| |
C © updated
11122008-15082003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Ali Alatas
Lahir :
Jakarta, 4 November 1932
Meninggal:
Singapura, 11 Desember 2008
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Ketua Dewan Pertimbangan Presiden/Anggota Dewan Pertimbangan
Presiden Bidang Hubungan Internasional, sejak April 2007 hingga wafat
(2008)
Pendidikan :
:: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1956
:: Akademi Dinas Luar Negeri, 1956
Karir :
:: Korektor Harian Niewsgierf (1952-1952)
:: Redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954)
:: Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Bangkok (1956-1960)
:: Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri
(1965-1966)
:: Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970)
:: Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972)
:: Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri
(1972-1975)
:: Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976)
:: Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978)
:: Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982)
:: Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987)
:: Menteri Luar Negeri (1987-1999)
:: Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004)
:: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Utama 12/8/82
- Bintang RI Utama 6/8/98 dg Keppres 071/TK/TH.1998
- Bintang Mahaputera Adipradana
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Ali Alatas (1932-2008)
Singa Tua Diplomat Indonesia
Tokoh Indonesia 11/12/2008: Ali Alatas, singa tua diplomat Indonesia
yang menjabat Menteri Luar Negeri RI pada 1987-1999 dan terakhir Ketua
Dewan Pertimbangan Presiden/Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang
Hubungan Internasional, sejak April 2007 hingga wafat pada
usia 76 tahun, Kamis 11 Desember 2008 pagi di Rumah Sakit Mount
Elizabeth, Singapura. Disemayamkan di rumah duka di Jalan Benda Raya No
19, Cilandak, Jakarta Selatan. Dimakamkan TMP Kalibata, Jakarta
(12/12/2008).
Alatas meninggal pada pukul 07.30 waktu Singapura, karena terkena
serangan jantung. Jenazah diterbangkan dari Singapura dan tiba di Bandar
Udara Soekarno-Hatta sekitar pukul 18.30 disambut oleh Menko Polhukam
Widodo AS, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Luar Negeri
Hassan Wirajuda, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rachmawati
Soekarnoputri.
Kemudian disemayamkan di ke rumah duka di Jalan Benda Raya No 19,
Cilandak, Jakarta Selatan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama
Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad
Badawi, yang sedang berada di Indonesia, melawat ke rumah duka.
Berbagai ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan baik dari
dalam maupun luar negeri. Antara lain dari Menteri Luar Negeri Hirofumi
Nakasone, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Martin Hatfull, Duta Besar
Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi, Duta Besar Polandia untuk
Indonesia Thomaz Lukaszuk, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Eivind
Homme, dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Al-Mehdawi.
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Utama 12/8/82
- Bintang RI Utama 6/8/98 dg Keppres 071/TK/TH.1998
- Bintang Mahaputera Adipradana
Jabatan terakhir :
Sejak April 2007 hingga wafatnya, Alm. Bapak Ali Alatas, S.H. menjabat
sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden/Anggota Dewan Pertimbangan
Presiden Bidang Hubungan Internasional
Ali Alatas
Singa Tua Diplomat Indonesia
Dia salah satu diplomat handal Indonesia. Menjabat Menteri Luar Negeri
(1987-1999) dalam empat kabinat dan pernah dinominasikan menjadi Sekjen
PBB oleh sejumlah negara Asia pada 1996, suatu bukti kehandalannya
mewakili Indonesia di pelbagai meja perundingan dan jalur diplomatik.
Selama dua dasawarsa lebih, Alex (nama panggilannya) memperlihatkan kelas
tersendiri sebagai diplomat. Bahkan pada usia senjanya, ia masih mengemban
tugas sebagai Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004).
Kemudian pada masa pemerintahan Presiden SBY diangkatn menjadi Anggota
Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008. Maka tak salah bila ia dijuluki singa tua diplomat Indonesia.
Kisah hidupnya adalah diplomasi. Padahal pada masa kecil ia bercita-cita
menjadi pengacara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1956,
kelahiran Jakarta 4 November 1932 ini, meniti karier sebagai diplomat
sejak berusia 22 tahun. Ia mengawali tugas diplomatnya sebagai Sekretaris
Kedua di Kedutaan Besar RI Bangkok (1956-1960), sesaat setelah ia menikah.
Pusat Data Tokoh Indonesia mencatat bahwa sebelumnya, ia sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai
korektor Harian Niewsgierf (1952-1952) dan redaktur Kantor Berita Aneta
(1953-1954). Selepas bertugas di Kedubes RI Bangkok, ia kemudian menjabat
Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri
(1965-1966). Lalu ditugaskan menjabat Konselor Kedutaan Besar RI di
Washington (1966-1970). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Direktur
Penerangan Kebudayaan (1970-1972), Sekretaris Direktorat Jenderal Politik
Departemen Luar Negeri (1972-1975) dan Staf Ali dan Kepala Sekretaris
Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976).
Kemudian, ia dipercaya mejalankan misi diplomat sebagai Wakil Tetap RI di
PBB, Jenewa (1976-1978). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Sekretaris
Wakil Presiden (1978-1982). Lalu, kemampuan diplomasinya diuji lagi dengan
mengemban tugas sebagai Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York
(1983-1987). Selepas itu, ia pun dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri
(1987-1999) dalam empat kabinet masa pemeritahan Soeharto dan Habibie.
Saat menjabat Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),
ia harus menghadapi berbagai kritikan mengenai masalah Timor Timur. Ia
dengan cekatan bisa melayaninya dengan diplomatis. Apalagi saat pecah
insiden Santa Cruz yang menewaskan puluhan orang pada 12 November 1991, ia
cekatan untuk meredam kemarahan dunia. “Diplomasi itu seperti bermain
kartu. Jangan tunjukkan semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu
itu satu per satu,” katanya.
Namun semua perjuangannya menjadi sia-sia seketika, manakala Presiden BJ
Habibie memberikan refrendum dengan opsi merdeka atau otonomi, tanpa
berkonsultasi dengannya. Suatu opsi yang amat naif. Ia tidak setuju atas
solusi jajak pendapat yang dicetuskan Habibie itu. Sebab sebagai seorang
diplomat, ia tetap berkeyakinan pada solusi diplomasi betapapun sulitnya
sebuah situasi.
Maka tak heran, matanya berkaca-kaca beberapa saat setelah referendum.
Timtim lepas dari pangkuan ibu pertiwi dan yang lebih memilukan, Timor
Loro Sa’e itu rusuh dan hangus dilalap api. Karena keputusan presiden yang
sulit dimengertinya, ia harus rela mengakhiri karir diplomatnya dengan air
mata.
Namun semua orang tahu, bahwa kekalahan di Timor Timur itu bukan
kesalahannya. Tetapi kesalahan ‘bosnya’ yang di luar batas kewenangannya.
Presiden Habibie memang akhirnya menuai badai – pertanggungjawabannya
ditolak MPR – akibat ‘kecerobohan’ itu. Maka, nama besar Alex sebagai
diplomat yang prestisius tetap terukir tinta emas dalam lembar-lembar
perjalanan karirnya.
Sehingga, ketika Alwi Shihab diangkat menjabat Menlu pada masa
pemerintahan Abdurrahman Wahid, Alatas dipercaya sebagai penasehat.
Kemudian, setelah Gus Dur jatuh dan digantikan Megawati Sukarnoputri, Alex
diangkat menjabat Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri.
Sebagai penasehat presiden ia antara lain telah menjalankan misi diplomat
ke berbagai negara, termasuk ke Swedia, mengenai Hasan Tiro. Namun,
aktivitasnya sebagai penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika ia
menjabat Menlu. Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu dengan mewujudkan
impiannya menjadi pengacara, sebagai salah satu penasihat hukum di Biro
Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun menikmati
hidup dengan keluarga di rumah kediamannya di Kemang Timur, Jakarta
Selatan dan Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan. ►ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|