seolah-olah ide gubernur lama itu salah dan hanya ia sendiri yang
punya ide yang benar. Mereka harus meneruskan program itu. Membina kota
itu bukan membina keluarga yang bisa beberapa tahun saja.
Di tingkat nasional pun sebetulnya juga harus ada program jangka panjang.
Sehingga siapa pun yang jadi presiden mempunyai pegangan. Masalah yang ada
sekarang ini adalah tidak adanya program jangka panjang berskala nasional.
Program pembangunan jangka panjang praktis hancur setelah Indonesia
dilanda krisis ekonomi sejak tahun 1997. Perumusan program jangka panjang
masih terus diupayakan dan masih menjadi wacana yang belum sampai pada
solusi.
Dulu Bang Ali menjabat Gubernur DKI Jakarta sampai dua periode
(1966-1977). Satu tahun pertama digunakan untuk menentukan dasar-dasar
pembangunan. Baru pada tahun kedua bisa menjalankan visi, misi, dan
program yang telah dibuat. Kebetulan pada sat itu dirinya tidak terbawa
intensitas politik nasional, jadi bisa konsentrasi pada program.
Tokoh-tokoh politik nasional sendiri saat itu perhatiannya sibuk
menjatuhkan Soekarno dari kursi presiden.
Selama masa Orde Baru, Gubernur DKI kebanyakan berasal dari militer atau
militer yang sudah pensiun. Hal ini dijelaskannya karena kekuasaan Orde
Baru itu adalah kekuasaan tentara dan Golkar. Maka bukan hanya DKI saja
melainkan banyak bupati dan gubemur di berbagai propinsi di Indonesia
berasal dari tentara dan Golkar. Angkatan Darat pun menjadi alat kekuasaan.
Tapi menurutnya itu bukanlah kesalahan institusi Angkatan Darat. Ini
adalah masalah politik. Kesalahan ada pada mantan Presiden Soeharto.
Ia juga bertanya, siapa yang melakukan perebutan kekuasaan dari Orde Lama
ke Orde Baru? Tapi, sekarang apa ada masyarakat yang menuntut Soeharto
untuk diadili? Yang dituntut hanya korupsi yayasan. Padahal yang dituntut
korupsi itu hanya sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah itu termasuk kecil jika
dibandingkan dengan utang nasional yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Belum lagi utang swasta yang banyak sekali.
Sebagai ibukota yang dikelilingi kota-kota di sekitarnya, Pemerintah DKI
perlu melakukan kerja sama dalam mengatasi masalah yang saling berkaitan
dengan tetangganya. Masalah yang sering muncul di DKI adalah banjir
kiriman dari Bogor. Jika DKI terjadi banjir, maka gubernur tidak bisa
disalahkan begitu saja. Apalagi, banjir tersebut bukan karena tingginya
curah hujan di Jakarta melainkan kiriman dari wilayah yang lebih tinggi
dan menyalurkan air sungai ke Jakarta.
Pada zaman Belanda terdapat sekitar 200 waduk untuk menampung air yang
letaknya di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sekarang sebagian besar sudah
diuruk untuk pembangunan realestat oleh bupati-bupati di wilayah itu.
Tidak lagi ada koordinasi antar pimpinan daerah.
Hal tersebut juga berlaku bagi penanganan masalah sampah. Tangerang dan
Bekasi tidak mau menampung sampah dari Jakarta. Padahal hidupnya Bekasi
karena pengaruh dan perkembangan Jakarta. Adanya pabrik segala macam itu
karena Jakarta telah penuh dengan pembangunan, maka terus merembet ke sana.
Anggaran pendapatan di Bogor, Bekasi dan Tangerang sangat besar, melampaui
kota-kota lain. Itu pun karena terimbas perekonomian di Jakarta. Kalau
malam hari orang Jakarta tinggal di sana dan membayar pajak tanah dan
rumah untuk ketiga daerah itu.
Solusinya, antara Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) itu
harusnya dibuat sebuah lembaga tersendiri, dipimpin oleh seorang yang
mungkin setingkat menteri. Tugasnya menyelamatkan lingkungan kehidupan.
Dulu waktu Bang Ali memimpin Jakarta sudah dicoba dilembagakan, tapi baru
tahap semacam kantor perwakilan di Jakarta.
Sebagai mantan perwira tinggi marinir, Ali Sadikin mengaku cukup prihatin
dengan kemampuan dan kondisi Tentara Nasional Indonesia saat ini. Asrama
tempat tinggal prajurit amat parah. Sementara sumbangan dari Presiden
Megawati untuk asrama dipersoalkan. Ia menanyakan, apa sih sebenarnya
maunya DPR itu. Bukan cuma kesejahteraan tentara yang turun, peralatan TNI
pun sekarang kurang sekali. Kemampuan TNI sekarang sudah tertinggal dari
Singapura dan Malaysia. “Apakah kita tidak malu?” tanyanya.
Penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana diperolehnya bukan karena ia
sering bertemu Megawati. Justru ia terakhir kali bertemu Mega ketika masih
menjadi wakil presiden. Sedangkan pertemuan dengan suami Mega, Taufiq
Kiemas, terjadi ketika Taufik datang menjenguknya. Kesempatan itu
digunakan untuk membicarakan nasib tahanan politik dari Angkatan Laut yang
jumlahnya sekitar 300 orang. Sebagai ketua tim advokasi tahanan politik
Angkatan Laut, Ali minta nama mereka direhabilitasi, karena mereka ditahan
belasan tahun tanpa diadili.
Hasil pembicaraan itu dianggapnya ada kemajuan. Ada beberapa nama yang
berhasil direhabilitasi, tetapi belum semuanya. Mereka itu, menurutnya,
bukan PKI. “Tetapi ada pengkhianatan dan dibikin-bikin dan memang ada
perintah dari atasan saat itu agar dihabiskan sejumlah orang sekian banyak.
Ini yang saya perhatikan. Saya tidak ingin membawa dosa kalau saya mati.
Ini kalau tidak diselesaikan, akan sampai ke anak cucu. Ini suatu
kejahatan yang bukan main," demikian pidato tidak resmi Bang Ali.
Ia juga berbicara tentang nasib nama Bung Karno yang namanya belum
dipulihkan karena ada beberapa Ketetapan MPRS XXXIII Tahun 1967 yang tidak
dicabut. "Seperti nasib Bung Karno sekarang, DPR lepas tangan. Katanya ini
enmalig, apa itu enmalig. Padahal, dalam Ketetapan MPRS dikatakan
pemerintah harus menyelesaikan secara hukum.”
Menilai kehidupan saat ini yang dianggap mulai stabil, Bang Ali justru
mempertanyakannya. “Apanya yang stabil? Hidup rakyat itu bukan semata-mata
politik, tapi ekonominya. Dolar turun, tetapi harga kok naik terus. Orang
saling bunuh, perampokan segala macam, itu karena mereka lapar.”
Untuk itu, ia meminta pemerintah lebih memperhatikan persoalan rakyat di
bawah. "Sekarang berat. Negaranya dalam keadaan susah. Para politikus
bertengkar terus, tidak memikirkan rakyat. Nafsunya untuk mendapatkan
kekayaan begitu hebat. Lihat pegawai negeri ABRI itu (maksudnya TNI
sekarang-Red), gajinya berapa? Mungkin hanya cukup untuk makan lima hari,
seperti kalian wartawan. Sementara itu, beberapa orang lainnya mendapatkan
penghasilan puluhan juta," ujarnya.
Bagaimana hubungan Bang Ali dengan keluarga Bung Kamo? Dengan bangga Bang
Ali menanyakan, siapa yang membangun rumah untuk Megawati, Guruh, atau
Sukmawati? Ia juga menjawab pertanyaan itu bahwa Pemda DKI lah yang
membuat rumah mereka di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Juga izin pemilikan
pompa bensin. Semua itu dilakukan ketika ia masih menjabat Gubernur DKI.
Guruh Soekarnoputra pun mendapat bagian. Pemberian itu dimaksudkan sebagai
bekal hidup anak mantan presiden. Ia pun membandingkan dengan anak mantan
Presiden Soeharto yang sekarang punya ratusan perusahaan.
Meskipun pada waktu Presiden Soeharto berkuasa ia pernah dicekal, namun
hal itu tak jadi halangan untuk menjalin tali silaturahmi. Misalnya,
lebaran tahun 2001 ia datang ke rumahnya. Pada saat itu ada Ali Alatas (bekas
Menteri Luar Negeri). Karena waktu itu Pak Harto sudah tidak bisa bicara,
jadinya dua Ali yang ngobrol (Ali Sadikin dan Ali Alatas). Setelah itu
mereka makan hidangan Lebaran.
Pencekalan itu ternyata tidak membuatnya sakit hati. Ia ikhlas, malah
mengaku untung dicekal. Karena pencekalan itu anak, istri, dan dirinya
sendiri tidak bisa ke luar negeri, malah bisa menghemat. Selama hidupnya,
ia belum pernah bersama anak-anak rekreasi ke luar negeri. Di dalam negeri
pun hanya sekali, itu pun ke Bali.
Pengalaman, ketokohan, dan kematangannya sebenarnya merupakan modal besar
baginya untuk dapat mendirikan salah satu partai politik atau bergabung
dengan partai politik yang sudah ada. Namun, ia tidak mau melakukan itu.
Tawaran dari partai politik tidak hanya satu tapi beberapa kali datang
dari partai berbeda. Namun ia menolak itu semua dengan alasan ingin
mandiri.
Lain parpol lain pula dengan Petisi 50, forum diskusi kritis yang
dibidaninya tahun 1980 yang menyebabkannya dicekal pemerintahan Orde Baru.
Sebagai pendiri Petisi 50, Bang Ali berminat mengadakan diskusi lagi.
Menurutnya, misi Petisi 50 adalah mengajarkan demokrasi yang sebenarnya
yaitu untuk memperbaiki nasib bangsa. Bukan untuk jadi presiden.
Ketika ditanyakan, siapa kira-kira yang pantas menjadi presiden setelah
Pemilu 2004, dengan lugas ia menjawab, “Nurcholish Madjid (sambil
mengacungkan jempol).” Menurutnya, sosok Cak Nur adalah yang terbersih dan
paling memiliki harapan untuk perbaikan masa depan bangsa di antara calon
presiden lainnya. Bang Ali memandang positif ketika Cak Nur mengeluarkan
pernyataan pembubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Karena kenyataannya
yang korupsi banyak orang HMI.
Sejak tahun 1959 hingga 1977, Ali Sadikin memegang beberapa jabatan
seperti Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet
Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut
Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, dan terakhir
Gubernur Jakarta selama 11 tahun.
Setelah tahun 1977, namanya menjadi populer karena menjadi tokoh Petisi 50
yang menentang secara terbuka pemerintahan rezim Soeharto. Ia dicekal,
tetapi tidak pernah dipenjara atau diajukan ke pengadilan.
Selama empat tahun terakhir ini ia tidak banyak melakukan kegiatan fisik,
termasuk menghindari datang ke resepsi-resepsi atau ceramah-ceramah. "Ini
perintah dokter dan saya berdisiplin terhadap menu makanan. Untuk datang
ke acara seperti di istana ini, sebenarnya saya juga tidak diperbolehkan.
Maka sebaiknya saya tidak diundang lagi ke sini," ujarnya.
Kegiatan terakhir yang banyak dilakukan adalah mengkliping koran dan
menggarisi kalimat-kalimat di artikel koran dengan stabilo. Sampai kini
setiap pagi ia masih terus membaca paling tidak 30 koran.
Akan tetapi, kegembiraan yang dimiliki Ali Sadikin ialah kebersamaannya
setiap saat dengan putra bungsunya, yaitu Yasser Umarsyah Sadikin, murid
kelas dua SMP Global Bintaro. Ini hadiah dari Tuhan yang tiada taranya. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|